LOGINLanjutannya satu lagi segera ya
Damar menaruh gelas air di depan Nadine, lalu mengikat apron hitam di pinggangnya. Gerakannya cepat dan tanpa ragu, seperti seseorang yang sudah ratusan kali melakukannya. Nadine memperhatikan dari kursi tingginya sambil menggenggam gelas dengan dua tangan, tidak yakin harus melakukan apa dari tempatnya itu.Di atas talenan sudah menunggu dua potong steik tebal yang tampaknya sudah dikeluarkan dari kulkas sejak tadi. Damar mengeringkannya dengan tisu dapur, menaburkan garam dan lada, lalu menyalakan api besar di bawah wajan besi."Dagingnya harus kering dulu," katanya tanpa menoleh. "Kalau basah, bagian luarnya nggak akan garing dan kecokelatan.""Aku nggak tau Mas punya teori sendiri soal steik.""Aku punya teori soal semua hal."Nadine tertawa. Wajan itu sudah berasap ketika Damar meletakkan dagingnya, dan bunyi desis yang langsung terdengar membuat Nadine ikut menegakkan punggung. Aroma gosong manis menyebar cepat. Damar tidak menyentuh daging itu sama sekali selama dua menit, hany
Nadine pulang lebih cepat hari itu. Jumat sore, jam empat, ketika matahari belum terlalu condong, mobilnya sudah masuk halaman rumah. Ia bahkan sempat duduk di mobil beberapa detik sebelum turun, memikirkan apa yang akan ia katakan.Nayla sedang duduk di sofa ruang keluarga dengan buku sketsa di pangkuan dan pensil terselip di telinga. Begitu melihat ibunya masuk, ia mengangkat kepala dan menyipitkan mata."Ma? Kok udah pulang?""Memangnya nggak boleh?""Boleh. Tapi ini baru jam empat." Nayla melirik jam dinding, lalu kembali menatap ibunya dengan curiga. "Biasanya bisa sampai malam. Apalagi ini hari Jumat.”"Mama lagi nggak sibuk." Nadine meletakkan tasnya di kursi, lalu duduk di sebelah anaknya. Ia menyandarkan punggung dan menarik napas, pura-pura santai. "Nanti malam Mama diundang makan malam.""Sama siapa?""Sama Om Damar.""Oh." Nayla mengangguk. Pensil di telinganya turun ke buku. "Di restoran?""Di rumahnya.""Berarti makan di rumahnya Om Damar?” “Iya.” Nadine berdehem, lalu
Nadine terdiam. Ia tidak menyangka anak ini akan menemukan celahnya secepat itu."Untuk yang itu," ujarnya pelan, "Mama sama Om Damar belum pernah ngomongin. Jadi jujur, Mama belum tau. Karena kamu nanya begini, kayaknya Mama memang harus ngomongin dulu sama Om Damar.""Terus Mama maunya gimana?""Maunya Mama?" Nadine berpikir sejenak. "Mama nggak yang pengen banget nambah anak, tapi juga nggak yang ngotot nggak mau. Semuanya Mama ikutin aja, yang terbaik gimana. Kalau Om Damar oke, Mama juga oke." Ia mengusap rambut Nayla ke belakang telinga. "Tapi nanti Mama omongin lagi sama Om Damar, ya.""Oke." Nayla mengangguk, sudah kembali tenang. Ia memejamkan mata dan menggeser tubuhnya sedikit mendekat. "Aku cuma nanya.""Iya, Nay," ujar Nadine lembut. "Sekarang kamu tidur ya. Mama juga sudah tahu harus gimana."Nayla mengangguk kecil dengan mata terpejam. Tidak lama kemudian napasnya berubah pelan dan teratur.**********Hari-hari berikutnya berjalan seperti biasa, tapi waktu terasa berger
Lampu kamar Nayla masih menyala ketika Nadine melewati lorong. Dari celah pintu yang tidak tertutup rapat, terlihat bayangan anaknya berbaring dengan buku terangkat di depan wajah.Nadine mengetuk pelan. "Tok tok tok,” ucapnya menirukan suara ketukan.Nayla menurunkan bukunya dan menoleh. "Ma."Nadine masuk, menutup pintu di belakangnya, lalu berjalan ke tepi ranjang. "Baca sambil tiduran itu nggak baik, lho. Nanti mata kamu capek.""Iya, sih." Nayla menguap kecil. "Tapi aku capek banget, Ma. Dari tadi duduk lama sambil gambar.""Ya udah. Bukunya ditaruh dulu. Kita ngobrol boleh nggak?""Boleh."Nayla menyerahkan bukunya. Nadine menerimanya, meletakkannya di meja belajar dengan halaman yang masih terbuka, lalu kembali ke ranjang."Mama ikut tiduran di sini, boleh?""Boleh. Tapi jangan sampai pagi, ya. Ini ranjangnya kecil." Nayla bergeser sedikit memberi ruang. "Mama kalau tidur suka muter. Kayak baling-baling.""Heh." Nadine tertawa, tapi tetap masuk ke bawah selimut. Mereka berbarin
Damar tiba di kediaman Kertasoedibyo pukul sepuluh pagi, di hari kerja. Pak Salim sengaja memilih waktu itu, dan Damar mengerti alasannya: Nadine sedang di kantor, Nayla di sekolah, dan rumah itu cukup tenang untuk bicara.Ia membawa sekeranjang buah dan sekotak kue dari toko langganan keluarga Nadine, yang ia tanyakan lewat pesan tadi malam. Di mobil, sebelum turun, ia sempat membetulkan kerah kemejanya sekali. Hanya sekali. Ia sudah terbiasa berdiri di depan ruangan penuh orang dan bicara berjam-jam tanpa catatan, jadi gugup yang ia rasakan tidak sebesar yang bisa dibayangkan siapa pun. Tapi ini lain. Ini bukan ruang kuliah.Seorang asisten rumah tangga mengantarnya masuk. Rumah itu hangat, rapi, dan tenang. Di ujung lorong, sebuah pintu kayu terbuka dan Pak Salim berdiri menyambutnya."Pak Damar. Silakan masuk.""Terima kasih, Pak Salim. Maaf merepotkan.""Tidak merepotkan sama sekali."Ruang kerjanya dipenuhi rak buku tinggi bergaya klasik. Meja kayu besar, dan seperangkat kursi t
Damar sampai di Kopi Sandar lima belas menit lebih awal, dan Satria sudah ada di sana. Ia duduk di meja sudut dekat jendela, lantai dua, jauh dari keramaian. Kemeja lengan panjang, jam tangan di pergelangan, satu gelas air putih di depannya yang baru diminum sedikit. Begitu melihat Damar, ia berdiri dan mengulurkan tangan. Jabat tangannya mantap, tidak lama. "Pak Damar." "Pak Satria. Maaf, saya kira saya yang lebih dulu." "Saya kebetulan dekat." Satria duduk kembali. "Mejanya saya yang pilih. Kalau tidak cocok, bisa pindah." "Ini pas, Pak." Satu hal yang Damar perhatikan di menit pertama: Satria sudah memilih meja sebelum ia datang. Kursinya menghadap arah masuk, dan jaraknya cukup jauh dari meja lain, jadi mereka bisa bicara tanpa perlu merendahkan suara. Orang yang hanya kebetulan lewat tidak akan memikirkan hal sedetail itu. Satria jelas datang lebih awal untuk menyiapkan pertemuan ini. Mereka memesan makan siang. Percakapan awal berjalan ringan, soal lalu lintas, soal kopi,







