INICIAR SESIÓNSuasana di aula juga mulai memuncak.Morgan menatap Theresia yang dikerumuni orang-orang. Tatapannya mendalam. Wajah tampannya kelihatan tegas seperti biasanya. Dia menatap Theresia lekat-lekat. Pada akhirnya, semakin banyak orang yang berkerumun hingga menghalangi pandangannya. Jarak Morgan dengan Theresia semakin jauh lagi. Pada akhirnya, Morgan berjalan ke arah yang berlawanan, lalu membalikkan tubuhnya untuk meninggalkan tempat.Saat mendengar ucapan Theresia, Jemmy samar-samar merasa ada yang aneh. Dia memalingkan kepalanya untuk mencari Morgan, tetapi dia hanya melihat bayangan punggung Morgan yang melihat ke kerumunan.Theresia juga melihat bayangan punggung si pria. Dia memaksa dirinya untuk tersenyum, tetapi rasa sakit seketika menyerang hatinya.Pertemuan di Hondura membuat hubungan mereka berdua menjadi semakin mendekat. Namun perlahan-lahan, entah sejak kapan hubungan mereka mulai menjauh lagi.…Saat acara selesai, Sonia juga tidak bertemu dengan Morgan lagi. Dia menelepon
Ekspresi Morgan masih terlihat tenang seperti biasa, tidak ada perubahan sama sekali. Sepertinya dia mengangguk dengan sangat kuat. “Yang penting kamu sudah memikirkannya dengan jelas. Aku akan dukung semua keputusanmu!”“Terima kasih!”Entah kenapa, Theresia merasa matanya seperti ditutupi kabut saja, suaranya juga terasa agak serak.Saat ini, kedengaran ada yang memanggil nama Theresia. Dia mengiakan, lalu membalikkan tubuhnya berjalan kembali ke aula. Baru saja berjalan dua langkah, dia menoleh untuk bertanya, “Apa yang mau kamu katakan sama aku tadi?”Morgan menatap Theresia dengan tatapan mendalam. Beberapa saat kemudian, dia baru berkata, “Tidak apa-apa. Kamu sudah bilang, kamu bukan Seven-ku lagi. Kalau begitu, kamu bebas melakukan apa pun, tidak perlu selalu memprioritaskanku.”Tenggorokan Theresia bagai tersangkut sesuatu saja, hatinya malah terasa hampa. “Aku akan selalu mengingat kebaikanmu kepadaku.”Morgan membalikkan tubuhnya. Bayangan punggung tinggi dan kokoh itu membel
“Kenapa kamu malah pukul orang di tempat umum?”“Lapor polisi!”Jovita memelototi Hallie sekilas, lalu membalikkan tubuhnya untuk berjalan pergi. Sekuriti datang untuk memapah Hallie. Hallie membangkitkan tubuhnya sembari menyeka air mata di wajahnya. Matanya kelihatan berkilauan, penuh dengan tekad seperti orang yang sudah siap mempertaruhkan segalanya.…Di dalam aula.Morgan pergi mengangkat panggilan di halaman. Setelah mengakhiri panggilan, dia tidak buru-buru untuk kembali, melainkan merokok di halaman.Saat mendengar ada suara langkah kaki dari belakang, pria itu mematikan rokoknya, kemudian menoleh menatap wanita yang berjalan menghampirinya.Di halaman itu ada pagar kayu dan di seberangnya terdapat sebuah danau buatan. Air danau mengalir melewati bebatuan hias, lalu menuju halaman lain.Air yang mengalir turun dari bebatuan buatan itu menciptakan kabut lembap di udara. Ditambah bayangan pepohonan di sekitarnya, membuat halaman itu tidak terasa terlalu panas meskipun sedang mus
Aska mengangkat gelasnya. “Jemmy, sebenarnya seharusnya aku yang bersulang kepadamu. Morgan paling berjasa untuk kami bisa menemukan Jeje!”Jemmy berkata, “Baguslah kalau kamu tahu. Jangan selalu buang muka sama Morgan!”Aska mulai merasa tidak puas. “Kalau dia berani menindas Jeje, aku bukan hanya akan buang muka saja, bisa jadi aku akan memarahinya!”Theresia segera berkata dengan tersenyum, “Kakek, Tuan Morgan nggak pernah menindasku!”Morgan meliriknya sekilas. Bola mata hitamnya kelihatan dalam. Bibir tipisnya sedikit terangkat.Aska menggenggam tangan Theresia. “Kenapa malah panggil Tuan Morgan? Kedengarannya seperti tidak akrab saja. Dia lebih besar daripada kamu, panggil Kak Morgan saja.”Theresia berpapasan dengan tatapan si pria. Cahaya lampu jatuh ke wajah samping menggoda Theresia. Bayangan samar berwarna merah muda seperti semburat kemerahan menyebar di ujung matanya. Bibir merahnya sedikit terbuka, tetapi bagaimanapun juga dia tetap tidak mampu mengucapkannya.Julia terse
“Tadi, dia sudah marah putri kandung dari Nyonya Julia, ya?”“Wah, lelucon ini lucu sekali!”…Aska memang kerasa kepala, tetapi dia juga tidak bodoh. Dalam sesaat, dia juga mengerti segalanya. Dia sungguh merasa kecewa terhadap Hallie, tetapi dia juga tidak ingin Jovita yang mana merupakan orang yang tidak bersangkutan, menghancurkan acara sebagus ini. Dia pun berpesan dengan suara berat, “Jangan biarkan dia beronar lagi. Usir dia dari sini!”Aska memiliki relasi yang sangat bagus. Sebelum sekuriti datang, bahkan tanpa perlu turun tangan Morgan, Sonia, dan yang lainnya. Beberapa pria yang berpakaian formal menghalangi Jovita sembari berkata dengan dingin, “Kamu kira kamu boleh beronar di acara Keluarga Angsara. Segera keluar!”Jovita sungguh merasa canggung dan malu. Betapa inginnya dia menampar dirinya sendiri. Dia pun meminta maaf kepada Aska dengan panik, “Tuan Aska, aku sudah ditipu dengan cucu gadungan. Sebenarnya aku datang untuk menghadiri acara ini dengan tulus.”Kemudian, Jov
Hallie merasa panik. Dia menatap tatapan sinis Sonia. Bibir pucatnya gemetar. Dia sama sekali tidak berani bersuara.Julia sudah mengerti. Dia berkata dengan tersenyum sinis, “Acara hari ini diadakan untuk memperkenalkan putriku kepada semuanya. Menurutmu, kenapa aku bisa ada di sini?”Jovita menatap Julia dengan kaget dan bingung. “Apa maksudmu?”Julia berkata pada Aska, “Ayah, sepertinya tamu yang diundang hari ini, ada yang tidak kenal dengan Theresia. Sudah seharusnya kamu memperkenalkannya!”Raut wajah Aska kelihatan tidak begitu bagus. Saat melihat Theresia, dia baru menunjukkan sedikit senyuman. “Jeje, ke sisi Kakek.”Theresia berjalan ke sisi Aska.Suasana seluruh aula menjadi hening dalam seketika. Bahkan suara detak jarum jam pun bisa terdengar!Aska menggenggam tangan Theresia, lalu berkata dengan tersenyum ramah, “Terima kasih semuanya sudah datang untuk menghadiri acara Keluarga Angsara kami. Sudah saatnya aku memperkenalkan kepada semuanya dengan resmi. Theresia adalah pu
[ Ngapain kamu traktir aku makan? ][ Kita berdua lagi jadian, sudah seharusnya kita saling berkorban. ]Theresia mengetik dengan sangat cepat. [ Aku agak capek. Aku tidur dulu. Sampai jumpa besok hari. ][ Mimpi indah. Sampai jumpa besok! ]…Keesokan harinya, saat bekerja di pagi hari, Theresia t
Tatapan Theresia menjadi linglung. Dia berusaha untuk teguh pada pendiriannya. Theresia menganggap dirinya sebagai seorang suster biasa. Dia pun berjalan pergi untuk memeriksa luka Morgan.Saat duduk, Theresia bahkan tidak berani duduk terlalu dekat dengannya. Namun, saat melihat lukanya, hati There
Setelah Ingga berjalan pergi, Theresia dan Roger sama-sama berjalan ke tempat parkiran. Angin di subuh hari terasa agak dingin. Roger menatap Theresia sedang mengenakan kemeja tipis, dia pun melepaskan pakaiannya hendak membungkus tubuh Theresia.“Kamu pakai sendiri saja!” Theresia mengangkat tangan
Tony melirik sekeliling. Dia mencari sarung tangan sekali pakai, lalu menoleh untuk menatap Ashley dengan tersenyum sinis. “Kalau aku menemukannya, kalung itu jadi milikku!”Ashley merasa syok hingga tidak berani berbicara.Tony setengah berlutut di lantai, lalu mulai mengorek kalung. Ashley melang







