Rahasia Di Balik Meja Kerja

Rahasia Di Balik Meja Kerja

last updateآخر تحديث : 2026-04-29
بواسطة:  Bianca beeمستمر
لغة: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
لا يكفي التصنيفات
7فصول
10وجهات النظر
قراءة
أضف إلى المكتبة

مشاركة:  

تقرير
ملخص
كتالوج
امسح الكود للقراءة على التطبيق

Maya, karyawati yang baru setahun menikah namun LDR dengan suaminya, meremehkan pentingnya hubungan intim. Dion, rekan kerja yang sudah beristri, membantah—karena baginya, hubungan intim adalah candu yang tak bisa dilepaskan. Godaan bermula dari ruang kantor yang sepi, batas mereka runtuh. Dari sana, perselingkuhan fisik berubah jadi sesuatu yang lebih rumit: cemburu, rasa memiliki, dan dilema yang tak terucapkan. Dan ketika suami Maya menawarkannya pindah ke luar kota, mereka harus memilih: berhenti, atau terjerumus lebih dalam.

عرض المزيد

الفصل الأول

1. Awal dari Segalanya

Jam dinding menunjukkan pukul 19.45 ketika Maya akhirnya menghela napas panjang.

Di seberang ruangan, Dion masih setia di depan komputernya. pencahayaan dari meja mereka berdua.

Beberapa menit kemudian, Dion tiba-tiba berdiri.

"Aku bikin kopi. Kamu mau?"

Maya mengangguk. "Boleh, makasih."

Dion membuat dua cangkir kopi instan. Ia berjalan mendekati meja Maya, meletakkan salah satu cangkir di hadapannya, lalu duduk di kursi yang biasa dipakai tamu tepat di samping meja Maya. Jarak mereka hanya sekitar setengah meter.

Dion mencondongkan tubuh sedikit. "Aku jadi penasaran. Kamu kan pengantin baru, masa baru nikah lagi panas-panasnya. Nggak pusing? Nggak ada teman tidur buat... memenuhi kebutuhan?"

Maya mengerjapkan mata. Baru sadar arah obrolan. Ia memutar bola mata, tapi sudut bibirnya tertarik. "Idih, ngapain sih nanyain gitu?"

"Ya iseng aja. Serius, aku penasaran." Dion tidak menunjukkan tanda-tanda mau mundur.

Maya menghela napas. "Kamu pikir bercinta itu segalanya? Penting banget? Aku nggak ngerti kenapa orang pada ketagihan."

Dion terkekeh pelan. "Itu karena kamu belum pernah ngerasain yang enak, May. Kalau udah dapet yang enak, pasti nggak bakal bisa lepas. Aku jamin."

Maya menggeleng. "Alay."

"Aku serius." Dion mencondongkan tubuh lebih dekat. "Aku sama istri aja pas baru nikah bisa empat kali seminggu."

Maya tertawa kecil. "Itu sih kamu aja yang gampang nafsuan, Dion."

Dion ikut tertawa. "Ya aku laki-laki dewasa, wajar." Ia jeda. "Kamu aja yang belum tahu enaknya, makanya bisa meremehkan."

Ada sesuatu dalam tatapan Dion yang membuat Maya merasa... aneh. Seperti ada arus listrik kecil yang menyambar di dadanya. Ia mengalihkan pandangan, berpura-pura fokus pada layar laptop.

"Udah ah, kerja lagi. Kamu ganggu aja."

Dion tersenyum, tapi tidak segera berdiri. Ia masih duduk di kursi itu, menyeruput kopinya dengan tenang.

Beberapa detik berlalu dalam keheningan.

Akhirnya Dion berdiri. Ia berjalan kembali ke mejanya, tapi sebelum duduk, ia melirik Maya sekali lagi.

"Suatu hari nanti, May. Kamu bakal ngerti sendiri."

Maya mengabaikan. Ia memaksa matanya fokus pada proposal yang berantakan di layar. Tapi kalimat Dion terus terngiang.

Jam menunjukkan pukul 21.15 ketika Maya akhirnya menyelesaikan pekerjaannya. Ia mematikan laptop, membereskan meja, lalu berdiri.

"Ion, aku pulang dulu."

Dion menoleh. "Naik taksi?"

"Iya. Mau naik bus udah kemalaman."

"Oke. Hati-hati. Kalau ada apa-apa, hubungi aku."

Maya tertawa kecil. "Duh, perhatian banget, sih."

"Yee, aku sih cuma kasihan aja. Mana tau kamu diculik. Kan nggak ada partner lembur."

"Ih, Dion..."

Tapi Dion tersenyum. "Aku serius, May."

Maya terdiam sejenak.

"Iya, iya. Aku hubungin kamu kalau ada apa-apa."

"Duluan, Ion."

Dion mengangkat tangan tanpa menoleh. "Hati-hati."

Maya berjalan ke lift. Sendirian.

Di dalam lift, ia menarik napas panjang.

Bahkan orang yang bukan suamiku saja peduli.

Sepanjang perjalanan pulang, Maya membuka ponselnya berkali-kali.

Pesan terakhirnya ke Rangga: "Kapan pulang? Aku mau cerita banyak."

Masih centang satu. Belum dibaca.

Ia menggulir chat mereka ke atas. Dulu, Rangga selalu membalas cepat. "Sayang, aku kangen." "Capek nih, tapi nanti aku telepon."

Sekarang? Balasannya singkat. "Iya." "Oke." "Nanti."

Kemarin ada pesan dari Rangga: "Sayang besok aku ke kota. Nanti aku telepon."

Itu tiga hari lalu. Teleponnya tidak pernah datang. Pesannya tidak dibalas.

Tapi bukan sinyal yang hilang. Yang hilang adalah dia.

Sesampainya di apartemen, ia membuka pintu.

Sepi. Hanya suara AC dan detak jam dinding.

"Sayang, aku pulang," bisiknya.

Tidak ada yang menjawab.

Maya melempar tas ke sofa. Merebahkan diri. Matanya jatuh pada foto pernikahan di dinding.

Rangga tersenyum di sampingnya. Hari itu, ia yakin mereka akan bahagia.

Satu tahun pernikahan. Sebagian besar dijalani sendiri.

Ia memegang ponsel lagi. Pesan ke Rangga masih belum dibalas. Telepon yang ia coba dua jam lalu juga tidak tersambung.

Malam ini aku menangis?

Air matanya tidak jatuh. Hanya dadanya yang terasa sesak.

Lelah. Selesai. Bosan.

Cukup sudah untuk hari ini.

Di tempat lain.

Lima tahun pernikahan.

"Kamu mau malam ini?" tanya istrinya.

Bukan tawaran. Seperti tugas. Kewajiban yang harus dipenuhi.

"Tidak, kamu istirahat aja."

Dion memejamkan mata.

توسيع
الفصل التالي
تحميل

أحدث فصل

فصول أخرى

للقراء

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

لا توجد تعليقات
7 فصول
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status