MasukAlya Kirana terperangkap dalam pernikahan kontrak yang sangat mengerikan sebagai istri kedua demi melunasi hutang judi ayahnya yang sangat besar sekali. Di balik kemewahan istana milik pengusaha dingin bernama Gibran Rakabuming, Alya hanya dianggap sebagai alat untuk memberikan ahli waris tanpa memiliki hak suara. Siska yang merupakan istri sah secara terus-menerus menyiksa batin serta fisik Alya melalui berbagai intrik kejam serta sabotase yang sangat tidak manusiawi. Namun penderitaan itu justru menempa kekuatan baru di dalam jiwa Alya saat ia mulai menemukan rahasia kelam keluarga tersebut. Dari posisi wanita yang terhina serta tertindas, Alya perlahan-lahan mulai menyusun rencana pembalasan yang sangat rapi serta terstruktur. Ia bertekad merebut kembali martabatnya yang hilang serta membongkar semua kebohongan di balik takdir yang selama ini sengaja tertukar.
Lihat lebih banyakPena emas itu terbanting keras di atas meja kaca yang bening hingga menimbulkan bunyi dentuman yang mengejutkan.
Suaranya menggema di dalam ruangan kantor yang sunyi serta sanggup meruntuhkan sisa keberanian milik Alya Kirana. Gadis itu menatap selembar kertas putih di hadapannya dengan pandangan yang sangat kabur oleh air mata yang terus mendesak keluar. Di sana tertera nama lengkapnya bersanding dengan angka yang sama sekali tidak masuk akal bagi orang biasa seperti dirinya. Lima miliar rupiah adalah harga yang harus dibayar demi menebus nyawa ayahnya dari ancaman maut yang sangat mengerikan. Alya merasa dadanya sesak seolah-olah seluruh oksigen di ruangan itu telah dihisap habis oleh kehadiran pria di depannya. Gibran Rakabuming duduk dengan angkuh di kursi kebesarannya yang dilapisi oleh kulit hewan asli yang sangat mahal. Wajahnya yang tegas tampak tidak memiliki celah sedikit pun untuk sebuah rasa belas kasihan terhadap nasib orang lain. Matanya yang tajam mengunci setiap pergerakan Alya dan membuat gadis itu merasa seperti buruan yang tidak memiliki jalan untuk lari. "Tanda tangani sekarang juga, Alya Kirana," perintah Gibran dengan suara rendah yang sangat mengancam. "Atau kau bisa membawa ayahmu pulang dalam peti mati malam ini juga karena aku tidak suka menunggu lama." Alya meremas ujung roknya yang sudah kusut dengan tangan yang bergetar hebat karena rasa takut yang mendalam. Bibirnya yang pucat terbuka sedikit serta mencoba mengeluarkan suara yang seolah-olah tertahan di kerongkongan yang terasa kering. Ketakutan itu nyata serta menjalar dari ujung kaki hingga ke ubun-ubun kepalanya yang kini berdenyut kencang tidak keruan. "Kenapa harus saya yang Anda pilih untuk melakukan kegilaan ini, Tuan?" bisik Alya akhirnya dengan nada parau. "Ada banyak wanita di luar sana yang jauh lebih cantik serta mungkin bersedia melakukan ini tanpa ada keterpaksaan." Gibran bangkit dari duduknya dan melangkah pelan memutari meja kerjanya yang sangat luas serta terlihat begitu megah. Setiap langkah kakinya yang berbalut sepatu kulit mahal terdengar seperti dentuman jarum jam kematian bagi pendengaran Alya. Pria itu berhenti tepat di depan Alya lalu menunduk hingga wajah mereka hanya berjarak beberapa senti saja di bawah lampu. "Karena kau adalah satu-satunya wanita yang tidak punya pilihan untuk menolak keinginanku saat ini," sahut Gibran sinis. "Aku tidak butuh cinta serta aku hanya butuh rahim yang sehat untuk memberikan ahli waris bagi keluarga besar Rakabuming." Pintu ruangan itu tiba-tiba terbuka dengan sangat kasar tanpa ada ketukan terlebih dahulu dari arah luar sana. Seorang pria paruh baya dengan wajah kusam serta pakaian yang tidak rapi masuk dengan tergesa-gesa ke dalam ruangan. Itu adalah Pak Herman yaitu ayah kandung Alya yang telah menggadaikan masa depan putrinya sendiri di atas meja judi. "Alya, cepat kerjakan apa yang diminta oleh Tuan Gibran tanpa banyak bertanya lagi!" teriak Pak Herman tanpa malu. "Jangan jadi anak durhaka yang membiarkan orang tuanya menderita demi keras kepalamu yang tidak berguna itu!" Alya menoleh dan menatap ayahnya dengan pandangan yang penuh dengan kekecewaan yang sangat mendalam di dalam hati. Ia merasa dikhianati oleh orang yang seharusnya menjadi pelindung terdepan dalam setiap badai kehidupan yang ia hadapi. Namun kenyataan pahit justru menunjukkan bahwa ia hanyalah barang dagangan bagi pria yang telah melahirkannya ke dunia ini. "Ayah benar-benar tega melakukan semua ini pada saya?" tanya Alya dengan air mata yang mulai mengalir membasahi pipinya. "Ayah melakukan ini demi kebaikan kita semua, Alya!" sanggah Pak Herman sambil mendekati meja kerja Gibran dengan bersemangat. "Tuan Gibran adalah orang terkaya di kota ini serta kau akan hidup seperti ratu dan semua masalah kita selesai!" Gibran mendengus kasar melihat drama keluarga yang sangat menyedihkan itu terjadi tepat di depan matanya sendiri saat ini. Ia kembali ke kursi kebesarannya dan mengetuk-ngetukkan jari telunjuknya di atas meja dengan irama yang sangat tidak sabar. Baginya waktu adalah hal yang paling berharga serta ia tidak ingin membuang-buang waktu hanya untuk melihat air mata yang tidak berguna. "Waktuku sisa dua menit saja sebelum aku membatalkan perjanjian ini," ucap Gibran sambil melirik jam tangan mewahnya. "Jika kau tidak menandatanganinya, aku akan membiarkan orang-orangku menyerahkan ayahmu kepada para penjahat yang sudah menunggu." Dengan tangan yang masih gemetar hebat, Alya meraih pena emas yang terasa sangat berat seolah-olah terbuat dari timah. Ia menarik napas panjang serta mencoba menenangkan degup jantungnya yang seakan-akan mau melompat keluar dari rongga dada yang sesak. Perlahan namun pasti, ia menggoreskan tanda tangannya di atas kertas bermaterai yang akan mengubah seluruh hidupnya selamanya. Gibran menarik kertas itu dan memeriksanya dengan sangat teliti sebelum memberikan isyarat kecil kepada asisten yang berjaga. Alya melangkah mengikuti pria itu menuju area parkir bawah tanah yang sangat luas serta hanya berisi kendaraan mewah yang mengkilap. Mobil mewah itu akhirnya berhenti tepat di depan teras utama sebuah gedung megah yang sudah diterangi oleh ribuan lampu kristal. Wanita tua dengan pakaian sutra yang sangat elegan serta berkelas sudah berdiri tegak di depan pintu jati yang besar. Ia menatap Alya dari ujung rambut sampai ujung kaki dengan tatapan yang penuh dengan rasa jijik yang sangat mendalam. Tanpa ada sepatah kata sambutan yang manis, tangan wanita tua itu bergerak dengan sangat cepat di udara yang sunyi.Harta karun yang memicu perang saudara menjadi topik perdebatan panas yang memicu ketegangan hebat di atas dermaga kayu pelabuhan tua yang kaku berselimut kabut fajar.Alya menggenggam erat dinding pembatas menara pantau merasakan angin laut yang dingin menghempas kasar wajahnya yang menyiratkan kecemasan mendalam.Di bawah sana utusan armada serigala perak tampak mulai menghunus pedang panjang mereka guna menggertak barisan petinggi sindikat pelabuhan yang menolak memberikan jalan masuk.Tuntutan faksi hitam atas peta warisan mendiang penasihat utama membuktikan bahwa ambisi mereka jauh melebihi sekadar hasrat menduduki kursi singgasana ibu kota.Lembaran dokumen kuno yang tersimpan di dalam saku jubah Sang Ratu terasa seberat bongkahan batu besar karena menyimpan rahasia lokasi cadangan emas leluhur.Aset rahasia tersebut sedari awal dipersiapkan untuk menopang kesejahteraan seluruh lapisan masyarakat Rakabuming jika sewaktu waktu negara dilanda krisis finansial yang parah.Namun ji
Kematian misterius sang penasihat utama laksana petir yang menyambar di siang bolong menghancurkan sisa sisa ketenangan yang masih tersimpan di dalam dada Alya.Tubuh wanita itu seketika gemetar hebat mendengar penuturan dingin dari mulut musuh bebuyutannya yang berdiri pongah di atas tangga saluran air bawah tanah.Di bawah temaram cahaya obor yang menyala biru keunguan Sang Ratu bisa melihat lembaran surat resmi istana yang sengaja dilemparkan ke arah kakinya yang kotor.Warna tinta merah darah pada stempel dokumen tersebut mengonfirmasi kebenaran informasi mengenai hilangnya nyawa sang penasihat tua secara mendadak tanpa ada tanda tanda sakit sebelumnya.Maya yang berada di sampingnya langsung memungut kertas tebal itu dengan tatapan mata yang penuh ketidakpercayaan sekaligus kemarahan yang meluap luap.Kedua tangan asisten militer itu mengepal sangat kuat hingga buku jari jarinya memutih menahan gejolak amarah yang nyaris meledakkan pertahanan batinnya.Ia sangat mengenal sosok pe
Ancaman wabah yang sengaja disebarkan mulai menampakkan taringnya yang beracun saat fajar pertama menyentuh menara pengawas pelabuhan tua yang kusam.Alya terjaga dari tidurnya yang tidak tenang setelah mendengar suara teriakan histeris dari arah dermaga tempat para kuli angkut mulai bertumbangan satu demi satu.Tubuh para pekerja itu mendadak dipenuhi bintik hitam yang mengeluarkan aroma busuk serta suhu panas yang sanggup menghanguskan kesadaran mereka dalam waktu singkat.Pemimpin sindikat pelabuhan langsung memerintahkan penguncian wilayah secara ketat demi mencegah penyebaran virus yang diduga kuat berasal dari gudang air bersih pusat kota.Suasana laboratorium bawah tanah yang biasanya tenang kini berubah menjadi sangat kacau balau karena jumlah pasien yang terus bertambah secara drastis.Tabib tua yang merawat Gibran tampak sibuk meracik ramuan pembersih darah sambil terus merutuki kekejaman faksi hitam yang tega mengorbankan nyawa rakyat jelata.Alya berdiri mematung di sampin
Sindikat perdagangan gelap di pelabuhan tua mendadak muncul dari kegelapan pantai menyerbu jembatan perbatasan dengan membawa senjata berat yang mengerikan.Rombongan pria bertubuh kekar itu melompat turun dari kereta raksasa sambil mengayunkan kapak besar yang berkilauan tertimpa cahaya obor kuning terang benderang.Alya terpaku menyaksikan bagaimana para pendatang baru ini langsung membantai sisa pemanah faksi hitam tanpa memberikan kesempatan sedikit pun untuk membela diri.Sosok bertopeng iblis yang tadi nyaris mencabut nyawa Sang Ratu terpaksa mundur ke tepi jurang jembatan demi menghindari tebasan kapak yang membelah udara malam.Kekacauan baru meledak hebat di tengah suara deburan ombak laut selatan yang menghantam pilar batu jembatan dengan sangat keras dan membahana.Bau amis darah segar berbaur dengan aroma belerang dari sisa bom asap Maya menciptakan suasana yang jauh lebih mencekam daripada pertempuran sebelumnya.Pemimpin sindikat yang mengenakan jubah kulit hiu hitam mel
Keputusan sulit demi stabilitas keamanan menghantam kesadaran Alya saat ia menatap gulungan peta militer yang terbentang di atas meja jati dengan tangan yang masih gemetar hebat.Berita mengenai mundurnya Gibran dari komando tertinggi telah menyebar luas ke penjuru ibu kota secepat kobaran api yang
Cemburu yang menjadi senjata bagi lawan meledak seketika saat Alya menemukan seuntai kalung perak tergeletak di atas meja kerja suaminya dengan inisial nama yang sangat asing.Benda berkilau itu seolah membakar sepasang matanya hingga ia merasa sesak napas karena menyadari bahwa Gibran telah menyim
Hasutan licik untuk memisahkan dua hati itu bekerja lebih cepat daripada racun yang paling mematikan di seluruh daratan kerajaan.Alya berdiri mematung di balik bayangan pilar batu yang sangat dingin sambil memandangi Gibran yang tampak begitu akrab dengan wanita asing berpakaian sutra ungu tersebu
Jarak yang mulai terbentang antara kita terasa sangat nyata saat Alya mendapati kursi di samping tempat tidurnya telah kosong serta menyisakan seprai yang sudah dingin pada pagi buta.Sinar matahari yang menyeruak masuk dari celah jendela seolah olah mengejek kesunyian yang kini merajai kamar kebes






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.