MasukSuatu kecelakaan membuat hidup Letta berakhir di tempat yang tidak pernah dia bayangkan. Saat membuka mata, mendapati dirinya berada dalam tubuh Sydney, tokoh antagonis dari novel yang belum sempat dia selesaikan. Wajah, kehidupan, bahkan identitasnya bukan lagi miliknya. Letta harus menjalani kehidupan sebagai Sydney juga mencari cara mengubah jalan cerita tanpa membuat dunia itu menyadari perubahannya. Jika takdir telah menulis akhir kematian Sydney, apakah Letta masih bisa mengubahnya sebelum alur menemukan cara untuk membunuhnya?
Lihat lebih banyakSydney menghela nafas lega, karena ditempatkan sebagai sekretaris Marketing Director. Dia harga berusaha agar tidak menyela pembicaraan, mencari perhatian, bahkan sengaja menjaga jarak dari Nara dan Kei. Hanya ingin fokus dengan tumpukan berkas di atas meja. Ada jadwal meeting, proposal kerja sama, laporan campaign, dan dokumen internal marketing tersusun di hadapannya. Sydney membuka kalender kerja di komputer.“Meeting dengan klien jam sebelas, evaluasi campaign jam satu, lalu briefing tim jam tiga,” gumamnya sambil mencatat beberapa agenda ke tab. Semua harus diperiksa sebelum diserahkan kepada Marketing Director.“Sydney, ini materi presentasi untuk meeting sore. Pak Direktur minta semuanya sudah siap sebelum jam dua.” Seorang staf marketing datang membawa map, lalu meletakkan di atas meja.“Baik. Aku periksa nanti setelah laporan jadwal meeting.” Sydney berdiri menggenggam tab di tangan.“Kamu bisa kan? aku tinggal dulu kalo butuh bantuan panggil aja.” Staf mengetuk berkas yang t
Uap hangat masih memenuhi kamar mandi saat Sydney mematikan keran shower. Dia mengusap embun yang menempel di cermin besar di depannya. Pantulan wajah itu membuat sedikit tersentak, lalu terdiam terdiam."Aku masih belum terbiasa.” Dia menghela napas panjang, lalu meraih handuk putih tebal yang tergantung di samping wastafel. Setelah membungkus rambut dan tubuhnya, Sydney menggeser pintu bergeser pelan.Langkahnya langsung terhenti. Sydney berkedip beberapa kali karena kaget ada dua orang pembantu sudah berdiri rapi di dalam kamar. Di atas tempat tidur terbentang beberapa set pakaian dari berbagai merek ternama. Di sampingnya berjejer tas kulit, sepatu hak tinggi, perhiasan sederhana, hingga jam tangan yang masih berada di dalam kotak beludru."Ini semuanya disiapin buat aku." Sydney menatap wajah mereka bergantian. Salah satu dari mereka tersenyum sopan."Selamat pagi, Nona Sydney. Kami sudah menyiapkan pakaian untuk kegiatan hari ini." Sydney masih memandangi deretan barang itu."
Sydney menarik napas panjang sebelum membuka pintu kamarnya. Seharusnya dia tidak perlu khawatir soal pertemuan ini, tapi tetap saja dia sedikit takut. Saat pintu terbuka pelan menampilkan koridor rumah itu begitu sunyi. Hingga suara langkah kakinya terdengar jelas di antara dinding yang menjulang tinggi."Ini cuma pertemuan biasa. Harusnya ga seburuk itu," batin Sydney menenangkan diri, di ujung kepalanya kembali berdenyut dengan cemas tangannya meraih handrail sebagai tumpuan.Kilasan ingatan bermunculan begitu saja. Meja makan keluarga sudah dipenuhi berbagai hidangan. Aroma sup krim, steak, dan roti panggang memenuhi ruangan. Ayah Sydney duduk di kursi paling ujung sambil membuka beberapa berkas. Di sebelahnya duduk Nara sambil memainkannya gelas berisi air.“Nona, maaf, tadi saya berniat untuk ke atas. Bapak meminta anda turun,” ucap pembantu rumah sambil menunduk sopan. Spontan Sydney menegakkan tubuhnya lagi.“Makasih, tapi jangan panggil nona itu membuat ku canggung, mulai har
“Ini bukan rumah sakit,” ucap Sydney seperti lebih berbicara pada dirinya sendiri.Kei mengernyit. “Ya jelas bukan. Kamu ada di kamar kamu sendiri.“Kamar aku?Aku masuk ke cerita ini.” Sydney menggigit ujung ibu jarinya. Semua terlalu nyata untuk disebut mimpi, tapi rasanya terlalu asing untuk menjadi hidupnya sendiri. Kei buru-buru menarik tangannya, bahkan sedikit menyakitkan karena kekuatan yang diberikan terlalu besar.“Aduh! Jangan sembarangan nyentuh dong! Kamu jelas sengaja kasar sama aku kan.” Sydney menghentakkan genggaman Kei dengan kasar, tatapan mata yang tadinya bingung berubah menjadi marah. “Kamu kenapa sih, Aku cuma khawatir kamu menyakitkan dirimu sendiri.” Kei mundur dengan langkah bingung.Sydney menyeringai dengan nada sinis, meskipun dalam hatinya dia tidak benar-benar marah. Dia merasa harus bertindak sesuai dengan karakter Sydney yang dia kenal dari cerita. “Kamu pasti senang liat aku seperti ini kan? Pingsan dan tidak ingat apa-apa, jadi kamu bisa melakukan a












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.