Share

5. Wanita yang Terbaring Sendirian

Setelah itu anehnya Rissa tak pernah lagi mendapatkan perintah dari atasannya untuk bertemu Pak Jona lagi dan dia merasa aneh soal itu. Jujur, dia jadi merasa agak berbeda dengan teman-teman yang sudah bertemu  dengannya. Teman-temannya sendiri tak mau membahas pertemuan mereka dengan sang CEO. Kata mereka hal itu rahasia dan mereka sudah diperintahkan untuk tidak memberitahu siapa pun yang belum pernah bertemu dengan Pak Jona.

“Nanti kamu juga bakalan tahu kok,” kata Gita segera sambil memperhatikan riasannya ketika Rissa bertanya padanya dengan murung. Kulitnya padahal sudah putih pucat sempurna tapi setiap beberapa menit sekali dia pasti akan mengambil cermin dan memeriksa wajahnya. Dia juga memulas kembali lipstik merah marunnya.

“Kamu pake perawatan apa sih kulitmu jadi mulus gitu?” tanya Rissa iri. Dia melihat bahwa kulit Gita benar-benar mulus seolah tanpa cela. Bahkan dia tak bisa melihat pori-pori wajah temannya itu saking terlihat sempurnanya.

Gita segera berhenti berkaca.

“Bagus ya? Hmmm... ada rahasianya. Tapi ... ya rahasia,” katanya dengan jahil.

Rissa lalu memukul pelan pundaknya.

“Ah pelit! Kasih tahu napa!” serunya.

Gita tiba-tiba memandangku.

“Eh kamu kemarin ketemu Pak Aidan ya? Gimana dia? Cakep?” tanyanya dengan nada penasaran tingkat tinggi.

Rissa mengerutkan dahi.

“Cakep sih tapi aku nggak gitu perhatiin. Kenapa?” tanyanya.

“Hmmm,” Gita mengerutkan keningnya.

“Semua anak Pak Jona cakep-cakep semua, katanya. Yang aku tahu cuma Miss Daniela, ya karena dia kepala supervisor kita. Tapi katanya Pak Aidan sama Pak Melvin cakep juga. Aku penasaran. Pak Jona sendiri cakep bukan main sayangnya udah punya istri,” katanya, kembali jahil.

Rissa kembali memukul pundaknya.

“Hei!!!”

Gita tertawa. Rissa memperhatikan ada yang aneh dari mulutnya. Tapi apa ya? Tadi aku hanya melihat selintas, pikirnya. Ah udahlah nggak usah terlalu dipikirin, lanjutnya.

“Eh istri Pak Jona katanya cantik banget, cuma setiap ada pesta atau acara akbar di kantor, nggak pernah dateng. Katanya lagi sakit parah.”

Pada kalimat terakhir, Gita berbisik, seolah hal yang diucapkannya tadi harusnya dirahasiain.

“Kok kamu tahu?” Rissa jadi ikut berbisik.

“Gosip umum,” bisiknya.

Rissa menarik napasnya.

“Sakit apa?” tanyanya.

Gita mengedikkan bahu, menandakan bahwa ia tidak tahu sampai sejauh itu.

“Nggak ada yang tahu. Tapi banyak yang bilang kalo kanker,” katanya.

“Kanker?!” tanya Rissa kaget. Istri Pak Jona menderita penyakit separah itu? Sungguh kasihan ...

Tapi sayangnya bukan itu yang dirasakan oleh Gita. Temannya itu malah berkata,

“Sayang banget dong kalo gitu. Kan Pak Jona jadi dianggurin. Eh siapa tahu nanti aku bisa gantiin istrinya?” tanyanya genit. Setelah mengatakan hal itu dia lalu memandang sekelilingnya seakan tahu seseorang akan mendengar kata-katanya dan menghujatnya. Kata-katanya memang tak pantas dan dia sebenarnya tahu akan hal itu.

“Heiii!” Rissa kembali memukulnya untuk yang ketiga kalinya. Temannya yang satu ini sepertinya memang memerlukan pukulan untuk membuatnya tetap waras dan tidak berpikir hal yang aneh-aneh.

Gita cemberut. Dia lalu menutup cerminnya.

“Kamu kok suka mukul sih. Suka main kasar deh,” gerutunya.

Ucapannya membuat Rissa tak sanggup menahan tawa.

***

Di sebuah ruangan yang sangat megah, tampak seorang pria sedang berlutut di depan sebuah tempat tidur yang juga sangat megah. Tempat tidur itu adalah tipe tempat tidur kayu besar dengan tiang tinggi yang memiliki kelambu. Kelambu itu terbuat dari sutra berwarna putih yang dihiasi dengan sulaman bunga-bunga mawar putih. Keseluruhan kamar itu terlihat sangat cantik tapi juga begitu sendu dikarenakan wanita yang menghuni kamar itu sedang sakit.

Di atas tempat tidur itu, berbaring seseorang yang sedang ditangisi oleh si pria. Tubuh wanita itu, yang terbungkus dalam gaun tidur panjang berwarna putih tampak kurus dan ringkih. Wajahnya penuh dengan urat biru yang bertonjolan. Dia sebenarnya sangatlah cantik. Wajahnya seperti seorang wanita aristokrat yang sangat anggun. Tapi kini, kulitnya yang dulu berwarna sawo matang cantik menjadi berwarna putih pucat. Bibirnya yang dulunya sangat cantik dengan warna merah merona dan penuh kini menjadi pucat kebiruan. Rambutnya yang dulunya panjang dan hitam kelam, dan sering disanggul dengan anggun kini berubah menjadi abu-abu dan tampak rusak. Rambutnya kini digerai dengan hati-hati di sekeliling kepalanya untuk membuatnya tetap nyaman. Selimut menutup badannya sampai perut.

“Claudia, maafkan aku. Aku akan berusaha menemukan obatmu. Bertahanlah sebentar lagi, sayang,” katanya tersedu-sedu. Dia memegang tangan si wanita. Dia menunduk lalu mencium dahi wanita itu. Wanita itu menutup matanya saat lelaki itu menciumnya.

Tangan wanita itu bukan main pucatnya tapi juga tampak sangat sakit dan tidak normal. Pembuluh-pembuluh darahnya, yang berwarna biru bertonjolan seperti yang terjadi di wajahnya, juga bertonjolan di sepanjang lengan dan jari-jemarinya.  Tangan itu terjulur lemah pada si pria yang memegangnya dengan hati-hati dan penuh rasa sayang.

“Aku ... tidak apa-apa,” kata si wanita terpatah-patah. Dia lalu mengelus kepala si pria dengan penuh rasa sayang juga.

“Tidak, tidak. Ini semua salahku, Claudia sayang. Tunggulah sebentar lagi. Aku yakin kita akan segera menemukan obatnya,” kata si lelaki. Dia kemudian tersedu-sedu lagi.

“Tak perlu tergesa, aku akan menunggu,” kata si wanita dengan lemah. Dia lalu menghela napas dengan kesulitan. Penyakitnya sepertinya membuatnya begitu menderita, bahkan menarik napas saja dia harus bersusah payah dahulu.  

Tapi si pria tahu waktunya semakin sempit. Sudah setahun wanita itu terbangun dan makin lama dia melihat bahwa kondisinya memburuk. Awalnya dulu tak seburuk ini, walaupun sejak hari penyakitnya dimulai sebenarnya sudah buruk ...

Penyakit itu merenggut wanita yang dicintainya ini. Sudah sejak setahun wanita itu hidup namun seperti mati, dan itulah juga yang dirasakan oleh si lelaki. Dia merasa mati saat wanita tercintanya itu sakit ...

Dia tahu bahkan ketika berbicara wanita itu merasa sangat kesakitan. Gerakan bibirnya terlihat lemah dan setiap katanya terdengar dipaksakan. Bahkan saat tidur pun dia kelihatan kesakitan dan lemah, seolah tak ada sedetikpun waktu baginya untuk merasa lebih baik dari sebelumnya.

Lelaki itu juga tahu apa yang menyebabkan penyakit wanita itu dan merasa sangat bersalah karenanya hari demi hari. Kesuksesannya di dunia tak menjamin kebahagiaannya. Walaupun dia dikenal sebagai lelaki tampan yang sukses, semua itu tak berarti baginya. Dia menghadapi setiap harinya dengan berat, bertarung setiap hari mencari obat. Seseorang memberitahunya bahwa obatnya hanyalah satu, dan dia kini mendedikasikan hidupnya sepenuhnya demi mencari obat yang hanya satu itu.  

Sesuatu dari dalam tubuh wanita itu menggerogoti tubuhnya sedikit demi sedikit, seperti memakannya dari dalam, mengambil setiap detik hidupnya dan si pria tahu dia dikejar waktu untuk menemukan penawarnya ...

Sebelum dia kehilangan wanita itu untuk selamanya ...

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status