Short
Tak Lagi Buta, Masa Depanmu yang Hancur

Tak Lagi Buta, Masa Depanmu yang Hancur

By:  HelinaCompleted
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel4goodnovel
9Chapters
2.3Kviews
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Hari ketika penglihatanku pulih, Jessica Andini sang dokter pribadi itu, melakukan gerak bibir di hadapanku kepada suamiku yang seorang bos besar mafia, "Pelumasnya aku kasih dua kali lipat malam ini, aku jamin bikin kamu merasa kayak di surga, Tuan Bos-ku sayang." Aldo mengecup mataku, tapi dia malah membalas dengan bahasa bibir yang sama, "Dasar nakal, mulut kamu sama yang di bawah sana, dua-duanya bikin aku gila karena cinta." Keduanya saling melempar senyum dan mengira aksi mereka benar-benar tidak bercelah. Mereka berdua tidak tahu kalau mataku tidak hanya sudah sembuh total, tetapi aku juga sangat ahli dalam membaca bahasa bibir. Aku menatap botol pelumas yang terpajang dengan santainya di dalam lemari dinding itu. Aku tidak membuat keributan, melainkan diam-diam mengirimkan sebuah pesan singkat, [Ayah, aku mutusin buat pulang ke rumah.] Tiga hari lagi, aku akan menghilang sepenuhnya. Yang tersisa bagi mereka hanya aset 200 triliun yang sudah dikuras habis serta sebotol "pelumas" yang sudah aku ganti dengan lem industri berkekuatan super.

View More

Chapter 1

Bab 1

Dada yang bidang itu hampir menempel ke wajah Aldo Antonio, sementara sebuah tangan meraba paha bagian dalam Aldo dengan gerakan menggoda yang nakal.

Aldo tidak menjauhkannya sama sekali.

Dia justru menyipitkan mata seolah menikmatinya, bahkan balik meremas pinggang Jessica dengan gemas.

Setelah itu, dia mengelus rambut panjangku dengan lembut, suaranya terdengar sangat penuh kasih sayang seperti biasanya, "Novi, tidur yang nyenyak ya. Ada berkas mendesak dari kantor yang harus segera aku urus, aku bakal sibuk sebentar di ruang kerja."

Lima tahun sudah dia terus bersandiwara di hadapanku.

Kalau saja penglihatanku tidak pulih, kalau saja aku tidak paham bahasa bibir.

Aku mungkin tidak akan pernah tahu kalau rasa cintanya yang begitu dalam sebenarnya sudah lama membusuk dan berulat.

Jessica berdiri di ujung tempat tidur dengan baju tidur renda yang transparan, persis seperti kado ulang tahun yang Aldo berikan untukku bulan lalu.

Dia sengaja menarik kerah baju tidurnya hingga memperlihatkan kulit putihnya yang mulus, lalu mengerling ke arah Aldo sambil berbisik tanpa suara, "Baju ini, kalau ibu yang pakai nggak bakal bisa seksi kayak gini."

Aldo meremas dadanya dan membalas tanpa suara, "Soalnya dia terbuat dari kayu, sedangkan kamu terbuat dari air."

Inilah sosok pria yang setelah aku buta, selalu dipuji oleh orang luar sebagai "suami sempurna".

Inilah pria yang sudah aku cintai selama 17 tahun, teman masa kecil yang tumbuh besar bersamaku.

Dia sudah lupa kalau dulu, saat dia tidak punya apa-apa karena pertikaian internal keluarganya, akulah yang mengerahkan seluruh sumber daya atas namaku untuk mendukungnya.

Dia sudah lupa, kalau demi bisa menikah dengannya, aku bahkan tidak segan bermusuhan dengan ayahku sendiri dan melepaskan status sebagai putri sulung keluarga mafia terbesar di Eropa.

Dia sudah lupa kalau selama bertahun-tahun ini, akulah yang menemaninya mempertaruhkan nyawa, membantunya hingga dia bisa mencapai posisi bos besar mafia seperti sekarang.

Aku bahkan kehilangan penglihatanku, karena menyelamatkannya dalam sebuah pertempuran saat musuhnya datang membalas dendam.

Saat itu Aldo berjanji, "Novi, mulai sekarang aku yang bakal jadi mata kamu. Aku bakal lindungi kamu seumur hidupku pakai nyawaku sendiri, nggak akan ada yang boleh sakitin kamu."

Namun kenyataannya, orang yang menyakitiku sekarang justru dirinya sendiri.

Rasa mual mendadak melonjak dari dalam perut hingga menyesakkan tenggorokan.

Aku pun mendadak mual dan ingin muntah, sementara air mata mulai mengalir membasahi wajahku.

Kemesraan mereka berdua seketika terhenti.

"Novi, apa matamu sakit lagi?"

Aldo langsung mendorong Jessica menjauh.

Hasrat di wajahnya hilang seketika, berganti dengan ekspresi penuh rasa khawatir dan kasih sayang.

Belum sempat aku membuka suara.

Jessica menyahut dengan suara yang terdengar sangat manis, "Ibu lagi lemas banget, jadi perlu istirahat total."

Aldo menyelimutiku dengan sangat hati-hati, lalu menatapku untuk terakhir kalinya.

"Aku pergi dulu ya. Dokter Jessica, tolong jaga istriku."

"Tenang aja, aku bakal 'jagain' dengan sangat baik kok."

Setelah Aldo pergi, Jessica mengganti perban mataku dengan asal-asalan dan melilitnya dengan sangat kencang sampai kulit kepalaku terasa mati rasa.

"Bu, mata Ibu ini sepertinya nggak akan pernah bisa sembuh selamanya."

Dia mengatakannya dengan nada mengejek, lalu membereskan barang-barangnya dan pergi.

Begitu pintu tertutup, ekspresi lemah di wajahku langsung menghilang tanpa bekas.

Bagus, bagus sekali.

Karena kalian sangat suka mencari sensasi, aku kasih kalian sebuah hadiah mewah yang tidak akan pernah kalian lupakan seumur hidup.

Aku meraba lemari dinding dengan lihai, lalu mengeluarkan botol pelumas khusus itu.

Jessica yang menaruh benda ini tiga bulan yang lalu.

Waktu itu aku masih buta, tapi jariku bisa merasakan huruf yang terukir di botolnya: Untuk rajaku.

Ironis sekali.

Aku membuka tutup botolnya, menuangkan seluruh isinya ke dalam toilet, lalu menggantinya dengan sesuatu yang sudah aku siapkan, lem perekat khusus untuk peredam senjata api milik internal mafia.

Hanya butuh beberapa detik untuk kering, daya rekatnya sangat luar biasa kuat, tidak akan mungkin bisa lepas kecuali jika dipotong.

Setelah selesai melakukan semuanya, tepat saat aku hendak berbaring kembali di tempat tidur, ponselku mendadak bergetar.

Aku segera mengambil ponsel itu dan memasukkan serangkaian kode rahasia.

Sebuah kotak dialog berwarna hitam langsung muncul di layar.

Ternyata ada pesan singkat dari Jonny, dia adalah konsultan Keluarga Antonio yang pernah aku selamatkan nyawanya. Dia sudah lama menjadi salah satu mata-mataku di Keluarga Antonio.

[Nona, proses pemindahan aset sudah mencapai ....]

Belum sempat aku selesai membacanya, tiba-tiba terdengar suara pintu yang terbuka.

Suara serak Aldo terdengar,

"Novi, kok kamu udah bangun?"

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

reviews

M--G
M--G
ide lem itu sungguh cemerlang ...
2026-05-24 11:30:50
0
0
9 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status