Bohong kalau dibilang Anisa tidak terluka. Munafik kalau dibilang dia tidak sedih atau kecewa. Namun ... apa yang bisa dia lakukan untuk menghentikan ini semua? Pria yang dulu dia kira bisa diandalkan, justru menjadi orang pertama yang menghancurkan hatinya.
Anisa tidak buta. Dia bisa lihat dengan jelas bahwa Dimas bahkan tak berusaha sedikit pun untuk menutupi hubungannya dengan kekasihnya itu. Namun, di depan neneknya, Dimas mengenakan topeng sempurna seorang suami yang penuh kasih sayang dan perhatian.
"Ya Tuhan," bisiknya dengan mata terpejam erat saat malam semakin pekat di sekelilingnya. Dia harus menghadapi hari esok. "Tolong, mudahkanlah jalanku. Berikanlah sedikit saja kebaikan, Tuhan. Tolong ... kabulkan doaku ini."
Ketika Anisa memberi tahu Dimas apa yang dia inginkan, Anisa tak pernah menyangka kalau Dimas akan setuju.
Mungkin, ini adalah kesempatan yang hanya datang sekali seumur hidup. Maka dari itu, dia tidak boleh menyia-nyiakannya.
Seorang anak.
Anisa menginginkan seorang anak. Seorang teman untuk menemaninya di tahun-tahun yang akan datang. Seseorang yang bisa dia cintai tanpa syarat. Seseorang yang akan memanggilnya "Ibu" meski mungkin itu satu-satunya kata hangat yang dia dengar sepanjang hidupnya ....
Dia tahu ... ini mungkin satu-satunya kesempatan yang dia miliki.
Anisa sudah tidak punya siapa-siapa lagi. Dia tidak akan meminta apa-apa dari Dimas. Bahkan, dia sudah merencanakan untuk menghilang. Dia ingin hidup tenang di suatu tempat yang jauh bersama anaknya, tempat di mana Dimas tidak akan pernah datang. Karena pada saat itu, Dimas pasti sibuk menjalani hidup sempurnanya bersama wanita yang benar-benar dia cintai.
Itulah keinginannya. Tak peduli berapa banyak orang yang mungkin akan menyebutnya gila atau bodoh, dia tetap berharap. Dia berharap dengan sepenuh hatinya bahwa Tuhan akan berbaik hati, bahwa keinginannya akan dikabulkan.
Maka dari itu, pagi itu, Anisa berdiri di depan cermin tinggi di kamar pribadinya. Jemari kecilnya merapikan poni barunya yang lembut. Ada sedikit keraguan di benaknya, tetapi dia tetap tersenyum ke arah pantulan dirinya di cermin. Wajahnya sudah dirias tipis, tidak mencolok, cukup untuk menonjolkan kecantikan yang jarang sekali dia tampilkan.
Hari ini, dia ingin terlihat cantik.
Anisa mengenakan gaun simpel berwarna nude yang membalut tubuh indahnya. Dia tersenyum lembut saat tangannya menyentuh kain itu. Pagi ini, dia berencana membuatkan sarapan istimewa untuk Dimas.
"Aku sudah siap," bisiknya pada dirinya sendiri. "Andai saja Dimas mau memelukku di dapur ...." Uh!
Pipinya seketika terasa hangat. Untuk sesaat, adegan di dalam novel-novel romansa yang pernah dia baca terlintas di benaknya, penuh dengan kisah suami istri yang saling memanjakan, bercinta di setiap sudut rumah dengan gairah menyala di mana pun mereka bersentuhan ....
"Naif sekali kamu, Anisa," dia mengejek dirinya sendiri. "Dimas nggak mungkin pernah melakukan hal seperti itu."
Namun ... bukannya harapan sering kali muncul justru di saat-saat yang mustahil sekalipun? Sayangnya, harapan rapuh itu kandas seketika saat bel pintu di lantai bawah berbunyi, disusul suara sepatu hak tinggi dan tawa sinis yang sangat jelas.
"Siapa itu?" Anisa perlahan menuruni tangga. Senyum lembut yang tadi sudah dia latih di depan cermin perlahan menghilang dan kini digantikan dengan ekspresi tenang tetapi tetap waspada.
Di ruang tamu, seorang wanita duduk dengan luwesnya. Dia mengenakan pakaian terusan berwarna marun yang mencolok dan sepatu hak tinggi yang berkilau.
Vera Baskara.
Angkuh. Cantik. Sepenuhnya sadar dengan daya tariknya. Wajahnya tampak sama persis seperti yang ada di layar televisi dan iklan-iklan yang dia sponsori. Harus Anisa akui, Vera terlihat seperti dewi yang turun ke Bumi.
Sayang sekali ... senyum dan sikapnya sangat berbanding terbalik, terutama saat dia berhadapan dengan Anisa.
"Oh?" Vera menoleh dan memandangi Anisa dari ujung kepala hingga ujung kaki, lalu menyeringai sinis. "Kamu tahu caranya berdandan rupanya."
Anisa tetap tenang. "Ada yang bisa kubantu, Vera?"
"Oh, langsung ke intinya ya?" Vera menepuk pelan tas bermerek di pangkuannya, lalu berdiri. "Kamu nggak mau menawariku sesuatu? Minum, misalnya?" Dia menyibakkan rambut panjangnya dengan anggun. "Yah, setidaknya kamu masih tahu diri. Di rumah ini, kamu yang paling pantas untuk melayani tamu. Dari tampangmu saja sudah kelihatan kamu lebih cocok jadi pelayan, Anisa."
Anisa hanya merespons dengan senyuman.
"Aku ke sini bukan untuk basa-basi," cibir Vera. "Aku cuma mampir karena ingin melihat dengan mata kepalaku sendiri apa yang tunanganku lakukan bersama seorang perempuan lancang. Kukira kamu cuma asal gertak saat kamu meminta waktu Dimas, tapi sekarang aku bisa lihat dengan jelas .... Kamu benar-benar sudah kehilangan akal sehat."
"Aku masih bisa berpikir rasional, Vera."
Vera tertawa geli dengan nada yang cukup keras, jelas sedang mengejek Anisa. "Rasional? Dengan berpakaian seperti itu? Berharap supaya Dimas bisa tergoda ya?" Dia melangkah maju, tatapannya berubah tajam. "Kamu itu nggak lebih dari perempuan murahan!"
Sebelum Vera sempat meraih gaunnya, Anisa bergerak lebih cepat. Dia menangkap pergelangan tangan Vera dan mencengkeramnya, cukup kuat untuk menghentikan gerakannya.
"Kamu bilang aku perempuan murahan? Terserah. Tapi kamu perlu ingat, Vera, aku masih istrinya Dimas Cokro."
Tatapannya tidak goyah sedikit pun, begitu pula cengkeramannya.
"Jangan lancang kamu, dasar jalang!" umpat Vera. Kemudian, dia tiba-tiba tertawa. Awalnya masih kecil, tetapi perlahan naik, suaranya tajam dan rapuh seperti kaca yang pecah. "Istri Dimas Cokro? Oh Sayang ... itu cuma status di atas kertas. Semua orang tahu itu."
"Semua orang juga tahu pernikahanmu belum terjadi," balas Anisa dengan lembut tetapi jelas. "Jadi sampai hari itu tiba, aku masih istrinya, dan aku akan menjalani peranku dengan baik, Vera."
Vera menyipitkan matanya. "Kamu sungguh berpikir kamu bisa menyentuhnya? Kamu pikir dia bakal mau tidur denganmu? Menyedihkan sekali."
"Aku nggak berharap apa-apa," kata Anisa, dagunya sedikit terangkat. "Kamu nggak perlu merasa terancam, 'kan? Lagi pula, bukankah kita sudah tahu siapa pemenangnya?" Dia melepaskan cengkeramannya dan melangkah mundur. Dia tidak ingin terlalu lama menyentuh perempuan yang dicintai Dimas.
Kalau bukan karena kekuatan tekadnya, Anisa pasti sudah menangis di depan Vera sekarang.
Vera memijat pergelangan tangannya yang tadi Anisa cengkeram sambil membatin, 'Dasar wanita sialan! Berani sekali dia!' Dia tidak akan membiarkan ini berlalu begitu saja. Anisa harus mendapat balasan atas ini! Sepenuhnya!
"Tahu nggak, Anisa .... Aku itu selalu kepikiran ...," kata Vera, sengaja dilambat-lambatkan. Setiap kata-katanya menusuk seperti belati saat dia melanjutkan, "Kenapa Dimas dulu setuju menikahimu. Bagaimanapun, latar belakangmu itu nggak jelas, koneksi sama orang-orang penting juga nggak ada .... Bahkan, namamu pun nggak layak disebut."
Kalau yang mengucapkannya adalah Jesika Cokro, ibu mertuanya, Anisa mungkin masih bisa terima. Namun, kalau kata-kata itu keluar dari mulut Vera, orang luar yang "mirisnya" dianggap seperti keluarga oleh anggota Keluarga Cokro sendiri, rasanya jauh lebih menyakitkan. Dia bisa mengatakan apa pun yang dia suka pada Anisa, tetapi tetap saja tak seorang pun dapat menghentikannya.
Anisa tak membalas. Dia hanya berdiri di sana, memaksakan dirinya agar tetap tenang dalam diam. Dia tahu Vera sedang memancingnya. Wanita itu ingin mencari celah sekecil apa pun untuk menyerangnya. Oh Tuhan, betapa kerasnya dia berjuang agar air matanya tidak jatuh.
"Aku sempat berpikir, mungkin Dimas menikahimu karena merasa kasihan. Tapi sekarang, sepertinya dia akhirnya sadar betapa serakahnya kamu. Dari luar, kamu berlagak polos dan alim, tapi di balik kesucian palsumu itu, kamu menyembunyikan sifatmu yang licik itu, 'kan?"
"Sudah, cukup, Vera," kata Anisa dengan tenang. "Kalau kamu ke sini cuma untuk menghinaku, aku nggak akan meladeninya. Aku nggak mau ikut-ikutan merendahkan orang lain."
"Merendahkan?" Vera mendengus, lalu tertawa geli. "Sayang ... bukannya kamu sendiri sudah merendahkan dirimu dengan berpakaian seperti itu? Sebenarnya apa sih yang kamu pikirakn? Kamu pikir dengan berpakaian begitu, Dimas bakal terpana dan langsung jatuh hati padamu? Kamu kira dengan begitu, dia bakal mencampakkanku demi kamu?"
"Aku nggak pernah berpikir seperti itu," balas Anisa dengan tenang, suaranya mantap. "Aku cuma sedang menjalankan peranku, karena cuma itu yang bisa kulakukan sekarang."
"Menjalankan peran?" cibir Vera. "Kamu tahu nggak? Kamu itu kelihatan seperti perempuan yang baru ditinggal mati suaminya. Menyedihkan sekali lihatnya. Padahal suamimu masih hidup .... Cuma, yah ... cintanya nggak di kamu."
Anisa menggigit bibirnya dengan lembut. Dia menundukkan kepala dan menarik napas dalam-dalam. Tidak, dia tidak boleh menangis. Tidak di depan Vera. Sebelum Anisa sempat berbicara, bunyi langkah kaki dari lantai dua terdengar.
Dimas.
Dia baru saja keluar dari kamarnya, mengenakan kemeja abu-abu dan celana panjang yang pas badan. Ekspresinya terlihat santai, tetapi matanya yang tajam bisa menangkap pemandangan yang ada di bawah tangga. Vera berdiri terlalu dekat dengan Anisa yang wajahnya tampak pucat seolah sedang menahan sesuatu.
Sebelum dia sempat berkata apa-apa, suara lain memotong ketegangan.
"Ada apa ini? Kenapa ribut pagi-pagi begini?"
Suara tajam Jesika Cokro menggema di rumah itu saat dia menuruni tangga, didampingi oleh kedua putrinya, Fitri dan Kania. Keduanya menatap Anisa dengan tatapan penuh cemooh, cerminan yang sama dari wajah ibu mereka.
Vera tidak membuang-buang waktu. Dia langsung memainkan peran yang dia pilih sendiri. "Tante Jesika ... aku datang karena aku merasa cemas. Lihat dia .... Anisa pakai baju begitu supaya bisa dapat perhatiannya Dimas. Aku takut ... dia jadi lupa diri."
"Ya Tuhan ...." Jesika menatap Anisa dari ujung kepala hingga ujung kaki. "Sebenarnya apa yang ada di pikiranmu sampai kamu pakai baju seperti itu, Anisa? Di mana rasa tahu malumu?"
Kania terkekeh sinis.
"Astaga .... Kamu baru tinggal di sini setahun dan sudah berani bertingkah seolah kamu tuan rumah di sini?"
Mendengar Kania mengejek Anisa, Fitri yang tak mau kalah juga ikut menimpali.
"Perempuan ini makin hari makin berani saja!" bentaknya, lalu mendorong bahu Anisa cukup keras sampai membuatnya terhuyung dan hampir jatuh. "Sadar, Anisa! Kamu itu nggak diterima di sini! Kamu benar-benar keterlaluan!"
"Cukup!"
Suara Dimas menggelegar, tajam dan penuh wibawa, membuat semua orang menoleh ke arahnya.
"Dimas, kamu nggak berencana buat membela dia, 'kan?" tanya Kania, terkejut.
Dimas menghela napas, tampak kelelahan. "Aku nggak membela siapa-siapa. Aku cuma mau menghabiskan pagi ini dengan tenang, tanpa melihat drama kalian. Aku sudah cukup kewalahan dengan pekerjaanku."
Vera cemberut, bibirnya manyun. "Tapi kamu memang kelihatan seperti sedang membela dia, Sayang."
Dimas menghela napas dengan pelan. "Itu nggak akan pernah terjadi."
Dia mendekat ke Vera, dengan lembut menyibakkan rambut panjangnya ke belakang, sepenuhnya mengabaikan kesedihan yang menyelimuti tatapan Anisa yang hanya beberapa langkah darinya.
Apa Dimas peduli padanya?
Sama sekali tidak.
"Aku minta kalian berhenti bertengkar. Aku butuh ketenangan." Nada Dimas terdengar datar, tanpa emosi, tetapi cukup untuk membungkam semua orang yang ada di situ.
Jesika mendengus dengan kesal. "Oh, ya Tuhan. Baiklah. Aku sarapan di tempat lain saja."
Dia berbalik dan berjalan pergi begitu saja tanpa menunggu respons dari mereka. Kania dan Fitri melempar pandangan penuh hinaan kepada Anisa saat melewatinya sebelum mengikuti ibunya dari belakang. Pada saat yang sama, Vera tetap di tempatnya, menatap Anisa dengan amarah yang nyaris tak disembunyikan sebelum akhirnya bergegas pergi dengan langkah kesal.
Keempat orang itu telah pergi dan ruangan seketika hening.
Dimas mengusap wajahnya perlahan, tampak benar-benar letih. "Apa pun yang terjadi di antara kalian, jangan jadikan itu masalahku pagi ini."
Anisa, yang tetap berdiri tegak meski hatinya tercabik, akhirnya berani menatap suaminya. Suaranya lembut dan tenang.
"Kalau begitu, izinkan aku untuk menyiapkan sarapan untukmu. Cuma butuh lima menit. Kamu belum makan, 'kan?"
Dimas tidak langsung merespons. Dia menatapnya sejenak, ekspresinya sulit dibaca. Barulah setelah itu dia mengangguk pelan. "Baiklah. Lima menit, nggak lebih."
Anisa balas mengangguk dan berbalik menuju dapur dengan tenang. Lima menit kemudian, dia kembali membawa sebuah nampan berisi roti panggang yang tersusun rapi, telur mata sapi, dan secangkir kopi panas. Bahkan serbetnya pun dilipat dengan sempurna.
Dimas duduk di meja makan, menatap dokumen di tabletnya.
"Ini," kata Anisa, meletakkan nampan di depannya. "Aku tahu makanannya sederhana, tapi ... semoga bisa membantumu memulai hari dengan baik."
Dimas melirik makanan itu sebentar, lalu mulai menyantapnya tanpa banyak bicara.
Anisa menarik kursi dan duduk di seberangnya, kedua tangan saling menindih di atas pangkuannya. Dia membuka mulutnya ingin berbicara. Setelah sempat ragu sejenak, dia akhirnya memberanikan diri untuk bersuara.
"Kamu belum lupa dengan janjimu, 'kan?" tanyanya dengan lembut. "Aku cuma ingin mengingatkan."
Dimas meletakkan garpu dan pisaunya, lalu menatapnya dengan ekspresi netral. "Aku nggak lupa."
Anisa mengangguk kecil. "Kalau begitu, aku akan melakukan bagianku sebagai istrimu ... sebagaimana mestinya. Aku akan siapkan sarapanmu, memastikan kamu nggak lupa membawa dokumen penting sebelum kamu berangkat kerja, dan semua hal lain yang biasanya dilakukan pasangan suami istri," ujarnya sambil tersenyum tipis.
Dimas menghela napas dan memijat pelipisnya sebentar. "Aku nggak mau kamu melakukan drama yang nggak perlu. Kamu tahu sampai batas mana kamu harus bersikap, Anisa. Jangan buat aku menyesal sudah setuju."
"Aku nggak akan buat kamu menyesal," jawab Anisa, meneguhkan dirinya. Mata cokelatnya menatap lurus dengan mantap. "Hanya ada satu hal .... Ada satu hal yang ingin kuminta pagi ini."
Dimas membalas tatapannya, tampak tidak tertarik. "Apa itu?"
"Bisakah kamu memberiku ... sebuah ciuman selamat pagi?"