Beranda / Romansa / Jerat Sandiwara Sang Direktur / Batas Antara Akting Dan Perasaan

Share

Batas Antara Akting Dan Perasaan

Penulis: Thek28
last update Tanggal publikasi: 2026-07-21 14:17:05

Adrian menerima lembar tersebut dengan kedua tangan. Tatapannya menyusuri setiap baris tulisan dengan saksama, lalu ia mengambil pulpennya sendiri dan menambahkan bagian mengenai imbalan yang telah dijanjikannya kepadaku. Tanpa ragu, ia membubuhkan tanda tangannya tepat di bawah tanda tanganku.

"Kalau begitu..."

Ia menutup dokumen itu perlahan, lalu menyimpannya kembali ke dalam rak dokumen di sudut ruangan.

"Kesepakatan ini resmi berlaku."

Beberapa langkah kemudian, Adrian kembali berdiri tepat di hadapanku. Perlahan ia mengulurkan tangan dengan senyum hangat yang kali ini tampak jauh lebih alami daripada senyum formal yang biasa ia tunjukkan di kantor. Aku sempat menatap uluran tangan itu selama beberapa detik sebelum akhirnya membalasnya.

"Sepakat, Rania."

Senyumnya masih bertahan ketika jemari kami saling berjabat.

"Mulai hari ini..."

Ia memberi jeda singkat, tanpa melepaskan tatapannya dariku.

"...selamat datang di sandiwara kita."

Aku ikut melepaskan jabatan tangan itu secara perlahan. Entah mengapa, setelah semuanya benar-benar resmi dimulai, justru muncul satu pertanyaan yang sejak tadi belum sempat kupikirkan.

Kalau kontraknya sudah berlaku...

...apa ujian pertama yang harus kami hadapi sebagai pasangan palsu?

"Jadi... ini peraturan pertamamu?"

Suara Adrian memecah deru halus mesin sedan hitam yang melaju membelah jalanan kota. Jemarinya tetap mantap menggenggam kemudi, sementara gerimis tipis membasahi aspal di luar sana dan lampu-lampu jalan memantulkan cahaya remang di permukaan jalan yang basah. Bayangan gedung-gedung perkantoran perlahan menjauh di balik kaca mobil, menandakan sudah hampir satu jam sejak kami meninggalkan kantor.

Aku menunduk menatap secarik kertas di tanganku. Kertas itu adalah halaman belakang yang kusobek dari buku sketsaku beberapa saat sebelum kami pulang, dipenuhi sederet aturan dengan tulisan tangan yang masih tampak berantakan karena kutulis terburu-buru. Jemariku merapikan lipatan kertas itu, seolah sedang mempersiapkan presentasi yang sangat penting.

Aku menarik napas pelan sebelum menoleh ke arahnya. Wajahku kubuat seserius mungkin agar ia mengerti bahwa daftar aturan ini bukan sesuatu yang bisa dianggap bercanda.

"Bukan peraturan saya, Pak."

Aku menatap Adrian dengan sorot mata mantap.

"Tapi peraturan kita."

Adrian hanya melirik sekilas ke arahku sebelum kembali memusatkan perhatian ke jalan di depan. Sudut bibirnya nyaris tak bergerak, tetapi ia menganggukkan kepala kecil sebagai tanda mengerti. Jemarinya tetap tenang mengendalikan setir meski suasana di dalam mobil terasa jauh lebih santai dibandingkan saat kami berada di kantor.

"Baik."

Nada suaranya terdengar ringan.

"Coba saya dengarkan."

Aku langsung meluruskan posisi duduk. Kertas di tanganku kembali kurapikan sebelum mulai kubacakan dengan penuh kesungguhan, bahkan tanpa kusadari telunjukku sudah terangkat seperti seorang guru yang sedang menjelaskan materi di depan kelas.

"Oke."

"Ini poin pertama."

"Tidak boleh ada panggilan-panggilan kasual di area kantor."

Aku mengangkat telunjuk sedikit lebih tinggi sebagai penekanan.

"Kalau Bapak sampai tidak sengaja memanggil saya dengan sebutan 'sayang', 'beb', atau panggilan aneh lainnya di depan anak magang ataupun karyawan lain..."

Aku berhenti sejenak untuk menarik napas.

"...saya pastikan besoknya saya tidak akan masuk kerja selama satu bulan dan akan pura-pura amnesia."

Suasana mobil mendadak hening. Adrian tetap menatap jalan lurus di depannya, tetapi beberapa detik kemudian sudut bibirnya perlahan terangkat membentuk senyum tipis yang nyaris tak terlihat. Ia mengembuskan napas pendek, seolah sedang menahan tawa.

"...Pura-pura amnesia?"

Nada suaranya tetap datar, meski terdengar ada sedikit nada geli yang disembunyikannya.

Aku mengangguk mantap tanpa ragu sedikit pun.

"Iya."

"Karena itu pilihan paling masuk akal."

Aku menatapnya penuh keyakinan, bahkan kedua alisku ikut terangkat.

"Kalau gosip kantor sudah menyebar, saya lebih baik kehilangan ingatan daripada harus menghadapi seluruh isi gedung."

Adrian mengembuskan napas pelan sambil menggeleng kecil.

"Baik."

"Saya akan berusaha mengingatnya."

Aku kembali menundukkan kepala melihat daftar aturan yang masih panjang. Ujung jariku bergeser ke baris berikutnya sebelum kembali mengangkat kepala untuk memastikan Adrian masih mendengarkan.

"Poin kedua."

"Tidak boleh menghubungi saya di luar jam kerja untuk hal-hal yang tidak penting."

Aku menatapnya sekilas.

"Kecuali benar-benar darurat."

Adrian kembali mengangguk pelan.

"Itu masih masuk akal."

Aku kembali melanjutkan sambil merapikan posisi kertas yang mulai kusut di tanganku.

"Poin ketiga."

"Kalau kita sedang berpura-pura menjadi pasangan di depan keluarga Bapak, jangan improvisasi."

Adrian mengernyitkan dahi tipis.

"Improvisasi?"

"Iya."

Aku mengangguk cepat.

"Misalnya tiba-tiba menggandeng tangan tanpa kode."

"Atau memeluk."

"Atau..."

Aku berhenti sebentar, lalu memandangnya dengan wajah datar.

"...mengaku-ngaku kalau saya hobi memasak, padahal saya cuma bisa bikin mi instan."

Adrian kembali tersenyum tipis. Kali ini senyum itu bertahan sedikit lebih lama sebelum berubah menjadi tawa kecil yang begitu pelan hingga nyaris tertelan suara mesin mobil.

"Kamu banyak berpikir."

"Bukan banyak berpikir."

Aku langsung membantah sambil menggeleng.

"Ini namanya mitigasi risiko."

"Kita sedang menjalankan proyek."

"Setiap proyek butuh SOP."

Suara tawa Adrian kembali terdengar pelan. Meski singkat, tawa itu cukup membuatku refleks menoleh hingga mataku sedikit membelalak. Selama ini wajahnya di kantor selalu datar, dingin, dan sulit ditebak. Melihatnya tersenyum saja sudah langka, apalagi tertawa seperti ini.

"Ada apa?"

Adrian melirikku sekilas dengan alis sedikit terangkat.

"Tidak ada."

Aku buru-buru menggeleng, lalu kembali menundukkan kepala agar ia tidak menyadari pikiranku yang mulai ke mana-mana.

"Poin keempat."

"Kalau nanti salah satu dari kita mulai terbawa perasaan..."

Aku menghentikan bacaanku. Perlahan kuangkat kepala dan menatap Adrian dengan ekspresi jauh lebih serius daripada sebelumnya.

"...kontrak langsung dibatalkan."

Mobil kembali sunyi. Kali ini Adrian tidak langsung menjawab, sementara irama wiper terus bergerak perlahan menyapu gerimis yang semakin rapat di kaca depan. Beberapa saat kemudian, ia membuka suara tanpa mengalihkan pandangannya dari jalan.

"Itu tidak akan terjadi."

Tatapannya tetap lurus ke depan.

"Kita sudah sepakat."

"Hanya sandiwara."

Aku ikut mengangguk pelan. Meski bibirku mengucapkan kalimat yang sama, entah mengapa ada sesuatu yang terasa berbeda ketika kata-kata itu keluar dari mulutku.

"Iya."

"Hanya sandiwara."

Suara mesin mobil, gerimis yang terus turun, dan sapuan wiper menjadi satu-satunya bunyi yang tersisa di dalam mobil. Tanpa kusadari, jemariku perlahan meremas secarik kertas berisi aturan itu hingga sedikit terlipat.

Tiga bulan.

Hanya tiga bulan.

Setelah itu semuanya akan kembali seperti semula.

Setidaknya...

Itulah yang kupikirkan malam itu.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Jerat Sandiwara Sang Direktur   Eskalasi Teror Di Jenewa Dan Turun Tangan Pasangan Penguasa

    Langkah taktis Leo Wiratama yang berhasil membekukan rekening cangkang Vance-Sterling Consortium di Jenewa memicu amarah besar dari sisa-sisa pengikut klan sosiopat tersebut. Menyadari bahwa ketajaman analisis pemuda berusia delapan belas tahun itu terlalu tangguh untuk dilumpuhkan melalui pertarungan siber maupun manipulasi hukum, musuh mengalihkan strategi pada aksi terorisme fisik secara brutal. ​Pukul dua dini hari waktu Swis, hujan salju tipis menyelimuti pelataran Grand Hotel des Bergues di tepi Danau Jenewa. Di dalam suite privat lantai teratas tempat delegasi Wiratama menginap, alarm darurat perimeter internal mendadak menyala temaram. ​Bzzzzzt! KREK! ​Sistem transmisi sinyal satelit diputus secara paksa dari luar. Enam komando elit tentara bayaran berpakaian hitam taktis dengan senjata peledak mikro menembus pintu kaca balkon melalui akses helipad, mengisolasi seluruh lantai privat dari pengawalan hotel. ​Mas Bimo memegangi kepalanya seray

  • Jerat Sandiwara Sang Direktur   Jejak Generasi Penerus Dan Ancaman Bayangan Jenawa

    Empat belas tahun telah berlalu sejak badai konspirasi The Obsidian Syndicate diratakan hingga ke akar-akarnya. Kekaisaran bisnis Wiratama Group kini tumbuh menjadi konglomerasi multinasional raksasa yang tidak hanya mendominasi sektor energi hijau dan manufaktur canggih, tetapi juga memegang kendali atas jaringan diplomasi budaya global melalui Studio Rania. Kedamaian yang dibangun di atas fondasi keberanian dan kejeniusan itu kini memasuki era baru. ​Di lantai teratas Menara Wiratama Utama di Jakarta, suasana pagi itu tampak anggun dan tenang. Pendar matahari menerobos masuk menembus dinding kaca panorama, memantulkan kilau kemewahan interior berunsur kayu jati dan motif tenun ikat Sikka kustom. ​Adrian Wiratama berdiri tegap di tepi jendela utama. Pria alfa pimpinan tertinggi Wiratama Group itu kini tampil semakin matang, tampan, dan mengintimidasi. Wibawa penguasa sejati terpancar jelas dari postur tubuhnya yang tinggi tegap, bahu bidangnya yang kokoh, serta aura domin

  • Jerat Sandiwara Sang Direktur   Mahkota Abadi Kekaisaran Wiratama Dan Senja Di Tanah Sikka

    Dua tahun berlalu sejak runtuhnya The Obsidian Syndicate dan pembersihan total jaringan kejahatan internasional yang pernah mengancam keselamatan bangsa. Pagi itu, pendar emas mentari menerobos masuk melalui jendela ukir kayu di Kompleks Akademi Tenun dan Pusat Kebudayaan Nusantara di Kabupaten Sikka, Maumere, Nusa Tenggara Timur. Suasana pesisir pantai Flores begitu tenang dan damai, hanya diwarnai oleh deru ombak laut yang lembut serta alunan instrumen tradisional Gong Waning yang mengalun syahdu dari kejauhan. ​Di atas bukit kecil yang menghadap langsung ke arah Laut Flores yang membiru jernih, berdiri sebuah pendopo kayu ukir megah yang menjadi simbol penyatuan teknologi, investasi hijau, dan pelestarian warisan budaya bangsa. Tempat ini kini tidak hanya menjadi pusat pelatihan perajin lokal, melainkan kiblat baru bagi perancang busana dan peneliti kebudayaan dari seluruh penjuru dunia. ​Rania melangkah keluar menuju balkon pendopo. Angin laut berembus lembut, mengibar

  • Jerat Sandiwara Sang Direktur   Puncak Simfoni Kejayaan Dan Fajar Baru Wiratama

    Pendar hangat mentari pagi menyinari lanskap megah Kompleks Kantor Pusat Wiratama Group di Jakarta. Suasana hari itu begitu berbeda; tidak ada lagi sirine darurat yang meraung, tidak ada laporan sabotase biokimia, dan tidak ada ancaman serangan siber dari balik kegelapan. Kemenangan mutlak atas Lady Valerya Vance dan pembubaran total The Obsidian Syndicate di Pengadilan Khusus Internasional telah mengakhiri seluruh badai konspirasi yang selama bertahun-tahun menguji ketangguhan kekaisaran Wiratama. ​Di lantai teratas Wiratama Tower, dalam ruang kerja bernuansa interior kayu jati dan kaca panorama yang menghadap langsung ke arah cakrawala kota, Adrian Wiratama berdiri tegap di tepi jendela. Pria alfa pimpinan tertinggi Wiratama Group itu tampil amat perkasa, tampan, dan mengintimidasi dalam balutan kemeja kustom biru gelap dengan lengan tergulung rapi. Postur tubuhnya yang tinggi tegap, bahu lebarnya yang kokoh, serta dada bidangnya yang keras memancarkan aura wibawa pengua

  • Jerat Sandiwara Sang Direktur   Pembersihan Sel Tidur Global Dan Persidangan Darurat

    Penangkapan fisik Lady Valerya Vance di koridor privat penthouse Wiratama Tower menandai runtuhnya puncak kepemimpinan The Obsidian Syndicate. Namun, sebagaimana gurita hitam yang kehilangan kepalanya, tentakel-tentakel sel tidur (sleeper cells) jaringan rahasia tersebut masih tersebar aktif di beberapa pusat finansial dan pelabuhan strategis dunia. Memasuki babak ketujuh dari delapan rantai konspirasi pemungkas, Adrian dan Rania tidak membiarkan sedikit pun celah bagi musuh untuk bernapas. Ini adalah babak pembersihan total dan konsolidasi hukum secara mutlak. ​Pukul delapan pagi, ruang komando siber Wiratama Group di Jakarta berubah menjadi pusat kendali operasi global. Berkas digital terenkripsi yang berhasil direbut Rania dari serangan siber sebelumnya kini diekstraksi secara menyeluruh. Layar pemantau raksasa menampilkan peta dunia dengan belasan titik merah berkedip—menandakan lokasi rekening cangkang pencucian uang dan basis operasi sel tidur Obsidian yang ter

  • Jerat Sandiwara Sang Direktur   Inflitrasi Penthouse Dan Ancaman Teror Di Jantung Kediaman

    Kekalahan beruntun Lady Valerya Vance dari Selat Malaka, kilang minyak, satelit navigasi, bursa saham Singapura, hingga kompleks manufaktur Cilegon akhirnya mengikis habis sisa-sisa rasionalitas wanita sosiopat tersebut. Memasuki babak keenam dari delapan rantai konspirasi pemungkas The Obsidian Syndicate, Valerya tak lagi mengejar keuntungan finansial maupun penguasaan teknologi. Puncak obsesinya kini bergeser menjadi aksi terorisme personal yang membabi buta: melumpuhkan pertahanan utama penthouse Wiratama Tower di Jakarta dan menyandera inti dari kehidupan Adrian serta Rania. ​Pukul tiga dini hari, ketika kota Jakarta diselimuti hujan lokal yang dingin, sistem keamanan terpadu lantai lima puluh empat Wiratama Tower mendadak mengalami gangguan sinyal misterius. Valerya Vance bersama enam komando taktis elit tersisa—yang dibayar dengan sisa dana terakhir syndicate—menyusup melalui celah saluran perawatan helipad atas menggunakan peralatan panjat siluman berteknologi tingg

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status