MasukBesok adalah acara penyambutan Theresia kembali ke keluarga. Malam harinya, semua orang pun merasa sangat antusias. Sekarang sudah larut malam, tetapi semuanya masih tidak ingin tidur.Julia turun tangan sendiri untuk memasak. Semua orang duduk bersama sembari mengobrol.Aska mengingatkan dengan tidak tenang, “Apa undangan sudah dibagi semuanya? Apa ada yang ketinggalan?”Julia berkata dengan tersenyum, “Iya, tidak ada yang ketinggalan. Aku sudah memeriksa tiga kali. Selain itu, aku juga mengundang beberapa teman yang berhubungan dekat denganku. Selama beberapa tahun ini, mereka terus membantuku untuk mencari informasi Jeje.”“Kalau begitu, memang mesti dibagi undangan!” Aska mengangguk.Saat semua orang sedang berbicara, Morgan menyadari Theresia sedang melamun. Dia mengangkat tangannya untuk menuangkan segelas jus buah untuk Theresia, lalu berkata dengan nada ringan, “Apa yang lagi kamu pikirkan?”Theresia mengangkat kepalanya dengan kaget. Dia sempat melirik Morgan dengan terbengong
Theresia duduk di atas ranjang dengan patuh. Saat angin hangat berembus kemari, dia juga dapat merasakan jari tangan panjang dan bertenaga si pria sedang menekan-nekan kepalanya. Tenaga jari tangan itu tidak tergolong terlalu ringan dan tidak terlalu kuat, sangatlah pas, membuat Theresia merasa nyaman dan relaks. Dia spontan memejamkan matanya, bahkan ingin tidur dengan bersandar di atas tubuh Morgan.“Apa aku unggul sekali?” Theresia memejamkan matanya, lalu bertanya dengan tiba-tiba.Morgan tersenyum. “Orang yang mengeringkan rambutmu itu aku. Kalaupun rambutmu kering, itu juga usahaku, kenapa jadi kamu yang unggul?”Bulu mata Theresia kelihatan lentik. Bibir delimanya menggoda. Dia berbicara dengan nada sedikit bangga, “Nggak ada orang di Benua Delta mendapat perlakuan sepertiku, bukannya aku unggul?”Morgan pun tersenyum lantaran Theresia begitu bersikeras menganggap dirinya unggul. Pada akhirnya, dia mengangguk dengan perlahan. “Unggul!”Theresia mengangguk dengan puas. “Akhirnya
Tatapan Theresia melirik bagian kemeja hitam basah Morgan. Dia pun berkata, “Hari ini aku mesti kembali ke Apartemen Tribeca sebentar. Aku mau pulang untuk cari dokumen.”Morgan mengangguk. “Kalau begitu, kita pergi makan dulu. Nanti kita baru pergi ambil dokumen setelah makan.”Theresia tidak berpendapat lain.Morgan memutar bola matanya dan bertanya, “Apa masih mau makan steamboat?”Theresia melihat hujan di luar sana. Bola mata indahnya berkilauan. Dia berkata dengan tersenyum, “Makan masakan lokal Jembara saja. Aku bawa kamu ke tempat yang enak.”Suasana dan lingkungan di restoran ini sangat cocok untuk menikmati hujan. Morgan mengangkat kepalanya. “Kamu bantu aku navigasi.”Theresia mengeluarkan ponsel untuk mencari letak restoran.Mereka berdua merasa sangat beruntung. Mereka memang telat, tetapi mereka menemukan sebuah tempat yang cukup bagus. Lingkungan ini terasa elegan, bisa melihat seluruh pemandangan Kota Jembara.Di malam hujan Kota Jembara, kabut dan awan tampak berpadu,
Semua orang yang memiliki hubungan dekat dengan Keluarga Angsara berangsur-angsur mendapatkan kartu undangan.Hari demi hari berlalu. Masih ada dua hari sebelum acara jamuan dimulai.Gara-gara Hallie, Jovita sangat memperhatikan masalah Keluarga Angsara, jadi pagi hari tadi dia sudah mencari tahu masalah jamuan Keluarga Angsara dari orang lain.Jovita menghubungi Hallie dengan antusias, “Hallie, dengar-dengar Tuan Aska mau mengadakan acara pengenalan untuk kamu. Nanti, aku pasti akan ke sana. Aku dan ayahnya Roger akan hadir.”Hallie merasa panik, lalu berusaha untuk menenangkan dirinya. “Bibi dan Paman nggak boleh ke sana.”Jovita berkata dengan kaget, “Kenapa tidak boleh ke sana?”“Apa Bibi punya undangan dari kakekku?” tanya Hallie.Jovita berkata dengan canggung, “Tidak punya.”Hallie menganalisis dengan serius, “Kalau nggak punya undangan dan kamu tiba-tiba muncul, gimana aku perkenalkan kalian nantinya? Aku nggak bisa berbohong, tapi kalau aku jujur, Kakek pasti akan marah. Apala
Julia melihat rambut Theresia masih basah. Dia pun menekan Theresia untuk duduk di atas ranjang, lalu mengambil pengering rambut untuk mengeringkan rambutnya.Theresia memeluk kedua lutut dengan tangannya. Dia sedang mengenakan gaun panjang. Rambut panjangnya yang tertiup angin terurai lembut menutupi sisi wajahnya yang menawan. Kecantikan yang biasa terlihat jadi sedikit berkurang, berganti dengan kesan yang lebih manis dan patuh.“Bukannya Ibu bilang ada sesuatu yang ingin dibicarakan sama aku?” tanya Theresia.Julia mengeringkan rambut Theresia dengan lembut, lalu bertanya, “Apa kamu dan Morgan pernah kepikiran untuk menikah?”Theresia menurunkan bulu mata panjangnya. “Nggak.”“Tidak?” Julia berkata dengan tersenyum, “Morgan sudah tidak muda lagi. Memangnya dia tidak ribut untuk menikahimu?”Theresia membalas, “Ibu, hubungan aku dan Morgan nggak seperti yang kamu bayangkan.”Kening Julia berkerut. Dia menutup pengering rambut, lalu duduk di samping. “Apa maksudmu?”Theresia menyelip
Di Kediaman Keluarga Angsara.Saat ini sedang ada yang datang bertamu. Aska dan tamu sedang mengobrol di ruang baca. Jemmy pun keliling halaman sendirian.Julia dan Vans sedang mengobrol di taman bunga. Dia dapat melihat bayangan tubuh Jemmy dari kejauhan. Setelah mengobrol beberapa saat, dia baru berjalan ke sisi Jemmy.“Paman Jemmy, cuaca panas sekali. Aku sudah masak teh pereda kental. Kamu duduk sebentar di paviliun. Aku akan bawa ke sana.”Jemmy mengangguk dengan tersenyum. “Oke.”Tidak lama kemudian, Julia datang dengan mengantar teh kemari. Dia menuangkan teh ke dalam mangkuk untuk Jemmy. “Aku sudah mengganti resepnya, tidak akan terlalu dingin. Coba kamu cicipi.”Jemmy meminum seteguk, lalu mengangguk tanda mengiakan. “Segar sekali.”Julia meletakkan teko teh. “Semalam, Theresia pulang bersama Morgan. Sepertinya hubungan mereka sudah kembali seperti semula!”Kening Jemmy berkerut. “Aku memahami temperamen Morgan. Theresia pasti sudah menderita.”Julia mengangguk dengan perlahan
Sonia menggeleng. “Nggak apa-apa! Oh ya, ada yang ingin saya diskusikan sama Anda!”“Bukan aku suruh kamu panggil aku Kak Jason, kenapa jadi Anda? Panggil aku Kak Jason saja, meski Reza pasti nggak suka kamu panggil aku begitu!” Jason lalu menunjuk ke sisi sofa. “Ada masalah apa? Ayo duduk!”Sonia dud
Jason mengerutkan keningnya. “Aku nggak khawatir dia lakuin hal yang buruk. Hanya saja, kalau dia berkelana terus, pamanku pasti akan merasa nggak tenang.”Reza membalas, “Selama dua tahun ini Johan juga sudah semakin dewasa. Dia memang selalu meniruku, tapi dia juga punya pemikirannya sendiri. Janga
Reza meletakkan kartu poker yang sudah disusunnya ke samping, lalu mengeluarkan sebatang rokok. Saat ini Sonia tiba-tiba mengulurkan tangannya untuk menahan kotak rokok. “Kata siapa mau berhenti merokok?”Tatapan Reza langsung tertuju pada diri Sonia. “Apa ada hubungannya sama kamu?”Kedua mata Sonia
Baru saja Gina hendak mengiakan, Reza tiba-tiba berkata, “Kenapa kamu asal membagi tim? Nggak profesional.”Selesai berbicara, Reza mengeluarkan dua lembar kartu hitam dan dua lembar kartu merah, lalu mengocok dan membalikkan kartu ke atas meja. “Semua orang pilih satu, yang warnanya sama satu tim.”R







