Masuk“Mas!!” sontak Widuri menyenggol lengan Emran.
Wanita cantik berhijab itu mengulum senyum saat melihat reaksi Alvan dan Thea. Keduanya tampak terkejut dengan wajah merah padam usai mendengar ucapan Emran. Itu juga yang membuat Widuri sontak bersuara.
“Ya … itu sih terserah kalian. Ayah yakin kalian sudah dewasa dan tahu gimana cara mencegah kehamilan.”
Thea membeku sambil berulang menelan ludah. Entah kenapa pembicaraan makan malam ini terasa berat baginya.
Sementa
“Sudahlah, nanti aku yang ngatur. Kamu gak usah mengembalikannya,” imbuh Alvan.Thea semakin terkejut dan menggelengkan kepala.“Babe, bagaimanapun yang aku lakukan salah. Aku sudah melanggar syarat dalam beasiswa itu dan sebagai konsekuensi aku harus menggantinya.”“Kalau kamu keberatan, aku pinjam uang Kakek saja.”Alvan berdecak sambil menggelengkan kepala menatap Thea dengan sendu.“Aku sama sekali gak keberatan membayarnya. Hanya saja untuk apa aku bayar uang ke yayasan milikku sendiri?”Thea terdiam. Ia duduk tegak sambil menatap Alvan dengan bingung. Bastian yang mengemudi di depan hanya mengulum senyum melihat interaksi mereka.Wajah Thea terlihat linglung, menatap Alvan sambil mengerjapkan mata beberapa kali. Alvan gemas melihatnya.“Bas, jelaskan padanya!!!”Pada akhirnya Alvan malah menyuruh Bastian yang bersuara. Bastian mengangguk sambil melirik Thea melalui kaca spion.“Apa Nona ingat saat Anda memenangkan lomba melukis ketika SMA dulu?”Thea terdiam sejenak kemudian meng
“PAK ALVAN!!!!”Semua orang di dalam ruangan itu sangat terkejut begitu melihat kedatangan Alvan. Leo yang sedari tadi terlihat berapi-api dan sok kuasa, langsung membeku di kursinya.Sementara Thea langsung tersenyum lega begitu melihat Alvan. Ia tidak menduga Alvan akan datang secepat ini.Perlahan Alvan mendekat kemudian berdiri di samping Thea dan merangkulnya.“Kamu baik-baik saja?” tanya Alvan.Thea tersenyum sambil mengangguk. Semua yang hadir di ruangan itu tercengang kaget melihat interaksi mereka.“Jadi benar, Pak Alvan dan Thea sudah menikah?” tanya Pak Hanafi memecah keheningan.Alvan mengangguk. “Iya, benar. Saya sudah menikah dengannya sejak semester yang lalu. Hanya saja peresmiannya baru saat liburan semester ini.”Semua langsung terkejut mendengar pengakuan Alvan. Kemudian tak lama terlihat Bastian masuk ke dalam ruangan. Atas perintah Alvan, Bastian menunjukkan s
Semua yang hadir terdiam, sementara Leo langsung kembali ke tempatnya. Ia kembali menunjukkan beberapa foto kemesraan Alvan dan Thea ke dalam slide yang sudah disiapkan.Tanpa Thea tahu, Leo telah memodifikasi foto aslinya dengan Alvan menggunakan aplikasi pintar. Entah mengapa fotonya terlihat asli sama seperti sebelumnya.“Bagaimana? Kamu mau menyangkal apa sekarang?” sergah Leo.Belum ada jawaban dari Thea. Ia hanya terdiam sambil menatap slide yang memutar fotonya dengan Alvan. Meski Thea mencurugai foto itu tidak asli, tapi ia harus mendapatkan bukti kebohongan Leo.“Kalau tidak salah, bukankah Anda salah satu mahasiswi penerima beasiswa?” tanya salah satu dosen dari perwakilan rektorat.“Iya, Pak.”“Nah, tunggu apa lagi, Pak? Dia ini tidak pantas menjadi contoh mahasiswa yang lain.” Leo langsung menyahut sebelum Thea meneruskan jawabannya.“Harusnya beasiswanya dicabut, kalau
Thea membeku di posisinya kemudian menganggukkan kepala berulang.“Iya, Bu. Saya akan ke kampus.”Tidak ada jawaban dari Bu Nirma, tapi panggilannya sudah berakhir.“Apa semuanya baik-baik saja, Thea?” Suara Widuri menyeruak dari belakangnya.Thea menoleh sambil mengangguk.“Iya, Bun. Cuman saya harus ke kampus hari ini. Apa gak masalah Ayah dan Bunda saya tinggal?”“Iya, gak papa. Biar kamu diantar Pak Udin saja.”Thea mengangguk kemudian sudah berpamitan ke Widuri dan Emran. Selang beberapa saat Thea sudah tiba di kampus. Ia langsung menuju fakultasnya, tapi baru saja turun dari mobil. Beberapa mata sudah mengawasinya dengan tatapan kebencian.“Bukannya itu Thea yang ayam kampus dan pacaran ama Pak Alvan.”“Iya, ngapain dia ke kampus? Gak punya malu banget.”“Kemarin aku juga lihat dia lagi berantem ama seseorang di mini market depan.&
Emran dan Widuri kembali tercengang, tapi reaksi mereka tidak berlebihan. Thea semakin gelisah dibuatnya. Bukankah biasanya para orang tua akan marah jika tahu kenyataan ini. Apalagi Thea adalah menantu mereka.“Namun, harap Ayah dan Bunda garis bawahi. Saya bukan wanita panggilan seperti pada umumnya.”“Saya hanya menemani mereka jalan, ngobrol, tanpa sentuhan fisik dan hubungan intim.”“Saya masih perawan saat menikah dengan Pak Alvan. Saya bersumpah atas nama Tuhan.”Thea berkata sambil mengangkat tangannya ke atas. Matanya menunjukkan kesungguhan dengan mata berkaca menatap Emran dan Widuri bergantian.Widuri hanya diam sambil menganggukkan kepala. Namun, berbanding terbalik dengan Emran.“Setahu Ayah, yang namanya wanita panggilan itu identik dengan konotasi. Apa kamu pikir kami akan langsung percaya dengan penjelasanmu?”Thea terdiam, menurunkan tangannya dan tertunduk lesu. Widuri
“Gimana kabarmu, Sayang?” tanya Widuri begitu mereka di dalam mobil.“Alhamdulillah baik, Bu. Kenapa Bunda gak bilang kalau mau ke sini?”Widuri hanya tersenyum sambil menatap Thea dengan lembut.“Gak papa. Kebetulan Bunda dan Ayah ada keperluan di sini. Jadi sekalian mampir. Kamu juga sedang sendirian, kan?”Thea mengangguk. Sepertinya Alvan sudah memberitahu kedua orang tuanya jika ia sedang berada di luar negeri.“Eng … kalau gak salah tadi Bunda melihat Erika. Apa dia menemuimu?”Wajah Widuri telihat gelisah dan menatap Thea penuh cemas. Thea tersenyum sambil menganggukkan kepala.“Iya, Bun. Bunda gak usah khawatir. Saya dan Erika gak ada masalah, kok.”Widuri hanya diam. Ekspresinya terlihat bingung, tapi perlahan kepalanya mengangguk. Selanjutnya mereka memilih berbincang hal random dan tak terasa mobil sudah membawa mereka ke rumah.Kali ini sengaj







