로그인“Aku cuma minta kamu buat istri aku hamil. Udah, gitu doang. Setelah itu lima ratus juta aku kasih ke kamu!” Hati istri siapa yang tidak sakit saat mendengar suaminya meminta pria lain untuk menghamili dirinya hanya karena takut harta warisan yang harusnya untuk mereka harus diberikan kepada yayasan karena mereka tidak kunjung punya anak. Aluna menolak keras ide gila dari Ragil. Namun Ragil yang sudah kehabisan akal akhirnya menjebak istrinya dan juga Dirga hingga akhirnya malam panas terjadi. Aluna murka dan marah kepada Ragil. Saat pikirannya membuncah, Aluna akhirnya menemukan jawaban dari rahasia besar yang dialaminya dulu saat SMA.
더 보기“Tugas kamu sederhana aja, Ga. Aku cuma minta kamu buat istri aku hamil. Udah, gitu doang. Setelah itu lima ratus juta aku kasih ke kamu. Eh no… Hari ini aku kasih dua ratus jutanya, sisanya lagi aku kasih kalau Aluna udah hamil,” papar Ragil dengan santai.
“Gila kamu ya, Gil!” amuk Dirga pelan pada pria yang menjadi sahabatnya itu. Tanpa keduanya sadari, wanita yang menjadi bahan perbincangan mendengar percakapan kedua pria itu yang membuat hatinya begitu sakit. Aluna Putri. Wanita itu awalnya memiliki janji temu dengan salah seorang sahabatnya di sebuah kafe yang terletak di pusat kota. Ririn—sang sahabat— tiba-tiba mengirim pesan jika dirinya dipanggil oleh dokter konsulen untuk membantunya operasi seorang pasien sore itu, hingga dirinya meminta maaf tidak bisa datang. Aluna yang sudah terlanjur datang memilih untuk tetap makan dan bersantai di kafe itu. Jika awalnya ia berpikir akan bosan karena sendirian, namun siapa sangka dirinya akan mendengar ucapan pahit dan menyakitkan dari sang suami. Kursi yang tinggi dan saling bersandar satu sama lain membuat tubuh Aluna tidak dapat terlihat oleh Ragil dan juga Dirga. Belum lagi posisi duduk Aluna yang membelakangi pintu masuk, membuat keduanya semakin tidak tahu, jika pengunjung kafe yang ada di meja belakang mereka adalah sosok yang sedang dibicarakan. Selain menahan sesak di dada, Aluna juga menahan tangis yang sedari tadi ingin meledak. Awalnya ia terkejut karena mendengar suara yang begitu ia kenali ternyata duduk di belakangnya. Hendak menghampiri namun ia mengurungkan niat itu saat mendengar ucapan gila yang diucapkan sang suami. “Aku nggak mau warisan mertua yang harusnya dikasih ke aku dan juga Aluna malah dikasih ke yayasannya semua. Kamu tahu sendiri kan, Ga seberapa kayanya mertua aku itu.” Aluna kembali mendengar suara Ragil yang berbicara. “Aku juga nggak bakalan punya ide gila ini kalau tu orang tua nggak kasih deadline dalam tiga bulan ini Aluna harus sudah hamil,” tambahnya dengan nada bicara yang lesu. Sesak semakin dirasakan oleh Aluna. Bagaimana tidak, suaminya meminta pria lain yang merupakan sahabat sekaligus kakak kelasnya dulu untuk tidur bersama, hanya untuk mendapatkan anak. Ralat… bukan demi untuk mendapatkan anak, namun hanya karena harta. What a mess! Beni Kusuma—papa Aluna—yang sejak lama mengharapkan kehadiran seorang cucu dari putri tunggalnya, akhirnya memberikan ultimatum kepada Aluna dan Ragil. Ia meminta agar dalam waktu tiga bulan ke depan sudah ada kabar kehamilan. Jika tidak, ia mengancam tidak akan menyerahkan harta warisannya kepada mereka berdua. Setahun lalu saat usia pernikahan mereka sudah memasuki tahun kedua, Aluna mengajak Ragil untuk memeriksakan kesehatan mereka. Saat itulah keduanya baru mengetahui, alasan terbesar kenapa dirinya tidak kunjung hamil. Dari hasil pemeriksaan Aluna dinyatakan sehat, sedangkan Ragil mengidap azoospermia. Azoospermia adalah suatu kondisi dimana tidak ada sperma yang ditemukan saat ejakulasi. Keduanya sempat terpukul mendengar vonis yang dijatuhkan oleh dokter. Ragil tentu saja sempat down dan tidak percaya diri. Namun berkat cinta yang luar biasa dari sang istri, Ragil akhirnya bisa bangkit dari keterpurukan. Aluna pikir ia akan hidup bahagia berdua dengan Ragil hingga usia tua walaupun tanpa kehadiran anak. Namun apa ini? Ia mendengar langsung jika Ragil memintanya untuk tidur bersama pria lain? “Kenapa tega kamu, Mas,” bisik Aluna. Ia bahkan sampai menggigit bibirnya hanya agar suara isaknya tidak sampai terdengar ke meja Ragil. Aluna merasa terhina, seakan seperti seorang pelacur yang sedang dijajakan oleh mucikarinya. Dan sayangnya, sang mucikari adalah suaminya sendiri. “Emang kamu udah nggak bisa sama sekali bikin bini kamu hamil?” Kali ini Aluna mendengar suara Dirga yang berbicara. Terdengar helaan napas kasar dari Ragil. “Aku bahkan sudah berobat sampai Jerman, dan hasilnya tetap sama. Sel sperma aku kualitasnya nggak bagus.” “Gara-gara hobi kamu dengan rokok dan mabuk sejak SMA,” cemooh Dirga. Aluna menutup matanya. Memang benar jika mereka telah berobat ke banyak dokter bahkan hingga ke Jerman. Semua hasil tes dari beberapa rumah sakit menunjukkan hasil yang sama, jika sel sperma yang Ragil hasilkan tidak bagus. Program bayi tabung pun mustahil mereka lakukan. Tetapi… dirinya yang harus bercinta dengan pria lain hanya untuk mendapatkan anak, bukankah itu adalah hal gila? “Kenapa hanya karena harta, Mas Ragil harus mengorbankan aku?” “Aku tidak yakin Aluna mau melakukannya,” kata Dirga, melontarkan pemikirannya. “Aluna bukan wanita yang seperti itu, yang bisa tidur dengan sembarang orang.” “Aku yakin dia mau.” Ragil berucap dengan penuh keyakinan. Tidak ada keraguan sama sekali di nada bicaranya. Hati Aluna kembali sakit, bagai tersayat tajamnya silet mendengar kata-kata yang keluar dari bibir sang suami. Hanya demi harta rela tubuh istrinya dijamah pria lain. Ingin rasanya Aluna pergi, tetapi ia urungkan karena dirinya pasti harus melewati meja keduanya. Ia tidak mau Ragil maupun Dirga tahu jika dirinya daritadi mendengar obrolan mereka. Tidak mau mendengar ucapan-ucapan menyakitkan dari suaminya lagi, Aluna mengambil earphone yang ada di dalam tasnya. Ia pasang di kedua telinganya lalu ia sambungkan ke smartphone miliknya. Aluna memutar lagu dengan volume sangat keras, menyamarkan suara pria-pria yang ada dibelakangnya. Aluna menutup matanya, seakan menghayati lirik dari lagu yang terputar. Kali ini Aluna benar-benar sudah tidak mau tahu mengenai perbincangan gila antara suami dan sahabat suaminya itu. Biarlah nanti ia sendiri yang akan berbicara langsung dengan sang suami saat mereka sudah di rumah.“Keluar kalau kamu datang ke sini cuma mau bikin kepala aku pusing dan merusak fokus kerjaku saja, lebih baik kamu pulang sekarang juga!”Aluna membelalakan matanya yang kini sudah basah oleh air mata yang luruh tanpa bisa dibendung lagi. Rasa syok, malu, dan sakit hati yang teramat pekat bercampur menjadi satu, menghantam fisiknya hingga terasa lemas.Dengan gerakan kasar dan jemari yang gemetar hebat, Aluna menyambar tas jinjingnya di atas meja. Tanpa mempedulikan tas bekal sarapan yang dibawanya tadi kini teronggok mengenaskan di tengah meja, Aluna langsung membalikkan tubuhnya. Dengan setengah berlari ia keluar dari ruangan suaminya itu, menutup pintu dengan bantingan keras tanpa mempedulikan Adi—sang sekretaris baru yang terkejut melihat dirinya keluar dalam kondisi sekacau itu.Aluna menekan kasar dan berulang kali tombol lift eksekutif di ujung lorong, berharap pintu logam itu segera terbuka."Ayo terbuka... cepat..." bisiknya panik dengan napas memburu.Ting.Pintu lift terbuk
“Kamu siapa?”Mendengar suara lembut dari Aluna, pria yang semula sedang berpaku menatap layar laptop di atas meja sekretaris itu segera berdiri tegak. Ia merapikan jasnya sejenak, lalu mengangguk hormat dengan sangat sopan kepada Aluna.“Saya Adi, Bu. Sekretaris Pak Ragil yang baru mulai hari ini,” jawabnya dengan senyuman profesional.“Sekretaris baru?” tanya Aluna lagi guna memastikan, seolah ingin meyakinkan pendengarannya sendiri bahwa ia tidak sedang salah dengar.“Betul, Bu. Saya pindahan dari divisi operasional lantai bawah,” jawab Adi ramah.Seketika itu juga segaris senyum tipis terlukis indah di wajah cantik Aluna. Dadanya yang sejak beberapa hari lalu terasa sesak akibat kecurigaan kini mendadak terasa lapang.Dirinya sama sekali tidak menyangka ternyata suaminya itu benar-benar membuktikan ucapannya yang dikatakan di atas ranjang malam itu. Aluna bahkan merasa tidak perlu lagi melaksanakan rencana rumitnya tentang penyelidikan antara suaminya dan juga Anggun.Dengan bukti
Sepanjang hari, Aluna sama sekali tidak menghantui suaminya dengan pertanyaan-pertanyaan yang menuntut seputar janji memo pemindahan Anggun. Kali ini ia sengaja memilih untuk diam. Ia hanya ingin melihat dan menguji bagaimana keseriusan Ragil dalam memenuhi janji manis yang diucapkan pria itu di atas ranjang semalam.Namun harapan tinggi yang sempat disusun Aluna ternyata tidak selalu tersampaikan dengan indah. Nyatanya, realitas kembali menamparnya dengan keras.Ragil bersikap biasa saja sepanjang hari, seolah-olah tidak pernah ada janji yang harus ia tepati hari itu. Pria itu tidak mengirim pesan berisikan laporan jika janjinya telah ia tunaikan. Bahkan malam ini pria itu pulang sangat terlambat, melampaui batas wajar hingga membuat Aluna yang kelelahan menanti akhirnya tertidur duluan di atas sofa kamar.“Kamu tidur duluan saja malam ini. Aku masih harus lembur di kantor karena ada berkas proyek yang harus diselesaikan.”Barisan kata dalam pesan singkat yang dikirim oleh Ragil seki
Aluna yang berencana akan ke kantor untuk memastikan tentang posisi Anggun harus membatalkannya. Efek tidak tidur tadi malam baru ia rasakan di pagi hari, hingga akhirnya ia tertidur dan tidak mengetahui kapan ayahnya berangkat ke bandara. Selain melewatkan kepergian sang ayah, Aluna juga melewatkan sarapannya.ART yang mengantarkan makanannya tadi pagi terpaksa kembali turun membawa sarapannya sebab Aluna yang tak kunjung membuka pintu. Akibatnya kini perut Aluna memberontak, meminta untuk segera diisi.Sebelum turun ke lantai bawah, Aluna segera membersihkan dirinya yang belum sempat ia lakukan tadi. Hanya dengan waktu setengah jam Aluna akhirnya keluar dari kamar.“Mbak…” panggil Aluna pada ART nya dengan sedikit berteriak.“Iya, Non.” Dengan setengah berlari, seorang pekerja wanita yang berumur empat puluh tahunan menghampiri Aluna.“Mau makan dong,” pinta Aluna.“Baik, Non. Tunggu sebentar, ya. Makan siangnya sebentar lagi siap.” ART itu membalikkan tubuhnya, namun baru beberapa
Aluna membuka matanya yang terasa berat. Hal pertama yang tertangkap oleh indra penglihatannya sebelum tersadar sepenuhnya adalah langit-langit kamar yang temaram, dan dirinya dirinya berada di dalam dekapan erat Ragil. Pria itu masih terlelap pulas dalam kondisi belum berpakaian, menyisakan sisa-s
Aluna berjalan gontai di trotoar, di bawah terik matahari siang yang membakar kulit. Ia seolah mengabaikan rasa panas yang menyengat karena isi dadanya jauh lebih bergemuruh hebat akibat peristiwa menyakitkan di kantor Ragil beberapa saat lalu. Bentakan sang suami hingga rentetan kata provokasi dan
Paginya Aluna turun ke lantai bawah dengan langkah gontai. Setelah melihat nama Anggun yang menghubungi suaminya di waktu yang tidak wajar, mata Aluna tidak bisa kembali terpejam hingga matahari terbit. Sebelum Ragil terbangun, Aluna memutuskan untuk lebih dulu turun setelah menyiapkan pakaian kerj
Wajah Ragil tampak begitu kusut. Setelan kemeja kerja mahalnya sudah berantakan dengan kancing atas yang terbuka, sedangkan dasinya pun sudah terlepas dan tergeletak sembarangan di lantai dekat ranjang. Pria itu tampak seperti seseorang yang baru saja kehilangan arah.Aluna yang masih berdiri memat






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
리뷰