Mag-log inTentu saja Aska menyadarinya. “Hallie, apa pun ceritanya, ucapanku dulu masih akan berlaku. Kalau kamu tidak ingin mencari orang tua kandungmu, kamu bisa terus tinggal di sini. Kami akan menjadi orang terdekatmu.”Mata Hallie memerah. Dia mengangguk dengan terisak. “Aku nggak merelakanmu!”Aska segera berkata, “Aku mengerti.”Wajah Hallie memucat. Dia menggigit bibir bawahnya. Dia kelihatan sangat malang. “Kakek, aku juga pernah berpikir sebelumnya. Aku bukan anggota keluarganya Kakek. Aku nggak boleh terus tinggal di sini, apalagi sekarang cucu kandungmu sudah ditemukan. Aku pun nggak punya alasan untuk tinggal di sini lagi. Tapi, aku benar-benar nggak ada tujuan. Aku nggak bisa kembali ke rumah orang tua asuhku. Aku nggak punya keluarga dan teman. Aku juga nggak tahu mesti ke mana?”Saat mendengar ucapannya, hati Aska terasa semakin sakit lagi. Dia berjalan maju untuk menepuk-nepuk pundak Hallie berusaha untuk menenangkannya. “Kalau Jeje tidak ditemukan, dia mungkin akan sepertimu, t
Ketika melihat semua ini, hati Theresia tergerak. Sepertinya kali ini dia baru benar-benar merasakan bahwa dirinya adalah Jeje.“Kuda kayu ini dibuat oleh kakekmu sendiri. Di atasnya juga adalah lukisannya.” Julia tersenyum lembut. “Lonceng emas ini juga dia buat untuk kamu dengan menggunakan batang emas. Sewaktu kecil dulu, kamu sangat suka dengan kuda kayu ini.”Theresia mengangguk dengan perlahan. Dia duduk di depan kuda kayu, lalu melihat kuda kayu itu. Dia masih sangat menyukai kuda kayu ini.Julia membuka lemari pakaian. Di dalamnya disusun banyak terusan kecil. “Semuanya pernah kamu pakai dulu.”Ada berbagai jenis terusan. Meskipun sudah 20 tahun berlalu dan kelihatannya agak usang, tetap saja kelihatan sangat cantik. Rasa familier kembali dirasakan.“Selain itu ….” Julia mengeluarkan dua foto album yang sangat besar dari laci paling bawah. Dia duduk di lantai bersama Theresia. “Semua ini adalah foto masa kecilmu.”Sejak Jeje hilang, tidak ada yang berani membuka foto album ini.
Aska meminum teh dengan tenang. “Meskipun aku pernah mengatakannya, sepertinya waktu itu kamu juga tidak setuju. Kamu bilang, anak muda bebas dalam masalah asmara, sebagai senior tidak seharusnya ikut campur, sekarang sudah tidak tren masalah perjodohan lagi! Kenapa? Setelah Jeje ditemukan, kamu tidak mendukung kebebasannya dalam asmara lagi?”Jemmy menatap Morgan. “Kata siapa tidak tren untuk melakukan perjodohan?”Morgan menggeleng dengan tenang. “Aku tidak ingat!”Aska tersenyum sinis. “Kalian berdua tidak perlu bersandiwara. Kamu pernah mengatakannya. Aku ingat dengan jelas!”Jemmy tersenyum, lalu bertanya pada Morgan, “Bagaimana menurutmu?”Morgan terlihat santai. “Kalau begitu, bebas saja, aku juga tidak masalah.”Jemmy langsung tersenyum. Sepertinya Morgan yakin bisa mendapatkan Theresia!Aska malah berkata, “Tidak, tidak boleh. Intinya, jangan menargetkan Jeje-ku. Aku dan Julia tidak mungkin membiarkannya menikah dengan begitu cepat. Setidaknya, dia mesti tinggal beberapa tahun
Julia bertanya pada Morgan, “Apa kamu punya foto masa kecil Theresia dulu?”Morgan melirik Theresia sekilas, lalu berkata dengan mengangguk, “Seharusnya ada. Nanti aku akan suruh orang untuk mencarinya.”“Oke, kamu mesti mencarinya untukku.” Terlihat tatapan penuh penantian di dalam mata Julia.Julia sama sekali tidak tahu apa-apa mengenai Theresia. Dia sudah tidak sabar untuk memahami putrinya.Meja makan itu terbuat dari kayu yang sudah berumur tua. Kebetulan Theresia sedang duduk menghadap jendela. Pohon magnolia di luar jendela sana sudah berbunga. Ketika mendengar ucapan Aska dan Julia, dia tiba-tiba merasakan sesuatu yang pernah dirasakannya dulu.Theresia melihat ke sisi jendela, lalu bertanya, “Dulu ada sebuah rak bunga di sana. Di atasnya dipajang sebuah vas bunga berwarna-warni. Benar, ‘kan?”Aska dan Julia pun terbengong. Aska menatap Theresia dengan kaget. Matanya mulai basah. “Apa kamu masih ingat?”Theresia mengangguk. “Aku merasa seperti pernah melihatnya saja.”Julia me
“Kalau begitu, kamu makan dulu, makan!” Aska menatap Theresia. Sepertinya karena terlalu gembira, suaranya pun terdengar sedikit gemetar.Pelayan sudah mempersiapkan makan siang. Semua orang bersama-sama berjalan menuju ruang makan. Dari tadi Julia menggenggam tangan Theresia. Dia masih tidak bisa menenangkan dirinya.“Jadi, di dunia ini tidak mungkin bisa muncul kesan baik terhadap seseorang tanpa alasan. Saat pertama kali kita bertemu, kita bagai sudah kenal lama, ternyata karena punya hubungan darah.”Theresia berkata dengan tersenyum, “Setelah dipikir-pikir saat ini, semuanya terasa sangat ajaib.”Julia menyuruh Theresia untuk duduk. “Kamu makan dulu. Kita ngobrol setelah selesai makan.”Semua orang duduk mengelilingi meja makan. Aska bertanya pada pelayan, “Di mana Hallie? Seharian aku tidak melihatnya.”Pelayan membalas, “Kata Nona, ada sedikit urusan di perusahaan, dia pun sudah pergi bekerja pagi-pagi.”Morgan kepikiran dirinya bertemu dengan Jovita di lembaga forensik. Tatapan
Terlihat senyuman di atas wajah tampan Reza. “Hasil ini sangat menggembirakan!”Setidaknya sejak awal, siapa pun tidak akan menyangka hasil ini.Juno mengambil tisu untuk Rose dan Aska. Dia menepuk-nepuk pundak Rose. “Jangan menangis lagi. Kalau kamu menangis lagi, Pak Guru juga tidak bisa merasa tenang.”Rose mengambil tisu untuk menyeka air mata Aska. "Pak Guru jangan menangis lagi. Jangan menangis lagi!”Jemmy juga mengambil tisu yang diberikan Sonia, lalu menyeka matanya. Saat melihat Morgan, dia memberikan tatapan penuh rasa kagum. Cucunya ini memang hebat!Bibir tipis Morgan sedikit melengkung ke atas. Dia mengangkat bola matanya untuk melihat Theresia.Theresia tidak menangis. Tatapan yang diperlihatkan bahkan terasa tidak berdaya. Dia sudah lama tidak memiliki perasaan seperti ini. Hal yang paling berkesan di benaknya adalah masa Morgan membawanya pergi dari Hondura. Theresia duduk di dalam mobil. Dia tidak tahu pria itu hendak membawanya ke mana. Dia tidak tahu apa yang akan d
Sonia mengangguk, “Aku pindah sebulan yang lalu.”Juno mengangguk pelan, “Baguslah. Kalau tinggal di gunung terus, lama-lama jadi penyendiri.”Sonia mengangkat alisnya tanpa memberi komentar apa pun. Setelah itu, keduanya mengobrol sebentar. Kemudian, Juno bertanya, “Kamu tahu nggak kenapa Guru suruh
Pria itu berjalan ke depan meja, begitu melihat Sonia, wajah Robi yang biasanya terlihat datar tanpa ekspresi, tiba-tiba terlihat sedikit kaget.Sonia bangkit berdiri, lalu berkata dengan nada yang sopan, “Silakan duduk, aku sudah memesankan sebuah kopi hitam yang dingin untukmu.”Robi duduk di sebera
Seluruh tubuh Sonia mendadak menjadi kaku ketika melihat lelaki itu berdiri di sana. Tiba-tiba dia lupa untuk menghindar dan kepalanya mengenai bantal yang dilemparkan oleh Tandy.“Jangan berisik!” ujar Reza dengan nada penuh peringatan pada Tandy.Tandy tidak menyangka kalau bantal tersebut tepat men
Reza langsung membuang setengah panci kecil air jahe tersebut. Pria itu menaruh panci dan mangkok kotor ke dalam mesin pencuci piring, lalu kembali ke kamar untuk mandi. Barulah setelah semuanya rapi, pria itu pergi melihat Sonia.Sonia saat itu sudah hampir tidur, tapi karena merasakan ada orang yan







