LOGINPagi hari berikutnya. Alun-alun kota Baishan sudah penuh sesak bahkan sebelum matahari naik tinggi. Kabut tipis pagi masih menggantung di udara, tetapi keramaian manusia membuat suasana terasa panas dan gaduh. Pedagang, warga, pengemis, sampai penjaga kota semua berkumpul di satu tempat, berdesakan, saling dorong, saling bertanya. Di tengah alun-alun berdiri tiang kayu tinggi yang biasanya dipakai untuk menggantung pengumuman resmi. Namun hari ini, yang tergantung di sana bukan papan pengumuman. Melainkan tubuh gempal bupati Da Tong! Tubuhnya diikat menggunakan rantai besi di kedua tangan, kepalanya terkulai ke samping, ditambah bertelanjang dada. Perutnya robek panjang dari bawah dada sampai pusar, luka itu sudah mengering tetapi masih terlihat jelas, membuat isi perut yang pernah terburai meninggalkan bekas gelap mengerikan. Beberapa wanita langsung menutup mulut. Seorang anak kecil menangis ketakutan. Beberapa pria mundur dua langkah dengan wajah pucat. Bisikan mulai terde
Di paviliun kota Baishan. Lampu minyak di kamar inap jenderal Shang masih menyala redup. Kelambunya setengah terbuka, kain tipisnya bergoyang pelan setiap kali ada pergerakan di ranjang. Di atas ranjang besar itu sendiri, jenderal Shang berbaring telentang dengan santai. Kedua tangannya dilipat di bawah kepala, dijadikan bantal sendiri, seolah tidak ada satu pun hal di dunia ini yang bisa membuatnya gelisah. Di atas tubuhnya, Shen Liu Zi tengkurap. Tubuhnya yang langsing menempel di perut jenderal, kedua tangannya bersedekap di atas dada pria itu seperti sedang memeluk bantal hangat. Dengan suara manja seperti anak kecil yang sedang merajuk, dia berkata pelan, “Sebelum kembali ke rumah, aku ingin beli manisan.” Jenderal Shang berkedip sekali. Tanpa berpikir, jawabannya keluar datar. “Aku belikan.” Shen Liu Zi langsung melanjutkan, sambil terus menatap jenderal. “Aku juga mau daging semur Bos Changyi.” “Aku belikan.” “Mau tiga tang hu lu.” “Aku belikan.” “Pangsit Paman Guo.
Dua pengawal akhirnya berlari sampai ke Paviliun Timur.Lampu gantung di serambi masih menyala, tetapi cahayanya redup, membuat halaman tampak sunyi dan dingin.Tirai pintu kamar Gu Qingren setengah terbuka, bergoyang pelan tertiup angin malam.Di dalam kamar, Gu Qingren berbaring di ranjang dengan wajah pucat seperti kertas. Bibirnya kering, napasnya terputus-putus. Setiap kali dadanya naik, terdengar suara batuk tertahan yang menyakitkan.Ukhuk! Ukh!Darah tipis kembali keluar dari sudut bibirnya.Melalui tirai yang terbuka, dia melihat dua sosok berjalan cepat mendekat.Langkah mereka berat, jelas bukan pelayan.Tatapan Gu Qingren yang sudah kabur tetap berusaha fokus. Alisnya berkerut pelan, seolah ingin bertanya, tetapi tenggorokannya terasa seperti tercekik.Kenapa yang datang .... apa mereka tabib? batin Gu Qingren.Dua pengawal itu sudah sampai di depan kamar. Mereka langsung masuk tanpa mengetuk, tanpa berbicara lebih dulu.Gu Qingren terkejut. Tatapannya melebar sedikit, wa
Di dalam kamar, lampu minyak menyala redup di sudut ruangan. Cahayanya hangat, bergoyang pelan tertiup angin dari jendela yang sedikit terbuka, membuat bayangan di dinding bergerak lembut. Shen Liu Zi duduk di tepi tempat tidur. Punggungnya tegak, kedua tangannya diletakkan di pangkuan, seolah berusaha terlihat santai seperti biasa. Namun, ujung jarinya saling menggenggam pelan, menandakan kegelisahan yang tidak bisa sepenuhnya disembunyikan. Jenderal Shang duduk di kursi rendah tepat di hadapannya. Tubuh pria itu besar, bahunya lebar, tetapi gerakannya saat ini sangat pelan, sangat hati-hati, hampir tidak sesuai dengan sosok yang tadi menendang orang sampai menghantam dinding batu. Di sisi jenderal, sebuah baskom berisi air hangat diletakkan di lantai. Uap tipis masih naik perlahan. Kain bersih dicelupkan ke dalam baskom. Dia memerasnya perlahan, air hangat menetes kembali ke dalam wadah dengan suara kecil. Tangan jenderal Shang kemudian terangkat. Kain di tangannya menyentuh pi
Tubuh Liao Peng melesat cepat. Pedangnya berputar cepat, berkilat di bawah cahaya obor yang bergoyang.Sembilan pria yang mengepungnya maju hampir bersamaan, tapi gerakan mereka tidak seragam, tidak rapi, bahkan ada yang terlalu lambat, ada yang terlalu terburu-buru.Tang!Trang!Tak!Bilah pedang beradu, suara logam memekakkan telinga.Satu pria tua menyerang dari kiri dengan parang pendek.Liao Peng memutar pergelangan tangannya, menangkis dengan satu gerakan ringan, lalu menendang perutnya.Buk!Pria itu langsung terlempar ke belakang, jatuh menabrak dinding batu.Belum sempat yang lain berpikir—Wus!Pedang Liao Peng berputar lagi, kali ini menghantam gagang tombak seorang pria muda sampai terlepas dari tangannya.“Aaa—!”Pria muda itu mundur panik, tapi pria lain di belakangnya malah tersandung, membuat barisan mereka kacau sendiri.Liao Peng menyipitkan mata, sorotnya berubah dingin.Sekali lihat saja, dia sudah tahu. Mereka bukan prajurit, bukan pula ahli bela diri, melainkan
Naluri bertarung Shen Liu Zi bangkit dalam sekejap.Otot-ototnya menegang, tenaga dalam yang sejak tadi tertahan mulai mengalir deras di sepanjang meridian.Dia hampir saja menggerakkan tangannya. Hampir saja. Namun pada saat yang sama—Wush!Sebuah anak panah meluncur dari arah ventilasi udara dengan kecepatan, yang hampir tidak terlihat oleh mata biasa tepat saat pisau di tangan bupati Da Tong hendak turun. Ting! Ujung panah itu menghantam bilah pisau kurus di tangan pria tua tersebut. Benturannya keras, membuat pisau bergetar hebat sampai nyaris terlepas dari genggamannya.Tubuh bupati Da Tong langsung tersentak mundur satu langkah, mata kecilnya membelalak.Tanpa sadar kepalanya menengadah, menatap ke arah datangnya anak panah.Di belakangnya, Liao Peng juga langsung menoleh tajam ke arah yang sama; refleks seorang pengawal membuat tubuhnya menegang, seluruh sarafnya siaga.Ruangan gelap itu m







