LOGINMorgan melirik sekilas, lalu membalas dengan nada datar, “Tuan Kelvin tidak usah sungkan. Lebih baik kamu simpan sendiri saja!”“Barang sebagus ini barulah bernilai kalau diberikan kepada orang yang paham seperti kakekmu. Aku juga tulus untuk memberikannya kepadamu.” Ekspresi Kelvin kelihatan tulus.Morgan tersenyum tipis. “Justru karena barang bagus, lebih baik Kelvin menyimpannya saja. Kalau bejana perunggu ini sampai ke tangan kakekku, dia hanya akan menjadikannya sebagai wadah untuk menaruh pakan ikan atau wadah untuk memelihara bunga teratai saja.”Kelvin terdiam. Sepertinya dia masih kurang memahami Keluarga Bina.Setelah Charlie melihat situasi ini, dia segera berkata dengan tersenyum, “Lebih baik Tuan Kelvin menyimpannya saja. Waktu kita masih panjang. Kamu masih ada waktu untuk mencari barang kesukaan Tuan Jemmy.”“Iya!” Kelvin tersenyum. Dia menyerahkan bejana perunggu kepada asistennya, lalu membawanya pergi.Arvan sedang menyaksikan lelucon dari sebelah. Dia pun berkata pad
Theresia merasa agak terharu. “Terima kasih atas perhatian Tuan Arvan, tapi masalah nggak seserius yang kamu pikirkan. Aku tahu batasan.”Kening Arvan berkerut. “Tadi saat melihat Tuan Morgan, aku merasa dia seperti terlahir dari keluarga militer saja. Wibawanya sangat elegan. Aku kira dia itu pengecualian. Aku tidak menyangka dia akan begitu cepat turun tangan sama kamu.”Theresia ingin tertawa, tetapi dia tidak berani. Dia melirik pria yang sedang duduk di sofa dengan rasa bersalah, lalu menjelaskan dengan tersenyum, “Semua itu atas kemauanku sendiri. Aku sendiri yang mengagumi Tuan Morgan.”Arvan menatap Theresia dengan kaget.Theresia mengangguk. “Aku benar-benar merasa Tuan Morgan cukup oke. Aku ingin mencoba untuk mengejarnya, siapa tahu dia bisa jadi kekasihku? Makanya, Tuan Arvan nggak perlu merasa bersalah. Aku masih harus berterima kasih kepada Tuan Arvan karena sudah memberiku kesempatan ini!”Arvan pun dikagetkan dengan ucapan Theresia. Dia berkata dengan nada rendah, “Nona
Pria itu memegang erat gelas teh di tangannya. Alhasil, teh di dalam gelas sedikit bergerak. Dia meletakkan gelas, lalu memalingkan kepalanya. Sepasang tatapan mendalam melihat ke sisi wanita di dalam pelukan Morgan.Satu tangan Theresia menahan pundak Morgan, lalu saling bertatapan dengannya. “Tuan Morgan yang bijaksana jangan sampai masuk ke dalam jebakan provokasi orang lain, ya.”Tatapan Morgan semakin tajam. “Aku hanya percaya dengan apa yang aku lihat.”“Apa yang kamu lihat?” Theresia memiringkan kepalanya bersandar di atas pundak Morgan sembari berbicara. Napasnya diembuskan ke atas dagu Morgan. Mata indahnya kelihatan sedikit berkilauan. “Lebih penting yang kamu lihat atau yang kamu rasakan?”Morgan tidak berbicara.Theresia mendengus dingin. Terdengar sedikit rasa tidak berdaya dan kesal di dalam nada bicaranya. “Kalau nggak, aku akan korek hatiku untuk diperlihatkan kepadamu. Biar kamu lihat ada orang lain atau nggak?”Morgan memiringkan sedikit tubuhnya, menindih Theresia di
Di kejauhan, Theresia menggigit pelan bibir merahnya. Dia melihat Dias sedang berusaha untuk menjilat Morgan. Jelas-jelas Theresia tahu Morgan bukanlah tipe orang yang gampang terpengaruh, hanya saja dia tetap tidak bisa meredam api di dalam hatinya.Theresia menuangkan segelas teh dan juga segelas alkohol, lalu berjalan ke sisi Morgan. Dia bertanya dengan tersenyum tipis, “Tuan Morgan, mau teh atau alkohol?”Morgan mengangkat kelopak matanya. Dia menatap dua gelas di tangan Theresia, lalu langsung mengambil gelas alkohol. “Aku minum alkohol. Kamu minum teh saja!”Rasa iri seketika tumbuh di dalam hati Dias. Padahal dia sudah berbicara panjang lebar dan juga sudah meneguk 3-4 gelas alkohol, Morgan tetap saja tidak menyentuh setetes pun alkohol. Sekarang, Theresia datang dan mengatakan kata-kata yang begitu singkat, Morgan malah langsung menghabiskan segelas alkohol.“Terima kasih Tuan Morgan sudah berkenan untuk minum!” Theresia meminum gelas teh. Dia membalikkan tubuhnya hendak berjal
Selanjutnya, Morgan, Vino, Lutan, dan yang lainnya sedang mengobrol. Mengenai yang lain, mereka juga berlagak sedang berbasa-basi dengan sungkan.Entah semua ini firasat Arvan saja atau bukan, setiap kali ada yang bersulang kepada Theresia, Morgan yang tadinya sedang mengobrol dengan Vino selalu melihat kemari dengan mendadak, lalu ingin bertanya beberapa hal dengan orang yang bersulang.Masalah bersulang pun jadi diabaikan.Setelah selesai makan, waktu sudah menunjukkan sekitar pukul sembilan. Kelvin segera mengatakan bahwa dia sudah mereservasi ruangan VIP di lantai atas. Dia mengundang semuanya untuk lanjut minum di lantai atas.Morgan tidak menolak. Vino tahu ada apa di atas sana. Dia khawatir semua orang tidak akan leluasa jika dirinya berada di tempat, dia pun menggunakan alasan masih ada pekerjaan malam ini untuk pamit lebih dulu.Dengan ekspresi ramah, Vino berpamitan kepada Morgan, “Lain hari kalau ada waktu, aku akan mengundang Tuan Morgan lagi. Aku dengar-dengar Tuan Jemmy j
Dias melihat kemari dengan tersenyum. “Nona Theresia lulusan sastra, ya? Bahkan untuk bersulang saja begitu puitis. Untung Tuan Morgan sangat berbakat. Kalau nggak, mungkin dia nggak akan berhasil minum teh dari kamu!”Theresia membalas dengan tenang, “Bukankah Tuan Morgan yang memulai lebih dulu? Nona Dias lagi menyindirku atau Tuan Morgan?”Semua orang tertegun, bahkan Arvan ikut menoleh ke sisi Theresia. Ucapan itu jelas menyentil Dias, tapi juga sangat memungkinkan menyinggung Morgan!Ini sama sekali bukan gaya Theresia!Dias juga tidak menyangka Theresia akan begitu terang-terangan. Dia pun tersenyum. “Aku memang iri dengan bakat Tuan Morgan dan Nona Theresia. Tadi aku cuma bercanda saja. Nona Theresia nggak perlu seserius ini, jadinya malah bikin jantungku berdetak kencang!”Theresia mengeluarkan nada bicara yang lebih serius lagi. “Sesuai dengan usia Nona Dias, jantungmu bisa berdetak kencang kemungkinan karena masalah peredaran darahmu. Jangan disepelekan!”Dias terdiam. Dia ya
“Oh!” Seingat Kelly, karyawan Gunawan Group yang hendak menikah akan mendapatkan tunjangan pernikahan. Sepertinya atasan Kenzo sedang mengajukannya.“Apa kamu tidak berencana mengundangku?” tanya Jason dengan tersenyum.Kelly membalas dengan tersenyum, “Hanya resepsi kecil-kecilan saja. Aku nggak bera
Kelly menunduk, lalu berkata dengan suara rendah, “Aku nggak akan maafkan perbuatannya. Tapi aku paham kenapa dia berbuat seperti itu. Dia nggak ingin Derrick menikahi wanita yang memiliki banyak beban. Semuanya sangat masuk akal. Hanya saja, dia sudah salah paham. Jadi, kita biarkan masalah ini ber
“Apa yang terjadi?” tanya bibinya Wilona dengan penasaran.Hillary berkata dengan tersenyum sinis, “Memangnya apa yang bisa terjadi? Pemikiran anak perempuan zaman sekarang sangat terbuka!”Ariani yang duduk di samping juga hanya mendengar. Dia tidak membantu Kelly untuk menjelaskan, melainkan menunju
“Bibi Ranty!” Yana berlari kemari, lalu merentangkan kedua tangan untuk memeluk Ranty.Ranty langsung menggendong Yana, kemudian memutarnya. Dia berkata dengan tersenyum, “Aku bawain makanan kesukaanmu!”Yana pun tertawa. Jason takut keberadaannya akan membuat Kelly tidak leluasa. Dia pun menggendong







