LOGINViolletta, wanita lugu yang manja, tak pernah menyangka kepulangan adik angkatnya, Kael, akan mengakhiri hidup tenangnya. Berlindung di balik amanah orang tua, Kael mulai mengurung Vio dalam obsesi posesif yang mendebarkan, mengubah setiap perhatian manis menjadi jerat rasa terlarang yang selama ini hanya berani Vio rasakan dalam mimpi-mimpi liarnya. Namun, saat sebuah perjodohan datang mengancam, sikap patuh Kael hancur seketika. Sang adik berubah menjadi sosok agresif yang siap menghancurkan pria mana pun yang berani menyentuh miliknya. Kini, Vio terjepit di antara status keluarga dan godaan gila dari pria yang seharusnya ia panggil adik, namun justru paling menginginkannya.
View More“Jangan berhenti, Kak. Aku suka kakak menyentuh bagian itu.”
Violletta Mahendra tak pernah menyangka di usianya yang ke dua puluh delapan tahun, dia malah harus dihadapkan pada masalah perasaan yang baginya tak masuk akal. Selain terpaksa harus tinggal dengan adik angkat tampan yang baru saja pulang dari luar negri, ia pun kelabakan saat setiap malam mimpi bercinta dengan sang adik angkat. Pagi itu masih seperti biasa, Vio terbangun dengan keringat dingin bercucuran. Ia menatap kedua telapak tangannya, membayangkan mimpi semalam dimana dirinya menyentuh setiap jengkal bagian tubuh Kael sang adik angkat. Vio mengacak rambut dengan kasar, berusaha menjernihkan pikirannya. “Nggak! Dia adik angkatmu Vio! Papa Mama percaya sama dia buat menjagamu bukan buat kamu jadikan fantasi liar.” Vio mengoceh sendiri, sesekali menepuk kepalanya demi mengembalikan kewarasan. Setiap kali terbayang mimpi semalam, bulu kuduknya mendadak berdiri, ada sebuah sensasi yang tak bisa diungkapkan. Suara ketukan pintu menyadarkan Vio yang isi otaknya kacau kala itu. “Sarapan sudah siap.” Suara bass Kael membuat Vio semakin terbayang mimpi semalam. Hanya saja, demi menjaga kewarasan, Vio semaksimal mungkin berusaha bersikap normal. “Iya, mandi dulu,” teriak Vio. Langkah kaki Kael terdengar menjauh. Vio pun bisa menghela napas lega, lalu buru-buru bersiap agar bisa sarapan bersama Kael. Seperti biasa, setiap kali hendak bertemu Kael, jantung Vio berdebar tak karuan. Adik angkatnya itu memiliki kebiasaan memakai pakaian tipis ketika berada di rumah, otot perut dan dada bidangnya dapat Vio lihat dengan jelas. Kini keduanya sudah duduk berdampingan dalam satu meja makan. Hanya diisi suasana hening dengan denting sendok garpu sebagai musik pengiring. Namun, semua berubah saat Kael mendadak membuka mulutnya. “Aku pindah kerja ke kantor Kakak.” Kael berkata dengan sangat pelan. “A-apa?” Vio yang terkejut tanpa sengaja menyenggol gelas, membuat air tumpah tepat mengenai Kael. Reflek Vio mengambil gelas yang ada di pangkuan Kael. Air yang tumpah membasahi bagian depan Kael, membuat otot perut terjiplak dengan jelas. Mata Vio tak berkedip, tangannya mengusap lembut perut Kael. ‘Perut ini seperti yang ada di mimpiku. Keras dan hangat,’ batinnya. Sekian menit kemudian Vio menyadari ada yang janggal, sesuatu berubah dari bagian depan celana Kael. Kael buru-buru berdiri, situasi keduanya menjadi sangat canggung. “A-ah, itu maaf. Aku nggak sengaja.” Wajah Vio memerah. Pikirannya sudah tak karuan saat itu. “Aku ganti baju dulu.” Kael buru-buru menuju ke kamarnya. Vio mengangguk. Saking malunya ia tak menyelesaikan sarapan dan memilih langsung ke kantor tanpa berpamitan pada Kael. Sepanjang perjalanan Vio terus menggerutu. “Apa yang Papa Mama pikirkan? Kenapa Kael malah di suruh tinggal di rumah? Dia kan sudah hidup nyaman di luar negri. Padahal aku juga bukan anak kecil yang harus dijaga,” ocehnya sambil menghela napas panjang. “Lagian, kenapa Kael sekarang jadi ganteng begini sih? Dulu dia cuma cowok kurus yang nggak menarik.” Di sisi lain, Kael yang kembali ke kamarnya memilih untuk menenangkan diri sejenak. Pikirannya pun tak kalah kacau terlebih saat teringat posisi Vio ketika sedang mengusap perutnya. Posisi itu, benar-benar membuatnya tak bisa menahan diri. Aroma rambut Vio masih terngiang, menari-nari dalam pikirannya. “Kak Vio, padahal aku sudah sekuat tenaga menahan,” gumam Kael sambil membayangkan kejadian tadi. Kael merasa ada sesuatu yang bergejolak di dada, sebuah perasaan yang muncul setiap kali dirinya membayangkan Vio. Segera ia mengambil foto Vio dari laci meja, tatapannya tajam saat pikirannya tengah berselancar jauh membuat dongeng dalam kepala. “Kak Vio… seandainya kamu bukan kakakku.” Kael menghela napas dalam. “Seandainya Papa Mama tidak mengadopsiku.” Kael berusaha menenangkan pikirannya. Ia berdiri di bawah shower dengan air dingin menghujani ujung rambut hingga kaki. Setidaknya inilah caranya untuk melawan pikiran yang baginya tak pantas itu. Setelah merasa sedikit tenang. Kael langsung bersiap, lalu bergegas menuju kantor tempat Vio bekerja. Hari ini, ia ingin memberi kejutan pada Vio karena pada akhirnya mereka bisa bekerja di perusahaan yang sama. Vio mencoba menenggelamkan diri dalam tumpukan berkas di meja kantornya. Namun, bayangan otot perut Kael yang keras dan hangat di bawah telapak tangannya tadi pagi masih terus mengusik pikirannya. “Vio, fokus!” bisiknya pada diri sendiri sambil memijat kepala. Tiba-tiba, pintu ruangannya terbuka tanpa ketukan. Seorang pria bernama Anton yang merupakan rekan kerja yang sudah lama mengejarnya dengan cara yang agresif. Pria itu melangkah masuk dengan senyum menyebalkan. “Vi, makan siang bareng yuk? Aku tahu tempat baru yang oke,” ujar Anton sambil bersandar di meja Vio, tangannya mencoba menyentuh bahu Vio dengan akrab. Vio refleks menjauh. “Aku sibuk. Lagi banyak kerjaan.” Anton justru tertawa, lalu condong maju hingga wajahnya begitu dekat. “Ayolah, jangan kaku begitu. Kita sudah lama kenal. Lagian, kamu butuh juga hiburan supaya nggak kelihatan tegang terus.” Vio merasa tidak nyaman, tangannya terkepal di bawah meja. Saat hendak menarik kursi Vio agar lebih dekat, tiba-tiba sebuah tangan besar mencengkram pergelangan tangan Anton dengan tenaga yang membuatnya memekik kecil. “Dia bilang, dia sibuk.” Suara berat dan dingin itu membuat bulu kuduk Vio meremang. Ia mendongak dan menemukan Kael sudah berdiri di sana. Aura Kael berubah total, tidak ada lagi adik angkat yang ramah, yang ada hanyalah pria asing dengan tatapan tajam mematikan. “Si-siapa kamu? Main masuk saja!” bentak Anton sambil berusaha melepaskan tangannya. Kael tidak menjawab. Ia justru menarik pergelangan tangan Anton jauh lebih kuat, lalu menghempaskannya hingga pria itu terhuyung ke belakang. Dengm cepat Kael berpindah posisi ke belakang kursi Vio, meletakkan kedua tangannya di sandaran kursi, seolah sedang mengurung Vio dalam perlindungannya. “Mulai hari ini, aku akan memastikan tidak ada pria sembarangan yang mengganggunya,” ucap Kael datar, tetapi penuh penekanan. “Sekarang, keluar!” Anton yang ketakutan melihat postur tubuh Kael yang jauh lebih atletis dan mengintimidasi pun akhirnya memilih pergi sambil menggerutu. Ruangan itu mendadak sunyi. Vio terpaku, jantungnya berdegup dua kali lebih cepat. Ia bisa merasakan deru napas Kael di atas kepalanya. Parfum maskulin Kael yang tajam memenuhi indra penciumannya, persis seperti aroma pria dalam mimpinya semalam. “Kael, apa yang kamu lakukan?” Suara Vio bergetar. Kael menunduk, bibirnya tepat berada di samping telinga Vio. “Papa sama Mama titip Kakak ke aku supaya nggak ada yang berani menyentuh Kakak sedikitpun.” Kael menjeda kalimatnya, lalu berbisik lebih rendah, “Karena hanya aku yang boleh melakukannya, Kak.” Vio membeku. Sebelum ia sempat mencerna kalimat itu, Kael sudah kembali berdiri tegak dengan senyum tipis yang sulit diartikan.Langit sore di atas pantai privat yang tadinya cerah perlahan berubah menjadi kelabu pekat. Angin laut bertiup kencang, menggoyangkan dedaunan pohon kelapa dan memicu gelombang ombak yang menghantam karang dengan suara gemuruh yang hebat.Vio sedang berdiri sendirian di dekat dinding kaca raksasa kamar utama, menatap hamparan laut yang kian menggelap. Sementara itu, Kael sedang berada di lantai bawah untuk menerima telepon singkat dari Bagas terkait pengamanan area perbatasan.Kilatan petir menyambar kencang di atas langit pantai, disusul suara gemuruh dahsyat yang menggelegar menembus dinding kaca.Deg.Sensasi dingin yang aneh seketika menjalar dari telapak kaki hingga ke ujung kepala Vio. Suara gemuruh petir yang memekakkan telinga itu mendadak bergema sangat asing di dalam benaknya, bercampur dengan gema samar yang menyerupai dentuman keras.Vio memegangi pelipisnya yang mendadak berdenyut nyeri. Dia memejamkan mata rapat-rapat saat sebuah bayangan samar yang sangat asing mendadak
Keheningan pagi di villa pantai terasa begitu menenangkan. Vio tidur sangat pulas di atas kasur sutra, warna merah muda alami sudah kembali menghiasi pipinya yang mulus. Panas tubuhnya benar-benar luntur sepenuhnya.Namun, di sudut lain villa tersebut, pikiran Kael sama sekali tidak tenang.Igauan Vio saat demam kemarin tentang suara tembak dan kegelapan itu terus bergema di kepala Kael bagaikan alarm bahaya. Kael sadar, sekecil apapun celah yang bisa memancing ingatan masa lalu Vio harus dimusnahkan tanpa sisa.Dengan langkah tegap dan raut wajah dingin, Kael menggeledah seluruh koper serta barang bawaan mereka dari rumah panggung. Pria itu mengumpulkan beberapa dokumen tua, sebuah rekaman cadangan, dan satu buah belati perak berukir lambang klan masa lalu yang tak sengaja terbawa.Kael melangkah cepat menuju ruang kerja pribadinya di ujung lorong lantai dua. Di balik rak buku mahoni yang tebal, terdapat sebuah pintu besi tersembunyi menuju ruang penyimpanan rahasia berlapis baja. Ka
Ciuman panjang dan dalam di atas meja bar tadi akhirnya mereda. Kael perlahan melepaskan tautan bibir mereka, menatap Vio yang terkulai lemas di dalam dekapannya dengan napas naik turun yang berantakan.Vio menyandarkan kepalanya di dada bidang Kael, mendengarkan detak jantung suaminya yang bergemuruh kencang. Pikiran polosnya yang tadi dipenuhi pertanyaan tentang orang tua, perlahan memudar, tergantikan oleh rasa hangat dan cinta murni yang selalu ditawarkan Kael.“Maafkan aku ya, Suamiku,” bisik Vio lirih, jemari kecilnya meremas kemeja putih yang dikenakannya. “Aku tidak akan bertanya yang aneh-aneh lagi. Aku tidak ingin membuat suamiku sedih.”Mendengar bisikan itu, dada Kael serasa dihantam rasa bersalah yang luar biasa. Namun, rasa posesifnya dengan cepat meredam penyesalan itu. Kael mengecup puncak kepala Vio dengan amat lama, mengusap punggung halus istrinya penuh kasih sayang.“Kamu tidak salah, Sayang. Tidak perlu minta maaf,” balas Kael lembut, suaranya kembali tenang me
Sinar matahari pagi menerobos dinding kaca raksasa, membiaskan warna keemasan di atas meja makan kayu yang menghadap langsung ke hamparan laut biru. Suara deburan ombak yang tenang dan aroma kopi hangat mengisi keheningan villa yang privat itu.Vio sedang duduk di kursi tinggi dekat meja bar dapur, mengenakan salah satu kemeja putih milik Kael yang kebesaran hingga menutupi separuh pahanya. Pria itu baru saja memanjakannya dengan kecupan-kecupan hangat di pergelangan tangan sebelum sibuk membuatkan sarapan omelet untuk mereka berdua.Melihat Kael yang begitu telaten membolak-balikkan masakan, dada Vio dipenuhi rasa hangat yang membuncah. Namun, di tengah ketenangan itu, ada satu ruang kosong di benaknya yang mendadak terusik sejak beberapa hari terakhir.Vio meletakkan cangkir tehnya perlahan. Manik matanya yang jernih dan polos menatap punggung tegap Kael yang membelakanginya.“Suamiku,” panggil Vio pelan.“Iya, Sayang?” sahut Kael lembut tanpa berbalik, mengulas senyum manis kar
Vio menggenggam kancing kemeja hitam itu hingga pinggirannya yang tajam menekan telapak tangan. Rasa perih itu nyata, dinginnya lantai kamar saat kakinya menyentuh ubin juga nyata. Dan bayangan pria di bawah sana yang menatap jendela kamarnya dengan tatapan lapar adalah kenyataan paling mengerikan
Malam semakin larut, tetapi kelopak mata Violletta seolah enggan merapat. Ia berbaring telentang, menatap langit-langit kamar dengan cahaya remang sementara pikirannya berkecamuk hebat. Ucapan Kael tadi dan permintaan perjodohan dari Papa berputar-putar seperti badai yang tak kunjung reda.Vio men
Vio masih merasakan sensasi dingin dari salep yang dioleskan Kael saat ponsel di atas nakas bergetar hebat. Nama ‘Papa’ berkedip di layar. Tanpa berfikir panjang, Vio meraihnya dan langsung menekan tombol loudspeaker. Ini sudah menjadi tradisi sejak Kael masih remaja dimana saat Papa atau Mama mene
Sore itu, perjalanan pulang yang seharusnya menjadi momen untuk menjernihkan pikiran justru berubah menjadi neraka baru bagi Violletta. Di dalam kabin mobil yang mewah, keheningan terasa begitu berat, hanya aroma parfum milik Kael yang memenuhi indra penciuman Vio, membuatnya merasa seolah sedang






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews