Mag-log inViolletta, wanita lugu yang manja, tak pernah menyangka kepulangan adik angkatnya, Kael, akan mengakhiri hidup tenangnya. Berlindung di balik amanah orang tua, Kael mulai mengurung Vio dalam obsesi posesif yang mendebarkan, mengubah setiap perhatian manis menjadi jerat rasa terlarang yang selama ini hanya berani Vio rasakan dalam mimpi-mimpi liarnya. Namun, saat sebuah perjodohan datang mengancam, sikap patuh Kael hancur seketika. Sang adik berubah menjadi sosok agresif yang siap menghancurkan pria mana pun yang berani menyentuh miliknya. Kini, Vio terjepit di antara status keluarga dan godaan gila dari pria yang seharusnya ia panggil adik, namun justru paling menginginkannya.
view more“What is your proudest moment alive?”
“That I hate my family.”
I blinked.
Once.
Twice.
The plan wasn’t like this. This ten minutes social experiment was intended to have a heartwarming conversation with strangers about their proudest moments. I clearly wasn’t expecting a young woman to walk into our booth and came out to me like that.
“Do you want to tell me about it?”
She let out a lopsided smile, “my parents love my sister more than me. They prefer me starving to that disabled girl. Could you believe it?”
“Maybe because your sister needs a little more attention? You know, because of her… condition?” I said, being extra careful.
“That’s what I think so. That bitch has all the attention ever since she was born.”
Honestly, I feel like cat got my tongue. I don’t want to say things that might hurt her. But, my digital hand watch shows 8.04 PM. We can’t just stay in silence for rest six minutes right?
“So, you hate your family because they didn’t give you attention as much as your sister gets?”
She chuckled humorlessly, “oh boy, I wish it was that simple.”
This blonde in front of me just keep on playing with the coupon our booth sells. She torn the paper into pieces and put it on the table. She looks straight into my eyes, makes me feels a bit uncomfortable.
“Would you be mad when your parents were planning to sell you?”
“What?”
There’s a few moments of silence as I shifted in my seat. This girl doesn’t show any expression. But those hazel eyes do scream tiredness. Her eye bags didn’t do any help, looks like her make ups failed doing its job.
“Your parents were planning to sell you?” I asked once again, confirming I wasn’t hearing things earlier.
“Yup, that’s what exactly I said. That’s not even the worse part.”
I hold my breath, anticipating what might be worse than this. I hope it wasn’t what I thought.
“They sell me to a fucking stranger so they could get money to feed their youngest daughter. Crazy, right?”
Bingo.
“They aren’t your biological parents… right?”
“My biological dad left us because that whore was cheating on him. I guess karma is a real bitch because my so-called-mom and step dad had a disabled daughter, which serves them right.”
A loud ‘beep!’ was heard from the outside, indicating our chitchat time is over.
“Your time is up!” My friend, Bryan, announced, poking his head through the blue tend. This girl was about to stand up, but I stopped her.
“Give us a minute.” I said to my friend. He furrows his eyebrows, but still nodded. After my friend is out of the booth, I looked towards the girl.
“Are you safe now?”
“Do you want to help me if I wasn’t?” She asked sarcastically.
“I have a vacant room at my house. You can stay there, if you want to.” I suggested. I know this sounds crazy. But this girl reminds me of Ayle when her ex left her back then. She was homeless and afraid of going home to meet mom.
She chuckled, “are you trying to get into my pants?”
My eyes bulge in fear. “No! That’s not what I meant!”
“If you are really wondering, I’ve got my safe place.” This girl winked and put her black leather bag around her shoulder.
I quickly stand up as she was about to turn around and leave our booth. “What’s your name?”
This girl smirks while slightly tilting her head, “I thought we aren’t allowed to tell our names?”
“I’m… I’m Alex Angelo.”
I extend my hand and looked at her hopefully. She looked at me up and down, before let out a soft chuckle. “Sorry boy, I don’t tell my name to stranger. Even if you are cute.”
“But-”
“Time’s up!”
Once again, I saw Bryan’s head poking from the blue tend. I know I’ll get a lot of questioning after this, but I just shrugged it off. I kept my eyes on her.
This blonde in front of me smirked and adjusted her bag before leaving.
“You have a nice name, Alex.”
Malam semakin larut, tetapi kelopak mata Violletta seolah enggan merapat. Ia berbaring telentang, menatap langit-langit kamar dengan cahaya remang sementara pikirannya berkecamuk hebat. Ucapan Kael tadi dan permintaan perjodohan dari Papa berputar-putar seperti badai yang tak kunjung reda.Vio menghela napas panjang, memeluk gulingnya erat-erat. Ada kebimbangan yang menyesakkan dadanya. Di satu sisi, ia menyadari usianya yang hampir menyentuh kepala tiga dan ketidakmampuannya dalam memilih pria karena ia terlalu malas untuk berurusan dengan drama kencan yang rumit. Perjodohan Papa terdengar seperti solusi yang logis. Namun, di sisi lain, ada rasa takut yang aneh menjalar di hatinya.“Kalau aku punya suami, apa Kael akan menjauh?” batinnya getir.Ia benci mengakui bahwa bayangan tentang jarak yang akan muncul di antara dirinya dan Kael malah membuatnya merasa kehilangan arah. Meski ia tahu perasaannya pada Kael mulai melintasi batas yang berbahaya, hati kecilnya tetap berteriak ing
Vio masih merasakan sensasi dingin dari salep yang dioleskan Kael saat ponsel di atas nakas bergetar hebat. Nama ‘Papa’ berkedip di layar. Tanpa berfikir panjang, Vio meraihnya dan langsung menekan tombol loudspeaker. Ini sudah menjadi tradisi sejak Kael masih remaja dimana saat Papa atau Mama menelepon, mereka akan berbincang bertiga, menciptakan suasana keluarga yang hangat meski kini status keluarga itu terasa mulai bergeser di hati Vio.“Halo, Pa,” sapa Vio. “Vio, Sayang. Bagaimana kabarmu? Kael menjagamu dengan baik, kan?” Suara berat Papa terdengar ke seluruh penjuru kamar.Vio melirik Kael yang masih berada di depannya. Pria itu kini sedang memijat bahu Vio dengan sangat lembut, jemari besarnya menekan titik-titik lelah di pundak kakaknya. “Baik, Pa. Kael menjaga Vio dengan sangat baik. Bahkan terlalu baik,” jawab Vio sambil menahan desis nikmat karena pijatan Kael yang terasa sangat pas.“Syukurlah. Kael, Papa titip kakakmu ya. Jangan biarkan dia keluyuran tidak jelas,” pes
Sore itu, perjalanan pulang yang seharusnya menjadi momen untuk menjernihkan pikiran justru berubah menjadi neraka baru bagi Violletta. Di dalam kabin mobil yang mewah, keheningan terasa begitu berat, hanya aroma parfum milik Kael yang memenuhi indra penciuman Vio, membuatnya merasa seolah sedang terkurung meski tak ada sentuhan fisik. Vio yang masih merasa sedikit pusing akibat tamparan Shena di kantor tadi, merasa sesak. Ia seakan butuh oksigen lenih dan juga butuh waktu untuk menenangkan diri. “Kael, berhenti sebentar di minimarket itu. Aku mau beli minum,” ucap Vio pelan, nyaris berbisik. Itu adalah alasan klasiknya agar tidak perlu terjebak lebih lama dalam situasi yang terasa penuh intimadasi itu. Kael hanya mengangguk kaku. Mobil berhenti dengan halus di depan sebuah minimarket yang tampak sepi. “Tunggu di sini, aku cuma sebentar,” ucap Vio lugu sebelum turun dan menghilang di balik pintu kaca. Kael tidak menjawab, tetapi matanya yang gelap tak lepas menatap punggung Vio
Vio merasakan matanya panas. Bukan karena rasa perih di pipinya yang mulai membiru, tapi karena cengkeraman tangan Kael di pergelangan tangannya terasa begitu dingin. Pria yang tadi pagi bersikap seolah ingin menjaga dan melindunginya, kini justru berdiri menjadi tameng bagi wanita yang baru saja merendahkannya.“Kael, dia malah menamparku,” bisik Vio dengan suara bergetar.Wanita itu, yang belakangan diketahui bernama Shena, langsung bergelayut di lengan Kael dengan manja. “Sayang, lihat! Sekretaris barumu ini sangat tidak sopan. Dia mengancam mau panggil security! Aku hanya memberinya sedikit pelajaran.”Kael tidak menatap Shena. Matanya tetap terkunci pada wajah Vio yang memerah. “Masuk ke ruangan, Violleta. Sekarang.”“Tapi dia—”“Masuk!” bentak Kael pendek.Vio melepaskan tangannya dengan paksa dari genggaman Kael. Tanpa sepatah kata pun, ia melangkah masuk ke ruang kerja adik angkatnya itu, membanting pintu kaca hingga bergetar. Di dalam, ia hanya bisa terduduk lemas, melihat












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.