Share

Bab 2

Penulis: Major_Canis
"Kamu sudah gila ya?" kata Jesika Cokro, atau yang lebih dikenal sebagai Jeje, dengan nada tajam, suara melengkingnya memecahkan keheningan di taman belakang.

Dia mencengkeram pundak Anisa dengan kuat hingga kuku jemarinya yang terawat menekan ke dalam, membuat wanita kurus itu sedikit terhuyung. Penyiram tanaman dari plastik ringan yang Anisa sedang pakai untuk menyiram bunga mawar putih terjatuh dan pecah setelah menghantam ubin batu yang bertepi tajam.

Namun, Anisa bergeming. Dia hanya meringis sedikit karena dicengkeram, lalu kembali seperti biasa. Dia menatap lurus ke mata ibu mertuanya dengan tenang, lalu menyilangkan tangannya di depan dada. Gaun rumah biru pucat berkibar lembut tertiup semilir angin sejuk musim semi, membuatnya tampak semakin rapuh, tetapi sorot matanya tetap mantap, tak tergoyahkan.

"Berani sekali kamu membuat permintaan memalukan itu!" lanjut Jesika, nadanya penuh emosi. Matanya menatap Anisa dengan tajam saat berkata, "Anakku akan menikahi Vera. Kamu tahu itu, 'kan? Kamu pasti tahu. Kamu sudah tahu, tapi kenapa masih berani mengemis perhatian dari Dimas?"

Anisa tersenyum simpul, hendak berbicara ketika Jesika kembali bersuara, jelas tak sudi mendengar sepatah kata pun dari Anisa sebagai balasannya.

"Kamu itu seperti perempuan menyedihkan yang bisanya cuma mengemis cinta!"

Sekali lagi, Anisa hanya tersenyum tipis, senyum yang sarat kerinduan, yang seolah membisikkan kehangatan di tengah badai. "Ibu, aku nggak minta cintanya Dimas," katanya, suaranya lembut dan santun, tetapi tegas. "Aku cuma minta waktu darinya. Waktu selama 30 hari."

"Huh! Kamu pikir apa yang bisa kamu capai dalam 30 hari itu?" Jesika bergerak maju, tumit sepatu bermereknya menghancurkan penyiram tanaman yang pecah tadi dengan bunyi derak tajam.

"Kamu pikir kamu bisa membuat Dimas jatuh cinta padamu? Itu nggak akan terjadi. Buang pikiran menyedihkanmu itu, Anisa. Dimas mencintai Vera, sekarang dan selamanya. Kehadiranmu cuma jadi penghalang bagi kebahagiaan mereka."

Anisa mengembuskan napas dengan pelan, lalu menundukkan kepala sebentar, sementara berusaha menenangkan badai di dalam dirinya. Kemudian, dia mengangkat kepala dan menatap lurus mata ibu mertuanya, tenang tetapi dengan kekuatan yang nyata.

"Aku nggak pernah berniat menghalangi kebahagiaan siapa pun," ucapnya pelan. "Tapi aku juga bukan orang yang bisa kalian buang begitu saja. Aku sudah jadi istri Dimas selama hampir setahun, meski nggak ada yang benar-benar mengakuinya. Aku cuma mau mengakhiri pernikahan ini dengan ... damai."

Jesika mendengus kuat, amarah masih terpancar dari wajahnya. "Mengakhiri pernikahan dengan damai? Kamu memang sudah gila, Anisa."

Perkataannya tidak memengaruhi Anisa, meski jujur, hatinya terasa perih ketika mendengarnya. Dari awal, dia memang sudah tidak diterima di rumah ini. Satu-satunya orang yang benar-benar baik padanya hanyalah Eva, wanita tua berhati lembut yang memperlakukannya layaknya keluarga.

Bagaimana mungkin Anisa tidak menyayanginya? Eva sudah seperti seorang ibu sekaligus nenek baginya. Dia telah menjadi sosok penghibur yang mengisi kekosongan di hatinya karena ditinggalkan orang terkasihnya, sekaligus figur nenek yang selama ini hanya bisa dia bayangkan, satu-satunya cahaya yang menopangnya untuk terus bertahan di rumah Keluarga Cokro yang terkutuk ini.

Sementara anggota Keluarga Cokro lainnya?

Mereka memperlakukan Anisa dengan penuh penghinaan. Cemoohan. Kebencian. Seolah Anisa adalah penipu yang menyusup untuk menghancurkan segalanya. Seolah dia adalah wanita licik yang menyimpan banyak niat buruk. Namun, tak sekalipun, sedikit pun tidak, Anisa berpikir untuk memanfaatkan keadaannya demi keuntungan pribadi.

Kalau dia bisa diberi satu permohonan untuk dikabulkan, dia akan memilih untuk menjalani hidup damainya bersama mendiang ibunya daripada semua ini. Dia tidak pernah ingin tinggal di rumah megah yang menyilaukan ini, tidak ketika harga dirinya yang menjadi taruhannya.

"Kamu sudah buat semuanya berantakan, Anisa. Lalu sekarang? Sekarang kamu malah memperburuknya!" Suara Jesika pecah oleh amarah.

"Vera sudah menyiapkan semuanya. Pernikahan impiannya, pertemuan keluarga, tamu-tamu penting .... Tapi sekarang, hanya karena 'permintaan terakhir' dari seorang gadis yatim piatu nggak penting, semua itu harus ditunda!"

Anisa menundukkan kepalanya, menggigit bibir bawahnya untuk menahan rasa sakit agar tidak meluap. Ketika dia akhirnya berbicara, suaranya terdengar jernih.

"Ya, aku memang gadis yang nggak punya apa-apa, tanpa harta, tanpa kuasa, tanpa nama .... Tapi aku masih punya harga diri, Ibu, dan aku akan berpegang teguh padanya sampai akhir."

Ucapan Anisa itu disambut dengan tawa mengejek dari Jesika. Sang mertua menatap menantunya dengan tak percaya, merasa tak bisa memahami pola pikirnya.

"Silakan pertahankan saja harga dirimu itu, Anisa. Yang penting kamu harus paham seperti apa kedudukanmu di rumah ini."

"Aku sangat memahaminya, Ibu," jawab Anisa dengan tenang.

Jesika hendak melanjutkan lagi, tetapi dia mengurungkan niat itu saat mendengar ada suara langkah kaki yang mendekat. Dimas muncul dari balik pintu kaca dengan setelan jas yang masih tampak rapi. Wajahnya yang lesu jelas menyiratkan keletihan setelah melewati hari kerja yang panjang.

Dia melirik sekilas ke arah kedua perempuan itu sebelum berkata dengan nada datar, "Ada masalah?"

Jesika menoleh ke arahnya, lalu mengembuskan napas dengan cara yang berlebihan. "Tentu saja ada masalah. Istri tersayangmu ini mencoba merusak pernikahanmu dengan Vera. Dia buat permintaan konyol itu dan kamu ...." Dia menunjuk Dimas dengan jarinya yang dipoles indah. "Kamu malah menyetujuinya? Jujur, aku nggak paham dengan cara kerja otakmu, Dim!"

Dimas tidak langsung merespons. Tatapannya terpaku pada Anisa. Dia tidak mengucapkan sepatah kata pun, tetapi Dimas tahu Anisa tidak akan menyangkalnya. Dia tidak seperti orang-orang rumah ini yang menyembunyikan niat mereka di balik topeng.

"Bu, dia cuma minta waktuku. Cuma sebulan," Dimas akhirnya berkata. "Aku setuju. Aku sudah bicara dengan Vera dan menjelaskan semuanya. Dia mengizinkanku. Bu, cinta kami sudah teruji oleh waktu. Aku sudah setahun menikahi perempuan ini dan Vera masih setia menungguku. Dia nggak keberatan memberiku waktu 30 hari lagi."

Jesika nyaris tak percaya dengan apa yang didengarnya. Dia menutup wajahnya dengan tangan, merasa sangat frustrasi. Namun, tidak ada yang bisa dia lakukan. Dia tidak punya pilihan selain mengikuti apa yang sudah diputuskan oleh anaknya.

"Yang penting pastikan perempuan nggak tahu malu ini keluar dari kehidupan Keluarga Cokro bulan depan, Dimas. Aku nggak mau menantuku tersayang menunggu lebih lama."

"Ya," jawab Dimas singkat.

Anisa yang sedari tadi berdiri diam di antara mereka akhirnya berbicara.

"Aku tahu persis kedudukanku di keluarga ini seperti apa. Tenang saja, aku akan pergi begitu waktunya berakhir. Tapi untuk saat ini ... aku cuma mau menghabiskan sisa waktu dengan tenang. Itu saja yang kuminta."

Jesika mencibir dingin, lalu berbalik dengan cepat.

"Aku nggak akan pernah sudi mengakuimu sebagai bagian dari keluarga ini," semburnya sebelum menghilang di lorong, langkahnya tajam dan cepat, seperti setiap kata yang baru saja dia lemparkan.

Anisa mengembuskan napas panjang begitu sosok Jesika sudah tidak lagi dalam pandangan. Tangannya sedikit gemetar, tetapi dia menyembunyikannya di balik lipatan gaun rumahnya. Sekarang, tinggal seorang yang tersisa. Orang itu masih berdiri di sana, menatapnya dengan tatapan dingin yang sama, seolah-olah dia tidak lebih dari benda yang telah dibuang.

"Nggak kusangka ternyata istriku begitu keras kepala," ejek Dimas. "Segitunya kamu ingin jadi istriku?" Dia terkekeh, penuh cemooh.

"Kenapa? Menyesal sudah setuju dengan permintaanku?" tanya Anisa pelan, tatapannya yang penuh kelembutan diselimuti oleh rasa sakit dan kecewa.

Dimas menatapnya dalam diam untuk sesaat, lalu menggeleng.

"Nggak. Tapi aku masih tetap menganggapnya konyol."

"Nggak apa-apa," kata Anisa, memaksakan senyum simpulnya. "Yang penting adalah ... aku nggak akan menyesalinya."

Untuk sejenak, keheningan mereka hanya diiringi oleh deru semilir angin. Dimas memalingkan wajahnya, tetapi ekor matanya masih dapat melihat pipi Anisa yang merona karena terpapar sinar matahari sore ... atau mungkin karena menahan air mata yang enggan dia biarkan jatuh.

Tanpa berkata apa-apa lagi, Dimas berbalik dan mulai berjalan pergi. Namun, tepat sebelum dia melangkah keluar dari ambang pintu, dia berbicara tanpa berbalik.

"Kalau kamu sekeras kepala ini ... apakah itu berarti kamu siap berbagi ranjang denganku malam ini, Anisa? Bukankah kamu berkata ingin merasakan rasanya menjadi istriku? Ini 'kan yang kamu mau?"

Anisa terperangah, matanya berkedip kaget. Bagaimanapun, dialah yang mengajukan permintaan itu. Dialah yang meminta ingin benar-benar menjadi istrinya. Itu berarti ... Dimas berhak menyentuhnya. Kapan pun. Selama 30 hari ke depan.

Anisa mengepalkan tinjunya di kedua sisi.

"Ya," jawabnya, suaranya tegas. Dia tak bisa mundur sekarang, 'kan? Membayangkannya saja sudah membuat tubuhnya bergetar ketakutan.

Namun, respons Dimas selanjutnya tetap sedingin biasanya.

"Sayang sekali ... aku nggak tertarik."

"Tapi kamu sudah janji, Dimas," kata Anisa tanpa rasa malu, suaranya mantap. Dia sudah tidak punya apa pun lagi untuk dipertahankan ... selain harga dirinya."

Dimas tertawa, tetapi tak ada kehangatan di baliknya.

"Segitu putus asanya kamu hah?" Dia mendekat, pandangannya tak sedetik pun lepas dari Anisa. "Katakan, Anisa, kamu segitunya ingin menjadi istriku?"

Anisa spontan melangkah mundur. "Bukan itu yang kumaksud ...."

"Bukan? Kalau bukan, lalu apa?" ucapnya tak sabar. "Kamu sendiri yang memohon. Kamu sendiri yang menawarkan diri untukku, selama sebulan."

Suaranya dalam dan sangat tenang. Dia mengulurkan tangannya, jemarinya menyentuh dagu Anisa, tidak lembut, tetapi juga tidak kasar. Kekuatannya cukup untuk memaksa tatapan wanita itu ke atas.

"Besok malam," katanya, tatapannya mengunci mata Anisa. "Aku akan pulang bukan sebagai pria yang kamu nikahi di atas kertas, tapi sebagai suami yang kamu paksa aku perankan."

Napas Anisa tersendat. Kedua tangannya mengepal di sisi gaun rumahnya, tetapi dia tidak mengalihkan pandangannya.

"Aku harap kamu siap," tambah Dimas, menarik diri sedikit. "Karena aku nggak akan berhenti untuk bertanya apakah kamu sudah berubah pikiran."

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Jeritan Hati Istri yang Tak Pernah Dicintai Sepenuh Hati   Bab 50

    "Kadang aku lupa betapa menenangkannya keheningan seperti ini," kata Kelvin pelan.Anisa menimpali sambil mengangguk, "Setelah bertahun-tahun hidup dalam kekacauan dan kebisingan, inilah jenis ketenangan yang paling aku syukuri."Kelvin menoleh ke arahnya. Tatapannya mantap ketika berujar, "Aku harap semua kekacauan itu nggak pernah membuatmu merasa dirimu nggak berharga."Anisa menundukkan pandangan untuk menyeruput kopinya. Kemudian, dia berucap, "Itulah alasan aku sangat menghargai hidup yang aku jalani sekarang. Terutama dengan Jevan di sisiku. Aku benar-benar bersyukur.""Apakah rasa syukur itu juga berlaku untukku?" tanya Kelvin lembut,. Sepasang matanya terkunci pada mata Anisa.Anisa menanggapi, "Tentu saja aku juga bersyukur karena ada kamu, Pak Kel ....""Kamu sudah berjanji nggak memanggilku begitu di luar sekolah, apalagi saat kita nggak lagi bareng Jevan," potong Kelvin sambil memasang ekspresi seolah kesal, tetapi jelas bercanda.Anisa terkekeh-kekeh. Dia berujar, "Kamu s

  • Jeritan Hati Istri yang Tak Pernah Dicintai Sepenuh Hati   Bab 49

    "Enak banget, Bu!" seru Jevan sambil menyuapkan satu garpu besar makaroni panggang ke mulutnya. Wajah kecilnya langsung bersinar kegirangan, lalu dia mengacungkan jempol tinggi-tinggi ke arah Anisa sebagai tanda puas."Aku setuju, Jagoan Kecil," tambah Kelvin sambil mengangguk. Nada suaranya penuh apresiasi ketika melanjutkan, "Bu Anisa, sejujurnya aku jadi penasaran apa kamu pernah ikut kelas memasak? Soalnya masakanmu itu bikin ketagihan. Bisa-bisa aku mulai mengidamkannya setiap hari lho."Anisa tersenyum ke arah Kelvin. Dia berusaha menyembunyikan rasa hangat yang naik ke pipinya. Wanita itu cepat-cepat mengalihkan pandangan dan menyibukkan diri dengan menuangkan air ke gelas Jevan.Anisa membalas, "Kalian makan yang banyak saja. Terutama kamu, Jev. Jangan bicara sambil mengunyah, nanti tersedak lho.""Ya, Bu," jawab Jevan ceria. Dia masih tersenyum lebar.Meski sesekali diingatkan, Jevan tetap sulit menahan antusiasmenya. Kebahagiaan di wajahnya terlihat begitu jelas. Makan malam

  • Jeritan Hati Istri yang Tak Pernah Dicintai Sepenuh Hati   Bab 48

    "Bu, boleh nggak Paman Kelvin datang makan malam di rumah?" tanya Jevan dengan mata berbinar penuh harap sambil menarik lengan baju Anisa saat mereka keluar dari kafe.Anisa menunduk untuk menatapnya. Dia membalas, "Um, Ibu bahkan belum bertanya apakah dia mau ikut makan malam bersama kita."Kelvin dan Lydia sudah lebih dulu keluar dan menunggu di dekat mobil yang terparkir tidak jauh dari pintu masuk kafe. Pria itu menyahut sambil tersenyum santai, "Aku mau kok.""Hore!" seru Jevan kegirangan. Dia langsung mengangkat kedua tangannya untuk minta tos dan segera dibalas Kelvin dengan penuh semangat. Melihat itu, Anisa hanya bisa menghela napas pasrah."Jagoan, jadi nanti malam kita makan apa?" tanya Kelvin sambil menggenggam tangan Jevan."Ibu bilang makaroni panggang. Keju ekstra buat aku!" balas Jevan.Kelvin mengangkat alisnya ketika berucap, "Makaroni panggang buatan Bu Anisa? Sulit untuk menolaknya."Mereka berjalan menyusuri trotoar. Cahaya senja keemasan melunakkan sisa-sisa hari.

  • Jeritan Hati Istri yang Tak Pernah Dicintai Sepenuh Hati   Bab 47

    "Berapa lama lagi kamu akan terus menolaknya?" Pertanyaan itu datang dari Lydia yang duduk di seberang Anisa sambil menyeruput espreso. Dia menatap sahabatnya dengan sorot mata tajam. Anisa menghela napas pelan, lalu meletakkan garpunya di samping sepotong kue red velvet yang nyaris tidak tersentuh."Lydia, aku bukan menolaknya. Aku cuma ... butuh waktu lebih lama untuk memikirkannya," balas Anisa.Mereka duduk di salah satu sofa empuk yang menghadap area bermain. Keduanya menyeruput teh hangat sambil sesekali melirik pemandangan yang berada tidak jauh dari mereka.Kafe itu cukup ramai, tetapi tidak bising. Sinar matahari sore berwarna keemasan masuk melalui jendela-jendela besar, lalu menyelimuti lantai kayu dengan cahaya hangat. Interiornya dirancang ramah keluarga dengan nuansa pastel lembut. Ada sudut bermain yang nyaman dengan karpet tebal, serta rak-rak berisi mainan edukatif, puzzle, dan buku bergambar.Di sana, tepat di tengah semuanya, ada Jevan. Pipi bocah tujuh tahun itu mem

  • Jeritan Hati Istri yang Tak Pernah Dicintai Sepenuh Hati   Bab 46

    "Selamat pagi, semuanya," sapa Anisa dengan ramah saat dia memasuki ruang guru."Pagi, Anisa," jawab beberapa orang bersamaan. Beberapa yang lain memberinya senyum sopan."Kamu bawa sarapan lagi? Pas banget, kopiku baru saja selesai diseduh," tanya Timo si guru olahraga yang selalu penuh energi sambil bangkit dari duduknya."Apa kamu nggak bisa mampir ke toko roti saja dalam perjalanan ke sini?" gumam Metta yang merupakan guru matematika di sekolah itu. Dia jelas tidak terlalu terkesan dengan antusiasme Timo.Timo tertawa kecil sebelum membalas, "Apa salahnya mengharapkan keajaiban?""Aku memang bawa sedikit. Jevan suka, jadi aku buat agak lebih banyak," jawab Anisa sambil tersenyum lembut. Anisa mengeluarkan sebuah kantong kertas berisi roti kismis panggang berwarna keemasan. Aroma manis dan mentega langsung memenuhi ruangan. Itu menarik perhatian beberapa guru yang terlihat lapar."Silakan ambil," ucap Anisa hangat sambil menawarkannya pada semua orang."Wah, kamu memang jago urusan

  • Jeritan Hati Istri yang Tak Pernah Dicintai Sepenuh Hati   Bab 45

    Tujuh tahun kemudian."Jev, jangan singkirkan brokolinya," ucap seorang wanita sambil tetap sibuk memasak di depan kompor. Tanpa perlu menoleh, dia tahu bahwa anak laki-lakinya pasti sedang menghindari sayuran di piringnya."Bu, aku nggak suka," gumam bocah bermata biru itu perlahan. Bibir kecilnya mengerucut kesal ketika melanjutkan, "Apa aku boleh makan yang lain saja tanpa brokoli?"Anisa menghela napas sabar. Dia melepaskan celemeknya dan mematikan kompor, lalu berjalan ke meja makan, tempat putranya duduk membungkuk di depan sarapan yang baru setengah habis."Jevan Kumala," ucap Anisa tegas. Suaranya tenang, tetapi sama sekali tidak bisa diabaikan."Ya, Bu," jawab Jevan sambil perlahan mengangkat kepala.Anisa bertanya, "Kamu tahu nggak betapa bagusnya brokoli untuk tubuhmu?" Mendengar itu, Jevan cemberut. Tentu saja dia tahu, tetapi tetap saja dia tidak suka."Makan sedikit saja. Jangan sisakan terlalu banyak di piring. Bukannya Bu Aulia bilang, terlalu pilih-pilih makanan itu co

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status