Share

Bab 117. Play The Game

Author: KiraYume
last update Last Updated: 2025-08-27 18:32:53

Pagi itu, di lantai tertinggi kantor pusat Ravenshade di Kaliandra, Leo duduk di balik meja kerjanya. Di hadapannya, tiga layar monitor menampilkan angka-angka pasar Asia yang bergerak cepat, grafik hijau dan merah bergantian menari.

Tangannya mengetuk meja perlahan, sebuah kebiasaan yang muncul saat pikirannya sibuk. Ia sudah dua malam hampir tidak tidur, masih menimbang antara kemungkinan jebakan dan kesempatan emas.

Tiba-tiba, notifikasi email muncul di salah satu layarnya. Dari sebuah alamat yang ia kenal baik, kontak lamanya di sebuah firma sekuritas Tokyo.

Subjek: Sedikit "kegaduhan" tentang Kyoto Dynamics.

Leo langsung membukanya.

Isinya singkat, padat, dan lebih berharga daripada laporan analisis setebal seratus halaman:

“Rumor mulai beredar di kalangan analis. Disebutkan ada konsorsium besar yang melirik Kyoto Dynamics. Nama Tanaka Group terdengar. Beberapa juga menyebut Lumina Properties, Ravenshade dan Konsorsium Privat. Pasar masih menunggu konfirmasi, tapi spekulasi sudah
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Jiwa Kekasihku di Tubuh Suamiku   Bab 124. Menyelamatkan Diri

    Ruang rapat Maxwell Capital tenggelam dalam ketegangan yang hampir bisa disentuh. Semua mata tertuju pada Clarissa. Beberapa menunggu ledakan emosi, beberapa lain berharap ia akan menyerah. Namun wajah Clarissa justru berubah. Raut tegang yang tadi menguasai garis-garis wajahnya lenyap, digantikan ketenangan yang nyaris mengintimidasi.“Anda semua benar,” katanya, suaranya mantap dan jernih. Kalimat itu bergema di ruangan yang baru saja penuh desakan. Tidak ada nada defensif, tidak ada tanda panik. “Reputasi Maxwell Capital adalah yang utama. Tak ada apapun yang sepadan dengan itu. Kita tidak boleh membiarkan gosip tak berdasar ini merusak kepercayaan.”Beberapa anggota dewan saling bertukar pandang, terkejut mendengar pengakuan yang bukan pembelaan melainkan pengendalian. Mereka bersiap mendengar penyerahan diri, tetapi yang muncul adal

  • Jiwa Kekasihku di Tubuh Suamiku   Bab 123. Pilihan Mustahil

    Jantung Clarissa mencelos saat membaca artikel itu. Kata-kata yang tertulis seakan dirangkai dengan racun yang disamarkan sebagai analisis. Artikel itu tidak menyerangnya secara frontal, melainkan dengan gaya elegan penuh insinuasi. Fakta-fakta tentang pertemuan bisnisnya dipelintir, dipotong dari konteks, lalu digabungkan dengan gosip personal yang tak pernah ia bayangkan bisa keluar dari ruang privatnya. Di layar, dirinya tergambar sebagai wanita yang terobsesi, tidak profesional, CEO yang mempertaruhkan masa depan Maxwell Capital demi mengejar mantan kekasih.Tangannya yang berusaha menahan tablet itu bergetar. Clarissa menarik napas panjang, namun dadanya justru semakin sesak. Ia tahu cara kerja opini publik. Sekali narasi ini menempel, hampir mustahil untuk dilucuti.“Ini bukan sekadar gosip murahan,” gumamnya lirih, lebih kepada dirinya sendiri. “Ini eksekusi reputasi.”Asistennya masih berdiri di ambang pintu, ragu ingin bicara, namun takut menambah beban. “Nyonya Maxwell, tele

  • Jiwa Kekasihku di Tubuh Suamiku   Bab 122. Gosip Baru

    Hati nurani Clarissa akhirnya bicara dengan suara yang terlalu nyaring untuk diabaikan. Selama bertahun-tahun ia telah melatih dirinya untuk kebal, untuk tidak membiarkan rasa bersalah atau simpati menjadi beban. Namun kali ini berbeda. Ada sesuatu yang menusuknya terlalu dalam, sesuatu yang menuntut balasan.Ia berdiri di depan jendela suite yang menghadap Danau Jenewa. Air tenang membentang luas, seakan menertawakan kegaduhan di dalam hatinya. Clarissa menarik napas panjang. Ia tahu, jika ia memilih diam, ia akan selamat. Nama baiknya tetap terjaga, bisnisnya di Eropa tetap aman. Tetapi di balik semua itu, ada luka lain yang akan terus berdarah, luka pada harga dirinya sendiri.“Tidak,” gumamnya pelan, nyaris seperti doa. “Aku nggak akan dipermainkan siapa pun lagi.”Ia berbalik, langkahnya mantap menuju meja kerja. Tablet masih menampilkan dua berita dari Kaliandra, dua potongan cerita yang kini ia pahami sebagai kepingan dari permainan yang jauh lebih besar. Jemarinya berhenti di

  • Jiwa Kekasihku di Tubuh Suamiku   Bab 121. Benang Merah

    Suite hotel itu sunyi. Dari balik jendela lebar yang terbuka ke arah danau Jenewa, air berkilau memantulkan cahaya matahari pagi yang lembut. Clarissa Maxwell berdiri mematung, lengannya terlipat di depan dada. Permukaan danau tampak tenang, kontras dengan pikirannya yang kalut.Di meja marmer dekat tempat tidurnya, sebuah tablet menyala, menampilkan dua berita utama dari Kaliandra. Keduanya tampak tak berhubungan, namun Clarissa tahu ada benang merah yang menjahit erat keduanya.Berita pertama adalah laporan tentang kecelakaan mobil yang menimpa Alana Ravenshade. Judul besar berbunyi tegas,“Pengorbanan Seorang Suami: Brian Selamatkan Istrinya dari Maut.” Foto-foto dramatis menghiasi halaman. Salah satunya menampilkan mobil yang ringsek di tepi jalan, dengan api masih menjilat kap mesin. Dalam foto lain, tubuh Brian tampak ditopang oleh paramedis, wajahnya dipenuhi darah, tetapi tangannya tetap menggenggam erat tangan Alana.Clarissa menarik napas panjang, menelusuri ulang berita it

  • Jiwa Kekasihku di Tubuh Suamiku   Bab 120. Drag You To Hell

    “Bukan hanya itu,” kata Brian, suaranya datar tapi tegas, matanya tak beranjak dari grafik yang terus merosot. “Dia mempertaruhkan reputasinya. Dan sekarang… dia kehilangan semuanya. Apalagi dia melakukannya dengan dana perusahaan. Itu tidak akan pernah dimaafkan.”Alana menatapnya, ada rasa lega sekaligus ketegangan baru. Mereka tahu pukulan ini bukan sekadar soal uang. Reputasi Leo di mata keluarganya, di mata ayah mereka, telah hancur berantakan.Di kantor Leo, telepon meja berdering lagi. Nada yang menusuk, berulang-ulang, seakan menjadi pukulan tambahan ke dadanya yang sudah penuh sesak. Dia melirik ID penelepon.Darahnya langsung terasa membeku. EDGAR RAVENSHADE.Jari-jarinya gemetar saat ia mengangkat gagang telepon. Ia bahkan tak sempat membuka mulut ketika suara itu datang, datar, berat, dingin.“Ke ruanganku. Sepuluh menit lagi.”Klik. Sambungan terputus. Tak ada teriakan. Tak ada amarah yang meledak-ledak. Tapi bagi Leo, itu jauh lebih buruk.Ia berdiri terpaku di ruangann

  • Jiwa Kekasihku di Tubuh Suamiku   Bab 119. Terjun Bebas

    Keesokan paginya, langit masih kelabu di atas kota, seolah enggan memberi cahaya.Di penthouse, Alana dan “Brian” sudah terjaga sejak lama. Tidak ada tidur yang bisa meredakan adrenalin malam sebelumnya. Mereka duduk di ruang tengah yang remang-remang, lampu gantung sengaja tidak dinyalakan.Satu-satunya cahaya berasal dari layar laptop di meja, menampilkan angka hitung mundur, 00:14:32, kurang dari lima belas menit waktu tersisa sebelum pasar Tokyo dibuka.Alana menggenggam cangkir kopi yang sudah dingin, matanya terpaku pada angka-angka yang terus berkurang. “Aku deg-degan banget, kayak lagi ada di pinggir jurang,” gumamnya pelan.“Brian” hanya mengangguk, rahangnya tegang. “Ya, Sekarang tinggal lihat siapa yang jatuh lebih dulu.”Suara ping terdengar. Layar menyala, menampilkan wajah Rayhan yang bergabung lewat panggilan video. Berbeda dengan keduanya, ekspresinya tetap tenang, seolah ini hanya rutinitas pagi biasa.“Siaran pers sudah dikirim ke semua media finansial utama di Asia

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status