MasukTheresia tertawa. Dia membuka jendela, lalu melihat pria berambut pirang yang mengikutinya dari belakang. “Ayo, masuk mobil. Bibi Julia lagi tidak berada di kota, masih ada perjalanan yang harus ditempuh.”“Terima kasih!” Pria berambut pirang itu tersenyum memperlihatkan giginya yang putih. Dia membuka pintu belakang mobil, lalu masuk ke dalam.Morgan menempatkan tangannya di atas setir mobil. Ketika melihat senyuman pria itu dari kaca spion, wajahnya menampakkan sedikit rasa kesal.Setelah mobil berjalan dengan stabil, pria berambut pirang itu menyerahkan kartu nama kepada Theresia. Dia tersenyum lembut dan sopan. “Halo, ini kartu namaku.”Theresia mengambil kartu itu. Warna kartu itu coklat kehitaman dengan sebuah nama tertulis “Jevan”, diikuti oleh nama belakang yang panjang.Di sudut kiri atas kartu terdapat sebuah gambar roda, tampak seperti simbol dari suatu keluarga. Selain itu, tidak terdapat informasi lain di atas kartu itu. Ketika melihat simbol roda itu, Theresia merasa san
Pria berambut pirang mundur selangkah dengan kaget.Theresia terbengong sejenak, lalu segera meraih lengan Morgan. Dia berkata dengan suara ringan, “Kamu sudah salah paham. Dia itu … teman bule … dia datang untuk mencari Bibi Julia.”Morgan menyipitkan matanya dengan kaget. “Cari Bibi Julia?”“Apa kalian benar-benar kenal sama Julia? Apa kamu bisa bawa aku pergi mencarinya?” Tatapan pria berambut pirang itu kelihatan panik dan penuh harapan.Morgan menatap pria itu dengan tatapan interogasi. “Untuk apa kamu cari Julia?”Pria berambut pirang segera berkata, “Aku itu temannya. Aku sengaja datang ke Negara Cendania untuk mencarinya. Kalau kalian kenal sama dia, mohon bawa aku untuk bertemu dengannya.”“Kenapa kamu tidak langsung telepon dia?”“Tadinya aku ingin beri kejutan kepadanya. Tapi ketika sampai di sini, aku malah kehilangan ponselku, tidak bisa menghubunginya. Aku juga tidak tahu di mana tepatnya dia sekarang?” Pria berambut pirang kelihatan agak putus asa. “Aku sudah seharian ke
Theresia tertegun sejenak, lalu membalikkan kepalanya untuk melirik pundak Morgan. Dia mengulurkan tangannya hendak memilih sebuah payung.“Satu saja sudah cukup!” Morgan menarik lengan Theresia. “Tidak ada ruang untuk menaruh begitu banyak payung!” Sambil berbicara, Morgan menarik Theresia untuk berjalan pergi.Theresia hanya sempat menoleh untuk tersenyum bersalah terhadap penjual payung itu.Mereka berdua masuk ke dalam apotek. Theresia berjalan ke depan kasir. Baru saja dia ingin mengatakan obat yang dia inginkan kepada staf, Morgan pun mengeluarkan selembar daftar kepada staf itu. “Sediakan sesuai dengan yang ditulis!”Theresia melihat kertas itu dengan syok, lalu memalingkan kepalanya untuk menatap Morgan.Raut wajah Morgan kelihatan santai. “Kertas ini diberi staf yang mengurus anak-anak tadi. Mungkin Bibi Julia tidak tahu.”Theresia sedikit tersenyum. Memangnya apa yang bisa dia lakukan jika Julia tahu?Saat staf apotek sedang mempersiapkan obat-obatan, Theresia berjalan-jalan
Dengan keunggulan tinggi badan Morgan, memayungi mereka berdua akan jauh lebih gampang dibandingkan dengan Theresia.Tubuh Theresia hampir menempel pada lengannya. Payung menutupi cahaya lampu jalan, membuat suasana di bawahnya semakin redup, seolah-olah sebuah ruangan tertutup saja. Di dalam ruang sempit itu, hanya terdengar suara rintik hujan yang jatuh di atas payung, serta napas mereka berdua yang saling bercampur. Dunia di luar seakan-akan telah terisolasi.Julia berjalan menuju vila tempat tinggal para murid. Dari kejauhan, dia melihat bayangan tubuh kedua orang di bawah cahaya lampu jalan. Morgan memegang payung, tetapi payung itu kelihatan miring, sebagian besar condong ke arah Theresia. Dia sedang melindungi Theresia dari hujan, sementara setengah bahu Morgan justru terkena hujan.Jane juga sudah melihatnya. Dia segera berkata, “Aku pergi antar satu payung lagi buat mereka.”“Tidak usah!” Julia tersenyum tipis sembari menghalangi Jane. “Kita pergi lihat murid-murid yang sakit
Terlihat rasa gembira di dalam tatapan Jane. “Tadi ibuku baru saja telepon aku. Dia tanya masalah kita berdua dengan detail. Dia memang merasa agak nggak bersedia untuk melepaskan putra dari kepala organisasi itu, tapi dia setuju aku untuk bawa Lovin pulang ke rumah.”Rambut Theresia disanggul ke atas. Dia bersandar di bangku dengan memegang gelas teh yang diseduh langsung oleh Julia. Dia sungguh merasa gembira dengan masalah Jane. “Selamat.”Jane tersenyum imut. “Terima kasih, Theresia. Aku benar-benar berterima kasih sama kamu. Kalau bukan karena dorongan dari kamu, kami juga nggak mungkin bisa buka hati, kemungkinan kami benar-benar akan melewatkan satu sama lain.”Theresia berucap, “Jujur saja, aku juga pertama ini melakukan hal seperti ini, aku sempat takut niat baikku malah akan merusak masalah. Untung saja, kalian berdua memang sangat bersemangat!”Jane mengangkat kepalanya sembari tersenyum. Dia menatap Theresia dengan tatapan membara. “There, aku pasti akan berteman sama kamu!
“Emm,” balas Morgan, lalu menyerahkan kotak kepada Theresia.Theresia mengambil kotak dengan kedua tangannya. Matanya seketika berkilauan. Jam itu sangat indah, permukaan jamnya terbuat dari emas murni, di dalamnya ada sebuah perahu layar kecil, dengan jarum jam dan menit dibuat menyerupai layar kapal.“Cantik sekali!” ujar Theresia.“Buat kamu,” kata Morgan.Theresia segera menggeleng, lalu mengembalikan jam kepadanya. “Aku nggak boleh terima hadiah darimu lagi!”Morgan mengambilnya, lalu melihat jam di dalam kotak. Dia pun berkata dengan suara rendah dan pelan, “Saat aku berusia sekitar lima tahun, ayahku ke luar negeri dan menghadiri sebuah acara lelang. Dia menghabiskan uang banyak untuk membeli jam ini untuk ibuku. Hanya saja, aku merusaknya saat kami liburan di sini.”Theresia berkata dengan tersenyum, “Jam ini terlalu berharga. Aku nggak boleh mengambilnya!”Tatapan Morgan tertuju pada diri Theresia. Dia membuka laci terdalam, lalu meletakkan jam ke dalam.Theresia merasa Morgan







