เข้าสู่ระบบSejak perayaan 40 hari yang megah itu usai, atmosfer di kediaman Adrian berubah menjadi ganjil. Yasmina, yang biasanya penuh kelembutan, memilih untuk menarik diri. Ia menghindari interaksi yang tidak perlu dengan suaminya.Bukan karena benci, melainkan karena rasa jengkel yang membuncah akibat pertanyaan-pertanyaan absurd Adrian yang meragukan kesetiaannya. Yasmina memilih diam sebagai bentuk protes bisu; ia membiarkan Adrian tenggelam dalam labirin kecurigaan dan ketidakpercayaannya sendiri.Meski begitu, pengabdiannya sebagai istri tidak luntur. Setiap pagi, sebelum matahari benar-benar naik, Yasmina sudah berada di dapur, meracik bumbu dan memasak sarapan kesukaan Adrian dengan tangannya sendiri. Ia menyiapkan pakaian, memastikan vitamin suaminya tersedia, namun semua dilakukan tanpa sepatah kata pun.Adrian sendiri, yang terjebak dalam mode "Beruang Kutub", seolah tidak menyadari perubahan sikap istrinya. Baginya, keheningan Jasmine adalah ruang yang ia butuhkan untuk terus membe
Malam itu terasa lebih dingin dari biasanya bagi Adrian. Di luar, suara jangkrik bersahutan di balik rimbunnya taman mansion, namun di dalam kepalanya, suara-suara keraguan jauh lebih bising. Besok adalah acara 40 hari kelahiran si kembar; sebuah tonggak sejarah keluarga yang seharusnya ia rayakan dengan suka cita. Namun, bagi Adrian yang ingatannya terputus, acara ini terasa seperti panggung sandiwara di mana ia dipaksa memerankan tokoh utama yang tidak hapal naskahnya. Meskipun logika dan arsip dari Leon terus membentur dinding keraguan di kepalanya, Adrian tetap memilih untuk patuh pada pengaturan Papi Surya dan Mami Rahel. Ia mencoba menerima status Jasmine sebagai istrinya dan bayi kembar itu sebagai darah dagingnya, meski hatinya masih terasa seperti tanah kering yang merindukan hujan kebenaran. Puzzle yang ia susun semakin membingungkan. Kemarin, saat ia meminta maaf atas luka di bahu Jasmine, wanita itu hanya tersenyum teduh."Aku sudah memaafkanmu, karena memang tidak ada ya
Pagi itu, kabut tipis masih menyelimuti area perkebunan di sekitar mansion keluarga Laksmana. Leon tiba dengan langkah terburu-buru, sebuah tablet di tangan kirinya dan Rian yang dibelakangnya membawa kardus betuliskan rahasia mengikuti di belakang. Wajahnya tampak kuyu; lingkaran hitam di bawah matanya adalah bukti nyata ia tidak tidur demi menyusun kepingan hidup tuannya yang hilang.Sebelum memasuki sayap bangunan tempat Adrian tinggal, Leon berpapasan dengan Mami Rahel yang sedang mengajak si kembar berjalan-jalan menghirup udara pagi bersama Clara."Selamat pagi, Nyonya Besar. Halo, duo Tuan Kecil," sapa Leon, mencoba ramah meski energinya terkuras habis.Zayn dan Zayden hanya mengerjap, menatap Leon dengan mata bulat mereka yang jernih."Kau terlihat mengerikan!" ketus Clara tanpa basa-basi saat Leon mendekat."Urus saja urusanmu sendiri, Clara," balas Leon tak kalah sengit.Di mata Leon, Clara adalah definisi wanita paling kasar dan kaku yang pernah ia temui. Meskipun, dalam ha
Gema takbir dan untaian doa yang baru saja dipanjatkan Adrian membawa ketenangan yang asing namun menyejukkan. Pikiran yang tadinya keruh oleh kabut hasrat dan kecurigaan, kini mulai menjernih. Di atas sajadah, dalam keheningan malam yang pekat, Adrian mencoba menyusun kepingan teka-teki hidupnya selama dua tahun yang terhapus. Logikanya mulai bekerja dengan waras. Ia mengamati setiap detail perlakuan Jasmine. Wanita itu memperlakukannya dengan pengabdian yang tulus; tidak ada nada kepalsuan dalam setiap pelayanannya. Jasmine tetap lembut meski ia bersikap sedingin es; ia tetap tersenyum meski Adrian terus melontarkan keraguan dan kata-kata yang menyakitkan. Ketabahan itu mengingatkannya pada sosok Mami Rahel. Mengingat ibunya, rasa bersalah tiba-tiba menyusup ke ulu hati Adrian. Pertanyaannya di meja makan tadi bukan hanya kasar, tapi juga melukai harga diri keluarganya. Tanpa membuang waktu, Adrian melangkah keluar kamar, menuju lantai bawah tempat kamar utama orang tuanya berada
Dunia Azmy seolah terbelah menjadi dua. Di satu sisi, ada kenyataan fisik yang ia lihat: seorang wanita bernama Jasmine yang diakui semua orang sebagai istrinya. Di sisi lain, ada sebuah nama di ponselnya; Yasmina, yang memicu rasa penasaran sekaligus kecurigaan yang membakar. Semakin ia memperhatikan Jasmine, semakin ia merasa asing dengan dirinya sendiri. Mengapa jantungnya berkhianat dengan berdegup kencang setiap kali wanita itu tersenyum, padahal logikanya meneriakkan penolakan? Sementara itu, di kamar sebelah yang dihubungkan oleh pintu rahasia, wanita yang disebut Jasmine itu, yang secara batin lebih mengenal dirinya sebagai Yasmina, sedang menjalankan rutinitasnya sebagai seorang ibu. Ia tidak tahu badai kecurigaan apa yang sedang berkecamuk di kepala suaminya. Yasmina sedang menyusui kedua malaikat kecilnya yang terbangun karena lapar. Zayn dan Zayden, dua bayi yang menjadi jangkar kewarasannya di tengah kemelut ini. Setelah keduanya kenyang dan tenang, Yasmina meletakkan me
Kegelapan itu tidak datang dengan tenang. Ia datang bersama denyut tajam yang menghantam dinding tengkorak Adrian setiap kali ia mencoba menggerakkan kelopak matanya. Sensasi nyeri itu merambat cepat ke perut, seolah-olah organ tubuhnya baru saja disusun ulang setelah sebuah benturan hebat. Adrian mengerang kecil. Bau antiseptik yang menyengat adalah hal pertama yang menyapa indranya, disusul oleh siluet putih plafon yang berpendar di bawah lampu neon. Di batas penglihatannya yang masih buram, ia menangkap sosok Papi Surya. Wajah pria tua itu tampak lebih renta dari yang Adrian ingat; ada kerutan kelelahan yang dalam dan sepasang mata yang memerah. Di sisi lain, terdengar suara ringisan lemah. Itu Leon. Saat pandangannya menyatu, Adrian menyadari ia berada di bangsal rumah sakit. Leon, asisten setianya, bersandar di brankar tepat di sebelah ranjangnya dengan selang infus yang juga menusuk punggung tangan. "Alhamdulillah, kamu sudah sadar, Nak," suara Papi Surya bergetar oleh kele







