Share

Kematian Erlan

Penulis: Widia
last update Terakhir Diperbarui: 2026-01-16 10:38:41

"Erlan, bangun, Lan!"

Aku meraih tubuhnya dan mengguncangnya dengan panik.

"Erlan, bangun!!!" teriakku sambil menangis tersedu-sedu.

Dadaku terasa sesak ketika Erlan benar-benar tak merespons apa pun. Ia tetap bisu dan bergeming, bahkan saat aku berteriak sekuat tenaga di dekat telinganya. Tubuhnya terbujur kaku dan dingin.

Selain duka, rasa bersalah seketika menyergapku. Kematian Erlan, aku yakin, adalah buah dari kesalahanku sendiri. Akulah yang mendatanginya. Akulah yang memintanya membant
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Jerat Berbahaya Suami Posesifku   Kedatangan Caca

    “Tentang Tiwi apa yang mau kamu sampein sama aku tadi, Ca?” tanyaku, berpura-pura tidak mengetahui apa pun yang sebenarnya telah terjadi.Sungguh, di dalam hati aku merasa sangat berdosa mengatakan hal itu pada Caca. Aku seolah telah melakukan pengkhianatan besar bukan hanya padanya, tetapi juga pada semua sahabatku. Perasaanku semakin tercekik saat kulihat mata Caca mulai berkaca-kaca, lalu perlahan menitikkan air mata. Caca pasti sudah kelimpungan mencari Tiwi selama beberapa hari terakhir ini, sementara aku justru berdiam diri di rumah ini, hidup berdampingan dengan orang yang telah merenggut nyawa sahabat kami, tanpa mampu mengetahui di mana Mas Aksa menyembunyikan jenazah Tiwi.“Tiwi meninggal, Ras,” ucap Caca tersendat di sela tangisnya.“Meninggal, Ca?” tanyaku dengan nada terkejut.Aku memang terkejut, meskipun aku telah lebih dulu mengetahui bahwa Tiwi telah meninggal. Namun, keterkejutanku bukan semata karena kabar itu, melainkan karena kenyataan bahwa Caca mengetahuinya. S

  • Jerat Berbahaya Suami Posesifku   Ciuman Pertama Suamiku

    “Ini obat yang Airin resepin buat kamu. Diminum sekarang, ya,” ujar Mas Aksa sambil menyerahkan sebuah kantong plastik berisi beberapa bungkus obat. Ia bahkan membantuku membuka satu per satu obat tersebut, memastikan aku siap meminumnya.“Dokter itu mantan pacar kamu, Mas?” tanyaku akhirnya.Mas Aksa yang tengah membuka obat terakhir seketika menghentikan gerakannya dan menatapku.“Perempuan ternyata gampang cerita, ya? Aku gak nyangka kalian bakal curhat di pertemuan pertama kalian,” balasnya.“Makanya kamu langsung semangat manggil dokter begitu tahu aku sakit?” lanjutku.Mas Aksa tersenyum kecil. “Kamu ngomong apa sih? Kamu cemburu sama dia?”“Bukan cemburu. Aku cuma sedikit tersinggung aja karena kamu gak bilang kalau bakal manggil mantan kamu ke rumah ini.”Mas Aksa terkekeh pelan mendengar ucapanku. Barangkali ia mengira semua itu lahir semata-mata dari kecemburuanku. Padahal, perasaanku lebih menyerupai rasa tersinggung atas ketidakjujurannya padaku sejak awal.“Iya udah, aku

  • Jerat Berbahaya Suami Posesifku   Mantan Kekasih Suamiku

    Ia kembali melangkah keluar dari kamar. Aku mengikuti kepergiannya dengan pandangan mata hingga sosoknya menghilang di balik pintu. Aku tak pernah menyangka bahwa ia bisa sedemikian perhatian dalam merawatku, dengan tangan-tangan dinginnya itu.Dirawat oleh seseorang psikopat seperti dirinya menghadirkan sensasi yang bertolak belakang antara nyaman sekaligus mengerikan. Membayangkan bagaimana tangan yang sama mampu menyentuhku dengan lembut, namun juga begitu ringan mengusap darah yang menyiprat di wajahnya setiap kali ia selesai melakukan pembunuhan, membuatku terperangkap di antara rasa aman yang menipu dalam ketakutan yang tak pernah benar-benar pergi.Beberapa menit kemudian, Mas Aksa kembali memasuki kamar bersama seorang dokter. Dokter itu adalah seorang perempuan berpenampilan anggun dengan wajah yang cantik. Ia tersenyum ramah begitu pandangannya bertemu denganku.“Laras, kenalin ini Dokter Airin,” kata Mas Aksa memperkenalkannya kepadaku. Lalu ia beralih menatap dokter itu

  • Jerat Berbahaya Suami Posesifku   Dia Merayuku

    Hampir setengah jam berlalu sebelum Mas Aksa kembali masuk ke kamar dan membangunkanku. Aroma makanan hangat segera menguar, berasal dari semangkuk bubur yang ia bawa masuk bersamanya.“Laras, bangun ya. Kamu harus sarapan dulu,” katanya sambil mengusap lenganku, mengira aku benar-benar tertidur sejak memejamkan mata tadi.“Aku gak lapar, Mas,” jawabku menolak.“Sedikit aja, Ras. Ini aku buat sendiri, loh, buburnya. Kamu kemarin juga suka masakan buatanku. Dicoba dulu ya, sedikit aja. Perut kamu gak boleh kosong.”Mas Aksa meletakkan mangkuk bubur itu di atas ranjang, lalu mendekat ke arahku. “Ayo duduk dulu,” ucapnya sembari membantu menyandarkan tubuhku pada sandaran ranjang.Setelah aku berada dalam posisi yang lebih nyaman, ia kembali meraih mangkuk tersebut dan duduk di sampingku, bersiap menyuapiku.“Kenapa sih, Mas, kamu gak taruh aja meja di kamar ini? Kan lebih gampang kalau naruh sesuatu di atas meja.”“Mungkin biar aku lebih nyaman dan gak terganggu di jam istirahatku.”“M

  • Jerat Berbahaya Suami Posesifku   Tatapannya Padaku

    Aku tak menyadari entah sejak kapan akhirnya benar-benar terlelap, hingga tanpa sadar membiarkan malam berlalu begitu saja. Padahal, sebelumnya aku telah berjanji pada diri sendiri untuk tetap terjaga demi mencegah Mas Aksa kembali melakukan perbuatan keji itu. Barangkali demam yang kembali meninggi membuat tubuhku tak lagi mampu melawan kantuk sepanjang malam.Hingga akhirnya pagi ini, aku terbangun dengan tubuh berada dalam dekapan Mas Aksa, sementara sebuah handuk kompres terletak di keningku.Mas Aksa sendiri masih tertidur pulas. Aku mengetahuinya dari hembusan napasnya yang teratur di atas pucuk kepalaku. Wajahnya tampak tenang, seolah masih tenggelam dalam mimpi yang damai. Ia memang memiliki kharisma yang khas. Namun alih-alih terlarut memikirkan keteduhan wajah itu, pikiranku justru diliputi kegelisahan oleh hal lain. Bagaimana dengan dirinya semalam? Apakah ia benar-benar tidak melakukan sesuatu yang dapat membahayakan keluargaku?Aku harus memastikan hal itu. Perlahan, aku

  • Jerat Berbahaya Suami Posesifku   Pengalih Perhatian

    Malam semakin larut ketika pesta itu akhirnya usai. Seluruh tamu undangan telah meninggalkan tempat acara, sementara para pelayan sibuk membereskan sisa-sisa perayaan. Ayah, ibu, dan Bude Maryati pun bersiap untuk pulang. Mas Aksa tampak melangkah mendekati mereka, dan aku segera mengikuti dari belakang untuk mencegah kemungkinan yang tidak kuinginkan.“Kami pulang dulu ya, Nak Aksa,” ujar ayah sambil menjabat tangan Mas Aksa. “Ayah titip Laras padamu. Kalau terjadi sesuatu, kamu bisa segera mengabari ayah atau ibu.”“Baik, Ayah. Terima kasih sudah menyempatkan datang malam ini,” jawab Mas Aksa sopan.“Iya, Nak. Ayah juga senang bisa berkenalan dengan orang-orang penting berkat kamu,” balas ayah dengan senyum hangat.“Doa terbaik dari kami untukmu, ya, Nak Aksa,” sambung ibu lembut.“Iya, Aksa,” sela Bude Maryati tanpa ragu, “Bude juga ikut mendoakan semoga kamu makin sukses dengan semua bisnis yang kamu bangun. Tapi jangan lupa itu loh, Laras, dibelikan ponsel baru daripada nunggu di

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status