LOGINSaat mereka berdua keluar rumah, hari sudah siang. Kebetulan mereka melewati toko bunga, Theresia menyuruh Morgan menghentikan mobil. Dia turun membeli sebuket bunga untuk Julia.Setelah kembali ke mobil, Theresia bertanya pada Morgan, “Apa yang Kakek sukai? Aku juga mau beli sedikit hadiah untuknya.”Morgan berkata, “Kali ini tidak perlu. Lain kali saja.”Theresia mendengar apa kata Morgan. Dia pun mengangguk dengan perlahan.Aroma wangi bunga semerbak di dalam mobil. Aromanya terdengar segar. Theresia tiba-tiba merasa sedikit menantikan rasanya “pulang ke rumah". Setidaknya sudah tidak seperti pertama kali lagi, yang dipenuhi perasaan tidak menentu.Di Kediaman Keluarga Angsara.Sejak pagi, Aska pun tidak bisa duduk tenang. Dia tidak berhenti berjalan mondar-mandir di dalam ruang tamu, lalu tidak berhenti menatap ke sisi halaman.Jemmy mengerutkan keningnya. “Kamu mondar-mandir terus, aku pun jadi pusing. Bisa tidak kamu duduk sebentar? Bukannya Julia sudah bilang, nanti Theresia ak
Morgan berkata dengan nada tenang, “Lupa!”Theresia membalikkan tubuhnya dari dalam pelukan Morgan. Dia mengangkat ujung matanya dan tersenyum menggoda. “Kalau begitu, kelak aku akan transfer setiap kalinya, jadi aku pun akan merasa lebih tenang.”Morgan menatap Theresia dengan tatapan mendalam. “Apa seru untuk membohongi diri sendiri?”“Seru!” Theresia memelototi Morgan dengan mata indahnya. “Tapi jadi nggak seru karena dibongkar sama kamu!”Selesai berbicara, Theresia mendorong Morgan hendak menuruni ranjang.Pria itu langsung meraih tangan Theresia dan menindihnya di atas ranjang. Dia pun tersenyum tipis. “Berhubung dibayar, aku akan memberi Nona Theresia pelayanan yang memuaskan.”Theresia mengangkat kepalanya untuk mencium bibir Morgan. Selagi Morgan tidak memperhatikan, dia langsung membalikkan tubuhnya untuk menukar posisi mereka berdua. Wajahnya yang luar biasa cantik memancarkan daya tarik yang tidak terbendung. Napasnya sedikit terengah-engah. Dia membungkuk menatapnya, lalu
Morgan berkata dengan nada berat, “Dua hari ini, aku suruh orang untuk menelusuri petunjuk orang tua asuhmu untuk menemukan orang yang menculikmu waktu itu. Sepertinya dia sudah ditangkap pada satu tahun lalu. Sekarang, dia sedang ditahan di penjara. Aku akan suruh orang untuk ‘menjaganya’.”Tatapan Theresia menjadi dingin. Dia mengangguk dengan perlahan.Morgan melanjutkan, “Selain itu, nasib ‘orang tua asuh’ yang membelimu juga tidak bagus sekarang. Putranya tidak mahir dalam apa pun. Dia sudah punya kekasih, tapi mereka berdua tidak bekerja. Setiap harinya hanya menghamburkan uang orang tua saja. Putra mereka juga sering memarahi dan memukul mereka. Berhubung nasib mereka sudah seperti itu, aku juga tidak suruh orang untuk turun tangan lagi.”Theresia berkata, “Aku sudah nggak punya dendam lagi sama mereka. Aku memang bukan anak kandung mereka. Mereka sudah membeliku, tapi juga sudah menjualku. Aku nggak punya perasaan apa-apa terhadap mereka. Tentu saja aku nggak membenci mereka.”
Sayap ayam di dalam oven sudah selesai dipanggang. Sup yang mendidih juga sudah dingin. Sepertinya sedang hujan di luar sana. Suara rintik hujan membuat suasana yang sudah tenang terasa semakin hening lagi.Morgan membangkitkan tubuhnya dengan perlahan. Dia mengenakan pakaiannya, lalu berkata dengan suara serak, “Biarkan aku saja yang beresin. Kamu pergi mandi sana. Setelah selesai mandi, kamu pun sudah bisa makan.”Theresia menyipitkan matanya dengan malas. Dia tidak ingin bergerak. “Apa kamu yakin kamu bisa menyelesaikan masakan setelah aku selesai mandi?”“Apa cukup dengan dua jenis lauk dan satu jenis sup?” tanya Morgan.Theresia berkata dengan nada ringan, “Tadi siang Kakek suruh orang antar makanan kepadaku. Masih sisa banyak sekali, jangan disia-siakan, aku akan memanaskannya nanti.”“Emm,” balas si pria dengan nada rendah.Morgan menggendong Theresia ke atas meja dapur. Theresia malah memeluk erat pinggang Morgan dan tidak bergerak. Sudut matanya masih kelihatan memerah. Dia be
Koki utama adalah seorang pria berkulit putih. Dia menguasai bahasa Cendania yang sangat lancar. Dia pun berkata dengan tersenyum ramah, “Apa kamu itu kekasihnya Tuan Morgan? Kalau kelasnya diakhiri sekarang, uangnya juga tidak bisa dikembalikan lagi.”Theresia berkata dengan tersenyum, “Aku tahu. Terima kasih, ya!”“Oke, sampai jumpa!” Theresia mengangguk, lalu memutuskan panggilan video. Dia memalingkan kepalanya dan bertanya pada Morgan, “Apa kamu mau panggang sayap ayam?”“Apa kamu bisa?” tanya Morgan.Theresia berkata, “Bukannya kamu sudah bumbui ayam itu? Langsung masukkan ke dalam oven saja. Cukup atur suhu dan waktunya saja!”Morgan menyerahkan sepiring sayap ayam yang sudah dibumbui kepada Theresia. Theresia membalikkan tubuhnya memasukkan piring ke dalam oven, lalu bertanya, “Kenapa kepikiran untuk belajar masak?”Morgan mulai memilih bahan makanan lain, lalu menjawab dengan nada datar, “Tidak apa-apa. Biar kamu merasakan rasanya ada makanan setelah pulang ke rumah.”Theres
Ketika mendengar ucapan panjang lebar Ranty yang bagai petasan itu, Theresia tak tahan kuasa untuk tertawa. “Jangan pingsan. Nanti Tuan Matias malah sakit hati.”“Theresia, apa kamu tahu aku sudah kenal berapa tahun sama Kakek Aska?” Ranty merasa terharu. “Kita itu berteman. Sekarang, kamu malah berubah menjadi cucu kandungnya Kakek Aska!”Theresia dapat mendengar betapa kagetnya Ranty dari nada bicaranya. “Sebenarnya aku sendiri juga merasa sangat syok!”“Tapi, aku benar-benar merasa sangat gembira!” Nada bicara Ranty terdengar tulus. “Kabar ini benar-benar membuat orang merasa syok dan gembira!”Ranty tidak menyukai Hallie. Saat mendengar kabar bahwa Hallie bukanlah cucu perempuan Aska, dia pun merasa sangat gembira. Apalagi setelah mendengar kabar dari Sonia bahwa Theresia barulah cucunya Aska, dia pun merasa sangat amat gembira!Semalam, Ranty memeluk Matias dengan kegirangan. Matias pun salah sangka mengira dia sudah mengandung!“Terima kasih!” Theresia tersenyum lembut. “Ranty, a
Hari ini Darren sangatlah santai. Dia melihat akun Instagram-nya, lalu menyadari Thalia mengunggah postingan pada jam 12 malam dengan akun rahasianya. Thalia mengunggah foto dirinya menghadiri suatu acara pesta.Latar di belakang foto selfie-nya adalah aula dari sebuah hotel mewah. Kemudian, tampak s
Reza menatap mobil Sonia semakin menjauh, lalu membalikkan kepalanya menatap Thalia. “Ayo, pergi!”Kedua mata Thalia berkilauan. Dia lekas mengikuti langkah si lelaki.…Keesokan harinya, saat Sonia pergi bekerja, Gina masuk ke ruangannya. Dia memegang segelas kopi sembari bersandar di dekat jendela. “
Sonia berdiri, lalu berjalan ke sisi Thalia.Thalia mengedip-ngedipkan matanya, lalu menatap Sonia dengan lemah lembut. “Sonia.”“Plak!”Tamparan yang dilayangkan Sonia sangatlah kuat hingga Thalia langsung terjatuh. Tampak bekas darah di ujung bibir Thalia. Kepalanya kliyengan dan dia pun terbengong.S
Sonia menjawab, “Dalam dua hari ini!”Air mata membuat pandangan Ranty menjadi kabur. “Apa Yandi tahu?”“Nggak tahu. Aku juga nggak berencana buat beri tahu dia!”Ranty semakin panik. “Kenapa? Kalau dia tahu, dia pasti akan pergi bersamamu. Masalah ini adalah masalah kalian berdua!”“Masalah ini masalah







