Se connecterPagi itu, rumah Ben dan Vennesa dipenuhi cahaya hangat matahari yang menyelinap melalui jendela-jendela besar ruang keluarga. Udara pagi terasa tenang, namun ketenangan itu segera pecah oleh suara tangisan pelan yang saling bersahutan. Bryan dan Brayden, bayi kembar mereka, terbangun lebih awal dari biasanya, seolah sepakat meminta perhatian orang tua mereka secara bersamaan.Vennesa yang masih setengah mengantuk duduk di sofa dengan rambut sedikit berantakan. Ia memeluk Bryan erat di dadanya, mengusap punggung mungil bayi itu sambil menahan kantuk. Matanya masih berat, tetapi senyum lembut tetap terukir di wajahnya. Di sisi lain, Ben tampak sibuk dan sedikit kikuk mengganti popok Brayden. Bayi itu merengek lebih keras, membuat Ben panik kecil namun tetap berusaha tenang.“Sebentar ya, Nak… Papa belajar pelan-pelan,” gumam Ben, berusaha menghibur Brayden sambil memastikan popok terpasang dengan benar.Tak lama kemudian, Vellery berjalan masuk dari dapur membawa nampan berisi susu han
Pagi itu, sinar matahari menembus jendela kamar VIP rumah sakit, menandai hari baru bagi keluarga kecil Ben dan Vennesa. Setelah beberapa hari perawatan, Vennesa mulai pulih. Bayi-bayi kembar mereka, Bryan dan Brayden, tidur pulas di sampingnya, masing-masing dibungkus selimut lembut. Ben duduk di kursi samping ranjang, menatap istrinya dan kedua buah hatinya dengan tatapan penuh kasih. Hatinya dipenuhi rasa syukur yang tak terukur. Perawat datang untuk melakukan pemeriksaan rutin dan memberi petunjuk terakhir sebelum mereka diperbolehkan pulang. Vennesa mengikuti semua instruksi dengan tenang, meski sesekali tersenyum lemah saat menatap bayi-bayi mereka. Ben membantu menyiapkan tas perlengkapan bayi, memastikan semua obat, popok, dan pakaian bayi lengkap. Ia bahkan menyeka sedikit air liur bayi yang menetes, tersenyum lebar melihat kedua putranya yang imut dan tampan. Ketika perawat mengatakan semuanya siap, Ben menuntun Vennesa ke kursi roda. Bayi kembar mereka ditempatkan
Matahari mulai meninggi, menembus jendela kamar VIP rumah sakit dengan sinar hangat yang menenangkan. Ben duduk di sisi ranjang, masih merasa takjub melihat Vennesa yang menyandar dengan lemah namun anggun, memeluk kedua malaikat kecil mereka. Meski wajahnya masih pucat akibat kelelahan melahirkan, kecantikan Vennesa tetap terpancar. Senyum lembutnya menebarkan aura keibuan yang hangat dan menenangkan. Ben tidak bisa menahan rasa kagumnya. Ia mengeluarkan ponsel dan mulai mengambil beberapa foto Vennesa bersama bayi-bayi mereka. Setiap jepretan terasa istimewa, menangkap momen kebahagiaan yang begitu murni. Vennesa menatap Ben dengan mata berbinar, senyumnya menenangkan hati Ben yang selama ini penuh gelisah. Tak lama kemudian, Vennesa dengan hati-hati memuat naik salah satu foto itu ke akun media sosialnya. Foto itu menampilkan Vennesa duduk dengan lembut di ranjang, kedua bayi laki-laki kembar yang menggemaskan di pangkuannya. Seperti biasa, unggahan itu langsung mendapat
Menjelang tengah malam, Vennesa mulai merasakan sakit kontraksi. Ben yang awalnya duduk di sebelahnya akhirnya tertidur nyenyak, lelah setelah seharian menemani istrinya. Pada mulanya, sakit itu terasa ringan, hanya seperti kram biasa, tapi seiring berjalannya waktu, rasa sakit itu semakin kerap dan jauh lebih tajam. Napas Vennesa mulai memburu, dan tubuhnya menegang menahan nyeri yang datang bergelombang. “Ben… Ben… bangun!” teriaknya tiba-tiba, membuat Ben terjaga dengan panik. Ia membuka matanya yang masih setengah ngantuk, melihat Vennesa yang menahan sakit di sampingnya. Panik, Ben bangkit dan mulai mondar-mandir, tidak tahu harus berbuat apa. Tangan Ben gemetar, jantungnya berdetak kencang, dan wajahnya pucat. “Tenang, sayang… tarik napas dalam-dalam,” ucap Vennesa berusaha menenangkan. Ia menuntun Ben untuk mengambil tas perlengkapan bayi yang sebelumnya sudah ia siapkan di dekat pintu. Dengan suara yang sedikit tegang tapi tegas, Vennesa menginstruksikan Ben untuk se
Keesokan paginya, sinar matahari menembus tirai apartemen, membangunkan Ben yang masih terbaring di sisi Venesa. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia membuka mata dengan tenang — tanpa rasa takut, tanpa mimpi buruk. Di sebelahnya, Venesa sudah duduk bersandar sambil mengusap perutnya yang besar dengan lembut. “Bangun, ayah dari dua calon malaikat kecil,” ujarnya manja. Ben tersenyum kecil, meraih tangannya lalu mengecupnya. “Sudah waktunya ke klinik, ya?” Venesa mengangguk. “Kita janji dengan dokter pukul sepuluh.” Beberapa jam kemudian, mereka sudah berada di ruang tunggu klinik bersalin terkenal di pusat kota Valmere. Ben mengenakan kemeja biru muda dan celana panjang hitam — sederhana, tapi cukup membuat beberapa orang di sekitar melirik. Sementara Venesa tampak anggun dengan gaun hamil berwarna pastel. Sambil menunggu nomor giliran, mereka duduk berdekatan. Ben tak berhenti menatap Venesa, seolah ingin mengabadikan setiap detik bersama wanita itu. Di
Beberapa hari setelah operasi penangkapan besar-besaran yang dipimpin oleh Kapten Renz, media seluruh Valmere akhirnya menyiarkan berita yang menggemparkan. “Dua Suspek Sindiket Penipuan Hartanah Pulau Serenova Ditangkap – Kisah Ben Sanders Mengejutkan Negara.” Dalam siaran berita itu, terpampang jelas foto Jesica dan Grayson yang digiring keluar dari bangunan penyiasatan dengan tangan bergari. Lampu kamera berkelip-kelip, mikrofon diarahkan ke wajah mereka yang tertunduk tanpa sepatah kata. Para wartawan bersorak, menuntut penjelasan tentang apa yang sebenarnya terjadi di Pulau Serenova. Laporan polis menyebutkan, kedua-duanya bukan hanya terlibat dalam penipuan hartanah bernilai jutaan dolar, tetapi juga dalam penyekapan terhadap Benjamin Addam, seorang warga awam yang turut membantu siasatan rahsia di pulau tersebut lima bulan lalu. Rakaman CCTV lama kini menjadi bukti utama: memperlihatkan Ben berlari menyeberangi dermaga malam itu, berusaha menyelamatkan fail penting sebel







