Mag-log in"MEDIS! BAWA TIM MEDIS KE SINI BRENGSEK!"Teriakan Jordan menggetarkan dinding bungker yang hancur. Pria arogan dan sombong itu sekarang tak ubahnya pria rapuh yang baru saja kehilangan separuh jiwanya. Jordan mendekap kepala Chloe ke dadanya, mengayunkan tubuh istrinya pelan seperti sedang menidurkan bayi."Jangan tinggalkan aku, Chloe... Kumohon," isak Jordan, air mata membasahi rambut istrinya. "Dokter Ryu sialan! Apa yang dia suntikkan padamu?!"Mata liar Jordan menatap nyalang jarum suntik kosong yang tergeletak di lantai. Rahangnya mengeras. Jika Ryu tidak sedang terkapar tak berdaya dengan bibir berlumuran darah, Jordan mungkin sudah menembak kepala dokter itu detik ini juga.Tap, tap, tap!Dari luar celah pintu titanium, suara derap langkah kaki bergemuruh. Tim paramedis militer dari armada penyelamat berhamburan masuk membawa tandu lipat, tabung oksigen murni, dan tas kejut jantung (defibrillator)."Minggir, Tuan! Beri kami ruang!" teriak seorang letnan medis lapangan, langs
Drrt, drtt, drrt!Di tengah keputusasaan yang mencekik lorong bawah tanah itu, dering tajam dari ponsel satelit di saku Kiko memecah keheningan. Kiko gegas melihat layar ponselnya, lalu menelan ludah. "Bosman! Panggilan darurat berenkripsi tingkat satu!" seru Kiko. "Tuan Lucifer!"Jordan merampas ponsel itu dengan tangan yang dibalut perban berdarah. Dan langsung menempelkan benda pipih itu ke telinga. "Ayah?" "Bagaimana keadaan menantuku?" Suara bariton Lorenzo terdengar dingin."Buruk. Sangat buruk," geram Jordan, napasnya memburu. "Protokol Kiamat aktif. Pelat titanium setebal setengah meter menyegel pintu utama. Oksigen mereka pasti sudah habis!""Siapa bajingan yang berani menyerang wilayah kita?""Arthur Liem. Dia mengirim penyusup ke dalam bungker. Jika istri dan bayiku sampai mati, aku bersumpah akan menguliti bajingan itu!" "Tenang, Jordan. Jangan biarkan amarah membutakan logikamu," potong Lorenzo tegas. "Keluarga Arsenio bukan sekadar preman jalanan. Uang dan kekuasaan
"Maafkan aku, Jo," lirih Ryu dengan suara parau yang tercekat di tenggorokan.Jarum suntik yang telah kosong itu tergelincir dari jarinya, berdenting pelan di atas lantai. Wajah tenang sang dokter pecah seketika. Ia menundukkan kepalanya dalam-dalam, meremas rambutnya sendiri dengan tangan yang bergetar hebat."Hanya ini yang bisa aku lakukan untuk menyelamatkan Chloe dan anakmu," lanjut Ryu, berbicara pada keheningan ruangan. Matanya menatap lekat wajah Chloe yang kini sepucat pualam. "Membiarkan obat Neuro-Stasis ini menghentikan sementara metabolisme tubuhnya."Ryu menarik napas yang terasa menggorok tenggorokannya. Karbon dioksida mulai mengambil alih. "Obat ini akan memperlambat detak jantung dan kebutuhan oksigen istrimu hingga titik terendah. Mirip seperti mati suri. Jika aku membiarkannya tetap sadar dan panik, paru-parunya akan kehabisan napas dalam lima menit."Kesadaran Ryu sendiri mulai menipis. Pandangannya menghitam di bagian tepi.PLAK!Bunyi tamparan itu bergema tajam.
Ribuan mil jauhnya dari perairan Maldives, suasana di Mansion Utama Arsenio di Madrid yang biasanya tenang, kini dilanda badai kepanikan. Kabar tentang penyerangan di pulau privat dan terkuncinya Chloe di dalam bungker titanium telah sampai ke telinga sang penguasa lama, Lorenzo Arsenio.Dona Carmen mondar-mandir di ruang kerja suaminya dengan wajah pucat pasi. Ujung gaun yang wanita itu kenakan bergemerisik gelisah menyapu karpet. "Lorenzo! Lakukan sesuatu! Jangan hanya duduk di belakang meja itu sambil menatap layar komputer!" desak Carmen, suaranya bergetar hebat menahan tangis. "Menantu dan calon cucuku terjebak di dalam peti mati! Aku tidak mau kehilangan penerusku lagi! Menantuku pasti saat ini begitu tersiksa. Segera hubungi koneksimu sekarang juga!"Lorenzo memijat pangkal hidungnya yang berdenyut nyeri. Ia sedang mengetik serangkaian kode otoritas tingkat tinggi. "Tenanglah, Honey. Jika kamu terus berisik dan mondar-mandir seperti itu, aku tidak bisa fokus. Aku sedang meng
DUAAAARRR!Dinding bungker bergetar hebat layaknya diguncang gempa bumi berskala tinggi. Pintu baja utama di ujung lorong seketika tertutup oleh lapisan pilar titanium padat setebal setengah meter. Logam raksasa itu turun dari langit-langit dengan suara hidrolik yang bergemuruh mengerikan. Tidak ada celah seukuran helaian rambut pun yang bisa mereka lewati. Lampu strobo telah mati, menyisakan lampu darurat berwarna merah darah yang berkedip lambat, memberikan nuansa neraka pada ruangan mewah yang kini telah berubah wujud menjadi peti mati paling mahal di dunia.Asap bius V-X9 masih mengepul, meski intensitasnya berkurang karena tertahan oleh sirkulasi udara yang kini mati total akibat protokol kiamat.Jerry mematung. Pria paruh baya itu masih mengangkat sebelah tangannya di udara, menatap kosong ke arah pintu yang tertutup rapat."Apa ini? Mengapa kita disekap dalam kotak besi?" cicit Jerry dengan suara bergetar. Keringat dingin sebesar biji jagung menetes di pelipisnya."Papa baru
BRAK! CLANG!Pelat baja ventilasi itu akhirnya runtuh sepenuhnya, menghantam lantai bungker dengan dentuman keras. Dari balik lubang hitam yang menganga, sebuah tabung logam seukuran kaleng soda jatuh berdenting.Sssshhh!Tabung itu mendesis liar, memuntahkan gas putih pekat yang langsung mencekik udara."GAS BIUS! MUNDUR!" teriak Dokter Ryu, matanya membelalak panik.Di saat semua orang terlihat panik, Chloe justru berdiri tegak. Insting bertahannya bekerja. Ia telah memilih hidup bersama Jordan Arsenio untuk tahu bahwa panik adalah cara tercepat menuju liang lahat. "Nayla, Dokter Ryu, serbet teh!" raung Chloe dengan nada mutlak yang menjiplak persis ketegasan suaminya. Nayla segera menyambar tumpukan serbet di atas meja. "Ini Nyonya!" teriak Nayla seraya menyerahkan serbet tersebut.Chloe gegas meraup teko berisi teh chamomile panas, menyiramkannya secara brutal ke tumpukan serbet kain, lalu melemparnya ke arah mereka."Tutup hidung kalian pakai ini! Kain basah menyaring racun le
"KIKO! KIKO! Ke mana anak sialan itu?!" Suara bariton Ryu menggelegar memecah ketegangan di lorong vila. Ia baru saja keluar dari ruangan Jordan dengan napas memburu dan wajah menahan emosi. "Hais, merepotkan sekali si Jordan ini. Seharusnya aku tidak peduli. Lagian, dia pria dewasa yang sudah je
"Jangan pedulikan lukaku!" bentak pria bertopeng Oni itu dari balik alat pengubah suara yang terdengar berat dan mekanis."Bagaimana aku tidak peduli? Darahmu mengalir deras sekali! Kamu bisa kehabisan darah sebelum kita sampai ke jalan raya!" bantah Chloe, menarik lengannya."Dengar, Nona! Untuk s
BRAAAKKK!Jeep Rubicon hitam itu menghantam tanah berbatu dengan brutal setelah menabrak pembatas lalu melompati gundukan hutan. Pegas suspensi mobil Rubicon itu menjerit, memantulkan badan mobil seberat dua ton itu ke udara sebelum bannya kembali mencengkeram bumi.Brak!"Awww! Hei! Kamu gila?!"
Sinar mentari pagi menembus jendela besar ruang makan Mansion Arsenio, meja panjang yang penuh dengan hidangan mewah. Namun, Chloe yang berdiri di samping kursi kosong Tuan Rumah justru menatap hamparan makanan itu dengan horor.Tubuh Chloe yang ringkih masih terasa linu di sana-sini. Semalam adala







