Partager

Bab 2

Auteur: Bagel
Begitu pintu tertutup, suara ejekan Clara terdengar dari celah pintu. "Kamu nggak mengejar pacar bucinmu itu?"

Ronan menjawab dengan sinis, "Dia hanya cari perhatian. Kalau aku merendahkan diriku dengan mengejarnya, nanti apa pandangan orang tentangmu?"

"Dia nggak punya siapa-siapa di kota ini selain aku. Dia jauh lebih mudah kutenangkan daripada putri manja sepertimu."

Hatiku yang dulu menggebu-gebu untuknya kini hancur berkeping-keping. Kata-katanya seperti mengorek luka lama, setiap kalimatnya terasa semakin menyakitkan.

Embusan angin di jalan terasa dingin. Bercak anggur yang membasahi gaunku kini berubah menjadi noda lengket yang menempel di kulitku.

Aku naik taksi dan meringkuk di kursi belakang, tanpa sadar aku mengenang kembali kejadian yang terjadi enam tahun lalu.

Enam tahun lalu, tepatnya di klub elite itu, Ronan pernah bersumpah bahwa aku adalah satu-satunya wanita yang dia cintai.

Padahal butuh perjuangan untuk memenangkan hatiku.

Aku baru berusia 18 tahun saat itu, berusaha meninggalkan keluargaku yang sudah tidak harmonis dan hidup sendiri di kota asing.

Aku merasa tidak aman dan bersikap waspada setiap kali ada pria yang mendekatiku.

Ronan menembakku, tetapi aku sudah lima kali menolaknya.

Kali keenam berbeda. Aku baru saja pindah ke sebuah apartemen murah di selatan kota.

Daerah tersebut terkenal rawan tindak kriminal. Beberapa preman mengincarku, mengadangku di tangga untuk meminta uang, lalu meminta ponselku. Tidak lama setelah itu, mereka menatapku dengan tatapan mesum.

Saat itulah Ronan muncul.

Para preman itu mengeluarkan pisau. Ronan terluka demi melindungiku, luka sayatannya cukup panjang dari siku sampai pergelangan tangan.

Kemudian, di ruang IGD, sementara perawat mengobati lukanya, dia menatapku dengan mata memerah.

"Bisa nggak hentikan bersikap keras kepala dan izinkan seseorang melindungimu?"

"Bagaimana kalau aku saja?"

Aku mengaku, saat itu hatiku luluh.

Pada saat itu, aku pikir telah menemukan pria yang bisa kuandalkan.

Dia menembakku malam itu juga, caranya sederhana dan tidak basa-basi, aku suka.

Setelah aku mengangguk, pria yang terkenal kejam ini langsung memelukku dengan erat, begitu bersemangat hingga hampir membuat kami berdua jatuh.

Saat itu, karena pelukannya, aku tidak merasa takut.

Bulan purnama bersinar terang pada malam itu. Janji cinta dan kesetiaannya memberiku keberanian yang kubutuhkan dan menjadi sumber pengharapanku.

Namun sekarang … aku mentertawakan kebodohanku sendiri.

Taksi berhenti tepat di depan gedung apartemenku. Kenangan indah yang kontras dengan kenyataan pahit membuat hatiku terguncang.

Aku naik ke atas, menyalakan laptop, dan membuka draft surat pengunduran tinggi yang belum kusentuh beberapa hari ini.

Aku mengarahkan kursor ke tombol "kirim". Aku pun menarik napas dalam-dalam lalu menekan tombol itu.

Memutus hubungan dengan masa lalu ternyata semudah ini, hanya dengan menekan beberapa tombol.

'Lihat 'kan, Ronan? Nggak semudah itu kamu meluluhkan hatiku kembali.'

'Tapi mulai sekarang nggak perlu repot-repot mengambil hatiku lagi.'

'Jadwal penerbanganku minggu depan, waktuku tidak lama di kota ini.'

Sesampainya di apartemen, aku mandi dan membersihkan bekas tumpahan anggur merah, lalu mulai mengemasi barang.

Barangku memang sejak awal tidak banyak, semua barangku muat di dalam dua koper.

Pukul dua pagi, ketika aku sudah menutup koper terakhir dan bersiap pergi ke hotel, pintu depan terbuka.

Ronan masuk, memapah Clara yang mabuk berat. Clara bersandar di bahu Ronan sambil bergumam ingin makan buah.

"Ronan, aku mau makan salah satu buah di piring itu, potong buahnya jadi bentuk kelinci kecil."

Ronan menurunkan Clara di sofa, lalu menghadap ke arahku, berkata dengan nada datar, "Aurora, potongkan satu buah untuk Clara."

Aku tertegun.

Pria itu lupa.

Waktu dulu kami baru pacaran, Ronan pulang dari pesta dan muntah-muntah di kamar mandi.

Karena khawatir, aku bangun di tengah malam dan mengupaskan apel untuknya, tanpa sengaja jariku tergores pisau.

Ronan buru-buru keluar dari kamar mandi dan melihat apa yang terjadi padaku. Wajahnya langsung pucat, mabuknya lenyap seketika.

Dia menekan lukaku untuk menghentikan pendarahannya, meminta maaf berulang kali dengan suara bergetar. Keesokan harinya, Ronan menyimpan semua pisau, alat kupas, dan dua buah gunting di tempat penyimpanan di dapur.

Dia mencium jariku dan bersumpah bahwa mulai sekarang, dialah yang akan memotong buah di rumah kami, aku dilarang menggunakan pisau lagi.

Sekian tahun ini, aku memang sama sekali tidak menggunakan pisau lagi. Bahkan sekarang di samping piring makanku, ada pisau mentega perak buatan khusus yang pernah Ronan belikan untukku.

Yang paling konyol, plakat kayu kecil yang Ronan buat sendiri masih tergantung di pintu dapur, dengan tulisan:

[Aurora dilarang masuk dapur]

Aku melepas plakat itu dari pintu dan membuangnya ke tong sampah.

Dan sekarang, dia menyuruhku memotong buah untuk wanita lain.

Sumpah yang paling konyol di dunia.

"Kalau mau buah, potong sendiri," jawabku, ekspresiku datar. Aku menutup koperku, menarik gagang koper, lalu berjalan ke pintu.

"Aku pergi."

Baru kemudian Ronan memperhatikan kedua koperku, wajahnya langsung muram. Hanya dengan beberapa langkah, pria itu sudah menghalangi pintu.

"Sudahlah, Aurora, cukup. Aku sudah mengerti maksudmu. Kamu benaran mau pergi? Sudah kubilang, ini cuma permainan biasa."

Pria itu meraih pergelangan tanganku, mencengkeram dengan erat, dan menahanku di pintu.

Napasnya yang berbau alkohol berembus di telingaku, dengan sikap posesif yang biasa dia gunakan untuk mengendalikanku.

"Aurora, berhentilah bersikap kekanak-kanakan." Pria itu masih mengira bahwa aku marah karena kejadian tadi malam.

"Aku tahu kamu ingin menikah, aku juga ingin. Tahun depan. Kita menikah tahun depan, oke?"

Aku menatapnya. Di matanya yang masih berharap hatiku melunak, aku melihat bayangan diriku selama enam tahun ini.

Aku mengangkat tangan dan menampar wajahnya.

"Ronan, bukankah sudah kujelaskan? Kita putus, dan aku nggak mau menikah denganmu!"

Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application

Dernier chapitre

  • Jujur atau Tantangan: Aku Pilih Pergi   Bab 9

    Aku masih tidak suka memasak, tetapi ada toko sandwich di bawah gedung kantor yang sangat kusukai.Aku masih takut tidur sendirian, tetapi apartemen baruku memiliki sistem keamanan tercanggih.Perusahaan bahkan mengadakan kelas bela diri saat ada kegiatan tim setiap bulan untuk mengajari kami cara menghadapi bahaya.Dan begitulah, semua rasa tidak aman yang dulu kupikir hanya bisa diatasi oleh sebuah hubungan, perlahan-lahan menghilang satu per satu di kota baru dan kehidupan yang baru.Seandainya aku punya keberanian untuk meninggalkan Ronan lebih cepat, mungkin kehidupan tenang seperti ini sudah menjadi milikku sejak dulu.Beberapa bulan kemudian, saat libur panjang, beberapa rekan kerja yang cukup dekat denganku melihat aku selalu mengurung diri di kamar untuk belajar, akhirnya mereka memaksaku ikut jalan-jalan ke pantai.Saat aku hendak pergi hari itu, aku tidak sengaja bertemu Ronan.Dia baru saja keluar dari kedai kopi kecil di sudut jalan, tepat di seberang gedung kantor kami.B

  • Jujur atau Tantangan: Aku Pilih Pergi   Bab 8

    Matanya mulai memerah."Aku nggak akan membiarkanmu pergi. Lebih baik aku mati daripada putus denganmu! Aurora, aku memang bajingan, tapi permainan itu sudah enam tahun yang lalu.""Aku benar-benar jatuh cinta padamu. Perasaanku padamu itu serius ….""Awal yang buruk bukan berarti kita nggak bisa memiliki akhir yang indah. Kamu sendiri yang pernah mengatakan itu kepadaku. Mungkin ini memang takdir. Mungkin sejak awal kita sudah ditakdirkan untuk saling menemukan, dengan cara apa pun."Aku menggelengkan kepala."Tapi aku nggak mau ditakdirkan dengan pria yang hanya bisa membohongiku, menghinaku, dan menyakitiku, apa kamu mengerti?"Ronan berdiri di sana, wajahnya tertegun, tanpa sadar air matanya mengalir.Selama kami bersama, aku tidak pernah melihatnya menangis.Orang bilang air mata seorang pria adalah kelemahan seorang wanita.Namun, melihatnya menangis, aku tidak merasakan apa-apa.Mungkin karena air mata buaya pada dasarnya memang palsu.Air mata seorang pria seperti dia, seseoran

  • Jujur atau Tantangan: Aku Pilih Pergi   Bab 7

    Harapan kecil yang selama perjalanan masih dia pertahankan akhirnya pupus.Kaki Ronan mendadak lemas. Dia melorot di sepanjang dinding, nyaris ambruk ke lantai.Tangannya yang biasanya begitu kuat saat memegang senjata, kini gemetar saat bertumpu di dinding. Matanya memerah, pikirannya kacau balau."Itu ... itu nggak mungkin. Dia sama sekali nggak pernah bilang apa-apa. Apa kalian memaksanya mengajukan mutasi?"Atasan itu menggeleng pelan, dengan nada yang mengandung sedikit rasa iba."Nggak. Semua ini sudah diputuskan sejak seminggu yang lalu. Aku sempat berusaha membujuknya supaya tetap bekerja di sini. Awalnya dia memang masih ragu, tapi semalam dia menghubungiku dan mengatakan dia mantap mengundurkan diri, katanya dia sudah memesan penerbangan paling pagi.""Dia nggak memberitahumu? Sudah terlambat. Tadi malam, dia sudah menyelesaikan semua dokumen administrasinya. Hari ini kami sengaja meliburkan dia supaya bisa berkemas."Ronan akhirnya benar-benar mengerti. Ketika Aurora minta p

  • Jujur atau Tantangan: Aku Pilih Pergi   Bab 6

    Seketika itu juga, suasana menjadi hening.Wajah Ronan memucat."Keluar dari rumah sakit? Lelucon macam apa ini? Dia baru saja sadar. Dia nggak mungkin pergi sendiri. Kamu yakin nggak salah lihat?"Perawat itu mengernyitkan kening dan membolak-balik rekam medis di tangannya."Nggak salah. Namanya Aurora. Anda nggak tahu pacar Anda sudah keluar dari rumah sakit? Kalian berdua pasti bertengkar, nggak heran dia menangis seperti itu."Perawat itu menghela napas, menyelipkan rekam medis di bawah lengannya, lalu berbalik untuk pergi.Ronan masih terdiam di tempatnya.Baru kali ini kedua kakinya terasa selemas ini, seolah hampir tidak sanggup menopang tubuhnya. Keringat dingin membasahi telapak tangannya.Dengan tangan gemetar, dia mengeluarkan ponselnya dan menghubungi nomor Aurora.Ronan menghubunginya berkali-kali, tetapi tidak diangkat atau langsung masuk ke pesan suara.Menolak menyerah, dia merebut ponsel Clara dan mencoba menghubungi lagi, tetapi yang terdengar tetap suara operator.Sa

  • Jujur atau Tantangan: Aku Pilih Pergi   Bab 5

    Di rumah sakit yang hening, Ronan duduk di samping tempat tidur selama sepuluh menit lebih. Layar ponselnya masih gelap.Tiba-tiba dia teringat sempat mendengar suara langkah kaki dari ujung lorong.Ketika dia hendak menoleh, Clara lebih dulu menarik dan menahan tangannya.Seketika muncul firasat buruk dalam dirinya, ada perasaan bahwa segala sesuatunya mulai tidak terkendali, tetapi dia segera mengabaikan perasaan itu.Tidak mungkin.Mengingat sifat Aurora yang keras kepala dan blak-blakan, dia berpikir bahwa jika Aurora mendengar sesuatu, gadis itu pasti sudah langsung menghampiri dan marah padanya."Apa yang sedang kamu pikirkan? Pacar bucinmu masih belum kembali? Kalau dia masih menunjukkan sikap seperti itu kepadaku, aku bahkan nggak mau minta maaf sama sekali padanya."Clara melingkarkan tangannya di leher Ronan, nada suaranya terdengar tidak sabar.Alis Ronan berkedut. Untuk pertama kalinya, gerakan yang sudah dia kenal sepanjang hidupnya justru menimbulkan rasa jengkel di dalam

  • Jujur atau Tantangan: Aku Pilih Pergi   Bab 4

    Aku mendorongnya menjauh dengan sekuat tenaga.Tanganku secara refleks hendak menggaruk wajahku, tetapi sentuhan sekecil apa pun langsung membuat rasa sakit menjalar ke seluruh tubuhku."Uhuk … uhuk … wajahku .… Apa itu tadi …."Ronan bergegas keluar dari kamar tidur dan tertegun saat melihatku. Dia meraih pergelangan tangan Clara, suaranya terdengar emosi."Tadi kamu bilang cuma mau mengganti parfumnya! Kenapa wajahnya sampai muncul reaksi seperti ini?""Apa yang sebenarnya mau kamu lakukan?"Clara menarik tangannya dengan kasar, wajahnya memerah, dan bibirnya bergetar."Aku … aku nggak tahu! Aku hanya asal ambil botol!""Mana aku tahu akan terjadi reaksi seperti ini di kulitnya? Lagi pula, beberapa hari lalu kamu sendiri yang mengeluh bahwa kamu nggak suka dengan aroma parfumnya. Kamu yang memberiku izin!"Zat kimia yang keras itu membuat tubuhku bergetar dan kulitku perlahan kebas. Tenggorokanku membengkak dengan cepat, sehingga setiap napas yang kuhirup terasa seperti menelan silet

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status