Compartilhar

Mengotori Pikiran.

Autor: Azzurra
last update Última atualização: 2025-10-27 09:00:56

Tangisan kayla terdengar ketika Angga dan Kinanti menapakkan kaki di teras rumah megah yang di tinggali Kayla. Angga berjalan cepat di ikuti Kinanti, Angga segera meraih Kayla dalam gendongannya.

“Kenapa nangis?”

“Aku bosen sendiri di sini.”

“Kan ada Mbak Kila.” Rayu Angga.

“Aku mau sama, Mama, sama Papah. Kenapa papah nggak suka tidur di sini, aku mau adek.” Kayla tantrum di gendongan Angga.

“Nanti di kasih adek.”

Tangis Kayla berhenti, kelopak matanya mengerjab.

“Berdoa sama Allah biar Mama Kinan cepat punya dedek.”

Kayla menggeleng, “Tapi aku mau dedek dari mama Celin.” Rajuk Kayla.

“Sama saja, dari Mama Kinan atau Mama Celin.”

Lagi kelopak mata Kayla mengerjab, gadis ini belum mengerti, yang dia tau dia di ajarin ingin memiliki adik dari Mama Celina.

“Angga, Kinanti kalian datang.” Anwar berjalan mendekati cucunya.

“kek.” Angga dan Kinanti mencium tangan
Continue a ler este livro gratuitamente
Escaneie o código para baixar o App
Capítulo bloqueado

Último capítulo

  • Jerat Obsesi Masa Laluku.   Melepas kegundahan.

    Pagi itu garasi rumah tampak lebih ramai dari biasanya. Beberapa koper besar tersusun rapi di belakang mobil, sementara kantong-kantong berisi oleh-oleh memenuhi hampir seluruh bagasi. Angga memastikan semuanya tertata dengan baik, sementara Kinanti berdiri di sampingnya, memperhatikan dengan wajah yang terlihat lebih cerah dari hari-hari sebelumnya. Ada cahaya berbeda di mata Kinanti. Lebih ringan. Lebih bahagia. Angga bahagia melihat Kinanti bahagia, tetapi bukan kebahagiaan seperti ini yang Angga ingin, lelaki ini menginginkan Kinanti lepas dari keterikatan dengan masa lalu, apalagi dengan wanita bernama Lisa. “Kebanyakan nggak sih?” tanya Kinanti sambil tersenyum kecil. Angga menutup bagasi dan menoleh. “Buat keluarga, mana pernah kebanyakan.” Kinanti tertawa pelan. Ia meraih tangan Angga, menggenggamnya erat, seolah ingin menyimpan perasaan bahagia itu lebih lama. "Nanti susah nggak di bandara, harus di bayar kargo juga." Kinanti merasa tak enak. "Nggak apa-apa, buat kamu

  • Jerat Obsesi Masa Laluku.   Permintaan.

    Lisa baru saja melangkah masuk ke dalam rumah ketika pintu di belakangnya terbuka kasar. Ia bahkan belum sempat mengunci kenopnya. Bram berdiri di ambang pintu. Wajahnya tegang, rahangnya mengeras, matanya menatap Lisa tanpa berkedip. “Kamu dari mana?” Nada suaranya dingin, tapi amarahnya terasa jelas. Lisa refleks menoleh. Jantungnya berdegup lebih cepat, tapi ia memaksa wajahnya tetap tenang. “Keluar sebentar,” jawabnya ringan. “Aku butuh udara.” Bram melangkah masuk dan menutup pintu dengan hentakan keras. “Keluar sebentar ke mana?” Lisa meletakkan tasnya, sengaja memperlambat gerakan agar terlihat biasa. “Ngopi. Ketemu teman.” “Teman siapa?” Bram mendekat satu langkah. Lisa menegakkan bahunya. “Teman lama. Apakah semua kegiatanku harus kamu ketahui?" Lisa menantang matahari Bram. Hening menggantung di antara mereka. Bram menatap Lisa lekat-lekat, seolah mencoba membaca sesuatu di balik wajah yang kini terlalu berhati-hati. Matanya bergerak dari mata Lisa, ke bibir, lalu

  • Jerat Obsesi Masa Laluku.   Memulai permainan

    Lisa menarik napas panjang sebelum mulai bicara. Tangannya masih saling menggenggam di pangkuan, jemarinya dingin. perlahan dia menatap Gerry, nafasnya menghela pelan. “Aku yakin kamu mengetahui kecelakaan Pak Angga adalah sabotase." Mereka saling tatap, Gerry masih tetap diam tak bergeming. Lagi Lisa menghela nafas. "Bram nyuruh aku masuk ke rumah tangga Kinanti,” ucapnya akhirnya, suaranya lirih tapi jelas. “Bukan cuma buat cari celah … tapi buat menjebak mereka.” Gerry masih tidak menyela. Ia hanya berdiri di dekat jendela, menyandarkan tubuhnya, masih terus menatap Lisa mendengarkan dengan penuh perhatian. “Dia pengin aku bikin Kinanti ragu terhadap Pak Angga.” lanjut Lisa. “Bikin Angga kelihatan bersalah. Pelan-pelan. Supaya rumah tangga mereka retak dari dalam.” Lisa menunduk. “Dan kalau sudah hancur … Bram mau ambil semuanya. Usaha, nama baik … bahkan hidup Kinanti. Dia tak mau berhenti, sepertinya dia benar-benar penuh obsesi.” Hening, tak ada tanggapan dari Ger

  • Jerat Obsesi Masa Laluku.   Mencari Bantuan.

    Pintu kamar tertutup keras di belakang Lisa. Bunyi hentakannya menggema singkat, lalu lenyap, menyisakan keheningan yang menyesakkan. Lisa berdiri mematung beberapa detik, dadanya naik turun tak beraturan. Lisa mendengus kesal. Ia berjalan mondar-mandir di dalam kamar. Langkahnya cepat, gelisah. Tangannya beberapa kali meremas rambut sendiri, seolah mencoba meredam pikiran yang berisik di kepalanya. Wajah Angga yang terbaring di rumah sakit kembali terlintas. Wajah Kinanti—kecewa, bingung, tapi tetap berusaha baik, saat Lisa menelponnya kemarin. “Apa yang aku lakukan…” gumam Lisa pelan. Ia berhenti di depan cermin. Menatap bayangannya sendiri. Mata itu terlihat lelah. Bukan hanya karena kurang tidur, tapi karena terlalu lama menipu diri sendiri. Lisa menyentuh wajahnya. "Sadar Lis. Jangan terperangkap oleh kedengkian," gumam Lisa. Bram bilang semuanya terkendali. Bram bilang tak akan ada k

  • Jerat Obsesi Masa Laluku.   Terjerat.

    Mereka masih menikmati kebersamaan itu ketika ponsel Kinanti yang tergeletak di atas meja makan bergetar. Layar menyala, menampilkan satu nama yang langsung mengubah suasana. "Kamu masih berhubungan sama Lisa, Ki." Kinanti refleks melirik layar, lalu menatap Angga. Senyumnya memudar tipis. Angga juga melihatnya. Seketika, jidatnya melipat. Menatap penuh curiga pada Kinanti. Kinanti meraih ponselnya, ragu sejenak sebelum mengangkatnya. Namun belum sempat ia menekan layar, suara Angga lebih dulu terdengar—tenang, tapi dingin. “Sejak kapan kamu kembali berhubungan sama Lisa?" Kinanti menoleh. Ada keterkejutan di matanya, bukan karena pertanyaannya, tapi karena nada suara Angga yang berubah. “Mas…” Kinanti menurunkan ponsel itu. “Cuma sesekali. Dia nanyain kabar kamu waktu di rumah sakit.” Angga kembali duduk, menyandarkan tubuhnya ke sofa. Tatapannya lurus ke d

  • Jerat Obsesi Masa Laluku.   Masih berhubungan

    Siang itu matahari masih bersinar, tapi angin yang berembus dari halaman membuat suasana rumah tetap sejuk. Angga berdiri di teras depan, satu tangannya bersandar pada pilar, sementara Gerry merapikan jasnya di dekat mobil. “Aku masih mau di sini seminggu, Ger,” kata Angga membuka pembicaraan. Suaranya tetap tenang. “Kamu urus dulu kerjaan di Jakarta.” Gerry mengangguk. “Iya.” Angga terdiam sesaat, lalu melanjutkan, “Gimana kabar Kakek?” “Kakek sehat, Bos,” jawab Gerry singkat. Angga mengernyit tipis. “Waktu aku belum sadar, katanya Kakek sempat ke sini. Kenapa nggak lama?” Gerry tersenyum kecil. “Non Kayla rewel di Jakarta. Nggak mau ditinggal lama. Jadi Kakek langsung pulang." Angga manggut-manggut pelan, seolah mengerti. “Terus… kabar Celina gimana?” Gerry menghela napas pendek. “Belum ada kabar lagi dari Non Celina.” Angga terdiam. Ia menatap halaman rumah yang lengang, pikirannya

Mais capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status