Share

6. Kebenaran Tentang sang CEO

Pak Jona memperhatikan daftar karyawan yang ada di depannya.

“Ini semua karyawan baru yang belum bertemu dengan saya?” tanyanya serius. Dia melihat daftar teratas sampai dengan yang paling bawah. Total ada lima belas orang yang berasal dari divisi yang berbeda.

Miss Marissa mengangguk.

“Iya, Pak,” katanya segera. Dia memperhatikan raut wajah bosnya dengan saksama, menunggu reaksi selanjutnya dari Bosnya.

Pak Jona menghela napas.

“Baik. Panggil mereka satu persatu hari ini,” katanya. Dia lalu menaruh daftar karyawan itu lalu mnyandarkan tubuhnya di kursinya dan menutup matanya. Tangannya memegang pelipis.

Marissa lalu memandangnya, keningnya tiba-tiba berkerut. Dia memperhatikan Pak Jona.

“Maaf Pak, bagaimana keadaan Bu Claudia?” tanyanya dengan penuh perhatian.

Pak Jona membuka matanya dan memandangnya.

“Masih sama seperti sebelumnya. Kita dikejar waktu, Marissa,” katanya. Tatapannya, yang begitu sedih dan menderita menyayat hati Marissa.  

“Apakah ada yang bisa saya lakukan?” tanya Marissa lalu mendekati bosnya. Dia melihat Pak Jona dengan pandangan khawatir dan iba. Dia lalu memegang lengan bosnya dengan pelan dan penuh perhatian.

Pak Jona berjengit dan menolak tangannya. Marissa tersentak.

“Tidak! Terima kasih banyak. Cukup panggil mereka satu persatu mulai hari ini saja. Aku butuh mereka secepatnya,” katanya. Dia segera berdiri dan menjauh darinya, sambil kembali memegang pelipisnya.

Marissa menelan ludah dengan susah payah. Reaksi Pak Jona tadi sama sekali tidak disangkanya. Tangannya yang sempat memegang tangan bosnya tadi lalu gemetar, tapi Pak Jona tidak memperhatikannya. Lelaki 45 tahun itu sedang sibuk dengan pikirannya sendiri.

Walaupun sudah cukup berumur, Pak Jona masih terlihat sangat tampan. Dia memiliki garis-garis wajah yang tegas, hidung yang mancung, dan mata yang indah. Kulitnya putih pucat dan bersih karena rajin dicukur dengan saksama. Rambutnya masih hitam lebat dengan hanya sedikit garis-garis putih. Dia lebih mirip seorang aktor daripada seorang bos perusahaan besar. Jika orang melihatnya, pastilah mereka tidak mengira bahwa dia adalah seorang bos, tapi seorang aktof film. Badannya tinggi dan tegap, namun tampak bahwa usia sudah menyapa dirinya.

Selain itu garis-garis di keningnya agak merusak penampilannya. Garis-garis itu muncul bukan karena usia, melainkan karena kekhawatiran yang kerap menggelayuti benaknya.

Marissa ingin sekali mengangkat beban itu dari pundak Pak Jona, tapi dia bukanlah siapa-siapa. Ia ingin sekali memberikan dukungan sepenuhnya pada Pak Jona. Bahkan pernah, tak hanya sekali dalam pikirannya, dia ingin menjadi istri siri Pak Jona ...

Meskipun tidak sah secara hukum, dia ingin menjadi pundak tempat bersandar lelaki yang dicintainya itu ...

***

Rissa tersenyum. Dia sudah menerima jadwal untuk bertemu dengan Pak Jona! Dia lalu memberi tahu teman-temannya, yang terlihat antusias tapi anehnya semuanya tampak memberinya pandangan aneh nan misterius setelahnya.

“Persiapkan diri kamu buat Pak Bos ya,” kata Ifan gemulai lalu terkikik. Ketika Rissa bertanya lebih jauh kenapa dia harus bersiap, Ifan tak menjawabnya dan hanya terkikik lagi.

“Kamu bener-bener harus siap mental dan batin lho,” kata Gita kemudian.

“Lho kenapa?” tanya Rissa segera tapi Gita hanya tersenyum dan tidak menjawab.

Semua teman-temannya memberi semangat dan ucapan semoga sukses untuknya. Dia menerimanya dengan hati yang gundah. Apakah semenyeramkan itu bertemu dengan Pak Bos? pikirnya dalam hati.

Dia melihat jadwalnya. Pukul 18.30 sore nanti! Sekarang memang sudah mulai perubahan pergantian shift dan dia tak pernah berangkat pagi lagi dan itu memang sangat menguntungkannya. Dia tak harus berangkat sejak Subuh lagi dan ritme kerjanya, walaupun sama saja, tapi dirasakannya lebih santai. Dia juga jadi bisa istirahat dengan lebih baik lagi karena setelah pulang kerja jam10 malam, dia bisa langsung tidur.

Sejak sore jam 5 dia sudah bersiap. Teman-temannya kembali menyemangatinya dan mulai tersenyum aneh lagi tapi dia tak peduli. Dia harus segera bertemu dengan Sang CEO ganteng yang kata Ifan “akan menjungkir-balikkan dunia kamu”.  

Miss Dewinta terlihat mendekati mejanya sekitar pukul enam seperempat.

“Kamu udah siap, Miss Rissa?” tanyanya sambil tersenyum.

Rissa menelan ludahnya, tenggorokannya bukan main keringnya. Dia lalu mengambil air putih di atas meja dan meneguknya sedikit, tak berani banyak karena takut harus ke kamar mandi sembari menunggu Pak Jona nanti.

“Baik. Ayo ikuti saya,” kata Miss Dewinta.

Ketika dia meninggalkan ruangan, teman-teman sekerjanya saling berpandangan lalu tertawa.

“Dia nggak tahu apa yang sedang menunggunya,” kata Jovanka sambil menyeringai.

***

Mereka menaiki lift menuju ke lantai teratas. Ketika sudah di dalam lift, Rissa berkata pada Miss Dewinta.

“Pak Jona orangnya seperti apa Miss? Keras? Kaku?” tanyanya, tak bisa menahan rasa khawatir dalam dirinya.

Miss Dewinta menoleh dan tersenyum padanya.

“Nanti kamu juga akan tahu. Rileks aja,” katanya.

Rissa menghembuskan napasnya. Gampang saja Miss Dewinta menyuruhnya rileks! Tapi dia tetap mencobanya, jika tidak dia takut saat bertemu dengan Pak Jona dia justru akan muntah di depannya. Oh no! Jeritnya panik jika itu benar-benar akan terjadi nanti.

Ketika pintu lift membuka, sudah terlihat Miss Marissa menunggunya. Wanita anggun itu mengangguk pada Miss Dewinta.

“Sampai sini saya yang akan mengantar Miss Clarissa, Miss Dewinta,” katanya.

Miss Dewinta mengangguk lalu menepuk pundak Rissa.

“Good luck,” katanya lalu segera kembali ke lift untuk turun.

Miss Marissa memandangnya.

“Mari, Miss,” katanya.

Dia lalu menemani Rissa sampai ke ruangan terbesar di lantai dan kantor itu. Sesampainya di sana dia mengetuk pintu.

“Pak Jona, Miss Rissa sudah siap untuk bertemu dengan Anda,” katanya.

“Baik. Masuk.” Katanya.

“Saya tinggal sampai sini, Miss,” katanya. Rissa mengangguk.

“Terima kasih banyak, Miss.”

Rissa menghela napas lalu membuka pintu.

Pak Jona sedang berada di belakang mejanya ketika dia datang. Setelah melihat Rissa masuk, dia segera berdiri.

“Silakan masuk, Miss,” katanya ramah. Dia lalu keluar dari mejanya seolah menyambut.

Rissa menelan ludah dengan gugup.

“Selamat malam, Pak,” katanya.

“Bagaimana hari-hari di kantor? Apakah Anda senang?” tanyanya.

Rissa melongo. Tapi dia langsung memperbaiki sikapnya dan menjawab.

“Baik. Saya senang bekerja di kantor ini, Pak,” katanya.

Pak Jona mengangguk dan tersenyum.

“Baik. Ada salah satu syarat lagi yang harus Anda tahu untuk dapat diterima di perusahaan ini nantinya,” katanya.

“Baik Pak, apa itu?” tanyanya harap-harap cemas.

Pak Jona memandangnya.

“Begini, ini adalah alasan khusus sebetulnya,” katanya.

“Semua karyawan yang ingin bekerja secara permanen di kantor ini harus menyanggupinya,” lanjutnya.

Rissa mengangguk.

“Baik Pak,” jawabnya. Apa pun itu untuk bekerja terus di JW Company! Tekadnya.

Pak Jona mengangguk dengan puas lalu mulai mendekatinya. Saat dia melakukan itu jantung Rissa seperti berhenti berdetak.

“Pak?” tanyanya gugup.

Tiba-tiba Pak Jona menyeringai. Rissa tersentak kaget ketika melihat bahwa taring Pak Jona lebih panjang daripada manusia biasa.

Apakah ... Pak Jona adalah ... Dia tak kuasa mengucapkan kata itu dalam hatinya.

Seorang vampir?

Komen (1)
goodnovel comment avatar
Ratna Shinta
asal jangan vampir yang berkilauan ketika kena cahaya matahari xixixi
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status