LOGINDewasa 21++ "Satu gerakan bodoh, dan isi kepalamu akan menjadi dekorasi baru di sepraiku." Itulah kalimat pertama yang diucapkan Jordan Arsenio saat menangkap basah tangan Chloe di balik selimutnya. Niat hati ingin memeriksa saraf motorik sang ayah tiri, Chloe justru membangunkan hasrat tergelap sang miliarder. Jordan Arsenio tak pernah menyangka, obat dari kelumpuhan fisiknya bukanlah medis, melainkan tubuh Chloe—gadis malang yang tak lain adalah putri tirinya sendiri yang dikirim oleh istrinya untuk membunuhnya.
View MoreSeminggu lagi, Chloe Morris harus menaklukkan ujian Biokimia untuk mempertahankan nilai akademisnya, tapi sepertinya semesta punya rencana lain untuk menghancurkan hidupnya malam ini.
Pada saat itu juga, Jerry Morris—ayah kandung Chloe tiba-tiba muncul di ambang pintu. Ia melakukan manuver pertahanan andalannya saat dikejar oleh penagih utang: Menutup pintu lalu melompat ke balik sofa usang dan meringkuk seperti trenggiling ketakutan. "Chloe, jika ada orang yang datang mencariku, katakan pada mereka Papa tidak ada di rumah!" jerit Jerry panik. Chloe, yang sedang duduk tegak dengan buku diktat tebal di pangkuan, hanya menghela napas panjang. Ia menutup bukunya perlahan, menjaga agar halamannya tidak terlipat. "Papa, berhentilah bertingkah konyol. Mereka bisa melihat kaki Papa yang gemetar di balik sofa itu. Apa Papa tidak lelah selalu menjadi buronan di rumah sendiri?" tegur Chloe. Belum sempat Jerry menyahut, pintu apartemen yang engselnya sudah rapuh itu dihantam dari luar. BRAK! Kayu tua itu menyerah. Pintu terbuka lebar, memperlihatkan tiga pria berbadan besar yang membawa serta aroma kretek menyengat dan ancaman fisik yang nyata. "Jerry!" bentak Rocco. Pria dengan rahang kotak dan leher setebal beton itu melangkah masuk. Suaranya menggelegar memenuhi ruang tamu sempit itu. "Kamu pikir kamu bisa lari dariku, hah?! Keluar!" PRANG! Rocco menendang meja belajar Chloe hingga terbalik untuk melampiaskan amarahnya. Gelas kopi pecah. Cairan hitam pekat itu tumpah, menodai catatan-catatan penting yang Chloe kerjakan semalaman suntuk. Chloe terkejut dengan aksi brutal itu, ia sontak berdiri. "Hei!" protes Chloe tegas. Ia melangkah maju, menatap mata Rocco tanpa gentar. "Apa kamu tahu apa yang Kamu lakukan di rumah orang, Ha?! Buku itu mahal. Itu edisi revisi terbaru yang aku pinjam dengan jaminan kartu mahasiswa. Jika rusak, kamu mau ganti rugi pakai apa? Otakmu bahkan tidak laku digadaikan." Rocco tertegun sejenak. Ia menatap gadis mungil di hadapannya dengan seringai meremehkan, namun ada sedikit rasa terkejut melihat keberanian itu. "Oh, lihat ini. Si Mahasiswi Teladan sedang marah," ejek Rocco. Ia mendekatkan wajahnya yang berminyak. "Apa kamu sedang belajar cara menghitung bunga utang ayahmu di kampus itu, Nona Manis?" Chloe tidak mundur selangkah pun meski aroma tubuh Rocco menusuk hidung. Ia justru membusungkan dada, menantang. "Setidaknya aku menggunakan otakku untuk belajar, Tuan," balas Chloe tajam. "Bukan untuk memeras orang tua tidak berdaya." Rocco terdiam. Alih-alih marah, seringai di wajahnya justru melebar. Matanya yang liar mulai menyapu penampilan Chloe—dari wajah imut blesteran, kaus oblong kebesaran, hingga celana pendek yang memperlihatkan kaki jenjangnya. Kemarahan Chloe justru memantik ketertarikan pria itu. "Cantik juga anakmu, Jerry," komentar Rocco. Fokusnya beralih total dari Jerry yang meringkuk di balik sofa ke arah Chloe. Tanpa peringatan, Rocco mencengkeram lengan Chloe kasar. "Dengar-dengar kamu kuliah ahli Gizi, ya? Oh... Pasti pintar merawat tubuh." "Lepaskan! Ini tindakan kriminal!" sentak Chloe penuh peringatan, berusaha melepaskan diri. "Aku bisa laporin kalian ke polisi atas tuduhan perusakan properti, penerobosan paksa, dan perbuatan tidak menyenangkan! Pasal-pasalnya berlapis, Tuan!" "Melapor?" Rocco tertawa, lalu mendorong tubuh mungil Chloe hingga punggung gadis itu menabrak dinding. Ia mengurung Chloe dengan kedua lengannya yang kekar. "Polisi di sini teman ngopiku, Nona Manis. Bagaimana kalau kita negosiasi saja? Aku bisa ajarkan pelajaran anatomi tubuh pria malam ini. Gratis, diskon utang lima persen." Chloe mengerutkan kening. Di bawah tekanan, otaknya justru mencerna tawaran itu secara harfiah. "Hanya lima persen? Apa kamu bercanda?!" tanya Chloe. "Untuk pria dengan sanitasi mulut seburuk dirimu, diskonnya itu seharusnya lima puluh persen. Risiko infeksi bakteri dari napas terlalu tinggi." Rocco menyeringai, menganggap ucapan pedas Chloe sebagai godaan jinak-jinak merpati. "Mulutmu tajam. Aku suka," bisik Rocco. Tangan kasarnya mulai berani meraba pinggang Chloe. "Kalau tidak punya uang tunai, kamu bisa bayar pakai cara yang lain dengan cara yang instan, Nona. Misalnya, tubuhmu." Mata Chloe membelalak. Kali ini ia paham—atau setidaknya begitu. "Maksudmu... perdagangan organ?" Chloe menatap Rocco dengan ngeri. Wajahnya memucat. "Jangan gila! Ginjalku ini penuh residu kafein dan kurang tidur karena begadang skripsi! Harganya pasti jatuh di pasar gelap! Kamu pasti rugi bandar!" "Hahahaha!" Rocco tertawa terbahak-bahak hingga perutnya berguncang, mengira Chloe sedang melucu. "Bukan ginjal, Sayang. Tapi aset luarmu." Tangan Rocco hendak menyentuh paha Chloe. "Tolong! Kumohon, jangan anakku! Kalau kalian mau, ambil saja kulkasnya! Atau TV tabung itu! Ambil semuanya!" Jerry merengek dari lantai, masih enggan keluar dari persembunyiannya demi melindungi putrinya. "Diam, Tua Bangka!" bentak anak buah Rocco. Chloe terpojok. Logikanya buntu. Ia panik, tatapannya liar mencari-cari sesuatu yang bisa ia gunakan untuk senjata. Chloe jelas menolak menyerah pada berandalan bau ini. 'Ayolah, berpikir, Chloe,' gumam Chloe panik. Tepat saat tangan kotor Rocco hendak menyentuh kulit gadis yang ketakutan itu, suara ketukan langkah kaki memecah ketegangan. Tap, tap, tap! Bunyi hak stiletto menghantam lantai ubin dengan irama angkuh dan berkuasa. Suara itu begitu asing di apartemen kumuh ini. "Apa aku datang di waktu yang salah? Atau di sini sedang ada ritual kawin primitif kaum prasejahtera?" Suara dingin itu membekukan seisi ruangan. Semua kepala menoleh. Di ambang pintu, berdiri sosok wanita yang memancarkan aura wanita old money yang absolut. Claudia Arsenio. Gaun hitam elegan membalut tubuh rampingnya, mantel bulu putih tersampir di bahu, dan kacamata hitam besar sebesar lapangan golf menutupi separuh wajahnya. Di belakang wanita itu, dua pengawal berjas hitam berdiri tegap. "Siapa kamu? Apa kamu teman dari si tua bangka ini, hah?!" geram Rocco, melepaskan cengkeramannya dari Chloe karena terganggu. Wanita itu membuka kacamata hitamnya perlahan. Tatapan matanya tajam, menilai seisi ruangan dengan rasa jijik yang kentara. Mata almond wanita itu... sama persis dengan milik Chloe. "Singkirkan sampah ini," perintah wanita itu datar pada para pengawal. Tanpa banyak bicara, dua pengawal Claudia bergerak. Efisien. Brutal. Mematikan. BUGH! KRAK! Dalam sekejap mata, Rocco terkapar di lantai memegangi rusuknya yang patah. Dua anak buahnya bahkan sudah dilumpuhkan sebelum sempat menarik senjata tajam dari saku mereka. Hening. Claudia melangkah masuk dengan hati-hati, seolah takut lantai tersebut menularkan kemiskinan padanya. Ia berhenti tepat di hadapan Chloe. Dunia Chloe serasa berhenti. Wajah itu. Itu adalah wajah terakhir yang Chloe lihat sepuluh tahun lalu—saat punggung wanita itu menjauh menyeret koper tanpa pernah menoleh ke belakang. Tenggorokan Chloe tercekat. Gadis kecil dalam dirinya menjerit ingin memeluk sosok itu, namun realitas menamparnya lebih keras. Wanita yang datang membawa hawa kekayaan di hadapannya ini bukan lagi ibunya. Ia hanyalah orang asing yang tega membiarkan anaknya membusuk dalam lilitan utang selama satu dekade. "Kamu berantakan," komentar Claudia dingin. Matanya menyapu penampilan Chloe dari ujung rambut sampai kaki dengan tatapan mengkritik. Tidak ada rindu di sana. Hanya penilaian. "Sepuluh tahun kutinggal, kamu masih hidup menyedihkan." Kalimat itu membakar habis sisa-sisa kerinduan Chloe. Ia menarik napas panjang. Tidak! Chloe tidak akan membiarkan wanita ini melihatnya hancur. Tidak lagi. "Selamat datang, Ibu," sapa Chloe, suaranya tenang. "Angin neraka apa yang membawa Nyonya Besar kemari? Apa surga sedang renovasi sampai Ibu harus turun kasta ke gubuk kami?" Claudia tidak tersenyum, tidak juga tersinggung. Wajahnya datar. Tatapannya beralih pada Jerry yang kini merangkak keluar dari balik sofa dengan wajah penuh harap. "Claudia! Oh, Istriku! Kau kembali!" seru Jerry, merangkak hendak memeluk kaki jenjang Claudia. "Aku tahu kamu tidak akan melupakan kami! Kamu datang menyelamatkan aku!" Wajah Claudia mengeras jijik. DUK! Tanpa ragu sedikit pun, Claudia menendang bahu Jerry dengan ujung sepatu runcingnya. Cukup keras hingga membuat pria itu trjengkang. "Jauhkan tangan kotormu, Jerry. perawatan kulitku dan sepatuku jauh lebih mahal dari harga dirimu," desis Claudia tajam. "Oh ... Dan berhenti memanggilku istri. Mendengarnya saja membuatku ingin muntah." Claudia kembali menatap Chloe, seolah Jerry hanyalah serangga pengganggu yang baru saja ia singkirkan. Wanita kaya itu membuka tas bermereknya, mengeluarkan sebuah kartu nama berwarna hitam dengan tinta emas, lalu menyodorkannya ke depan wajah Chloe. "Aku tidak punya waktu untuk reuni keluarga yang mengharukan. Aku datang untuk bisnis." Chloe menatap kartu nama itu, lalu menatap wajah ibunya dengan senyum miris. Tentu saja. Wanita ini tidak mengenal bahasa cinta, hanya bahasa uang. "Bisnis?" Chloe melipat tangan di dada tanpa enggan menyentuh kartu tersebut. "Aku tidak punya aset untuk diakuisisi, Nyonya. Kecuali Nyonya berminat membeli tumpukan utang Ayahku atau trauma masa kecilku." "Aku tidak suka mengulang perkataan, Chloe. Ikut aku ke mobil atau….” Claudia melirik ke arah Jerry. "Ayahmu yang tidak berguna di sana akan menjadi mayat detik ini juga jika kamu menolak!”Tiga hari telah berlalu sejak nisan itu tertanam di tanah Jakarta.Sisa-sisa duka masih meninggalkan jejak tipis di sudut mata Chloe, namun beban berat yang selama bertahun-tahun menghimpit dadanya kini telah menguap tak berbekas. Alih-alih kembali ke Madrid, Jordan memutuskan untuk membawa keluarga kecil mereka terbang ke sebuah pulau tropis yang jauh dari hiruk-pikuk intrik bisnis dan sorotan media.Sore itu, angin laut berembus lembut membawa aroma garam yang menenangkan. Desir ombak yang menyapu pasir putih terdengar seperti irama penyembuh luka.Chloe berdiri di balkon kayu sebuah vila mewah yang langsung menghadap ke hamparan laut lepas Pulau Bintan. Ia mengenakan gaun musim panas berwarna putih tulang yang berkibar ringan tertiup angin laut. Pakaian berkabungnya sudah ia tinggalkan di Jakarta, sesuai janjinya untuk memulai lembaran baru tanpa bayang-bayang masa lalu.Kadang, melepaskan bukan berarti melupakan. Melepaskan adalah memilih untuk tidak membiarkan masa lalu merusak m
Langit Jakarta seolah enggan berhenti menangis. Hujan rintik-rintik yang turun sejak pagi membasahi hamparan rumput hijau yang tertata rapi di pemakaman San Diego Hills. Kabut tipis menyelimuti perbukitan, menambah nuansa muram pada hari perpisahan itu. Peti mati berwarna putih gading yang mengilap perlahan-lahan diturunkan ke dalam liang lahad. Tidak ada pelayat lain yang hadir selain keluarga inti dan orang-orang kepercayaan Jordan. Puluhan pengawal berjas hitam berdiri membentuk barikade melingkar, menundukkan kepala dengan payung hitam besar di tangan mereka, menjaga privasi. Jerry berdiri di bibir makam dengan bahu yang merosot jatuh. Tangannya yang keriput bergetar saat ia melemparkan segenggam tanah dan kelopak mawar merah muda—bunga kesukaan Claudia—ke atas peti putih itu. "Selamat jalan, Claudia," bisik Jerry, suaranya nyaris tenggelam oleh suara rintik hujan yang menerpa payung. "Tunggu aku di sana. Kelak, kita akan berkumpul lagi di surga, tanpa ada lagi air mata." Di s
Pagi itu, langit Jakarta masih diselimuti awan kelabu yang pekat. Sisa-sisa hujan semalam meninggalkan genangan air di pelataran rumah sakit, memantulkan pemandangan suram yang sejalan dengan hati Chloe. Lorong menuju kamar jenazah di lantai dasar gedung itu terasa begitu panjang dan membekukan. Suara ketukan sepatu Jordan, Chloe, dan Jerry menggema beradu dengan keheningan yang mencekam. Udara di sana beraroma karbol dan bahan kimia yang menusuk hidung, membuat dada Chloe semakin terasa sesak. Langkah mereka terhenti di depan pintu ganda berbahan stainless steel. "Kiko, jaga Xavier di ruang tunggu. Balita tidak diizinkan masuk ke ruang jenazah," perintah Jordan tegas seraya menyerahkan putranya yang sejak tadi berada di gendongannya. "Siap, Bosman," jawab Kiko, menerima Xavier dengan hati-hati. Xavier yang kebingungan menatap ibunya. "Mommy yau emana? (Mommy mau ke mana?)" Chloe memaksakan sebuah senyum tipis, mengusap pipi gempal putranya. "Mommy mau ketemu Nenek sebentar, Ya
Tujuh jam kemudian, di atas ketinggian tiga puluh ribu kaki, jet pribadi berlogo Arsenio Group membelah awan malam yang pekat menuju Jakarta. Suasana di dalam kabin mewah itu sangat suram. Tidak ada obrolan, tidak ada denting gelas yang biasanya menemani perjalanan panjang mereka. Hanya terdengar dengung statis mesin pesawat yang seakan ikut meratapi kepedihan penumpangnya. Chloe duduk meringkuk di sofa kulit kebesaran, bersandar sepenuhnya ke dada Jordan. Selimut tebal membungkus tubuhnya, namun wanita itu sesekali masih menggigil. Jordan memeluknya posesif, mengusap punggung dan mengecup puncak kepala istrinya tanpa henti, memberikan jangkar kewarasan agar istrinya tidak tenggelam dalam pusaran duka. Di ranjang kabin yang tak jauh dari mereka, Xavier tertidur lelap. Bocah dua tahun itu sama sekali tidak menyadari bahwa langit ibunya baru saja runtuh. Sementara di kursi seberang, Jerry duduk membisu menatap ke luar jendela yang gelap gulita. Pria paruh baya itu terlihat menua sepu






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviewsMore