تسجيل الدخولMaya, karyawati yang baru setahun menikah namun LDR dengan suaminya, meremehkan pentingnya hubungan intim. Dion, rekan kerja yang sudah beristri, membantah—karena baginya, hubungan intim adalah candu yang tak bisa dilepaskan. Godaan bermula dari ruang kantor yang sepi, batas mereka runtuh. Dari sana, perselingkuhan fisik berubah jadi sesuatu yang lebih rumit: cemburu, rasa memiliki, dan dilema yang tak terucapkan. Dan ketika suami Maya menawarkannya pindah ke luar kota, mereka harus memilih: berhenti, atau terjerumus lebih dalam.
عرض المزيدJam dinding menunjukkan pukul 19.45 ketika Maya akhirnya menghela napas panjang.
Di seberang ruangan, Dion masih setia di depan komputernya. pencahayaan dari meja mereka berdua. Beberapa menit kemudian, Dion tiba-tiba berdiri. "Aku bikin kopi. Kamu mau?" Maya mengangguk. "Boleh, makasih." Dion membuat dua cangkir kopi instan. Ia berjalan mendekati meja Maya, meletakkan salah satu cangkir di hadapannya, lalu duduk di kursi yang biasa dipakai tamu tepat di samping meja Maya. Jarak mereka hanya sekitar setengah meter. Dion mencondongkan tubuh sedikit. "Aku jadi penasaran. Kamu kan pengantin baru, masa baru nikah lagi panas-panasnya. Nggak pusing? Nggak ada teman tidur buat... memenuhi kebutuhan?" Maya mengerjapkan mata. Baru sadar arah obrolan. Ia memutar bola mata, tapi sudut bibirnya tertarik. "Idih, ngapain sih nanyain gitu?" "Ya iseng aja. Serius, aku penasaran." Dion tidak menunjukkan tanda-tanda mau mundur. Maya menghela napas. "Kamu pikir bercinta itu segalanya? Penting banget? Aku nggak ngerti kenapa orang pada ketagihan." Dion terkekeh pelan. "Itu karena kamu belum pernah ngerasain yang enak, May. Kalau udah dapet yang enak, pasti nggak bakal bisa lepas. Aku jamin." Maya menggeleng. "Alay." "Aku serius." Dion mencondongkan tubuh lebih dekat. "Aku sama istri aja pas baru nikah bisa empat kali seminggu." Maya tertawa kecil. "Itu sih kamu aja yang gampang nafsuan, Dion." Dion ikut tertawa. "Ya aku laki-laki dewasa, wajar." Ia jeda. "Kamu aja yang belum tahu enaknya, makanya bisa meremehkan." Ada sesuatu dalam tatapan Dion yang membuat Maya merasa... aneh. Seperti ada arus listrik kecil yang menyambar di dadanya. Ia mengalihkan pandangan, berpura-pura fokus pada layar laptop. "Udah ah, kerja lagi. Kamu ganggu aja." Dion tersenyum, tapi tidak segera berdiri. Ia masih duduk di kursi itu, menyeruput kopinya dengan tenang. Beberapa detik berlalu dalam keheningan. Akhirnya Dion berdiri. Ia berjalan kembali ke mejanya, tapi sebelum duduk, ia melirik Maya sekali lagi. "Suatu hari nanti, May. Kamu bakal ngerti sendiri." Maya mengabaikan. Ia memaksa matanya fokus pada proposal yang berantakan di layar. Tapi kalimat Dion terus terngiang. Jam menunjukkan pukul 21.15 ketika Maya akhirnya menyelesaikan pekerjaannya. Ia mematikan laptop, membereskan meja, lalu berdiri. "Ion, aku pulang dulu." Dion menoleh. "Naik taksi?" "Iya. Mau naik bus udah kemalaman." "Oke. Hati-hati. Kalau ada apa-apa, hubungi aku." Maya tertawa kecil. "Duh, perhatian banget, sih." "Yee, aku sih cuma kasihan aja. Mana tau kamu diculik. Kan nggak ada partner lembur." "Ih, Dion..." Tapi Dion tersenyum. "Aku serius, May." Maya terdiam sejenak. "Iya, iya. Aku hubungin kamu kalau ada apa-apa." "Duluan, Ion." Dion mengangkat tangan tanpa menoleh. "Hati-hati." Maya berjalan ke lift. Sendirian. Di dalam lift, ia menarik napas panjang. Bahkan orang yang bukan suamiku saja peduli. Sepanjang perjalanan pulang, Maya membuka ponselnya berkali-kali. Pesan terakhirnya ke Rangga: "Kapan pulang? Aku mau cerita banyak." Masih centang satu. Belum dibaca. Ia menggulir chat mereka ke atas. Dulu, Rangga selalu membalas cepat. "Sayang, aku kangen." "Capek nih, tapi nanti aku telepon." Sekarang? Balasannya singkat. "Iya." "Oke." "Nanti." Kemarin ada pesan dari Rangga: "Sayang besok aku ke kota. Nanti aku telepon." Itu tiga hari lalu. Teleponnya tidak pernah datang. Pesannya tidak dibalas. Tapi bukan sinyal yang hilang. Yang hilang adalah dia. Sesampainya di apartemen, ia membuka pintu. Sepi. Hanya suara AC dan detak jam dinding. "Sayang, aku pulang," bisiknya. Tidak ada yang menjawab. Maya melempar tas ke sofa. Merebahkan diri. Matanya jatuh pada foto pernikahan di dinding. Rangga tersenyum di sampingnya. Hari itu, ia yakin mereka akan bahagia. Satu tahun pernikahan. Sebagian besar dijalani sendiri. Ia memegang ponsel lagi. Pesan ke Rangga masih belum dibalas. Telepon yang ia coba dua jam lalu juga tidak tersambung. Malam ini aku menangis? Air matanya tidak jatuh. Hanya dadanya yang terasa sesak. Lelah. Selesai. Bosan. Cukup sudah untuk hari ini. Di tempat lain. Lima tahun pernikahan. "Kamu mau malam ini?" tanya istrinya. Bukan tawaran. Seperti tugas. Kewajiban yang harus dipenuhi. "Tidak, kamu istirahat aja." Dion memejamkan mata.Dion membuka matanya perlahan. Cahaya masuk melalui celah tirai, menciptakan garis-garis tipis di lantai kamar. Ia mengerjapkan mata beberapa kali, mencoba menyadari di mana ia berada. Lalu ingatan itu kembali Bandung, hotel, kamar Maya. Ia menoleh. Dan napasnya terhenti. Maya sangat dekat. Punggungnya menempel ke tubuh Dion, hangat, lembut, dengan rambut yang sedikit berantakan dan aroma sampo yang samar. Bagaimana Maya bisa sampai sedekat ini? Dion ingat posisi mereka saat tidur tadi: ada jarak, masing-masing di sisi kasur. Sekarang? Hampir tidak ada jarak. Untung saja Dion tidur menghadap Maya, ia bisa melihat punggung Maya, bukan menghadapnya. Kalau tidak, ia tidak tahu harus bersikap bagaimana. Tapi meski begitu, tangan Dion tidak memeluk. Masih ada kendali. Lalu ia merasakannya. Pantat Maya persis menempel di bagian selangkangannya. Dion menahan napas. Tubuhnya bereaksi. Ini di luar kendalinya. Sial. Ia diam membeku, tidak berani bergerak. Jantungnya berd
Dion mengusap wajahnya kasar. Mata perih, punggung kaku, tapi akhirnya pekerjaan selesai. Ia menekan tombol save sekali lagi, memastikan semua data tersimpan dengan aman. Jam menunjukkan pukul 05.12 pagi. Ia meregangkan badan, lehernya berbunyi krek kecil. Di luar jendela, langit Bandung mulai berubah warna—dari hitam pekat menjadi biru tua, lalu semburat oranye di ufuk timur. Pemandangan indah yang tidak sempat ia nikmati. Dion menatap layar. File sudah siap, tinggal submit. Tapi sebelum itu, ia janji akan membangunkan Maya untuk cek bareng. Ia berdiri. Langkahnya pelan menuju pintu kamar yang hanya tertutup geser. Dion berhenti di ambang pintu. Maya tidur dalam posisi miring, menghadap ke arahnya. Selimut hanya menutupi setengah badan, menyisakan bahu dan lengannya yang terbuka. Rambutnya berantakan, sebagian menutupi wajah, sebagian tersebar di bantal. Napasnya teratur, dada naik turun pelan. Dion mengakui bahwa Maya cantik. Bukan kecantikan yang mencolok, tapi yang muncul
Bandung. Kota itu menyambut mereka dengan udara dingin yang langsung terasa begitu kaki menginjak tanah. Maya menarik napas dalam, menikmati sensasi berbeda dari hiruk pikuk Jakarta. Di sampingnya, Dion mendorong koper masing-masing sambil sesekali mengecek ponsel. Dua hari di Bandung. Presentasi dengan calon klien, revisi di tempat, dan deadline yang mepet. Tim kecil mereka, Maya, Dion, dan dua orang lainlangsung menuju hotel setelah meeting pertama. Hari pertama berjalan intens. Meeting dari siang sampai malam. Klien ternyata tipe detail-oriented, minta ini-itu, revisi sana-sini. Saat mereka kembali ke hotel, jam sudah menunjukkan pukul 22.00. "Besok pagi harus submit," ucap Andi sambil menguap lebar. "Aku udah nggak kuat. Lebih baik aku lanjut nanti subuh aja." Rina mengangguk setuju. "Aku juga. Udah pusing." Maya dan Dion saling pandang. "Kita lanjutin aja," ucap Dion akhirnya. "Kalian berdua istirahat dulu. Nanti kalau udah mepet, aku kabarin." "Mantap, Yan. Makasih," An
Keesokan harinya. Jam menunjukkan pukul 21.30. Kantor sudah sepi. Lampu hanya menyala di beberapa titik. Maya baru saja selesai merapikan mejanya ketika ia mendengar suara kursi berderit dari arah seberang. Ia menoleh. Dion juga berdiri, meraih jaketnya. Mata mereka bertemu. Lalu serempak melihat jam dinding. Lalu kembali bertatapan. Mereka tertawa bersama. "Budak korporat," ucap Dion sambil menggeleng. "Kamu juga," balas Maya. "Kenapa sih malah kita yang sering lembur?" Dion berjalan mendekat, menyandarkan tubuh di pinggir meja Maya. "Ya karena posisi kita penting. Tugas kita lebih banyak dari yang lain. Konsekuensi jadi anak emas bos." Maya menyandarkan tubuh di kursinya, menatap Dion. Matanya menyipit, menggoda. "Kamu kok keliatan seneng banget sih lembur hari ini?" Dion tersenyum lebar. Jawabannya keluar tanpa ragu. "Habis dapat jatah dari istri kemarin. Kamu tahu lah..." Maya memukul lengan Dion pelan. "Idih, dasar nggak bisa nahan hasrat!" "Iya dong, bangga." Dion me


















Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.