Home / Horor / KAIN PENGLARIS / Bab 6 — Bayangan di Balik Cermin

Share

Bab 6 — Bayangan di Balik Cermin

last update Last Updated: 2025-11-08 21:50:16

Malam itu hujan turun deras. Suara gemericiknya seperti bisikan ribuan mulut yang berbicara di luar jendela. Diah duduk di sudut kamar, membungkus dirinya dengan selimut, menatap cermin yang disandarkan di tembok. Cermin itu sudah retak sejak kejadian beberapa hari lalu, tapi ia tak berani membuangnya. Setiap kali mencoba mengangkatnya, cermin itu terasa berat—seolah menolak untuk dipindahkan.

Matanya sembab karena kurang tidur. Setiap kali memejamkan mata, wajah perempuan dari kain merah itu muncul di pikirannya. Senyumnya, matanya yang kosong, dan rambut panjang yang menjuntai seperti akar pohon kering.

Kini, bayangan itu tak hanya muncul di dalam mimpi. Kadang ia melihatnya di pantulan sendok, di kaca etalase warung, bahkan di genangan air hujan di depan rumah.

“Kenapa kau terus mengikutiku?” tanya Diah lirih.

Tak ada jawaban. Hanya bunyi petir yang membelah langit, disusul oleh bau melati yang semakin menyengat.

Namun saat Diah menatap cermin itu lagi, bayangannya tidak mengikuti gerak tubuhnya. Cermin itu menampakkan sesuatu yang berbeda—bayangan dirinya yang sedang tersenyum licik, padahal ia tidak sedang tersenyum.

Jantung Diah berdegup kencang. Ia perlahan mendekat, lututnya gemetar.

“Siapa kau?” bisiknya.

Bayangan itu menatapnya lurus. Bibirnya bergerak, membentuk kata-kata tanpa suara. Tapi Diah bisa mendengarnya jelas di kepalanya.

“Aku adalah kamu. Dan kamu adalah aku.”

Lalu tiba-tiba, tangan dari dalam cermin muncul—mendorong permukaannya seperti air. Diah menjerit dan mundur, tapi tangan itu memegang pergelangan tangannya erat. Dingin, licin, dan berdenyut seperti daging hidup.

“Lepas! Lepas aku!” teriak Diah sambil menarik tangannya.

Namun bayangan itu menarik lebih kuat, mencoba menariknya masuk. Dari permukaan cermin yang bergelombang, wajah perempuan dari kain merah muncul perlahan. Matanya hitam seluruhnya, tanpa bola mata, dan mulutnya berlumur darah.

“Tubuhmu sudah cukup hangat, Diah. Izinkan aku keluar…”

Cermin itu berguncang keras, retakannya menyebar seperti jaring laba-laba. Diah menjerit, lalu menendang kaca itu sekuat tenaga. Cermin pecah berkeping, tapi dari setiap serpihan muncul mata-mata kecil yang menatapnya.

Darah menetes dari tangan Diah yang terluka. Ia menatapnya ngeri. Namun anehnya, darah itu tidak jatuh ke lantai—melainkan mengalir ke arah serpihan kaca, terserap oleh pantulan bayangan perempuan itu.

Perlahan, potongan-potongan kaca menyatu kembali, membentuk wajah utuh si perempuan dari kain merah. Kali ini ia tak hanya muncul dalam pantulan—ia melangkah keluar dari permukaan cermin.

Udara di kamar mendadak dingin. Lampu berkelap-kelip, lalu padam total. Dalam kegelapan, hanya cahaya merah samar dari kain penglaris di luar kamar yang terlihat menembus celah pintu.

“Kenapa kau tak mau pergi?” tanya Diah dengan suara gemetar.

Perempuan itu mendekat perlahan.

“Karena aku tak bisa. Aku adalah bagian dari perjanjian yang dibuat dengan darah. Darahmu.”

“Tapi aku tidak pernah membuat perjanjian itu!”

“Tapi tubuhmu menerimanya, Diah. Ketika kau menumpahkan darah di atas kain itu malam pertama… saat itulah kau memanggilku.”

Air mata Diah jatuh. Ia berlutut, menatap makhluk itu dengan putus asa.

“Aku tidak ingin ini. Aku tidak ingin hidup seperti ini.”

Perempuan itu berjongkok di depannya, menatap dalam.

“Semua orang yang meminta rezeki lewat jalan ini akan membayar. Kau, Bu Rini, dan orang-orang sebelumnya. Bedanya, aku memilihmu bukan untuk mati… tapi untuk hidup bersamamu.”

Tiba-tiba pintu kamar terbuka keras. Bu Rini berdiri di ambang pintu dengan wajah panik. “Diah! Jangan biarkan dia keluar dari cermin!” teriaknya.

Namun sudah terlambat. Sosok itu sepenuhnya telah keluar. Kini ia berdiri di tengah kamar, menatap Bu Rini dengan senyum tajam.

“Rini…” suaranya serak tapi jelas. “Sudah lama sekali, ya?”

Bu Rini mundur, wajahnya pucat pasi. “Kau seharusnya tidak bisa keluar! Aku sudah memenuhi janjiku!”

“Memenuhi?” tawa makhluk itu mengerikan. “Kau menipuku! Kau berjanji akan memberiku tubuh baru setiap tujuh tahun. Tapi kau menahanku di kain itu terlalu lama!”

Diah menatap dua perempuan itu bergantian, kebingungan. “Apa maksudnya, Bu?”

Bu Rini tidak menjawab. Ia meraih sesuatu dari saku bajunya—seikat rambut manusia yang diikat dengan benang merah—dan melemparkannya ke arah makhluk itu sambil membaca mantra.

Namun makhluk itu hanya tertawa. “Mantramu sudah tak berguna, Rini. Kau terlalu banyak berdosa.”

Dengan satu gerakan, ia melambai, dan tubuh Bu Rini terpental ke belakang, membentur dinding keras.

Darah keluar dari bibirnya, tapi ia masih berusaha bicara. “Diah… lari… jangan biarkan dia ambil alih tubuhmu…”

Tapi Diah tak bisa bergerak. Tubuhnya kaku, dan dari balik punggungnya muncul bayangan hitam yang menjalar naik ke kepala.

Perempuan itu—roh dari kain penglaris—berdiri di belakangnya, lalu berbisik di telinga.

“Jangan takut, Diah. Kalau kau menyerah, rasa sakitnya akan hilang. Aku akan hidup di tubuhmu, dan kau akan tidur selamanya.”

Diah berusaha berontak, tapi tubuhnya menolak. Dalam benaknya, suara-suara asing mulai masuk. Ia melihat potongan kenangan yang bukan miliknya—perempuan muda dijual oleh keluarganya, dikorbankan dalam ritual, dibungkus dengan kain merah, lalu disimpan di altar.

Teriakan perempuan itu menggema di dalam pikirannya.

“Aku tidak mau mati! Aku hanya ingin diingat!”

Tiba-tiba, Diah menjerit sekeras-kerasnya. Cahaya merah dari kain di ruang depan meledak seperti api. Bayangan hitam di tubuhnya lenyap sekejap, dan roh perempuan itu terdorong mundur.

Bu Rini, yang masih setengah sadar, menatapnya lemah. “Diah… satu-satunya cara mengusirnya… bakar kain itu…”

Diah menatap kain merah di luar kamar yang kini berkibar liar, seolah hidup. Ia tahu, itu satu-satunya jalan—tapi juga berarti akhir dari segalanya.

Ia berdiri, menggenggam sumbu minyak dari meja altar, lalu berjalan dengan langkah gemetar ke arah kain itu. Perempuan dari cermin menjerit marah, tubuhnya mulai memudar.

“Berhenti! Kalau kau bakar itu, kau juga akan mati, Diah! Aku dan kau sudah satu!”

Diah menatapnya dengan air mata berlinang.

“Mungkin memang begitu seharusnya,” katanya pelan. “Lebih baik mati jadi manusia… daripada hidup sebagai iblis.”

Ia menyalakan api.

Kain merah itu terbakar cepat, menyala terang, mengeluarkan bau anyir menyengat. Suara jeritan menggema di seluruh rumah—suara perempuan, suara Bu Rini, dan suara Diah sendiri, bercampur menjadi satu.

Dan malam itu, warung Bu Rini terbakar habis. Tak ada yang tahu pasti apa yang terjadi di dalamnya. Tapi warga kampung bersumpah, setiap kali melewati reruntuhan warung itu di malam hari, mereka masih bisa mencium bau melati dan mendengar bisikan lembut seorang perempuan berkata:

“Tubuhmu hangat sekali, Diah…”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • KAIN PENGLARIS    BAB 50 — Kembali pada Pemiliknya

    Rumah bergetar semakin hebat, seperti hendak runtuh dari dalam. Aku dan Gibran berusaha bangkit, namun sosok hitam itu sudah mengisi hampir seluruh ruang tamu. Udara dingin dan berat, seperti menekan dada dari segala arah.Gibran meraih tanganku. “Alya! Tetap sadar! Jangan biarkan dia menguasamu!”Tapi suaranya terdengar jauh—sangat jauh.Karena sosok itu sekarang tepat di hadapanku.Ia mengangkat wajah gelapnya, dan dari balik kabut hitam yang berputar, wajah perempuan itu muncul semakin jelas. Bekas luka bakar, kulit mengelupas, mata yang tak lagi berbentuk. Meski rusak, aku mengenalinya.Itu adalah wajah perempuan yang dulu—bertahun-tahun lalu—aku lihat di sebuah warung kecil di pasar tua. Wajah yang dulu terlihat murung… dan hilang beberapa minggu setelahnya."Alya…" suara sosok itu menggema dalam kepalaku, bukan di telinga.Kata-katanya menusuk seperti jarum es.“KAU MENGAMBIL TEMPATKU…”Aku mencoba mundur, tapi tidak bisa. Kakiku seperti terpaku oleh bayangan gelapnya.“Aku… aku

  • KAIN PENGLARIS    BAB 49 — Rumah yang Tidak Lagi Berpihak

    Gelap menelan seluruh ruang, begitu pekat sampai aku tidak bisa melihat telapak tanganku sendiri. Hanya suara napas cepatku yang terdengar—dan napas Gibran yang berusaha tetap tenang meski aku bisa merasakan tubuhnya menegang.“Alya, tetap di belakangku,” bisik Gibran. Suaranya serak, nyaris tak terdengar.Aku mengangguk meski ia tidak bisa melihat.Di tengah kegelapan itu, langkah kaki berat yang tadi terdengar kini menjadi lebih jelas. Tidak cepat. Tidak terburu-buru. Justru lambat… dan seolah menikmati setiap detik ketika mendekati kami.DUG…DUG…DUG…Setiap hentakan membuat lantai bergetar halus, seperti ada sesuatu yang jauh lebih besar daripada manusia yang melangkah di atasnya.Gibran meraih senter ponselnya. Baru saja ia menyalakannya—lampu itu langsung mati seperti dicabut paksa oleh sesuatu.Aku menahan napas. “Gibran…”“Ssh…” Ia meraih tanganku, menggenggamnya erat. “Dia ingin kita takut. Jangan beri dia yang dia mau.”Tapi itu mustahil. Karena rasa dingin mulai merayap da

  • KAIN PENGLARIS    BAB 48 — Bayangan yang Tidak Ingin Pergi

    Malam sudah hampir bergeser menuju dini hari, tapi rumahku tidak terasa seperti rumah. Tidak ada kehangatan. Tidak ada rasa aman. Hanya ada keheningan tebal yang terasa seperti menempel di kulit, seolah udara pun takut bergerak.Aku duduk di sofa dengan tubuh yang masih bergetar. Tangisku sudah berhenti, tapi setiap kali mengingat tatapan suamiku barusan, jantungku kembali mencelos.Di sampingku, Gibran masih duduk dalam diam. Tidak memaksa bertanya, tidak menuntut penjelasan. Ia hanya berada di sana—dan entah mengapa, kehadirannya lebih menenangkan daripada kata-kata apa pun.Setelah cukup lama, ia akhirnya berbicara.“Alya… kalau kamu takut dia akan melakukan sesuatu, kamu boleh ikut aku pergi. Setidaknya untuk malam ini.”Aku menatapnya. Ada kekhawatiran tulus di matanya. Tapi di balik semua itu, ada sesuatu yang lain—ketidakpercayaan terhadap apa yang bisa dilakukan suamiku.“Aku nggak tahu,” jawabku pelan. “Aku belum siap meninggalkan rumah ini. Belum sekarang.”Gibran mengangguk

  • KAIN PENGLARIS    BAB 47 — Saat Dua Dunia Bertabrakan

    Langkah kaki itu mendekat—cepat, berat, dan penuh amarah yang sudah lama kukenal. Nafasku tersengal, seolah dada terlalu sempit untuk menampung semua kecemasan yang tiba-tiba meledak.Suamiku muncul dari balik pagar. Matanya langsung menyapu halaman, lalu tertancap ke arahku—dan seseorang di sampingku.Gibran.Aku melihat bagaimana ekspresi suamiku berubah dalam hitungan detik—dari bingung, menjadi curiga, lalu membara. Rahangnya mengeras. Tangan kanannya mengepal. Aku bisa menebak isi kepalanya bahkan sebelum ia membuka mulut.“Apa ini?” suaranya rendah, tapi jelas sedang menahan ledakan.Gibran hanya berdiri tegak, tidak mundur. Tidak mencari alasan. Tidak kabur. Ia memandang suamiku dengan tatapan netral, tapi tegas. Sementara aku—aku berdiri di tengah, seperti seseorang yang diikat di antara dua jurang yang sama-sama menganga.“Apa yang kamu lakukan di sini?” suamiku mendekat, suaranya mengeras. “Siapa kamu?”Gibran menelan ludah, kemudian menjawab dengan suara tenang yang justru

  • KAIN PENGLARIS    BAB 46 — Yang Tidak Pernah Kukira Akan Datang

    Rumah itu terasa terlalu hening malam ini. Bukan hening yang menenangkan, melainkan hening yang membuat dada terasa sesak, seperti seseorang menaruh batu besar di atas napasku. Lampu ruang tamu menyala redup, menorehkan bayangan panjang di lantai keramik yang dingin. Aku berdiri di ambang pintu kamar, memandangi isi rumah yang dulu begitu kukenali, dan kini terasa seperti tempat asing yang entah bagaimana masih harus kutinggali.Hari ini seharusnya biasa saja. Tapi hidup tidak pernah benar-benar memberi jeda pada orang-orang yang sudah terlalu lama bertahan dalam luka.Ponselku bergetar pelan di atas meja kecil. Nama yang muncul membuat jantungku berdetak sedikit lebih cepat—bukan karena cinta, bukan karena rindu, tapi karena campuran takut dan sesuatu yang tak bisa kuterjemahkan.Gibran.Pesan pendek muncul:“Alya… kamu baik-baik saja hari ini?”Pertanyaan sederhana, tapi entah mengapa menamparku lebih keras dari teriakan siapa pun. Karena suamiku sendiri tidak pernah menanyakan itu.

  • KAIN PENGLARIS    Bab 45 — Rumah Penenun Kematian

    Pintu rumah itu menganga seperti mulut raksasa yang siap menelan siapa pun yang masuk. Udara yang keluar dari dalamnya terasa dingin, lembap, dan berbau seperti tanah basah bercampur darah lama. Arini menutup hidungnya, berusaha tidak muntah.Aminah melangkah paling depan. “Jangan tertinggal. Jangan menyentuh apa pun yang tidak perlu. Dan apa pun yang terjadi… jangan menatap bayangan kalian sendiri.”Pak Jaya menelan ludah. “Bayangan?”Aminah tidak menjawab. Ia hanya masuk ke kegelapan rumah itu, membawa lampu minyak kecil yang baru dinyalakannya.Cahaya lampu itu tidak memantul.Seolah rumah itu menelan cahaya.Di Dalam Rumah GelapBegitu mereka masuk, pintu rumah tertutup dengan gedebuk keras, membuat Arini menjerit.Pak Jaya mencoba membuka pintu, namun pintu itu tidak bergerak sama sekali. Bahkan tidak bergoyang.“A-apa ini…? Bu Aminah… pintunya terkunci!”Aminah berdiri tegak, tanpa menoleh. “Memang begitu. Begitu kita masuk, rumah ini akan menentukan siapa yang boleh keluar.”Ar

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status