Share

Bab 3

Penulis: Bagel
Suara tamparanku menggema di ruangan.

Mendengar keributan ini, Clara langsung berdiri dari sofa. Dia berjalan menghampiriku dengan langkah sempoyongan dan, lalu menampar pipiku dengan punggung tangannya begitu keras hingga kepalaku terhempas ke samping.

"Memangnya kamu siapa? Beraninya kamu menampar Ronan seenaknya?"

"Bercermin dulu sana sebelum menghakimi orang lain."

Pipiku langsung panas. Aku mengangkat tangan hendak membalas tamparan Clara, tetapi Ronan meraih pergelangan tanganku dan mendorongku ke samping dengan kasar.

Punggung bagian bawahku menghantam gagang pintu. Rasa sakit yang tajam menjalar dari tulang belakang hingga ke ubun-ubun, aku menarik napas panjang untuk menahan nyeri.

Sedangkan Ronan, hal yang pertama dia lakukan adalah menarik Clara ke dalam pelukannya.

"Clara mabuk, ngapain kamu berkelahi dengannya?"

"Aurora, keluarlah dan tenangkan dirimu dulu." Ronan tidak menoleh sedikit pun ke arahku. Pria itu menepuk-nepuk punggung Clara dengan lembut. "Sudah mabuk kayak begini, masih saja mau jadi pahlawan."

Aku menatapnya, tampak tercengang.

Kulihat ekspresinya yang datar, seolah aku ini hanyalah orang asing yang tidak berarti apa-apa baginya, bahkan tidak layak mendapatkan perhatiannya setelah ditampar.

Clara menangis di dadanya, bahunya bergetar hebat.

Ronan berbisik padanya dengan suara lembut, seolah sedang membujuk anak kucing yang ketakutan.

Pria itu hanya menunjukkan kelembutannya pada Clara.

Sejak awal sampai sekarang, pria itu tidak pernah menanyakan apakah aku terluka atau tidak.

Aku berpegangan pada gagang pintu untuk berdiri, pinggang bagian bawahku terasa kebas.

Tanpa mengatakan apa-apa, aku ambil koper dan keluar seorang diri.

Dalam beberapa puluh detik saat lift turun ke lantai bawah, aku mulai keluar dari semua grup obrolan yang berisi teman-teman Ronan dan menghapusnya satu per satu.

Selain pesan-pesan lelucon yang tidak ada gunanya, sebagian besar isi grup dipenuhi rekan kerja yang bertanya kenapa aku belum masuk kerja, atau bergosip sambil menggodaku apakah aku sudah memakai cincin tunangan.

Dadaku terasa sakit seolah ada yang meremas jantungku, kesedihan menyelimuti hatiku.

Aku hanya mengirim satu pesan ke grup, [Kami sudah putus.] Aku tiba-tiba merasakan kelelahan luar biasa. Suara notifikasi ponselku terus berbunyi.

Sebagian orang di grup menganggap itu hanya lelucon sesudah pesta, sebagian orang lagi tidak percaya, bahkan mengira aku bersikap kekanak-kanakan karena belum menerima cincin lamaran dari Ronan.

Bagaimanapun juga, di mata orang lain, Ronan dikenal sebagai sosok pria yang tenang, elegan, dan mampu mengendalikan segala situasi, sosok yang tampak sempurna sebagai kekasih idaman.

Namun yang mereka tidak tahu, pria yang sama ini rela menyewa kapal pesiar demi mengadakan acara lamaran palsu, tetapi semua itu hanya untuk memuaskan kesenangan Clara saat menempelkan pistol Browning yang siap menembak ke pelipisku.

Pada hari ulang tahun jadian kami yang keempat, Ronan berlutut di hadapanku sambil memberikan cincin lamaran palsu yang telah disiapkan oleh Clara, cincin yang di dalamnya tersimpan sebilah pisau kecil, dan hampir memutus urat saraf jariku.

Ronan memang mampu mengatasi semua masalah, sayangnya orang yang dia lindungi bukanlah aku.

Dulu, aku selalu membohongi diriku sendiri, mengabaikan semua kejadian dan terus meyakinkan diri bahwa selama Clara tidak ikut campur, Ronan akan tetap bergairah dan baik padaku dalam hubungan kami.

Sekarang, saat pikiranku sudah jernih, barulah aku menyadari bahwa hubungan seperti ini, jika dilanjutkan sampai jenjang pernikahan, pernikahan kami tidak akan bertahan lama.

Aku tersenyum pahit, tetapi tanpa sadar jari-jariku sudah terbiasa membuka media sosial.

Clara mengunggah postingan baru.

Sembilan foto tersusun rapi dalam satu kolase. Di sebuah lapangan tembak bawah tanah, Clara mengenakan bodysuit hitam sambil memegang pistol. Ronan berdiri di belakangnya, tangannya menutupi tangan Clara, membantunya memperbaiki posisi menembak.

Foto berikutnya memperlihatkan mereka berada di sebuah permainan poker privat. Tumpukan token berserakan di atas meja, sementara Clara duduk di samping kaki Ronan sambil tersenyum tanpa beban.

Dengan keterangan di bawah foto. [Hari terbahagia sepanjang hidupku.]

Tempat-tempat itu adalah tempat yang pernah ingin kukunjungi.

Setiap kali aku mengatakannya, Ronan tersenyum sambil mengusap rambutku, mengatakan bahwa tempat-tempat itu terlalu kacau, tidak cocok untuk gadis sepertiku.

Pria itu mengatakan bahwa dia tidak ingin aku terpengaruh oleh lingkungan seperti itu.

Saat itu, aku mengira dia sedang melindungiku, menganggap itu adalah bagian unik dari kelembutannya, jadi aku menekan semua angan-angan kecilku tentang petualangan dan hal-hal mendebarkan bersama cinta pertamaku.

Baru sekarang, ketika melihat senyum liarnya yang santai di wajahnya dengan cerutu terselip di antara bibirnya, aku menyadari bahwa bukan karena aku yang tidak cocok.

Melainkan dia sudah memiliki wanita lain yang lebih cocok untuk menemaninya ke sana.

Kolom komentarnya dibanjiri dengan ucapan. [Kalian benar-benar pasangan yang serasi.]

Semua teman-temannya menyukai unggahan itu, jumlah orang yang menyukai unggahan itu bahkan lebih banyak dibandingkan unggahan saat pertama kali mengumumkan hubungan kami secara resmi.

Aku baru saja hendak mengunci layar ponsel ketika sebuah pesan baru muncul.

Pesan itu berasal dari Ronan.

[Jangan berpikir macam-macam. Aku hanya mengajak Clara keluar untuk menenangkan pikirannya. Kembalilah setelah emosimu mereda. Dia bilang ingin meminta maaf kepadamu secara langsung.]

Alisku mengernyit. Aku baru saja hendak mengetik, [Nggak perlu.]

Namun, notifikasi pengiriman sebuah paket muncul di bagian atas layar ponselku.

Alamat pengirimannya adalah apartemen kami.

Aku menatap deretan teks itu selama beberapa saat, memutuskan bahwa ada beberapa hal yang lebih baik dibicarakan secara langsung.

Lagi pula, aku juga harus mengembalikan kunci apartemennya.

Kami sudah bersama selama enam tahun. Berpisah dengan baik-baik akan menjadi pilihan yang lebih bermartabat bagi kami semua.

Aku mengganti pakaian, merapikan rambut, lalu naik taksi menuju ke sana.

Pintunya tidak terkunci.

Namun saat aku membuka pintu, cairan berbau kimia yang menyengat tersemprot ke wajahku, aromanya begitu menyengat hingga mataku langsung berair.

"Kejutan! Permainan belum selesai! Aku sudah nggak sabar ingin menghilangkan bau parfum murahan yang menempel di tubuhmu!"

Sebelum aku sempat membuka mata, Clara menyerangku.

Clara memegang botol semprot, mengarahkannya tepat ke wajahku, dengan senyum jahat yang tersungging di bibirnya.

Rasa sakit seperti terbakar mulai menyebar di kulitku, makin lama makin parah. Rasa itu bercampur dengan gatal yang menyengat dan menyiksa, seolah-olah jutaan semut beracun sedang menggerogoti tulang-tulangku.

Rasa sakitnya begitu menyiksa hingga terasa seperti kulit wajahku dikuliti hidup-hidup.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Jujur atau Tantangan: Aku Pilih Pergi   Bab 9

    Aku masih tidak suka memasak, tetapi ada toko sandwich di bawah gedung kantor yang sangat kusukai.Aku masih takut tidur sendirian, tetapi apartemen baruku memiliki sistem keamanan tercanggih.Perusahaan bahkan mengadakan kelas bela diri saat ada kegiatan tim setiap bulan untuk mengajari kami cara menghadapi bahaya.Dan begitulah, semua rasa tidak aman yang dulu kupikir hanya bisa diatasi oleh sebuah hubungan, perlahan-lahan menghilang satu per satu di kota baru dan kehidupan yang baru.Seandainya aku punya keberanian untuk meninggalkan Ronan lebih cepat, mungkin kehidupan tenang seperti ini sudah menjadi milikku sejak dulu.Beberapa bulan kemudian, saat libur panjang, beberapa rekan kerja yang cukup dekat denganku melihat aku selalu mengurung diri di kamar untuk belajar, akhirnya mereka memaksaku ikut jalan-jalan ke pantai.Saat aku hendak pergi hari itu, aku tidak sengaja bertemu Ronan.Dia baru saja keluar dari kedai kopi kecil di sudut jalan, tepat di seberang gedung kantor kami.B

  • Jujur atau Tantangan: Aku Pilih Pergi   Bab 8

    Matanya mulai memerah."Aku nggak akan membiarkanmu pergi. Lebih baik aku mati daripada putus denganmu! Aurora, aku memang bajingan, tapi permainan itu sudah enam tahun yang lalu.""Aku benar-benar jatuh cinta padamu. Perasaanku padamu itu serius ….""Awal yang buruk bukan berarti kita nggak bisa memiliki akhir yang indah. Kamu sendiri yang pernah mengatakan itu kepadaku. Mungkin ini memang takdir. Mungkin sejak awal kita sudah ditakdirkan untuk saling menemukan, dengan cara apa pun."Aku menggelengkan kepala."Tapi aku nggak mau ditakdirkan dengan pria yang hanya bisa membohongiku, menghinaku, dan menyakitiku, apa kamu mengerti?"Ronan berdiri di sana, wajahnya tertegun, tanpa sadar air matanya mengalir.Selama kami bersama, aku tidak pernah melihatnya menangis.Orang bilang air mata seorang pria adalah kelemahan seorang wanita.Namun, melihatnya menangis, aku tidak merasakan apa-apa.Mungkin karena air mata buaya pada dasarnya memang palsu.Air mata seorang pria seperti dia, seseoran

  • Jujur atau Tantangan: Aku Pilih Pergi   Bab 7

    Harapan kecil yang selama perjalanan masih dia pertahankan akhirnya pupus.Kaki Ronan mendadak lemas. Dia melorot di sepanjang dinding, nyaris ambruk ke lantai.Tangannya yang biasanya begitu kuat saat memegang senjata, kini gemetar saat bertumpu di dinding. Matanya memerah, pikirannya kacau balau."Itu ... itu nggak mungkin. Dia sama sekali nggak pernah bilang apa-apa. Apa kalian memaksanya mengajukan mutasi?"Atasan itu menggeleng pelan, dengan nada yang mengandung sedikit rasa iba."Nggak. Semua ini sudah diputuskan sejak seminggu yang lalu. Aku sempat berusaha membujuknya supaya tetap bekerja di sini. Awalnya dia memang masih ragu, tapi semalam dia menghubungiku dan mengatakan dia mantap mengundurkan diri, katanya dia sudah memesan penerbangan paling pagi.""Dia nggak memberitahumu? Sudah terlambat. Tadi malam, dia sudah menyelesaikan semua dokumen administrasinya. Hari ini kami sengaja meliburkan dia supaya bisa berkemas."Ronan akhirnya benar-benar mengerti. Ketika Aurora minta p

  • Jujur atau Tantangan: Aku Pilih Pergi   Bab 6

    Seketika itu juga, suasana menjadi hening.Wajah Ronan memucat."Keluar dari rumah sakit? Lelucon macam apa ini? Dia baru saja sadar. Dia nggak mungkin pergi sendiri. Kamu yakin nggak salah lihat?"Perawat itu mengernyitkan kening dan membolak-balik rekam medis di tangannya."Nggak salah. Namanya Aurora. Anda nggak tahu pacar Anda sudah keluar dari rumah sakit? Kalian berdua pasti bertengkar, nggak heran dia menangis seperti itu."Perawat itu menghela napas, menyelipkan rekam medis di bawah lengannya, lalu berbalik untuk pergi.Ronan masih terdiam di tempatnya.Baru kali ini kedua kakinya terasa selemas ini, seolah hampir tidak sanggup menopang tubuhnya. Keringat dingin membasahi telapak tangannya.Dengan tangan gemetar, dia mengeluarkan ponselnya dan menghubungi nomor Aurora.Ronan menghubunginya berkali-kali, tetapi tidak diangkat atau langsung masuk ke pesan suara.Menolak menyerah, dia merebut ponsel Clara dan mencoba menghubungi lagi, tetapi yang terdengar tetap suara operator.Sa

  • Jujur atau Tantangan: Aku Pilih Pergi   Bab 5

    Di rumah sakit yang hening, Ronan duduk di samping tempat tidur selama sepuluh menit lebih. Layar ponselnya masih gelap.Tiba-tiba dia teringat sempat mendengar suara langkah kaki dari ujung lorong.Ketika dia hendak menoleh, Clara lebih dulu menarik dan menahan tangannya.Seketika muncul firasat buruk dalam dirinya, ada perasaan bahwa segala sesuatunya mulai tidak terkendali, tetapi dia segera mengabaikan perasaan itu.Tidak mungkin.Mengingat sifat Aurora yang keras kepala dan blak-blakan, dia berpikir bahwa jika Aurora mendengar sesuatu, gadis itu pasti sudah langsung menghampiri dan marah padanya."Apa yang sedang kamu pikirkan? Pacar bucinmu masih belum kembali? Kalau dia masih menunjukkan sikap seperti itu kepadaku, aku bahkan nggak mau minta maaf sama sekali padanya."Clara melingkarkan tangannya di leher Ronan, nada suaranya terdengar tidak sabar.Alis Ronan berkedut. Untuk pertama kalinya, gerakan yang sudah dia kenal sepanjang hidupnya justru menimbulkan rasa jengkel di dalam

  • Jujur atau Tantangan: Aku Pilih Pergi   Bab 4

    Aku mendorongnya menjauh dengan sekuat tenaga.Tanganku secara refleks hendak menggaruk wajahku, tetapi sentuhan sekecil apa pun langsung membuat rasa sakit menjalar ke seluruh tubuhku."Uhuk … uhuk … wajahku .… Apa itu tadi …."Ronan bergegas keluar dari kamar tidur dan tertegun saat melihatku. Dia meraih pergelangan tangan Clara, suaranya terdengar emosi."Tadi kamu bilang cuma mau mengganti parfumnya! Kenapa wajahnya sampai muncul reaksi seperti ini?""Apa yang sebenarnya mau kamu lakukan?"Clara menarik tangannya dengan kasar, wajahnya memerah, dan bibirnya bergetar."Aku … aku nggak tahu! Aku hanya asal ambil botol!""Mana aku tahu akan terjadi reaksi seperti ini di kulitnya? Lagi pula, beberapa hari lalu kamu sendiri yang mengeluh bahwa kamu nggak suka dengan aroma parfumnya. Kamu yang memberiku izin!"Zat kimia yang keras itu membuat tubuhku bergetar dan kulitku perlahan kebas. Tenggorokanku membengkak dengan cepat, sehingga setiap napas yang kuhirup terasa seperti menelan silet

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status