LOGINDemi melunasi hutang ibu tirinya, Elowen Virelle dijual di rumah bordil dan melayani seorang pria misterius. Setelah diusir dari desa karena dianggap aib, ia hampir menyerah sebelum diberi kesempatan kedua untuk hidup lebih baik; yaitu bekerja sebagai pelayan di kerajaan. Namun hidupnya tak berjalan mulus begitu saja, ia berhadapan langsung dengan Aisar Leonel, sang pangeran yang diasingkan. Dan Elowen menyadari satu hal mengejutkan—sang pangeran adalah pria yang membelinya malam itu!
View More“Tuan Aisar—!”Aisar menarik napas dalam. Dia melepaskan pagutannya di bibir Elowen. Sedangkan gadis itu langsung meringkuk di dalam selimut. “M-maafkan saya, Tuan.” Silas langsung berbalik badan. Kedua tangannya meremas ujung pedangnya. Dia masih belum terbiasa dengan kebiasaan baru Aisar yang satu ini. “Biasakan mengetuk pintu, Silas. Apa aku masih harus mengajarimu sopan santun?” Suara dingin Aisar membuat Silas menelan ludah dengan susah payah. “Maaf, Tuan.”“Apa yang kau mau?” tanya Aisar dingin. Dia melirik Elowen yang masih meringkuk di dalam selimutnya. Silas berbalik badan, lalu menunduk lebih dalam. Dia berusaha mengabaikan wajah Elowen yang sudah merah sampai ke telinga.“Tuan, tahanan itu sudah siap dipindahkan,” ujarnya pelan. Tatapan Aisar langsung berubah. Tidak lagi lembut seperti saat bersama Elowen. Kini matanya kembali dingin dan penuh penekanan.“Ternyata lebih cepat dari perkiraanku,” kata Aisar. Senyum simpul terpancar di wajah tegasnya.“Ya, Tuan. Anak buah
“Aku selalu memintamu menjaga diri, tapi kau selalu saja melakukan kesalahan seperti ini, Elowen.” Dengan sangat perlahan, Aisar merebahkan Elowen di tempat tidurnya. Gadis itu sedikit bingung. Karena Aisar tidak membawanya ke kamarnya. “Tu-tuan ini—”Jari telunjuk Aisar menyentuh bibir Elowen. Membuat gadis itu membeku beberapa saat. Belum lagi mata biru Aisar yang kini sudah lebih gelap dari biasanya.“Ini pasti menyakitkan,” bisik Aisar. Tangannya menyeka perban di pelipis Elowen. Wajahnya mendekat, lalu mengecup bibir Elowen pelan. “Apa masih sakit?”Elowen tidak menjawab. Napasnya masih memburu. Perlakuan Aisar sangat tiba-tiba. “Katakan, apa yang kau rasakan. Jangan membuatku khawatir, Elowen.”Elowen mengerjap pelan. Dia berusaha mengulas senyum. Meyakinkan Aisar untuk tidak mengkhawatirkannya.“Saya baik-baik saja, Tuan. Luka ini bahkan tidak terlalu serius.” Elowen membalas genggaman tangan Aisar yang sudah dingin. “Tuan Aisar tidak perlu khawatir.”Aisar tidak langsung me
“Bukan begitu, Aisar.”Dominique memejamkan matanya sebentar. Dia menatap Aisar yang kini sudah menggendong Elowen di dalam dekapannya.“Tunggu dulu, dia harus diobati,” ujar Dominique. “Dia sudah diobati.” Jawaban Aisar begitu singkat. Matanya bahkan tidak beralih sedikit pun dari Elowen. “Kalau tidak, dia tidak mungkin sudah sadar sekarang.”“Aisar, tunggu!”Langkah Aisar terhenti tepat di depan pintu. Dominique menarik napas panjang. Kepalanya terasa semakin berat. Sejak awal dia sudah tahu hal seperti ini akan terjadi cepat atau lambat.“Aku tidak sedang berbohong padamu. Percayalah,” ujar Dominique dengan suara nyaris terdengar seperti bisikan. Aisar terkekeh pelan. Dia menggelengkan kepalanya samar. “Tapi Baginda juga tidak sedang mengatakan yang sebenarnya.”Ruangan kembali hening. Dominique mengatupkan rahangnya. Dia tidak bisa membantah kalimat itu.Karena memang benar, dia tidak berbohong, tapi dia juga tidak mengatakan seluruh kebenarannya pada Aisar. “Tu-tuan…” Elowen
Aisar?Dominique langsung berbalik badan. Rahangnya mengeras dengan ujung mata berkedut. Namun tatapan Aisar rupanya jauh lebih gelap. Dia menatap Elowen yang berusaha untuk duduk di atas ranjang. Langkahnya yang berat, menjadi satu-satunya suara yang menggema di ruangan itu. “Apa yang terjadi padanya?” tanya Aisar dingin. Dia menyentuh pipi Elowen yang memar dan juga luka di pelipisnya yang sudah terbalut perban. “Dia hanya kecelakaan saat bekerja,” ujar Dominique pelan. Sang raja sudah melangkah menjauh. “Kau tidak perlu khawatir, dia akan baik-baik saja. Ini hanya luka ringan.”Berbeda dengan pernyataan Dominique. Mata Aisar sudah menggelap. Dia menatap luka memanjang di bahu Elowen yang sedikit terbuka. Dia menyentuhnya, membuat Elowen menahan napas beberapa saat.“Katakan. Apa ini juga karena kecelakaan kerja?” tanya Aisar. Kini dia menuntun wajah Elowen untuk membalas tatapannya. “Tidak usah takut, Elowen. Kau masih mengingat janjiku, bukan?”Elowen langsung menegang. Jemari












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviewsMore