LOGINDi suatu area pemakaman Kota Jembara.Makam Kalong, T-rex, dan yang lain sudah dipindahkan tepat di samping makam Serigala. Mereka seolah-olah sedang berkumpul bersama lagi.Setelah Yandi tiba, dia menyalakan sebatang rokok di masing-masing depan makam. Tasya juga meletakkan bunga di depan batu nisan.Seperti biasanya, Yandi duduk di atas anak tangga batu. Dia menatap pegunungan di kejauhan sembari mendampingi mereka dengan hening.Tasya juga duduk menemani Yandi sejenak. Pada saat ini, dia berkata, “Kamu ceritakan lagi kisah kalian sebelumnya kepadaku!”Raut wajah Yandi kelihatan datar. “Aku sudah cerita semuanya!”Setiap kali kemari, Tasya selalu meminta Yandi menceritakan kisah di Benua Delta sebelumnya. Dia juga sudah menceritakan semua yang masih diingatnya.Tasya berkata, “Bukannya kedatangan banyak teman seperjuangan baru. Pasti ada banyak kisah lagi!”“Tidak ada lagi!” Yandi menekuk satu kaki dengan sikap santai dan cuek, bahkan tampak sedikit tidak sabar.“Kalau begitu, lain k
Tasya berkata, “Kalau begitu, aku terpaksa lapor polisi!”Pria bertato merasa agak kesal. “Bukannya cuma seorang pelayan, malah bersikap belagu. Aku bisa minta nomor WhatsApp-mu juga karena memandang tinggi dirimu!”Tasya menatap pria bertato dengan tatapan dingin. Dia melihat pria itu tidak menghentikan aksinya, dia pun langsung berteriak, “Bos Yandi, ada yang datang merusak restoranmu!”Tak lama kemudian, Yandi berjalan keluar dari dapur. Dia mengenakan kaos berwarna hitam. Postur tubuhnya tinggi dan kokoh. Saat berjalan kemari, udara sekitar seolah-olah telah membeku.Tatapan dingin Yandi menyapu ke sisi pria bertato. Pria bertato merasakan aura dingin yang menusuk tulang. Punggungnya terasa merinding. Dia pun spontan mundur selangkah.Tasya mengangkat tangannya menunjuk pria bertato itu. “Dia nggak mau bayar sebelum aku beri dia nomor WhatsApp-ku.”Teman pria bertato mendengar kegaduhan di sana. Mereka segera berdiri dan melihat ke sana. Mereka kelihatannya seperti preman saja.Leo
Tasya langsung tertawa. “Dia nggak bakal curi teko tehmu. Tenang saja!”Yandi langsung memelototi Tasya, lalu berkata dengan nada kesal, “Dia datang untuk mencarimu. Kalau ada urusan, kalian bisa pergi sana. Toko tidak terlalu sibuk.”Tasya menyadari raut wajah kesal Yandi. Dia takut Yandi akan marah, jadi dia pun segera berkata, “Nggak apa-apa. Aku akan suruh dia pergi dulu!”Usai berbicara, Tasya membalikkan tubuhnya untuk melihat Oscar. Dia menyadari Oscar sedang mengambil teko teh Yandi dan mengamatinya dengan saksama. “Letakkan!” Tasya berlari ke sana dengan buru-buru.Tangan Oscar gemetar. Dia hampir menjatuhkannya. “Kenapa?”Tasya merebut teko teh itu. “Bos Yandi menghabiskan uang dua … ratus juta untuk membelinya. Kalau sampai jatuh, apa kamu sanggup untuk ganti rugi?”“Dua ratus juga?” Oscar merasa ragu. “Benda itu tidak mirip dengan barang antik seharga 200 juta!”Tasya tersenyum. “Memangnya kamu mengerti soal barang antik?”“Tidak ngerti!”“Ya sudah!” Tasya memeluk teko teh
Oscar membalikkan tubuhnya berjalan keluar. Tasya merasa kaget, segera mengejar langkahnya dan meraih lengannya. “Ngapain kamu beri tahu ibuku?”Mata Oscar kelihatan memerah. Dia menoleh dan membalas, “Kamu juga bukan anak kecil yang lagi cinta monyet, kenapa tidak boleh beri tahu orang tuamu?”“Pokoknya kamu nggak boleh pergi!” Tasya segera menarik Oscar.Oscar mencengkeram pergelangan tangan Tasya, lalu menepisnya. “Lepaskan aku!”“Nggak! Oscar, atas dasar apa kamu ikut campur sama urusanku!”“Anggota keluargamu pada tahu kamu lagi bekerja di tempatku. Aku mesti tanggung jawab sama kamu!”“Apa kamu nggak waras! Kamu juga bukan tempat penitipan anak. Aku cuma atasanmu. Atas dasar apa kamu mesti tanggung jawab dengan masalah asmaraku!”“Kamu ada di tempatku, jadi aku mesti tanggung jawab dengan semua urusanmu!”“Kamu … aneh sekali!”“Kamu tidak tahu diri!”“Kamu bilang siapa nggak tahu diri?” Tasya merasa kesal. Dia mencengkeram lengan Oscar, lalu mengangkat kakinya untuk menendang bok
Sesekali Yandi akan menimpali, tetapi sebagian besar waktu hanya Tasya yang terus bercerita.“Di departemen sebelah kedatangan anak magang baru. Dia sering banget cari alasan buat datang ke kantor kami, dan selalu datang pas ada Oscar. Semua orang bilang dia naksir sama Oscar. Sayangnya, meski sudah datang empat atau lima kali, Oscar bahkan belum ingat siapa namanya.”“Anggota departemen sebelah juga ikut dalam team building kali ini. Bisa jadi ini adalah kesempatan bagus!”“Salah satu rekan kerjaku juga memelihara kucing Persia yang usianya sudah setahun. Setelah lihat foto Miao, dia langsung suka banget. Dia bahkan bilang, nanti kalau sudah besar, kucing kita bisa dijodohkan.”“Tentu saja, semua ini mesti dapat persetujuanmu dulu!”…Tasya teringat sesuatu. Saat dia berbicara dengan serunya, tiba-tiba dia terdiam dan memalingkan kepalanya untuk menatap Yandi.Yandi mengangkat kepalanya. “Ada apa?”Tasya menggigit bibirnya. “Menurutmu, kalau kita menikah dan bersama setiap hari, bukan
Sonia menggenggam tangan Kelly. Sepasang matanya dipenuhi dengan kekuatan. Dia menatap langit malam berkilauan, lalu berkata dengan tersenyum tipis, “Semuanya baru saja dimulai. Masa depan kita akan semakin membaik!”…Pada hari Jumat, di Restoran Steamboat Kuat.Restoran tidak beroperasi di pagi hari, jadi Bruno dan yang lainnya juga tidak bangun pagi. Setelah sarapan, mereka membersihkan restoran, menyusun meja dan kursi, lalu pergi membeli bahan makanan. Saat ini waktu sudah menjelang pukul sepuluh pagi, begitu pintu restoran dibuka, Tasya masuk dengan memeluk sebuah kardus.Tanpa perlu dilihat, isi kardus itu pasti adalah makanan, camilan, dan pasir untuk si Miao.Bruno merasa agak kaget. “Hari ini bukan akhir pekan. Kenapa kamu tidak masuk kerja?”Hari ini, Tasya mengenakan kaos berwarna putih dengan rambut dikuncir di atas. Saat berbicara, dia pun tersenyum dan suaranya terdengar lantang. “Hari ini perusahaan mengadakan team building. Aku nggak ikut.”Leon berjalan mendekat untu
Keesokan harinya.Setibanya di perusahaan, Ashley sudah menunggu di kantor Theresia. Begitu melihat Theresia memasuki ruangan, dia segera berdiri dan berkata dengan tidak berdaya, “Tony telepon aku lagi. Aku nggak angkat, kemudian dia kirim pesan kepadaku. Dia suruh aku pulang. Kalau nggak, dia akan
Theresia membawakan dua buket bunga segar pembelian Roger ke dalam rumah. Hestia pun datang dengan membawa vas bunga. “Aku lagi kupas kulit udang. Selesai nanti, aku baru akan pasang bunga ke dalam vas bunga.”“Kamu sibuk sana, biar aku saja!”Hestia juga tidak bersikap terlalu sungkan lagi. Dia ter
Perawat berkata pada Theresia, “Luka di atas kening dan paha kelihatannya nggak ringan. Sebenarnya alangkah bagusnya untuk melakukan pemeriksaan di rumah sakit. Hanya saja ….”Perawat itu dipelototi oleh Roger. Dia segera mengubah nada bicaranya. “Kalau Tuan Roger nggak ingin pergi, kita juga bisa a
Setelah Roger mengirim pesan, hatinya semakin terasa pilu saja. Ini pertama kalinya dia mencintai seseorang dengan begitu tulus, tetapi dia tidak dapat mendapatkan hati wanita itu.Beberapa hari kemudian, Theresia selalu makan di restoran itu setelah pulang kerja. Dia pun tidak pernah bertemu dengan







