Satu Malam Lagi, Paman!

Satu Malam Lagi, Paman!

last updateปรับปรุงล่าสุด : 2026-07-15
โดย:  Almiftiafayยังไม่จบ
ภาษา: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
10
2 การให้คะแนน. 2 ความคิดเห็น
6บท
33views
อ่าน
เพิ่มลงในห้องสมุด

แชร์:  

รายงาน
ภาพรวม
แค็ตตาล็อก
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป

“Saya akan mengandung anaknya Mas Kaisar.” …. Tak sudi memiliki cucu dari Kaira, ibu mertuanya meminta agar ia melakukan steril—kontrasepsi permanen bagi seorang wanita—yang disetujui oleh sang suami. Ketika Kaira berpikir semua akan berakhir seperti kemauan mereka, sebuah malam tak sengaja mengantarnya pada Kaisar Maharendra, paman muda suaminya yang menawarkan sebuah kesepakatan gila: mengandung keturunannya. Di tengah penghinaan, pengkhianatan dan tekanan yang mengharuskan Kaira menyelamatkan nyawa Ibunya, Kaisar menjadi satu-satunya pria yang berdiri untuknya dan seolah memberinya dunia serta harapan baru. Di dalam dekapannya, hidup Kaira seperti dimulai kembali. “Kamu tidak boleh mundur, Kaira. Kita tidak bisa berhenti sekarang.” IG @almiftiafay

ดูเพิ่มเติม

บทที่ 1

Bab 1

“Kamu steril aja, Mama nggak sudi punya cucu darimu!”

Mendengar kalimat yang dikatakan oleh ibu mertuanya membuat Kaira mematung. Rasa lelah sepulang bekerja dan menyibukkan diri di dapur untuk menyiapkan makan malam kian bertumpuk, memberatkan bahunya.

Diliriknya sang suami—Mahesa—yang sedang duduk tenang menatap layar ponsel di samping ibunya, seolah tidak terbebani dengan permintaan itu.

Kaira meremas celemek kusut yang melindungi pakaiannya, dengan gugup berujar, “S-steril itu artinya saya nggak akan bisa punya anak, Ma.”

“Ya memang itu tujuannya! Kamu pikir aku bodoh?!” sahut ibu mertuanya, Sasmita, disertai dengusan sinis. “Adik iparmu bilang tadi pagi kamu muntah-muntah. Kamu nggak sedang hamil, ‘kan?”

“Nggak, Ma. Tadi pagi perut saya memang kurang enak.”

“Bagus. Sebelum hamil sebaiknya kamu cepat steril. Ini—” Sasmita menjeda kalimatnya sejenak, dilemparkannya sebuah amplop cokelat pada Kaira yang tak sempat menangkapnya sehingga amplop tersebut jatuh di kakinya.

“Formulir pendaftarannya. Datang ke dokter kandungan besok buat konsultasi!”

“Tapi, Ma—”

Sasmita beranjak pergi tanpa menoleh selain hanya ekor matanya yang melemparkan kebencian, meninggalkan Kaira dalam hening yang menyesakkan.

Kaira memandang Mahesa yang jemarinya masih lincah bergerak di layar ponsel.

“Mas,” panggilnya. “Mas Hesa setuju sama yang diminta Mama?”

Pria itu akhirnya mengangkat wajah, memasukkan ponsel ke dalam saku celana sembari bangun dari duduknya.

“Lakuin aja apa susahnya sih?” jawabnya dengan kesal. “Dari dulu kita emang nggak pernah berencana buat punya anak, ‘kan?”

“Aku nggak pernah bilang begitu—”

“Bisa dipikirkan sambil jalan, Kaira,” sela Mahesa. “Lagian juga masih konsultasi. Mama bisa berubah pikiran nanti.”

“Tapi—”

Kaira urung bicara saat Mahesa menyentuh lengannya. “Kamu tahu Mama nggak suka dibantah, jadi udahlah turutin aja. Oke?”

Mahesa pergi seolah tidak akan terjadi apapun terhadap masa depan istrinya.

Kaira membungkuk, tangannya kebas saat ia meraih amplop di kakinya. Ia buka sedikit isinya dan benar … ini adalah formulir pendaftaran ke dokter kandungan.

Benaknya tidak karuan, kepalanya dipenuhi tanya, benarkah ia tak akan menjadi seorang ibu?

“Kaira! Cepat ke sini!” teriak Sasmita dari arah ruang makan. “Kakak-kakakmu sudah mau datang kenapa kamu melamun di sana?!”

“B-baik, Ma.”

Ditutupnya kembali amplop itu, ia simpan di sudut dapur setelah berlari ke sana, berbaur dengan pelayan lain menyelesaikan persiapan makan malam untuk semua anggota keluarga.

Sudah lebih dari satu tahun Kaira menjadi bagian dari rumah ini. Sejak awal, pernikahannya memang tidak direstui oleh kedua orang tua Mahesa karena dirinya hanya anak sopir.

Dulu Mahesa bersikeras membawanya masuk ke keluarga Maharendra, pria hangat yang memberinya cinta sehingga Kaira bertahan di sampingnya seraya berharap dapat memenangkan hati ayah dan ibu mertuanya.

Kaira terus berupaya, dan sebagai satu-satunya menantu yang berasal dari kalangan biasa, ia mengalah dan tahu diri.

Tapi melewati satu tahun pernikahan, Mahesa mulai berubah. Meski tidak pernah bersikap kasar, suaminya kini terasa sangat jauh. Pria itu bahkan tidak pernah membelanya di depan keluarga.

Kaira menoleh ke arah datangnya suara yang memasuki ruang makan. Dua kakak iparnya datang bersama anak perempuan mereka, menanyakan keberadaan ayah Mahesa yang belum pulang dari luar kota.

Kaira melayani mereka dengan cekatan, meski ada pelayan, dirinyalah yang selalu dipanggil untuk hal-hal sepele.

“Formulir steril buat Kaira tadi udah aku kirim, udah Mama terima?” tanya Monica, si kakak sulung yang memang seorang dokter. Rumah sakit yang akan dikunjungi Kaira besok adalah tempat Monica bekerja.

“Udah, Sayang,” jawab Sasmita. “Udah Mama kasih ke Kaira.”

Sasmita melirik pada Kaira yang baru datang dari arah dapur dengan semangkuk nasi panas.

“Awas ya kalau kamu nggak datang!” ancam Monica. “Aku udah susah-susah daftarin biar kamu dapat urutan satu!”

Langkah Kaira terasa berat saat ia tiba di samping Sasmita, digenggamnya mangkuk keramik itu dengan erat. “Iya, Mbak ….”

“Kamu harus berterima kasih loh! Kalau bukan karena aku, mana mau temanku itu memprioritaskan kamu.”

Kaira mengangguk, menahan air mata saat mengambilkan nasi ke piring Sasmita. Maniknya yang sedikit berkabut dan tangannya yang gemetar membuatnya tak sengaja menjatuhkan nasi panas itu di tangan ibu mertuanya.

“Ahh—!” Sasmita menjerit, menepis tangan Kaira sehingga sendok nasinya terpelanting dan terhempas di kejauhan.

“Kamu nggak punya mata?!”

“M-maaf, Ma ….”

Mendengar bentakan ibunya menggema di ruang makan, Monica menertawakan Kaira yang buru-buru mengusap punggung tangan Sasmita.

“Udah, nggak usah!” tepisnya sekali lagi.

Di samping Monica, Algara—suaminya—memindai Kaira dari ujung kaki hingga ke kepala, penuh penilaian dan membuat Kaira merasa kotor.

Pria itu menoleh pada Mahesa dan berujar, “Mahesa, wah ... lumayan juga kalau istrimu steril. Nggak perlu repot mikirin biaya anak. Soalnya tanggunganmu buat biayain keluarganya aja udah banyak, ‘kan? Berapa tiap bulan?”

“Ah, itu nggak perlu diomongin lah. Mas Gara ‘kan tahu sendiri,” jawab Mahesa, terkekeh selayaknya itu memang candaan yang bebas ditertawakan.

Di ruang makan mereka membicarakan masalah steril Kaira seolah bukan suatu hal besar. Kaira hanya terdiam saat Mahesa tidak banyak merespon dua kakak iparnya yang saling bersahutan.

Ia baru saja duduk setelah ke sana kemari melayani mereka. Tapi baru sedetik meraih sendoknya, anak perempuan Monica mengeluh dari seberang meja.

“Mami … perut Ara mules.”

“Kaira, tuh kamu antar Ara ke kamar mandi,” perintah Monica seraya mengedikkan dagunya.

“Baik, Mbak.”

“Yang bersih ya!”

“Iya.” Kaira mengisyaratkan pada gadis kecil itu agar mengikutinya, baru saja menjauh, panggilan Algara menghentikannya.

“Sebelum lupa, habis ini ambilin baju kotor aku di bagasi mobil, Ra!”

Kaira mengangguk, “Iya, Mas Gara.”

“Kaira, jus aku mana?” pinta Mahesa tanpa beranjak dari meja makan.

Kaira menoleh, ulu hatinya melilit dan kepalanya sudah hampir pecah saat permintaan semua orang menyerangnya dari segala penjuru. Melihat alis Mahesa yang berkerut membuatnya mengangguk agar suaminya itu lega dan mau menunggu sejenak.

“Iya, Mas. Sebentar.”

“Tante ….” rengek Ara yang membuat Kaira bergegas menyusulnya.

Ditemaninya si keponakannya itu ke toilet hingga usai. Membantunya mencuci tangan, mengeringkannya sekalian sebelum bocah itu kembali ke ruang makan.

Di dapur, Kaira menyiapkan buah untuk jus Mahesa.

Hatinya mengetat kala mendengar mereka yang bercengkerama dari ruang makan, seperti potret keluarga yang sempurna.

Telinga Kaira berdengung saat mendengar bahwa yang sedang mereka bicarakan itu ternyata adalah dirinya.

“Emangnya kamu udah bujuk istrimu, Hesa?” tanya Monica. “Kok dia nurut aja disuruh steril sama Mama?”

“Kalau nggak nurut emangnya Kaira mau ambil risiko?” balas ibu mertua meremehkan. “Kalau bukan karena bantuan keluarga Maharendra, mana sanggup dia merawat ibunya yang buta?!”

แสดง
บทถัดไป
ดาวน์โหลด

บทล่าสุด

บทอื่นๆ

ถึงผู้อ่าน

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

ความคิดเห็น

Aya Melodi Agrifina
Aya Melodi Agrifina
ceritanya sukses bikin Aq elus dada.... dikehidupan yg memang semua-muahya dinilai dr segi ekonomi seperti ini,orng "kecil" seperti Kaira memang serba tertekan... tertekan emosi,tertekan perasaan serta tertekan krna ekonomi.... sabar ya Kaira,semoga kebahagiaan akan menghampiri
2026-07-23 18:07:32
0
0
Kartini Varista
Kartini Varista
bagus pool pokoknya
2026-07-23 14:21:35
0
0
6
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status