Beranda / Horor / KAIN PENGLARIS / Bab 5 — Tubuh yang Bukan Milikku

Share

Bab 5 — Tubuh yang Bukan Milikku

last update Terakhir Diperbarui: 2025-11-08 12:45:01

Sejak malam penyatuan itu, Diah tak pernah lagi bisa membedakan antara mimpi dan kenyataan. Saat ia membuka mata di pagi hari, kadang ia menemukan tubuhnya berada di dapur tanpa ingatan bagaimana ia bisa sampai di sana. Kadang tangannya berlumuran darah ayam segar, padahal warung belum buka.

Yang paling menakutkan, ia mulai mendengar suara langkahnya sendiri ketika ia tidak sedang berjalan.

Hari itu, matahari terasa redup meski sudah siang. Diah sedang membersihkan meja warung, sementara Bu Rini duduk di pojok sambil menatap kain merah yang tergantung di dinding. Setiap kali angin berhembus, kain itu bergerak lembut, seperti bernapas.

“Bu,” panggil Diah pelan. “Kain itu… kenapa Ibu gantung terus? Bukannya sebaiknya disimpan saja?”

Bu Rini menoleh, senyum tipis di wajahnya membuat Diah semakin tak nyaman.

“Kau tidak boleh sembarangan bicara soal kain itu,” katanya pelan. “Itu bukan sekadar kain. Itu jalan rezeki kita, Diah.”

“Tapi setiap kali aku melihatnya, kepalaku sakit. Seperti ada yang berbisik di telinga.”

“Itu tandanya dia masih belajar mengenalmu.”

“Belajar mengenalku?” Diah memegangi pelipisnya. “Tapi kenapa rasanya seperti… dia mencoba masuk lebih dalam?”

Bu Rini hanya tersenyum tanpa menjawab. Ia lalu menatap kain merah itu lama, seolah mendengar sesuatu yang tak bisa didengar manusia biasa. “Dia senang padamu,” katanya akhirnya. “Dia bilang tubuhmu cocok untuknya.”

Diah terdiam. Kata-kata itu membuat dadanya sesak. Ia menunduk, berusaha menenangkan diri. Tapi dalam hatinya, ada sesuatu yang berdenyut keras—suara lirih yang bukan miliknya sendiri.

“Kau tak perlu takut, Diah… Aku hanya ingin ikut hidup. Aku hanya ingin merasakan hangatnya tubuhmu…”

Diah terlonjak, hampir menjatuhkan lap di tangannya. Ia menatap sekeliling, tapi tidak ada siapa-siapa. Hanya suara ayam dari dapur, dan gemericik air di wastafel.

“Pergi! Jangan bicara lagi!” bisiknya dengan nada panik.

Tapi suara itu malah tertawa pelan. “Aku sudah di sini. Di bawah kulitmu. Di dalam napasmu. Kau pikir bisa mengusirku?”

Diah berlari ke kamar mandi, menatap cermin dengan napas memburu. Untuk pertama kalinya, ia melihat sesuatu yang tak masuk akal.

Bayangan di cermin bergerak terlambat. Saat ia mengangguk, bayangan itu masih diam. Saat ia menatap ke kiri, bayangan itu menatap ke kanan—dan tersenyum.

“Apa yang kau mau dariku?” tanya Diah lirih, air matanya menetes.

Bayangan itu menjawab dengan suara berat, bergema dari dalam cermin.

“Aku ingin tubuhmu. Aku ingin hidup lagi.”

Cermin itu tiba-tiba retak dari tengah, membentuk pola seperti urat darah. Diah menjerit, mundur ke belakang, tapi kakinya tersandung ember dan ia jatuh ke lantai. Dari celah retakan kaca, cairan merah pekat merembes keluar, menetes ke lantai, dan menguap perlahan.

Suara tawa perempuan menggema lembut, seperti bisikan dari dasar sumur.

Setelah kejadian itu, Diah semakin kehilangan kendali. Kadang ia terbangun dengan kuku-kuku kotor penuh tanah. Kadang, di bawah ranjangnya, ditemukan gumpalan rambut basah. Dan setiap kali ia mencoba tidur, mimpi yang sama datang—ia berdiri di tengah warung dengan darah menetes dari kain merah yang menggantung di atas kepala.

Dalam mimpi itu, suara perempuan dari kain itu memanggilnya.

“Diah… tubuhmu mulai cocok untukku. Hanya sedikit lagi. Jangan melawan.”

Diah terbangun dengan napas terengah, jantungnya berdetak kencang. Ia merasa kulitnya gatal, seperti ada sesuatu yang bergerak di bawahnya. Ketika ia menyalakan lampu, ia melihat urat-urat merah samar menyebar dari leher ke bahunya—berdenyut perlahan, seolah hidup.

Ketika pagi tiba, Bu Rini masuk ke kamarnya.

“Diah, kau pucat sekali,” ujarnya sambil membawa secangkir teh. “Kau tidak tidur?”

Diah hanya menggeleng lemah.

“Sudah kukatakan, kalau dia mulai mengambil bagian tubuhmu, jangan dilawan. Semakin kau melawan, semakin dia marah.”

“Kenapa Ibu lakukan ini padaku?” tanya Diah, matanya berkaca. “Kenapa aku yang dipilih?”

Bu Rini menatapnya lama, lalu berkata dengan suara datar, “Karena dulu, aku juga pernah seperti kamu.”

Diah terpaku.

“Aku juga pernah punya roh itu di dalam tubuhku,” lanjut Bu Rini. “Tapi dia tak cocok lagi denganku. Tubuhku sudah tua. Maka aku harus mencari pengganti… agar dia tetap tenang. Kalau tidak, dia akan menagih nyawaku.”

Diah mundur beberapa langkah, ketakutan. “Jadi aku hanya pengganti, begitu?”

Bu Rini menatapnya dengan senyum dingin. “Kau seharusnya bersyukur. Karena tidak semua orang dipilih oleh kain penglaris.”

Tiba-tiba kain merah di dinding bergerak sendiri, meski tidak ada angin. Suara kain yang bergesekan menimbulkan bunyi lirih, seperti bisikan. Diah menatapnya, matanya membesar.

Dari tengah kain, muncul noda merah baru—basah, segar, dan menetes ke lantai.

“Diah… waktumu hampir tiba…”

Darah itu terus menetes, membentuk jejak di lantai menuju kakinya. Diah gemetar.

Sementara Bu Rini hanya berdiri diam, menatap pemandangan itu dengan ekspresi tenang, seperti seseorang yang sudah tahu akhir cerita.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • KAIN PENGLARIS    BAB 50 — Kembali pada Pemiliknya

    Rumah bergetar semakin hebat, seperti hendak runtuh dari dalam. Aku dan Gibran berusaha bangkit, namun sosok hitam itu sudah mengisi hampir seluruh ruang tamu. Udara dingin dan berat, seperti menekan dada dari segala arah.Gibran meraih tanganku. “Alya! Tetap sadar! Jangan biarkan dia menguasamu!”Tapi suaranya terdengar jauh—sangat jauh.Karena sosok itu sekarang tepat di hadapanku.Ia mengangkat wajah gelapnya, dan dari balik kabut hitam yang berputar, wajah perempuan itu muncul semakin jelas. Bekas luka bakar, kulit mengelupas, mata yang tak lagi berbentuk. Meski rusak, aku mengenalinya.Itu adalah wajah perempuan yang dulu—bertahun-tahun lalu—aku lihat di sebuah warung kecil di pasar tua. Wajah yang dulu terlihat murung… dan hilang beberapa minggu setelahnya."Alya…" suara sosok itu menggema dalam kepalaku, bukan di telinga.Kata-katanya menusuk seperti jarum es.“KAU MENGAMBIL TEMPATKU…”Aku mencoba mundur, tapi tidak bisa. Kakiku seperti terpaku oleh bayangan gelapnya.“Aku… aku

  • KAIN PENGLARIS    BAB 49 — Rumah yang Tidak Lagi Berpihak

    Gelap menelan seluruh ruang, begitu pekat sampai aku tidak bisa melihat telapak tanganku sendiri. Hanya suara napas cepatku yang terdengar—dan napas Gibran yang berusaha tetap tenang meski aku bisa merasakan tubuhnya menegang.“Alya, tetap di belakangku,” bisik Gibran. Suaranya serak, nyaris tak terdengar.Aku mengangguk meski ia tidak bisa melihat.Di tengah kegelapan itu, langkah kaki berat yang tadi terdengar kini menjadi lebih jelas. Tidak cepat. Tidak terburu-buru. Justru lambat… dan seolah menikmati setiap detik ketika mendekati kami.DUG…DUG…DUG…Setiap hentakan membuat lantai bergetar halus, seperti ada sesuatu yang jauh lebih besar daripada manusia yang melangkah di atasnya.Gibran meraih senter ponselnya. Baru saja ia menyalakannya—lampu itu langsung mati seperti dicabut paksa oleh sesuatu.Aku menahan napas. “Gibran…”“Ssh…” Ia meraih tanganku, menggenggamnya erat. “Dia ingin kita takut. Jangan beri dia yang dia mau.”Tapi itu mustahil. Karena rasa dingin mulai merayap da

  • KAIN PENGLARIS    BAB 48 — Bayangan yang Tidak Ingin Pergi

    Malam sudah hampir bergeser menuju dini hari, tapi rumahku tidak terasa seperti rumah. Tidak ada kehangatan. Tidak ada rasa aman. Hanya ada keheningan tebal yang terasa seperti menempel di kulit, seolah udara pun takut bergerak.Aku duduk di sofa dengan tubuh yang masih bergetar. Tangisku sudah berhenti, tapi setiap kali mengingat tatapan suamiku barusan, jantungku kembali mencelos.Di sampingku, Gibran masih duduk dalam diam. Tidak memaksa bertanya, tidak menuntut penjelasan. Ia hanya berada di sana—dan entah mengapa, kehadirannya lebih menenangkan daripada kata-kata apa pun.Setelah cukup lama, ia akhirnya berbicara.“Alya… kalau kamu takut dia akan melakukan sesuatu, kamu boleh ikut aku pergi. Setidaknya untuk malam ini.”Aku menatapnya. Ada kekhawatiran tulus di matanya. Tapi di balik semua itu, ada sesuatu yang lain—ketidakpercayaan terhadap apa yang bisa dilakukan suamiku.“Aku nggak tahu,” jawabku pelan. “Aku belum siap meninggalkan rumah ini. Belum sekarang.”Gibran mengangguk

  • KAIN PENGLARIS    BAB 47 — Saat Dua Dunia Bertabrakan

    Langkah kaki itu mendekat—cepat, berat, dan penuh amarah yang sudah lama kukenal. Nafasku tersengal, seolah dada terlalu sempit untuk menampung semua kecemasan yang tiba-tiba meledak.Suamiku muncul dari balik pagar. Matanya langsung menyapu halaman, lalu tertancap ke arahku—dan seseorang di sampingku.Gibran.Aku melihat bagaimana ekspresi suamiku berubah dalam hitungan detik—dari bingung, menjadi curiga, lalu membara. Rahangnya mengeras. Tangan kanannya mengepal. Aku bisa menebak isi kepalanya bahkan sebelum ia membuka mulut.“Apa ini?” suaranya rendah, tapi jelas sedang menahan ledakan.Gibran hanya berdiri tegak, tidak mundur. Tidak mencari alasan. Tidak kabur. Ia memandang suamiku dengan tatapan netral, tapi tegas. Sementara aku—aku berdiri di tengah, seperti seseorang yang diikat di antara dua jurang yang sama-sama menganga.“Apa yang kamu lakukan di sini?” suamiku mendekat, suaranya mengeras. “Siapa kamu?”Gibran menelan ludah, kemudian menjawab dengan suara tenang yang justru

  • KAIN PENGLARIS    BAB 46 — Yang Tidak Pernah Kukira Akan Datang

    Rumah itu terasa terlalu hening malam ini. Bukan hening yang menenangkan, melainkan hening yang membuat dada terasa sesak, seperti seseorang menaruh batu besar di atas napasku. Lampu ruang tamu menyala redup, menorehkan bayangan panjang di lantai keramik yang dingin. Aku berdiri di ambang pintu kamar, memandangi isi rumah yang dulu begitu kukenali, dan kini terasa seperti tempat asing yang entah bagaimana masih harus kutinggali.Hari ini seharusnya biasa saja. Tapi hidup tidak pernah benar-benar memberi jeda pada orang-orang yang sudah terlalu lama bertahan dalam luka.Ponselku bergetar pelan di atas meja kecil. Nama yang muncul membuat jantungku berdetak sedikit lebih cepat—bukan karena cinta, bukan karena rindu, tapi karena campuran takut dan sesuatu yang tak bisa kuterjemahkan.Gibran.Pesan pendek muncul:“Alya… kamu baik-baik saja hari ini?”Pertanyaan sederhana, tapi entah mengapa menamparku lebih keras dari teriakan siapa pun. Karena suamiku sendiri tidak pernah menanyakan itu.

  • KAIN PENGLARIS    Bab 45 — Rumah Penenun Kematian

    Pintu rumah itu menganga seperti mulut raksasa yang siap menelan siapa pun yang masuk. Udara yang keluar dari dalamnya terasa dingin, lembap, dan berbau seperti tanah basah bercampur darah lama. Arini menutup hidungnya, berusaha tidak muntah.Aminah melangkah paling depan. “Jangan tertinggal. Jangan menyentuh apa pun yang tidak perlu. Dan apa pun yang terjadi… jangan menatap bayangan kalian sendiri.”Pak Jaya menelan ludah. “Bayangan?”Aminah tidak menjawab. Ia hanya masuk ke kegelapan rumah itu, membawa lampu minyak kecil yang baru dinyalakannya.Cahaya lampu itu tidak memantul.Seolah rumah itu menelan cahaya.Di Dalam Rumah GelapBegitu mereka masuk, pintu rumah tertutup dengan gedebuk keras, membuat Arini menjerit.Pak Jaya mencoba membuka pintu, namun pintu itu tidak bergerak sama sekali. Bahkan tidak bergoyang.“A-apa ini…? Bu Aminah… pintunya terkunci!”Aminah berdiri tegak, tanpa menoleh. “Memang begitu. Begitu kita masuk, rumah ini akan menentukan siapa yang boleh keluar.”Ar

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status