LOGINCahaya fajar menyelinap di antara gorden, menerangi wajah Freya yang perlahan membuka mata. Tubuhnya terasa berat, namun ada kehangatan yang menjalar di hatinya saat ingatan tentang malam tadi berputar kembali. Sentuhan Arya, napas yang memburu, dan bagaimana pria itu memujanya dalam kegelapan—itu adalah malam paling intim dan panas yang pernah ia rasakan.Saat menoleh, Arya sudah tak ada lagi di sampingnya. Suara gemericik air yang berisik dari arah kamar mandi menandakan ada seseorang di dalamnya. Freya tersenyum kecil. Arya pasti sedang mandi sekarang. Menutup wajah dengan selimut, Freya merasa malu. Bayangan soal semalam mampu membuat kedua pipinya memerah. Dia tak menyangka kalau Arya sangat lihai memperlakukan dirinya di atas ranjang.Apa saat kejadian malam itu sama seperti malam kemarin?Ah, sayangnya dia sama sekali tak ingat apa yang sudah terjadi saat malam itu.Rasa nyeri dan sakit masih dirasakannya begitu dia bergerak. Namun saat dia mencoba menggeser tubuhnya untuk men
Mereka jatuh tepat di atas ranjang king size yang empuk. Pegas tempat tidur itu membal sejenak sebelum akhirnya diam.Hening seketika menyelimuti ruangan.Freya terengah-engah, matanya membelalak menatap langit-langit, sementara ia merasakan beban tubuh Arya di atasnya.Arya bertumpu pada kedua sikunya di sisi kepala Freya, menjaganya agar tidak menekan tubuh gadis itu sepenuhnya. Jarak wajah mereka hanya hitungan sentimeter.Napas Arya yang hangat menerpa kulit wajah Freya. Wangi sabun hotel yang maskulin dari tubuh Arya memenuhi indra penciuman Freya, membuatnya mendadak lupa bagaimana cara bernapas dengan benar."Kenapa dari tadi kamu berisik sih?" Suara Arya terdengar berat dan serak. Ada kilatan aneh yang muncul di sorot matanya, membuat Freya merinding. "Ngapain kita rebutan tempat kalau kasurnya bisa kita pakai berdua?"Freya menelan ludah, suaranya hampir hilang. "T-tapi... kita..."Arya tidak beranjak. Tatapannya turun ke bibir Freya yang sedikit
Freya keluar dari kamar mandi dengan piyama panjang bermotif awan merah—ciri khas organisasi Akatsuki di Naruto. Ia lupa tidak membawa blus atau gaun formal tapi sama sekali tak lupa membawa piyama kebanggaannya.Arya yang sedang duduk di tepi ranjang sambil melepas kancing kemejanya, langsung terdiam saat melihat Freya. "Kamu serius? Bahkan di kamar hotel bintang lima ini, kamu tetap membawa organisasi kriminal internasional itu ke sini?"Freya merapatkan piyamanya. "Ini nyaman, Mas! Lagi pula, aku gak bawa piyama lain selain ini."Arya menggelengkan kepala, tapi matanya tidak bisa berbohong—ia memperhatikan bagaimana rambut basah Freya jatuh di bahunya. Ia segera berdiri, berjalan melewati Freya menuju kamar mandi dengan langkah cepat. "Tidur cepat. Besok kita bakal mengunjungi bank untuk menemui calon investor kedua."Namun, ketika Arya keluar dari kamar mandi hanya dengan celana training dan kaos oblong putih, ia mendapati Freya belum tidur. Gadis itu duduk di ba
Pak Baskoro membuka tas tersebut, matanya berbinar seperti anak kecil yang mendapat mainan baru. "Luar biasa! Kalian benar-benar punya koneksi yang hebat. Cucuku pasti akan berhenti merajuk sekarang."Pria tua itu kemudian meraih pena montblanc-nya dan tanpa ragu membubuhkan tanda tangan di atas berkas kontrak senilai sepuluh miliar rupiah tersebut.Sret. Sret.Bunyi goresan pena itu terdengar seperti musik paling indah di telinga Arya dan Freya."Selamat," Pak Baskoro menjabat tangan Arya dengan erat. "Aku bukan hanya berinvestasi pada proyek kalian, tapi juga pada kegigihan kalian. Orang yang mau melakukan apa saja—termasuk berburu kaos langka—adalah orang yang bisa aku percaya untuk menjaga uangku."Setelah basa-basi singkat dan ucapan terima kasih, Arya dan Freya melangkah keluar menuju lobi gedung dengan langkah ringan. Begitu pintu lift tertutup dan hanya ada mereka berdua, Freya langsung bersorak kecil sambil melompat."Sepuluh miliar, Mas! Kita berhas
Rendi memandangi Arya dengan mata menyipit. "Siapa kamu sebenarnya? Freya bilang kamu asisten, tapi kok nada suaramu seperti orang yang mau mengajak berantem?""Aku asisten yang sangat protektif," balas Arya, dingin."Sudah, sudah!" Freya menengahi, merasa suasana mulai memanas di tengah kerumunan. "Ren, mana kaos pesanan Pak Baskoro? Aku udah tepati janjiku, Kan."Rendi mengeluarkan sebuah tas plastik transparan dari tasnya. Di dalamnya terlihat kaos Naruto Sage Mode ukuran anak-anak yang masih tersegel rapi. "Ada di sini. Tapi, aku baru akan menyerahkannya setelah sesi foto 'romantis' Naruto dan Hinata di panggung utama selesai.""Apa?!" Arya sudah tidak bisa menahan diri. "Itu gak ada di kesepakatan awal!""Kesepakatannya adalah Freya menemaniku," Rendi menantang. Ia sengaja menarik tangan Freya. "Ayo, Fre. Kita ke panggung. Biarkan babimu ini menunggu di sini."Arya mencengkeram pergelangan tangan Rendi dengan kekuatan yang tidak main-main. Di bawah lampu
"Halo, Ren. Ini aku, Freya.""Freya? Wah, kayaknya matahari udah terbit dari barat ya?" Suara pria di seberang telepon terdengar sangat antusias."Hai, Ren. Langsung aja ya... kamu masih punya kaos Sage Mode ukuran anak-anak yang edisi kolaborasi bulan lalu?"Hening sejenak. "Punya. Satu-satunya di gudangku. Tapi kamu tahu kan, Fre, aku nggak butuh uang.""Aku tahu," sahut Freya sambil meremas lututnya. "Apa yang kamu butuhin, Ren?""Aku butuh teman untuk datang ke pameran figurin langka besok malam. Dan kamu harus pakai kostum Hinata biar serasi sama aku."Mata Arya membelalak lebar. Ia hampir saja mengerem mendadak."Kostum... Hinata?" ulang Freya dengan suara bergetar. Ia melirik Arya yang sekarang wajahnya sudah berubah kaku seperti batu granit."Yup! Pakai wig indigo dan lensa kontak putih. Gimana? Kaos itu atau harga dirimu?" tawar Rendi sambil tertawa kecil.Freya menutup mikrofon ponselnya, menatap Arya dengan wajah pucat. "Mas, dia m







