MasukMansion Klan Naga, Bogor - Pukul 21.00 WIB Kael masih berada di posisi yang sama seperti beberapa jam lalu. Di dalam ruang kerjanya yang remang-remang, dokumen-dokumen penting klan naga hitam terabaikan begitu saja di atas meja. Fokusnya tersedot sepenuhnya pada layar tablet yang menampilkan siaran langsung dari dalam kamar Vio di Jakarta. Alis Kael seketika bertaut erat saat melihat pintu kamar di layar itu terbuka. Vio melangkah masuk. Namun, penampilannya malam ini membuat Kael refleks menegakkan punggungnya dengan tegang. Vio terlihat sangat lesu. Langkah kakinya gontai, dan bahunya tampak merosot ke bawah seperti menahan beban fisik yang teramat berat. Tanpa ekspresi, wanita itu mengambil handuk dan langsung masuk ke dalam kamar mandi. Kael menunggu dengan cemas yang mulai menggerogoti dadanya. Dua puluh menit kemudian, Vio kembali keluar setelah membersihkan diri. Jantung Kael serasa berhenti berdetak saat kamera tersembunyi ber-resolusi tinggi miliknya menangkap detail tubu
Hari ketiga setelah perginya Kael menjadi titik balik bagi Vio. Kamar bernuansa pastel yang dulunya selalu dipenuhi tawa kini berubah menjadi ruang yang terasa kosong dan sunyi. Lukanya memang belum sembuh, rasa sakit akibat surat perpisahan Kael masih berdenyut nyeri di ulu hatinya setiap kali dia bernapas. Vio sadar, dia tidak akan pernah bisa melupakan pria itu.Namun, tepat di hari ketiga ini, Vio menolak untuk terus berlarut dalam luka yang menyiksa ini. Dia berdiri di depan cermin, menatap matanya sendiri yang sembab, tetapi mulai memancarkan binar tekad yang dingin. Hidup harus terus berjalan. Jika takdir menuntutnya untuk berpisah dari Kael karena alasan status dan keluarga kandung, maka Vio bersumpah tidak akan membiarkan dirinya menjadi pihak yang tertinggal.Pagi itu, Vio memecah keheningan meja makan dengan penampilan yang mengejutkan kedua orang tuanya. Dia tidak lagi mengenakan piyama kusut, melainkan kemeja formal yang rapi.“Ayah,” panggil Vio tegas, menatap langsung
Aula utama mansion itu masih menyisakan aroma alkohol mahal setelah perhelatan besar pelantikan Kael semalam. Kini, Kael duduk sendirian di ruang kerjanya yang luas, sebuah ruangan yang kini menjadi pusat kendali klan naga hitam. Di depan mejanya, berbagai laporan keuangan dan daftar musuh berjejer, menuntut perhatiannya sebagai pemimpin baru. Namun, fokus Kael sama sekali tidak di sana. Di samping tumpukan dokumen itu, dia meletakkan sebuah tablet khusus yang tersambung langsung ke jaringan kamera rahasia di kediaman orang tua Vio. Kael melihat Vio di layar. Gadis itu tertidur dengan napas yang tidak teratur, tangannya masih mencengkram kain seprai seolah sedang menarik pegangan di tengah badai. Wajahnya sembab, rambutnya berantakan, dan gurat kesedihan itu tampak begitu nyata meski dalam kondisi terlelap. Kael memejamkan mata, rahangnya mengeras hingga nyeri. “Maafkan aku, Vio. Hanya ini satu-satunya cara,” gumam Kael. Tiba-tiba, pintu ruang kerjanya terbuka tanpa diketuk. Cl
Matahari perlahan tenggelam, digantikan oleh malam yang merayap dingin menusuk yang sama ke dua tempat yang berbeda. Jarak antara Bogor dan Jakarta mungkin hanya puluhan kilometer, tetapi bagi Kael dan Vio, benteng takdir telah membentang sejauh jutaan tahun cahaya, mengurung mereka dalam ruang kesedihan yang tak berdasar.Di sudut kamar tidurnya yang dulu selalu terasa hangat, Vio masih meringkuk di atas lantai yang dingin. Seprai tempat tidurnya berantakan, mencerminkan badai emosi yang berkecamuk di dalam dadanya. Secarik surat dari Kael yang telah lecek dan basah oleh air mata masih tercengkeram erat di tangan kanan Vio, seolah kertas itu adalah satu-satunya kenangan yang tersisa antara dirinya dan pria yang dia cintai.Vio menatap kosong ke arah cermin meja rias di seberangnya. Di bawah cahaya lampu kamar, pantulan dirinya terlihat begitu menyedihkan. Bibirnya yang bengkak akibat ciuman panas Kael semalam kini terasa kering dan kelu. Namun yang paling menyiksa adalah ketika mata
Mansion megah di perbukitan Bogor itu terasa sedingin es, seolah ikut mengubur sisa-sisa kemanusiaan yang dimiliki oleh pewaris tunggalnya. Malam ini adalah malam pelantikan resmi pergantian pemimpin tertinggi klan naga hitam. Namun sejak subuh tadi, Kael memilih mengurung diri di dalam kamar utamanya yang luas dan remang-remang. Dia menolak menemui siapa pun, dengan alasan ingin beristirahat total sebelum takhta berdarah itu diserahkan ke tangannya nanti malam. Sang kakek pun menyetujuinya, mengira cucu unggulannya sedang mempersiapkan mental untuk memimpin dunia bawah tanah.Namun, Kael sama sekali tidak sedang beristirahat.Dia duduk kaku di tepi ranjang berukuran king-size, dengan tatapan mata yang tak lepas dari layar ponsel di genggamannya. Napasnya memburu pendek, dan rahangnya mengatup begitu rapat hingga urat-urat di pelipisnya menegang.Layar ponsel itu menampilkan siaran langsung dari kamera-kamera pengawas tersembunyi yang sengaja dia pasang. Kael memantau setiap gerak-ge
Vio melepaskan pelukan ibunya perlahan, napasnya mulai memburu pendek karena ketakutan yang kian nyata. “Ibu, Ayah... kenapa wajah kalian seperti itu? Kael mana? Bagas bilang Kael pergi karena urusan keluarga. Apa Kael sudah ke sini?” tanya Vio yang masih berusaha untuk terus menghilangkan pikiran buruknya. Ayah Vio menghela napas berat, seolah ada beban berton-ton yang menghimpit dadanya. Pria paruh baya itu melangkah mendekat, lalu menyerahkan selembar amplop putih tebal ke tangan Vio yang kini sudah sedingin es. Ayah Vio awalnya sedikit merasa berat memberikan surat itu karena ia yakin pasti isinya bukanlah sesuatu yang akan membuat anaknya bahagia, hanya saja jika tak diberikan ia juga khawatir semuanya akan menjadi jauh lebih menyakitkan. “Kael tidak ke sini, Vio. Tapi anak buahnya mengantarkan surat ini subuh tadi,” ujar Ayahnya dengan suara rendah, bergetar. “Kael... dia sudah menemukan keluarga kandungnya, Vio. Dan dia sudah kembali ke tempat asalnya yang sebenarnya.”Vio m
Perubahan arah emosi Vio ternyata jauh lebih kompleks dari yang Kael bayangkan. Saat bibir mereka bertemu, Kael merasakan Vio tidak membalas dengan kebencian, melainkan dengan kerinduan yang diliputi rasa putus asa. Vio memang ketakutan, tapi ketakutannya bukan karena dia tidak ingin bersama Kael,
Setiap ucapan Papa di meja makan tadi bagai minyak yang menyiram api di dada Kael. Menyimpang? Menjijikkan? Kael mendengus getir di dalam hati. Dia tidak peduli dengan moralitas konyol yang diagungkan oleh dunia luar. Dia tidak peduli jika harus menghancurkan Mahendra Group sekalipun, atau membu
Setelah kalimat maaf dari Vio meluncur, suasana di meja makan berubah menjadi begitu kaku, seolah-olah pasokan oksigen di ruangan itu telah disedot habis. Denting sendok dan garpu yang beradu dengan piring porselen tidak lagi terdengar santai, melainkan seperti ketukan waktu yang menyiksa. Papa ke
Hari-hari manis pun mulai mereka lalui bersama. Vio yang sudah yakin dengan jalannya pun memilih untuk berbohong pada kedua orang tuanya. Pagi itu, Vio yang tengah merasa jenuh di kamar kos nya berniat menelepon Mama sebelum akhrinya orang tuanya itu malah menelepon terlebih dahulu. Tanpa membuang







