LOGIN"Aku membasuh kakinya setiap hari, menjaga kehormatannya di depan dunia, namun ia membiarkanku mati kedinginan di peraduan kami sendiri." Dua tahun pernikahan seharusnya menjadi waktu yang paling indah bagi sepasang suami-istri. Namun bagi Almira, setiap malam adalah siksaan sunyi. Di balik kemewahan rumah dan perhatian Reza yang tampak sempurna, ada sebuah tembok besar yang tak pernah bisa ditembus. Almira masih suci, sebuah kenyataan pahit yang ia simpan rapat-rapat demi menjaga martabat suaminya yang berprofesi sebagai Chef ternama. Di saat Ibu mertuanya terus menghujaninya dengan tuntutan cucu dan ramuan-ramuan kesuburan yang menyakitkan hati, Reza justru memilih diam. Ia tak berusaha, tak pula jujur. Hasil medis menyatakan ia normal, namun di atas ranjang, ia hanyalah seorang pria asing yang tak pernah mampu menjangkau istrinya. Apa yang disembunyikan Reza? Rahasia gelap apa yang tertinggal di masa lalunya saat bekerja di kapal pesiar hingga membuatnya lumpuh secara psikologis? Ketika kesabaran Almira telah terkuras habis dan janji suci itu mulai terasa seperti jerat, ia dipertemukan dengan Ustadz Rayyan—sosok yang memberinya ruang untuk bernapas, juga bimbingan yang selama ini ia cari. Almira dihadapkan pada satu pilihan sulit: Bertahan dalam pernikahan yang membunuh jiwanya secara perlahan, atau pergi demi mengejar haknya untuk bahagia dan menjadi seorang ibu seutuhnya?
View MoreSepagi itu, saat udara masih menyisakan dingin yang tipis dan jalanan belum benar-benar ramai, Reza sudah berdiri di depan rumah yang dulu begitu akrab baginya—rumah yang kini justru terasa asing, seolah ada jarak tak kasat mata yang memisahkannya dari segala yang pernah ia miliki di dalam sana. Tangannya menggenggam ponsel dengan erat, layar yang sejak tadi ia tatap tidak juga menampilkan balasan dari nomor yang ia hubungi berkali-kali. Tidak ada nada sambung, tidak ada pesan kembali—hanya sunyi yang perlahan menggerogoti kesabarannya. Ia menghela napas panjang, mencoba menahan sesuatu yang mulai mendesak di dadanya, antara rindu dan kesal yang tidak tahu harus diarahkan ke mana. Matanya sempat terangkat menatap jendela lantai atas, berharap setidaknya ada bayangan kecil yang bisa ia lihat dari sana, tapi nihil. Lalu, suara berderit dari gerbang memecah lamunannya. Reza langsung menoleh, sedikit harapan terbit begitu saja—namun yang muncul bukanlah sosok yang ia tunggu.
Almira menarik napas panjang, mencoba menarik oksigen yang terasa menipis di ruangan itu. Yang muncul di kepalanya bukan lagi perasaan, melainkan bayangan raga. Bayangan dirinya yang dulu berdiri di depan meja makan dengan mata bengkak dan perut yang mulai membesar, menunggu kepulangan seseorang yang ternyata sudah melepaskannya secara sepihak.“Aku juga sudah bilang begitu ke dia, Pa. Aku bilang dia egois...” ucap Almira akhirnya, suaranya sedikit lebih teguh.“Bukan Cuma egois, Al. Kompleks. Segala sifat buruk seolah diborong semua olehnya,” sahut Pak Hendra tanpa menoleh. “Intinya, kalau dia masih punya harga diri, dia tidak akan punya muka untuk datang ke sini menawarkan rujuk setelah meninggalkanmu di saat kamu sedang hamil. Apalagi saat itu kamu harus melahirkan prematur sendirian.”Pak Hendra berbalik, “Mana ada laki-laki yang tega meninggalkan istrinya di kondisi kritis seperti itu, lalu datang lagi saat anak-anaknya sudah sehat dan meminta posisi sebagai Ayah? Itu penghinaan
Malam ini, di ruang tengah, Almira mengungkapkan beban yang selama beberapa hari ini membuatnya penuh, di hadapan kedua orang tuanya. Almira bercerita tentang kedatangan Reza yang semakin intens, tentang amplop putih yang kini tergeletak bisu di atas meja, dan tentang sebuah tawaran yang terasa seperti hantaman keras di ulu hati, yakni rujuk.Demi anak-anak, katanya. Demi Arkana dan Ardina yang semakin besar tanpa sosok ayah. Satu frasa itu—demi anak-anak—adalah kalimat yang membuat seluruh saraf di tubuh Almira meradang sejak pertama kali meluncur dari mulut laki-laki itu. Sebuah tameng klasik yang digunakan seseorang untuk menutupi lubang besar di masa lalu. Begitu Almira selesai berbicara, Pak Hendra langsung naik darah. “Papa benar-benar nggak habis pikir dengan jalan pikiran laki-laki itu.” Suara lelaki paruh baya itu berat, dalam, dan sarat akan kekecewaan. Mama Sofia di sampingnya mengangguk setuju. Isi pikiran suaminya sama dengannya. “Kalau pada akhirnya dia menyesal, k
Reza tidak berkedip.Tatapannya tertancap lurus pada Almira, tanpa goyah, tanpa ragu. Ada sesuatu yang berbeda hari ini—sesuatu yang bahkan membuat Almira, yang sudah terbiasa melihat berbagai ekspresi pria itu, merasa asing.Tidak ada lagi sorot mata penuh rasa bersalah yang dulu selalu hadir setiap kali Reza datang. Tidak ada lagi kegugupan yang membuatnya tampak seperti orang yang terus meminta maaf bahkan sebelum berbicara.Yang ada sekarang… justru ketenangan.Ketenangan yang terlalu utuh dan yang seharusnya tidak ia miliki setelah semua yang telah terjadi.“Kamu nggak salah dengar, Al,” ucap Reza. Setiap katanya seperti disusun dengan hati-hati, seolah ia sudah memikirkan kalimat itu berulang kali sebelum akhirnya berani mengucapkannya. “Gimana kalau kita coba lagi?”Ia berhenti sejenak, memberi ruang pada kata-katanya sendiri.“Aku, kamu, Arkana, dan Ardina. Kita bangun lagi rumah yang dulu sempat roboh karena kesalahanku. Kita mulai dari nol… tapi kali ini dengan aku ya












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews