LOGINTiga kali aku bercinta dengan Claudia.Tiga kali kami mengeksplorasi setiap posisi, setiap gerakan, setiap kemungkinan yang bisa dijelajahi dua tubuh yang saling menginginkan. Dari yang lembut hingga yang intens, dari yang perlahan hingga yang sangat... tidak terkendali.Dia tampak sangat puas. Setiap kali kami selesai, senyum yang terukir di wajahnya adalah senyum kepuasan yang sangat tulus, bukan pura-pura, bukan dibuat-buat. Matanya yang berbinar, napasnya yang terengah dengan puas, tubuhnya yang rileks setelah tegang, semuanya mengatakan bahwa ia benar-benar... menikmati ini.Sementara aku? Aku sangat lelah.Tubuhku seperti diperas habis. Setiap otot protes. Napas yang terengah bukan lagi karena gairah, tapi karena kelelahan fisik yang nyata. Keringat yang membasahi seluruh tubuh, jantung yang masih berdetak kencang meski sudah beberapa menit kami berhenti.Dua hari berturut-turut aku gila-gilaan.Kemarin dengan Wulan; wanita yang energinya seperti tidak ada habisnya, yang tidak p
Aku berdiri dari sofa, dengan Claudia yang masih di pangkuanku; kakinya melingkar di pinggangku, tangannya di leherku. Aku menopang tubuhnya dengan kedua tanganku di bawah pantatnya, membawanya dengan langkah yang cukup cepat menuju kamar.Setiap langkah terasa seperti keabadian. Setiap detik terasa seperti selamanya. Tapi akhirnya, kami sampai di kamar.Aku membaringkan tubuhnya di tempat tidur dengan lembut. Claudia berbaring di sana, rambut yang terurai di bantal, dress putih yang sedikit naik memperlihatkan pahanya, wajah yang merona, napas yang terengah-engah.Ia terlihat sangat... cantik. Sangat... menggoda.Aku berdiri di samping tempat tidur sejenak, menatapnya dengan tatapan yang penuh hasrat. Dan ia menatap balik dengan tatapan yang sama; tidak ada keraguan, tidak ada ketakutan, hanya... keinginan murni.Claudia mengangkat tangannya, mengulurkan ke arahku, seolah mengundangku untuk bergabung."Jangan diam aja..." bisiknya dengan senyum yang menggoda.Aku tidak perlu diundang
Beberapa saat kami duduk dalam kesunyian seperti itu. Kepalanya masih bersandar di pundakku, tubuhnya menempel rapat, tangannya yang masih berada di pahaku; bergerak perlahan dengan sentuhan yang sangat... menggoda.Suara TV menjadi latar suasana ruangan ini. Acara variety show yang sebenarnya tidak kami tonton dengan serius. Hanya background noise untuk mengisi kesunyian yang semakin terasa... membara.Napas kami berdua mulai tidak teratur. Jantungku berdetak sangat kencang. Aku bisa merasakan tubuhnya yang juga sedikit tegang, tidak tegang karena tidak nyaman, tapi tegang karena... sesuatu yang lain.Lalu, akhirnya, Claudia mulai bersuara.Suaranya pelan, tapi sangat jelas di telingaku."Apakah kali ini kamu masih akan mendiamkan aku sama seperti di hotel waktu itu?"Pertanyaan yang sangat... langsung.Aku terdiam, tidak tahu harus menjawab apa. Tapi Claudia melanjutkan, suaranya kini lebih tegas, lebih... menuntut."Ini rumahmu. Dan aku datang kemari. Menyerahkan diri. Anggap saja
Sejauh ini, aku belum berani melangkah jauh dengan Ibu Claudia. Waktu itu, saat aku menemani dia mabuk di kamar hotel, aku bisa saja mengambil kesempatan itu. Tapi aku tidak melakukannya. Aku masih punya... rem.Tapi malam ini? Aku tidak tahu.Aku menyetir menuju alamat salon yang dikirimkan Ibu Claudia. Jaraknya cukup jauh dari kantor, sekitar tiga puluh menit dengan kondisi lalu lintas yang cukup padat. Salon itu berada di area yang cukup elite, dengan gedung-gedung yang modern dan parkiran yang luas.Aku tiba di depan salon sekitar jam setengah enam sore. Tapi saat aku hendak turun dari mobil untuk masuk ke dalam salon, ponselku berdering. Ibu Claudia menelepon."Halo, Bu?""Arya, aku belum selesai nih. Masih ada treatment lagi. Kira-kira satu jam lagi baru beres. Kamu nggak apa-apa nunggu?"Satu jam lagi.Aku melirik jam di dashboard mobil."Nggak apa-apa, Bu. Saya tunggu.""Makasih ya. Maaf merepotkan. Kamu bisa nunggu di dalam salon kalau mau, ada ruang tunggu yang nyaman kok. A
Pagi pun tiba dengan cahaya matahari yang menembus celah gorden kamar, menyinari wajahku yang masih terpejam. Aku membuka mata perlahan, merasakan tubuh yang... remuk.Sangat remuk.Punggung yang pegal. Pinggang yang ngilu. Kaki yang terasa berat. Setiap bagian dari tubuhku protes, memberitahuku bahwa aku sudah terlalu... aktif semalam.Aku memutar kepala ke samping. Wulan masih tertidur di sampingku, wajahnya yang damai, napas yang teratur, tubuh yang terlihat sangat rileks. Sementara aku... aku merasa seperti baru saja lari marathon.Beberapa menit kemudian, Wulan mulai bergerak. Matanya terbuka perlahan, menyesuaikan dengan cahaya. Ia memutar tubuhnya menghadapku, lalu tersenyum."Pagi, Mas...""Pagi," jawabku dengan nada yang agak... kesal.Wulan sepertinya merasakan ada yang berbeda dari nadaku. Alisnya terangkat."Kenapa? Ada apa?""Kamu tahu nggak, tubuhku remuk semua gara-gara semalam?"Aku mengatakan itu dengan nada yang setengah marah, setengah bercanda. Tapi rasa sakitnya n
Tapi di tengah semua kenikmatan fisik ini, pikiranku tidak bisa sepenuhnya lepas. Ada bagian dari diriku yang terus membandingkan.Wulan berbeda dari Dinda.Tubuhnya lebih semok, namun kencang kencang. Caranya bergerak itu sangat agresif, sangat jalang. Suaranya yang mendesah berbeda; lebih tinggi, lebih dibuat-buat, tapi itu memberikan sensasi tersendiri.Dinda, meski belakangan ini sangat liar dan jauh berbeda dari dulu, masih bisa dibilang lebih lembut ketimbang Wulan.Maka Wulan tentu selalu memberikan sesuatu yang berbeda. Apalagi, aku melakukannya diam-diam, serta merahasiakan hal ini. Ada kegirangan tersendiri dari aktivitas ini.Aku bergerak semakin cepat. Semakin intens. Wulan pun juga. tubuh kami bergerak dalam harmoni yang sempurna, naik dan turun, masuk dan keluar, dalam ritme yang semakin mengencang.Wulan mendesah semakin keras. Tangannya mencengkeram sprei dengan kuat, kepalanya menengadah ke belakang, tubuhnya melengkung."Mas... aku... aku mau..." ucapnya dengan terpu







