Mag-log inMaya, karyawati yang baru setahun menikah namun LDR dengan suaminya, meremehkan pentingnya hubungan intim. Dion, rekan kerja yang sudah beristri, membantah—karena baginya, hubungan intim adalah candu yang tak bisa dilepaskan. Godaan bermula dari ruang kantor yang sepi, batas mereka runtuh. Dari sana, perselingkuhan fisik berubah jadi sesuatu yang lebih rumit: cemburu, rasa memiliki, dan dilema yang tak terucapkan. Dan ketika suami Maya menawarkannya pindah ke luar kota, mereka harus memilih: berhenti, atau terjerumus lebih dalam.
view moreDion membuka paha Maya perlahan. Maya hanya bisa meremas seprai putih hotel itu erat-erat. Ia tak berani melihat ke bawah, malu, takut, juga penasaran. Tapi sensasi di sana... aneh. Berdenyut. Cepat sekali. Dan basah. Sangat basah. Dion menunduk. Bibirnya mengecup paha dalam Maya, lembut, hangat, basah. Kecupan itu naik perlahan, mendekati sumber denyut di sana. Tubuh Maya tersentak setiap kali bibir Dion menyentuh kulit sensitifnya. Dion berhenti. Ia menatap Maya dari antara kedua pahanya. "May, aku pegang ya?" Maya mengangguk, tapi matanya masih terpejam erat. Wajahnya memerah, napasnya tersengal. "Buka mata kamu, May." Suara Dion pelan, tapi penuh perintah lembut. "Lihat. Lihat gimana tangan aku dan tubuh kamu bereaksi. Biar kamu tahu nikmat itu kayak apa." Maya membuka mata perlahan. Pandangannya turun, melewati dadanya yang naik turun, melewati perutnya, hingga ke bawah, di mana Dion duduk di antara kedua pahanya yang terbuka. "Lihat sini, May," bisik Dion serak
Maya menggenggam erat ikatan handuknya. Jari-jarinya memutih menahan sesuatu antara keinginan untuk melepaskan atau mempertahankan. Dion mendekat. Langkahnya pelan, tapi pasti. Tubuhnya kini hanya beberapa senti dari Maya. Ia bisa mencium aroma sabun dari kulit Maya yang masih lembab. Rambut basahnya yang setengah kering, wangi sampo bercampur sesuatu yang khas hanya milik Maya. "May..." bisik Dion. Suaranya dalam, serak, seperti menahan sesuatu yang lama terpendam. Maya tidak menjawab. Ia hanya menatap Dion dengan mata yang berkaca-kaca antara takut, rindu, dan sesuatu yang tak berani ia akui. Dion mengulurkan tangan. Perlahan, ujung jarinya menyentuh wajah Maya. Mengusap lembut pipinya yang merona. Maya menutup mata, napasnya memburu. Lalu Dion mendekat. Wajahnya hanya sejengkal dari Maya. Bibirnya hampir menyentuh. "Aku... gak bisa," bisik Dion. Dan tanpa menunggu lebih lama, ia mencium Maya. Bibir mereka bertemu. Hangat. Lembut di awal, tapi cepat berubah menjadi se
Dion membuka matanya perlahan. Cahaya masuk melalui celah tirai, menciptakan garis-garis tipis di lantai kamar. Ia mengerjapkan mata beberapa kali, mencoba menyadari di mana ia berada. Lalu ingatan itu kembali Bandung, hotel, kamar Maya. Ia menoleh. Dan napasnya terhenti. Maya sangat dekat. Punggungnya menempel ke tubuh Dion, hangat, lembut, dengan rambut yang sedikit berantakan dan aroma sampo yang samar. Bagaimana Maya bisa sampai sedekat ini? Dion ingat posisi mereka saat tidur tadi: ada jarak, masing-masing di sisi kasur. Sekarang? Hampir tidak ada jarak. Untung saja Dion tidur menghadap Maya, ia bisa melihat punggung Maya, bukan menghadapnya. Kalau tidak, ia tidak tahu harus bersikap bagaimana. Tapi meski begitu, tangan Dion tidak memeluk. Masih ada kendali. Lalu ia merasakannya. Pantat Maya persis menempel di bagian selangkangannya. Dion menahan napas. Tubuhnya bereaksi. Ini di luar kendalinya. Sial. Ia diam membeku, tidak berani bergerak. Jantungnya berd
Dion mengusap wajahnya kasar. Mata perih, punggung kaku, tapi akhirnya pekerjaan selesai. Ia menekan tombol save sekali lagi, memastikan semua data tersimpan dengan aman. Jam menunjukkan pukul 05.12 pagi. Ia meregangkan badan, lehernya berbunyi krek kecil. Di luar jendela, langit Bandung mulai berubah warna—dari hitam pekat menjadi biru tua, lalu semburat oranye di ufuk timur. Pemandangan indah yang tidak sempat ia nikmati. Dion menatap layar. File sudah siap, tinggal submit. Tapi sebelum itu, ia janji akan membangunkan Maya untuk cek bareng. Ia berdiri. Langkahnya pelan menuju pintu kamar yang hanya tertutup geser. Dion berhenti di ambang pintu. Maya tidur dalam posisi miring, menghadap ke arahnya. Selimut hanya menutupi setengah badan, menyisakan bahu dan lengannya yang terbuka. Rambutnya berantakan, sebagian menutupi wajah, sebagian tersebar di bantal. Napasnya teratur, dada naik turun pelan. Dion mengakui bahwa Maya cantik. Bukan kecantikan yang mencolok, tapi yang muncul
Bandung. Kota itu menyambut mereka dengan udara dingin yang langsung terasa begitu kaki menginjak tanah. Maya menarik napas dalam, menikmati sensasi berbeda dari hiruk pikuk Jakarta. Di sampingnya, Dion mendorong koper masing-masing sambil sesekali mengecek ponsel. Dua hari di Bandung. Presentas
Keesokan harinya. Jam menunjukkan pukul 21.30. Kantor sudah sepi. Lampu hanya menyala di beberapa titik. Maya baru saja selesai merapikan mejanya ketika ia mendengar suara kursi berderit dari arah seberang. Ia menoleh. Dion juga berdiri, meraih jaketnya. Mata mereka bertemu. Lalu serempak melih
Jam menunjukkan pukul 12.15 siang. Kantor sedang sepi sebagian besar karyawan memilih makan di luar atau di food court bawah. Maya masih duduk terpaku di depan laptop, alis mengernyit membaca revisi dari klien yang datang tiba-tiba. Dion muncul dari arah pantry, minum di tangan. Ia berhenti di sam
Maya baru saja kembali dari makan malam sendirian di food court bawah kantor. Perutnya kenyang, tapi rasa kantuk mulai menyerang. Jam menunjukkan pukul 20.45 masih lebih awal dari biasanya, tapi ia berharap bisa segera pulang dan merebahkan tubuh di apartemen. Lift terbuka di lantai 12. Maya mela
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.