MasukPada hari Sabtu malam, Morgan memesan ruangan VIP di Kasen.Pada jam delapan malam, semua orang juga sudah hadir. Morgan mengumumkan kabar dirinya telah menikah dengan Theresia. Setelah semuanya merasa syok, semuanya mulai bersorak untuk memberi selamat.Sonia dan Ranty sudah mengetahui masalah ini duluan. Hanya saja, mereka tetap merasa antusias seperti yang lain. Ranty tidak bisa mendeskripsikan rasa terharu di hatinya, lalu memeluk Theresia. “Aku benar-benar merasa gembira!”Theresia berkata dengan tersenyum, “Aku mesti berterima kasih kepada makcomblangku!”Senyuman Ranty semakin lebar lagi. “Mesti, dong. Lain hari, aku akan pergi cari Kakek Jemmy. Aku mau tagih hadiah makcomblang sama dia!”Sonia tersenyum tipis. “Dengan sikap keras kepalamu, kamu pasti diberi hadiah!”Ranty tersenyum lembut, tetapi dia malah berkata, “Ujung-ujungnya, Kak Morgan yang paling hebat! Selamat, ya!”Morgan tersenyum tipis. “Terima kasih!”Semua orang saling berbasa-basi sejenak, lalu mulai duduk di tem
Theresia mengangguk dengan tersenyum. “Aku akan ikut ke mana pun kamu pergi. Kelak kalau kita menetap di Kota Atria, aku bisa membujuk Kakek untuk pergi bersama.”Morgan mengambil ponselnya, lalu membuka beberapa lembar foto untuk diperlihatkan kepada Theresia. Theresia melihat halaman rumah dalam foto itu, ukiran indah memenuhi balok dan bangunannya. Dia mengangkat alis dan bertanya, “Kediaman Keluarga Bina?”“Bukan Kediaman Keluarga Bina di Kota Atria, tapi ini yang kubangun di Kota Jembara. Pembangunannya sudah hampir setengah tahun dan sebentar lagi akan selesai,” jelas Morgan padanya, “Tentu saja tidak mungkin bisa sama persis dengan kediaman keluarga kami. Beberapa barang antik dan kayu tidak bisa direplikasi. Tapi aku sudah berusaha semaksimal mungkin untuk membuatnya seperti aslinya.”Kediaman Keluarga Bina adalah rumah warisan berusia ratusan tahun. Setiap bunga dan rumput, setiap bata dan gentengnya, membawa nuansa kuno dan beratnya jejak waktu. Terlebih lagi lorong panjang d
Saat langit sudah sepenuhnya menjadi gelap, Morgan pun memasak untuk Theresia. Dia mengganti pakaiannya dengan sepotong kemeja berwarna putih. Dia menggulung lengan pakaiannya ke atas, menunjukkan lekuk otot yang jelas di bagian lengannya.Tangan yang terbiasa memegang pistol itu, kini juga kelihatan kokoh dan santai ketika memegang pisau untuk memotong sayuran.Setelah membasuh tubuhnya, Theresia mengenakan sepotong gaun panjang berbahan sutra asli. Dia mengikat rambut panjangnya di belakang, menunjukkan leher panjang bak angsa itu. Terlukis senyuman di atas kelima indra yang indah dan lembut itu. Dia membantu Morgan untuk mengambil barang atau menginstruksinya dalam mengatur rasa.Mereka berdua bersenda gurau sejenak. Kegiatan memasak yang awalnya membosankan malah berubah menjadi lebih menarik.Theresia merasa sangat bagus untuk tinggal di sini. Rumah ini tidak besar, tapi cukup untuk ditempati mereka berdua. Tanpa perlu dilayani oleh pelayan, mereka pun bisa terbiasa dengan situasi
Dias malah sudah melihat keberadaan Arvan. Dia langsung menunjukkan senyuman di wajahnya, lalu menyapa dengan hangat, “Tuan Arvan!”Ketika melihat ekspresi munafik Dias yang membuat orang merasa jijik, tiba-tiba Arvan mengerti betapa langkanya wanita seperti Theresia di muka bumi ini.Sepertinya tidaklah sulit untuk dipahami kenapa Morgan bisa menyukainya.…Setelah memasuki mobil, Morgan mengambil bunga di baris belakang kepada Theresia.Theresia memeluk buket bunga mawar berwarna merah, lalu memalingkan kepalanya untuk melihat si pria.Terlihat senyuman di atas wajah tampan Morgan. “Ada apa?”Theresia memutar bola mata indahnya. Terlihat sedikit ekspresi nakal di wajahnya. “Dulu, kenapa aku nggak sadar kalau Tuan Morgan seromantis ini?”“Romantis?” Morgan melihat situasi jalan di depan sana. Suaranya terdengar magnetis. “Cuma membeli sedikit barang kesukaanmu saja sudah tergolong romantis?”Theresia memeluk bunga. Wajahnya kelihatan lebih indah daripada bunga. Dia juga tersenyum deng
Dias terbengong oleh ucapan Morgan. Belakang punggungnya seketika terasa dingin. “Gedebum" Dia pun jatuh duduk di atas kursi.Theresia sudah berjalan ke depan pintu. Ketika melihat Ingga yang berjalan kemari, dia pun berpesan, “Aku pulang kerja dulu. Kamu antar Nona Dias sana!”Ingga melihat bayangan punggung Morgan yang tinggi dan tegap itu, lalu diam-diam tersenyum. Akhirnya dia mengerti kenapa bosnya tiba-tiba mengubah pemikiran untuk tidak ke luar negeri lagi.Ternyata wanita akan kalah di tangan pria tampan!Ingga memberi isyarat tangan oke, lalu mengangguk dengan tersenyum. “Bos harap tenang!”Theresia kembali ke ruang kerjanya untuk mengambil barang-barang, lalu pergi bersama Morgan.Setelah memasuki lift, Theresia baru memalingkan kepalanya. Dia menatap pria dengan mata berkilauannya. “Apa kamu sengaja ngomong seperti itu agar didengar sama Dias?”Morgan tersenyum dingin. “Meskipun sengaja, aku juga lagi berkata jujur. Kamu kira kenapa aku bisa datang ke Kota Jembara?”Theresia
Wajah Dias menjadi pucat. Dia yang malu itu pun mulai merasa marah. Matanya mulai terbelalak lebar!Theresia melirik Dias sekilas dengan tatapan datar. “Pemikiran Nona Dias hanya terbatas pada pemahamanmu saja. Sementara, pemahaman tipismu itu malah membuat pandanganmu menjadi pendek dan sempit!”Raut wajah Dias menjadi kaku. “Apa yang ingin kamu katakan?”Wajah Theresia tampak memesona dan begitu indah. Auranya lembut, tetapi juga samar-samar memancarkan ketenangan serta ketegasan yang tajam.“Nona Dias, coba pikirkan baik-baik seluruh kejadian di pesta minum hari itu dari awal sampai akhir. Apa kamu masih belum mengerti? Aku dan Tuan Morgan memang sudah saling mengenal sejak awal dan hubungan kami jauh melampaui apa yang kamu bayangkan!”Dias pun terbengong. Dia kembali berpikir dengan serius. Hanya saja, dia benar-benar tidak kepikiran seberapa dekatnya Morgan terhadap Theresia waktu itu? Sepertinya mereka berdua tidak ada tanda-tanda saling kenal.Ketika kepikiran sampai di sini, D
Meskipun mereka bukan teman, setidaknya Tasya adalah karyawan Yandi. Saat Tasya tiba-tiba tidak ingin bekerja lagi, kenapa Yandi tidak membujuknya sama sekali? Bukannya Yandi sangat setia kawan? Kenapa Yandi malah bersikap sadis terhadapnya!Padahal mereka telah kenal lama, apa hubungan mereka tidak
Kedua mata Leon memerah. Dia ingin menangis lagi.Yandi berkata dengan perlahan, “Bawa tehnya ke sini.”Leon segera berjongkok, lalu menyerahkan cangkir teh kepada Yandi.Yandi meniup uap panas di dalam cangkir, lalu melirik bangku di samping. “Duduk!”Kali ini, Leon juga sangat patuh. Dia langsung dudu
Lysa berdiri, lalu menyambut dengan tersenyum ramah, “Nyonya Reviana!”Reviana merasa gugup. “Apa kabar, Nyonya Lysa!” Kemudian, dia merangkul pundak Stella, lalu melanjutkan, “Ini putriku, Stella!”Lysa tersenyum tipis sembari mengangguk. “Aku pernah melihatnya sewaktu di televisi. Tak disangka orang
Sonia mengangguk dengan perlahan. Dia mengembalikan kertas desain kepada Cindy. “Sudah hampir selesai. Besok kamu tinggal perlihatkan kepada Angie saja. Kamu bisa telepon aku kalau ada masalah.”Cindy mengangguk dengan terbengong.“Kalau begitu, aku pamit dulu!” Sonia tersenyum. “Tolong sampaikan kepa







