LOGINJovita melirik Julia sekilas sembari mendengus dingin. Setelah itu, dia meninggalkan tempat dengan sikap arogan.Julia menatap bayangan punggung mereka berdua, sepertinya dia bisa menebak sesuatu. Dia bertukar pandang dengan Theresia, kemudian bertanya dengan sinis, “Apa dia itu ibunya Roger?”Theresia merasa tidak berdaya. “Roger orangnya cukup baik, sayangnya dia punya ibu kandung seperti ini!”Raut wajah Julia kelihatan tidak senang. “Si Hallie ini berhubungan dengan orang macam apa, sih?” Julia pun menggeleng, kemudian menggandeng tangan Theresia membawanya ke dalam aula.…Tentu saja Jovita tidak puas untuk pergi begitu saja. “Hallie, apa yang kamu takutkan? Hari ini, kamu adalah tokoh utama. Kenapa kamu rela ditekan oleh orang lain?” Dia memutar tangannya untuk menggenggam tangan Hallie. “Nyalimu kecil sekali. Nanti orang lain kira kamu itu pengecut dan gampang ditindas! Tenang saja, aku akan tanggung jawab atas apa yang terjadi hari ini!”Hallie ditarik Jovita berjalan ke dalam
Hallie menggigit bibirnya tanda merasa bimbang sejenak. “Aku ada satu permintaan yang sangat kecil. Aku … aku suka sama Tuan Roger. Nyonya Jovita juga berharap aku bisa jadian sama Tuan Roger. Theresia, apa boleh kamu jangan bertemu dengan Tuan Roger lagi?”Theresia tertegun sejenak. Ujung bibirnya sedikit melengkung ke atas. “Hallie, seandainya kamu baru bisa merasa tenang dengan memohon orang lain untuk jangan mendekati Tuan Roger, apa kamu merasa ada cinta di antara kalian berdua?”Hallie menunjukkan senyuman getir. “Tapi, aku nggak ada cara lain.”Theresia menatap Hallie. “Apa kamu pernah punya keberanian untuk mencari Regan di Hondura?”Hallie terbengong sejenak, lalu mendengus dingin. “Sekarang, aku juga tergolong sangat berani dalam mengejar Tuan Roger.”Theresia berkata dengan tidak berdaya, “Kamu tenang saja. Selain masalah pekerjaan, aku nggak ada hubungan pribadi dengan Tuan Roger.”Hallie mengangguk dengan perlahan. Baru saja dia hendak berbicara, tiba-tiba dia mendengar su
Lysa baru memahaminya. Dia tersenyum dan tidak berbicara.…Di sisi lain, Jovita sedang menggunakan undangan palsunya untuk menghadiri acara. Dia bukan hanya datang sendiri, dia juga sudah memanggil beberapa teman yang berhubungan baik dengannya. Dia mengatakan kepada mereka bahwa dirinya ingin memberikan sebuah kejutan kepada Keluarga Angsara.Lantaran takut ketahuan oleh Hallie, Jovita sengaja mengganti model rambutnya dan mengenakan kacamata hitam. Dia berharap tidak ketahuan oleh Hallie.Setelah memasuki aula, Jovita dan yang lain mencari tempat yang agak terpencil untuk duduk. Dalam sekilas tatap, Jovita bisa menyadari meja utama di depan sana. Hallie sedang berdiri di samping Aska. Dia memalingkan kepalanya melihat beberapa temannya sembari memamerkan, “Dia itu Nona Hallie, calon istrinya Roger!”Perhatian Jovita hanya tertuju pada diri Hallie. Dia pun tidak menyadari sosok Theresia yang duduk di kursi.Seorang wanita berkata, “Sebelumnya kita pernah bertemunya saat ulang tahun N
Sonia masih seperti sebelumnya. Dia mengenakan kemeja sederhana. Kelima indranya kelihatan indah. Tatapannya dingin, tetapi terasa berkilauan. Dia pun tersenyum sembari berjalan maju. “Mana mungkin aku nggak pulang untuk menghadiri acara yang diadakan Pak Guru?”Theresia berpelukan sejenak dengan Sonia. Senyuman lebar terlukis di wajahnya. “Sonia, aku benar-benar merasa gembira bisa bertemu kamu lagi!”“Selamat!” Sonia tersenyum lembut.“Terima kasih!”Ranty berkata dengan tidak puas, “Kamu cuma gembira ketika bertemu Sonia, jadi kamu nggak gembira ketika bertemu aku? Padahal aku sengaja bawa Sonia kemari untuk beri kamu kejutan!”Theresia membalas dengan tersenyum, “Tentu saja gembira!”Ranty mengulurkan tangannya. “Tunggu apa lagi. Cepat peluk aku!”Kedua mata indah Theresia berkilauan. Dia berjalan pergi memberi sebuah pelukan besar untuk Ranty.Rose memeluk lengan Juno sembari tersenyum bodoh di samping.Sonia menyapa yang lain, “Pak Guru, Kakek, Kak Morgan, Bibi Julia!”Julia mera
Besok adalah acara penyambutan Theresia kembali ke keluarga. Malam harinya, semua orang pun merasa sangat antusias. Sekarang sudah larut malam, tetapi semuanya masih tidak ingin tidur.Julia turun tangan sendiri untuk memasak. Semua orang duduk bersama sembari mengobrol.Aska mengingatkan dengan tidak tenang, “Apa undangan sudah dibagi semuanya? Apa ada yang ketinggalan?”Julia berkata dengan tersenyum, “Iya, tidak ada yang ketinggalan. Aku sudah memeriksa tiga kali. Selain itu, aku juga mengundang beberapa teman yang berhubungan dekat denganku. Selama beberapa tahun ini, mereka terus membantuku untuk mencari informasi Jeje.”“Kalau begitu, memang mesti dibagi undangan!” Aska mengangguk.Saat semua orang sedang berbicara, Morgan menyadari Theresia sedang melamun. Dia mengangkat tangannya untuk menuangkan segelas jus buah untuk Theresia, lalu berkata dengan nada ringan, “Apa yang lagi kamu pikirkan?”Theresia mengangkat kepalanya dengan kaget. Dia sempat melirik Morgan dengan terbengong
Theresia duduk di atas ranjang dengan patuh. Saat angin hangat berembus kemari, dia juga dapat merasakan jari tangan panjang dan bertenaga si pria sedang menekan-nekan kepalanya. Tenaga jari tangan itu tidak tergolong terlalu ringan dan tidak terlalu kuat, sangatlah pas, membuat Theresia merasa nyaman dan relaks. Dia spontan memejamkan matanya, bahkan ingin tidur dengan bersandar di atas tubuh Morgan.“Apa aku unggul sekali?” Theresia memejamkan matanya, lalu bertanya dengan tiba-tiba.Morgan tersenyum. “Orang yang mengeringkan rambutmu itu aku. Kalaupun rambutmu kering, itu juga usahaku, kenapa jadi kamu yang unggul?”Bulu mata Theresia kelihatan lentik. Bibir delimanya menggoda. Dia berbicara dengan nada sedikit bangga, “Nggak ada orang di Benua Delta mendapat perlakuan sepertiku, bukannya aku unggul?”Morgan pun tersenyum lantaran Theresia begitu bersikeras menganggap dirinya unggul. Pada akhirnya, dia mengangguk dengan perlahan. “Unggul!”Theresia mengangguk dengan puas. “Akhirnya
Kesabaran Tasya sudah mencapai batasnya. Namun, didikan keluarganya tidak mengizinkannya untuk ribut di tempat umum. Oleh karena itu, dia menelan semua amarah di dalam hatinya dan menahan diri untuk tidak bicara.Namun, Sonia tiba-tiba berkata, “Kalau Tasya berpikiran sempit, kamu kira kamu masih bis
Tasya tidak bicara, hanya menatap Yoko dengan acuh tak acuh.Yoko mengeluarkan kotak perhiasan berwarna merah. Setelah dia membuka kotak itu, ada sepasang anting-anting GK di dalamnya. Kemudian, dia berkata, “Aku ingat kamu bilang kamu paling suka anting-anting. Aku habiskan semua uang yang aku punya
Sonia melengkungkan bibirnya, “Kalau begitu apa yang kamu punya?”Tasya tertegun sejenak. Bola matanya berputar, lalu dia berkata perlahan, “Beberapa hari lagi aku ulang tahun.”Sonia tersenyum, “Bukankah ini kesempatan bagus?”***Mendekati tengah hari, Lysa menyuruh ART memanggil Tasya dan Sonia turun
Sonia membalas dengan sopan, “Iya, terima kasih atas jamuan Nenek.”“Iya, tidak usah sungkan!” Ekspresi Lysa terlihat sangat ramah.Diana dan Tasya mengantar mereka, lalu menatap mobil yang bergerak menjauh.Kali ini Sonia baru bisa menghela napas lega. Melihat ekspresi Sonia, Reza yang sedang mengenda







