Masuk"Wah, kenapa kamu repot-repot gini, Glenn." Pak Gunawan menyeru antara perasaan senang sekaligus merasa tidak enak, karena Glenn memberinya sepasang sepatu olahraga. Sepatu berwarna putih dari merk cukup terkenal dibeli oleh Glenn sesuai dengan hobi Pak Gunawan yang menyukai badminton. Harganya juga tidak terlalu mahal, tidak murah juga. Cukup pas untuk isi kantong pemuda itu. Glenn membelinya dengan uang tabungannya sendiri bukan uang bayaran dari Misya. "Om suka, gak?" tanya Glenn. "kalo gak ada Misya aku gak bakal tau ukuran sepatu Om." Sudut mata Glenn melirik Misya yang duduk di samping papinya, sedangkan wanita itu tersenyum tipis. "Suka-suka," seru Gunawan sambil mencoba sepasang sepatu barunya yang sangat pas dan nyaman. "Nyaman." Pak Gunawan berdiri, dan berjalan mondar-mandir. Papinya Misya terlihat antusias serta sangat menghargai pemberian Glenn. "Makasih, ya," ucapnya, lalu kembali duduk dan melepas sepatu bergantian. "Langsung om coba besok pagi buat joging." "
Hari ini rencananya, sepulang sekolah Rindu berniat membeli kado natal untuk ibu. Dia dan teman-teman dekatnya pun mampir ke Mall. Namun pada saat hendak memasuki Mall, gadis itu tidak sengaja melihat Glenn yang sedang bicara dengan seorang perempuan di parkiran. Lantaran penasaran, Rindu langsung menghampiri Glenn, dan bertanya. Glenn yang sudah terlanjur kepergok pastinya tidak bisa menghindar. Apalagi sang adik yang memergokinya. Pemuda itu lantas membawa Rindu ke foodcurt yang ada di dalam Mall. Ketiganya duduk di meja paling ujung. Glenn dan Misya duduk berdampingan, sedangkan Rindu duduk berhadapan dengan abangnya. Glenn memesan makanan dan minuman terlebih dahulu. Dan sambil menunggu pesanan datang, dia mungkin akan mulai memberi penjelasan. Tapi, bagaimana? Bagaimana caranya Glenn menjelaskan. Glenn menghela frustrasi. Memikirkannya saja membuat kepalanya berdenyut. Dari tempatnya duduk, sepasang mata Rindu menatap bergantian Glenn dan wanita yang belum pe
Sorenya setelah mengobrol dengan sang ibu di telepon, Glenn berniat ingin memberi hadiah natal untuk orang-orang terdekatnya. Natal tahun ini tentu berbeda dengan natal di tahun-tahun sebelumnya. Namun, meski jauh dari keluarga, Glenn tetap merasa bersyukur atas berkat dari Tuhan, yang telah mempertemukannya dengan Misya. Seorang wanita cantik berhati tulus dan sangat baik. Berhubung dia iseng kalau pergi sendirian ke pusat perbelanjaan, Glenn memutuskan untuk mengajak Misya. Dia juga kepikiran membelikan sesuatu untuk Pak Gunawan. Masa iya, Glenn tidak memberi kado apa-apa untuk sang mertua? Ya.. walau bisa dibilang, Pak Gunawan tidak memerlukan hal-hal demikian. Dari apartemen, Glenn yang sore itu berpenampilan santai langsung mendatangi Misya ke toko. Tanpa mengabari terlebih dahulu tentunya. Suasana toko masih agak ramai pengunjung. Dan kedatangan Glenn di sana pastinya menarik perhatian para kaum betina. Hampir seluruh mata tertuju pada pemuda yang mengenakan celana je
Sebenarnya malam ini Glenn diminta untuk menginap lagi di rumah Gunawan. Namun, pemuda itu beralasan jika besok dia ada jadwal ke luar kota untuk pemotretan. Sedikit kecewa lantaran Gunawan masih ingin menghabiskan waktu bersama sang calon menantu. "Ya udah. Kita ketemu lusa, pas misa natal," kata Gunawan yang baru saja tiba di rumahnya. Glenn mengangguk. "Siap, Om." "Papi masuk dulu. Kalian pulangnya hati-hati." Gunawan memandang bergantian Misya dan Glenn sesaat, selanjutnya dia pun masuk. "Aku anter kamu pulang," ucap Glenn, pada Misya yang sudah berjalan lebih dulu menuju mobilnya sendiri, dan mengabaikannya. Pemuda itu menahan pergelangan tangan Misya saat hendak membuka pintu mobil. "Sya..." Misya menoleh, menatap Glenn agak tajam, dan menjawab, "Misya 'kan bawa mobil sendiri. Kamu gak liat?" Nada bicara wanita itu mungkin agak sedikit ketus, lantaran keputusan Glenn yang lagi-lagi tanpa sepengetahuannya. Glenn mengangguk. "Liat, kok." "Terus, ini apa? Kamu nahan tangan
Misya nyaris mematung di kursinya, setelah mendengar pengakuan Glenn yang sangat-sangat jujur. Sebentar, ini Glenn beneran ungkapin perasaannya ke Misya 'kan? Atau ... Cuma mau bikin Misya ge-er? Sudut mata Misya bergerak, menghadap ke arah jendela lagi. Tetapi, detak jantungnya makin keras, dan mendadak dia kegerahan. Wanita itu memejam sambil membatin, 'Ya ampun Misya... Gak boleh ge-er. Gak boleh.' "Sya...." Glenn heran sebab Misya sama sekali tak bergeming seolah tidak menganggap kejujurannya barusan. "kamu... denger aku 'kan tadi?" Misya menelan ludah, dan hanya bergumam, "Hmm." Senyum Glenn terbit, tetapi sesaat kemudian senyum itu sirna saat dia bertanya, "Kamu... gak masalah kalo aku suka kamu?" Misya diam, tetapi ingatannya soal tanda lahir yang dimiliki Glenn tiba-tiba muncul di kepala. 'Apa bener kalo Glenn itu Leon? Tanda lahirnya sama.' Jika tanda lahir yang dimiliki Glenn memang mirip dengan tanda lahir yang dimiliki Leon, Misya rasa dia perlu menggali
Beberapa saat yang lalu... Misya baru saja menyelesaikan catatan seperti biasa sebelum dia meninggalkan toko, saat bunyi ponsel mengalihkan perhatian. Dia meraih benda pipih yang tergeletak di samping laptop. Nama 'papi' tertera di layar. "Halo, Pi?" Misya menutup buku, dan beranjak dari duduknya. Menuju sofa, lalu menghempas tubuhnya di benda empuk itu. "Kamu masih di toko?" tanya Gunawan. "Iya, Pi. Baru beres nyatet buat bahan besok. Ada apa, Pi?" Ketika bertanya, nama 'Glenn' terlintas di pikiran wanita itu, membuat jantungnya tiba-tiba berdebar tidak jelas. "Kamu ke sini, ya. Ke kantor papi. Nemenin Glenn. Kasian dia, papi tinggal meeting." Tubuh Misya sontak menegak. "Glenn masih sama Papi?" Diliriknya sekilas jam di dinding. Pukul enam, hampir petang. "Iya. Kamu cepetan ke sini. Langsung ke ruangan biasanya. Dia nunggu di sana." Pak Gunawan menjelaskan panjang lebar. "Nanti habis selesai meeting, kita makan malem bareng." Misya bergegas berdiri, sambil meny







