LOGINMorgan membalas dengan pesan suara. Suara rendah dan magnetisnya terdengar dari telepon. “Makan yang banyak. Belakangan ini kamu semakin kurus lagi.”Theresia mengangkat alisnya. [ Apa iya? ][ Morgan: Rasanya agak ringan ketika digendong. ][ Theresia: Sejak makan masakan Tuan Morgan waktu itu, aku jadi nggak nafsu makan, wajar kalau aku kurus. ][ Morgan: Aku akan masakin buat kamu pada akhir pekan nanti. ]Theresia mengirim sebuah emotikon seekor kucing kecil memeluk ikan.[ Morgan: Makanlah. ]Theresia meletakkan ponselnya, lalu fokus dalam menyantap makanannya. Dia merasa masakan hari ini sangatlah lezat.Sore harinya, Theresia mengadakan rapat mendadak. Saat keluar dari ruangan rapat, waktu sudah menjelang jam pulang kerja. Ingga pun mendekatinya. “Bos, Dias kemari!”Theresia mengangkat mata indahnya. “Di mana?”Ingga menunjuk ke bagian belakang tubuhnya. “Ruang tamu!”Theresia mengangguk sedikit kepalanya, lalu berjalan ke sisi ruang tamu.Dias mengenakan pakaian formal. Dia sed
Aska tersenyum lebar, seolah-olah merasa lega. “Kalau begitu, sepakat, ya!”Malam harinya mereka semua makan bersama. Julia memesan lagi tiket penerbangan untuk lusa hari nanti. Dia sengaja tidak memesan penerbangan besok karena ingin bersama Theresia untuk beberapa hari ini.Malam harinya.Theresia seperti biasanya, akan pergi mengobrol dengan Julia sebelum tidur. Dia duduk bersandar di ranjang, lalu berkata dengan tersenyum, “Ibu, ada yang ingin aku kasih tahu sama kamu. Aku harap kamu jangan marah.”Ekspresi Julia terlihat lembut. “Ada masalah apa?”Theresia mengeluarkan akta nikah, lalu menyerahkannya kepada Julia. “Aku dan Morgan … sudah menikah.”Julia membuka akta nikah dengan kaget, lalu melihat foto mereka berdua, kemudian melihat bagian tanggal. Matanya seketika terbelalak lebar. “Ini ….”Sepertinya semua berjalan dengan terlalu cepat!Theresia berkata, “Maaf, aku nggak beri tahu kamu dan Kakek duluan. Waktu itu, masalah terlalu mendadak.”Julia tersenyum. “Memang cukup menda
Pria itu membungkukkan tubuhnya untuk mencium kepala Theresia. Suaranya berubah menjadi serak. Dia pun berkata dengan suara berat, “Sebelum kamu datang, aku tidak bisa tidur semalaman.”Theresia menurunkan bulu matanya. “Aku juga.”Mungkin karena merasa terlalu bahagia sekarang. Ketika mengingat kembali cobaan di malam itu, dia juga sudah tidak merasa sedih lagi.Morgan menyembunyikan sikap murungnya. Nada bicaranya malah terdengar serius. “Kalaupun kamu sudah pergi, aku juga akan menunggumu. Kamu sudah menungguku selama ini. Aku juga bisa menunggumu.”Hati Theresia bagai digerogoti semut saja, rasanya sakit dan gatal. Dia menggigit bibir bawahnya. “Jadi, kenapa kamu nggak suruh aku tinggal?”Morgan menunduk dan mencium pipi samping Theresia. Nada bicaranya terdengar manja. “Kalau kamu ingin kehidupan yang menarik, aku bisa memberikannya kepadamu. Aku bisa beri semua yang kamu inginkan.”Theresia memiringkan sedikit kepalanya. Dia menatap mata Morgan. “Aku cuma mau kamu saja!”Tatapan
Sederetan orang di luar berdiri hormat dengan rapi sembari mendengar omongan Jemmy.Jemmy memperkenalkan kepada semua orang dengan serius, “Dulu, Theresia pernah datang ke rumah. Kalian semua juga sudah pernah bertemu dengannya. Hari ini, aku perkenalkan secara resmi. Dia adalah istrinya Morgan, calon nyonya rumah dari Keluarga Bina, Theresia.”Indra merasa paling gembira. Dia duluan memberi selamat. “Selamat, Tuan. Selamat, Nyonya!”Yang lain juga baru tersadar dari rasa kaget mereka. Semuanya mulai memberi selamat.“Nyonya!”“Selamat atas pernikahan Tuan dan Nyonya!”“Tuan dan Nyonya langgeng selalu dan segera dianugerahi momongan!”…Theresia berterima kasih dengan tersenyum lembut. Dia tetap kelihatan tenang dan ramah, tetapi sebenarnya dia sungguh merasa canggung. Semuanya memang terlalu mendadak. Dia bahkan tidak mempersiapkan apa-apa, bahkan tidak membawa hadiah sama sekali.Sepertinya Morgan tahu apa yang sedang dipikirkan Theresia. Dia menggandeng tangan Theresia, lalu berkata
Setelah kembali ke Kediaman Keluarga Bina, Indra melihat Morgan menggandeng Theresia untuk memasuki rumah. Setelah merasa terkejut sejenak, mereka bergegas menyambut kepulangan mereka berdua. Dia sungguh merasa takjub. Ternyata dugaan Jemmy memang benar.Bukannya “kesempatan" sudah datang?Indra membawa mereka berdua ke rumah baca untuk menemui Jemmy.Begitu mereka berdua memasuki ruangan, Theresia pun berkata dengan lembut dan tersenyum, “Kakek!”Jemmy juga tersenyum. Nada bicaranya terdengar ramah. Dia berkata dengan makna tersirat, “Sudah datang, ya. Tidak pergi lagi?”Penerbangan dijadwalkan berangkat pukul sebelas. Jika Theresia kembali ke Kota Jembara sekarang, semuanya juga sudah tidak sempat. Apalagi, mereka berdua sama-sama memasuki ruangan. Jemmy juga sekiranya sudah mengerti.Tatapan Theresia terlihat elegan. “Nggak pergi lagi!”Morgan tersenyum tipis. “Dia mau pergi ke mana lagi?” Selesai berbicara, Morgan meletakkan akta nikah di hadapan Jemmy. “Kakek, kami sudah menikah!”
Theresia terbengong sembari mengangguk. “Sudah.”Pria itu menggandeng tangan Theresia, lalu membawanya berjalan ke dalam kamar. “Kalau begitu, hari ini saja. Kita mandi dulu, lalu makan sarapan. Setelah itu, kita akan pergi urus prosedur!”…Satu jam kemudian, Theresia mengisi dokumen, kemudian staf yang bertugas membawanya pergi melakukan foto pernikahan. Saat duduk di tempat, Theresia masih merasa sedikit terbengong.Pantas saja Theresia merasa terbengong, perubahan emosi selama dua hari ini terlalu drastis. Semua yang terjadi di luar dugaannya.Contoh, semalam Theresia sebenarnya datang untuk berpamitan. Setelah dipikir dengan saksama, dia memutuskan untuk menunggu Morgan di Kota Jembara. Sekarang, Morgan malah memberitahunya bahwa dia tidak mungkin akan meninggalkan Theresia.Kejutan itu membuat Theresia mulai merasa pusing.Pagi harinya setelah Theresia membaca memo itu, dia memang merasa sedikit gegabah. Hanya saja, lantaran dia berinisiatif mengungkit masalah pernikahan, Theresi
Semalam, Gosin bisa memberanikan dirinya murni karena efek alkohol. Subuh hari tadi, dia dan Mateo mencampakkan Molly sendirian di Altena. Mereka berdua telah melarikan diri. Setelah kesadarannya kembali, Gosin mulai merasa takut. Gosin bahkan tidak pergi bekerja, melainkan pergi ke perusahaan Mate
Sonia tersenyum. “Mana lagi yang kamu suka? Pilih beberapa lagi.”Hallie segera menggeleng. “Yang satu ini sudah cukup mahal!”Pramuniaga memberi tahu Hallie mengenai cara perawatan perhiasan. Hallie mendengar dengan sangat serius, lalu bertanya dengan suara kecil, “Berapa harga perhiasan ini?”Pram
Sepertinya Morgan menyadari ada yang dipikirkan Theresia. Dia pun mulai menghentikan aksinya. Morgan mengangkat kepalanya mengulum sejenak ujung bibir Theresia, lalu berkata dengan suara seraknya, “Kembalilah. Kita sudah keluar terlalu lama!”Theresia mengangguk. “Oke!”Mereka berdua keluar ruangan
Tatapan Devin kelihatan dingin. “Aku tunggu sebentar di sini. Kalau dia berani kemari lagi, aku pasti akan hajar dia!”Ester mengangguk dengan gugup. Dia yang kelihatan kasihan itu meluluhkan hati orang saja. “Apa Rose nggak marah kalau tahu kamu ke sini?”Ketika Devin kepikiran dengan sosok Rose ta







