FAZER LOGINAluna memergoki suaminya, Reno, berselingkuh dengan adik tirinya, Kiya, di ranjangnya sendiri. Di malam yang sama, kakak kandung Reno yang juga CEO nya, Devan Adhitama, menawarkan kontrak: menjadi asisten sekaligus istri pura-puranya dengan gaji 75 juta. Awalnya hanya kontrak untuk merebut warisan keluarga. Namun di antara luka dan intrik kakak adik itu, Aluna harus memilih bertahan dalam pernikahan yang hancur, atau terikat dengan pria yang seharusnya menjadi kakak iparnya?
Ver maisAluna pulang pukul 16.30. Seharusnya dia masih di kantor, menyelesaikan laporan keuangan kuartal tiga.
Tapi siang tadi di lantai 32, Devan Adhitama memanggilnya ke ruangan marmer hitamnya. "Aluna, laporan biar Bu Lestari yang lanjutkan. Saya butuh asisten pribadi baru, dan saya mau kamu. Gaji 75 juta." Devan menatap kalender di mejanya sebelum melanjutkan dengan suara yang lebih pelan. "Pikirkan dulu, hari ini ulang tahun pernikahanmu kan? Pulanglah." Selama tiga tahun menikah dengan Reno, tidak pernah ada bos yang mengingat tanggal pernikahannya. Reno sendiri bahkan lupa dua tahun lalu. Aluna membawa kue cokelat kecil dan sebuah kemeja baru untuk Reno. Di dalam tas, ada hasil USG bulan lalu yang belum sempat dia berikan. Dokter bilang rahimnya lemah. Aluna ingin menjadikannya kejutan malam ini. Rumah di Bintaro itu pagarnya tidak terkunci. Di carport, ada motor matic pink yang sangat dikenalnya. Motor Kiya. Adik tirinya. Dada Aluna langsung berdegup tidak karuan. Kiya bilang minggu lalu dia training di Bandung. Aluna membuka pintu pelan-pelan. Rumah sepi. AC menyala sangat dingin. Ada aroma parfum vanilla yang murahan dan terlalu manis. Kesukaan Kiya. Lalu Aluna melihatnya. Sepasang sepatu hak tinggi merah menyala tergeletak berantakan di depan pintu kamar tidur utama. Di sebelahnya, ada sepatu pantofel hitam milik Reno. Kemejanya. Dasinya. Berserakan seperti sampah menuju kamar. Kue di tangan Aluna terasa beratnya seribu kilo. Pintu kamar tidak tertutup rapat. Hanya menyisakan celah sepuluh senti. Dan di dalam celah itu, Aluna melihat neraka. Reno, suaminya, sedang menindih seseorang. Rambut panjang bergelombang yang Aluna kenal sejak SMP. Tato kupu-kupu kecil di pundak kiri. Tato yang dulu Aluna yang antar Kiya membuatnya. "Kak... pelan-pelan, Kak Reno..." desah Kiya manja. Reno terkekeh sambil menahan napasnya. "Tenang, Aluna nggak akan pulang jam segini. Dia kan budak kerjaannya Mas Devan itu. Mana sempat ngurus suami." Dunia berhenti. Kue cokelat di tangan Aluna jatuh. Kotaknya terbuka, cokelatnya hancur di lantai keramik putih yang setiap hari dia pel sampai mengkilap. Dua orang di ranjang itu membeku. "ALUNA! Kak... ini nggak seperti yang kakak lihat..." Kiya langsung menarik selimut dengan akting mata berkaca-kaca yang sama persis saat dia mencuri uang arisan ibu dulu. Reno bangkit dengan panik, melilitkan sarung. "Aluna, dengerin dulu. Kamu tuh nggak pernah paham kebutuhan suami. Pulang malam terus. Kiya tuh ngertiin aku!" Aluna justru tertawa. Tawa kering dari tenggorokan yang sakit. Dia menatap sprei putih yang dibelinya dari IKEA minggu lalu. Sprei yang dipilihnya karena Reno bilang suka warna putih bersih. Di atasnya ada noda. "Jadi selama ini... di ranjang ini?" Suara Aluna serak. Kiya menggigit bibir dengan pura-pura polos. "Kakak kan sudah nggak bisa kasih anak, kata dokter. Reno butuh penerus..." Kalimat itu. Kalimat yang ingin Aluna sampaikan sebagai kejutan menyedihkan, sekarang dipakai untuk menikamnya. Hasil USG di tas Aluna terasa seperti bara api. Aluna berbalik. Tidak peduli sepatunya menginjak kue ulang tahun pernikahannya sendiri. Dia berjalan keluar. Di ruang tamu, foto pernikahan mereka tergantung besar. Aluna yang tersenyum bodoh dengan kebaya putih. Aluna membanting foto itu ke lantai. Kaca pecah berantakan. Di luar, hujan turun deras. Motor pink Kiya masih terparkir manis di carport rumahnya. Aluna mengeluarkan ponsel. Tangannya gemetar hebat. Dia membuka kontak. Nama paling atas karena baru saja meneleponnya tadi siang. Devan Adhitama. Kakak kandung Reno. CEO PT Adijaya. Panggilan tersambung setelah dua kali dering. "Halo, Aluna? Kamu sudah sampai rumah?" Suara berat dan tenang itu terdengar. Aluna membuka mulut. Tidak ada suara yang keluar, hanya isak yang akhirnya pecah. "Aluna? Kamu kenapa? Di mana kamu?" Nada Devan yang tenang itu langsung berubah panik. Aluna bersandar di pagar yang basah, air mata dan air hujan bercampur. "Mas Devan... tawaran Mas tadi jadi asisten pribadi Mas apakah masih berlaku?" Hening beberapa detik di seberang. "Masih. Kamu di mana sekarang? Saya jemput." Suara Devan terdengar tegas. "Jemput saya, Mas. Jemput saya sekarang. Saya tidak punya rumah lagi." Di ujung telepon, Aluna mendengar suara kursi didorong dengan kasar. Seperti seorang CEO yang baru saja membatalkan semua meeting miliaran rupiahnya hanya untuk adik iparnya yang menangis di depan rumahnya yang kotor. Lima belas menit kemudian, sebuah Alphard hitam berhenti. Devan turun dengan payung besar. Tanpa banyak bicara, dia melepas jas mahalnya dan menyampirkan ke bahu Aluna yang basah kuyup. "Maaf, Mas. Saya basah..." "Mulai hari ini, kamu ikut saya, Aluna," potong Devan. Matanya menatap tajam ke arah rumah itu, ke arah motor pink itu. Tepat saat itu, ponsel Devan berdering. Nama yang muncul di layar membuat darah Aluna berhenti mengalir. Reno - Adik. Devan mengangkatnya dengan loudspeaker, tanpa ragu. "Mas, Aluna ada sama Mas, ya? Bilangin dia jangan lebay! Suruh pulang! Kiya udah nangis-nangis karena dia! Mas jangan ikut campur urusan rumah tangga adikmu sendiri!" Suara Reno terdengar menyebalkan dari seberang. Devan menatap Aluna yang gemetar di sampingnya. Lalu dengan suara dingin yang belum pernah Aluna dengar, Devan menjawab. "Reno, dengar baik-baik. Mulai detik ini, Aluna bukan istrimu lagi," kata Devan, suaranya dingin menggelegar. "Mulai detik ini, Aluna adalah istri saya." Reno membelalak dari seberang telepon. "Apa maksud kamu, Mas?!" Mata Aluna membesar ketika dengar itu. Dia menoleh ke arah Devan yang sudah putuskan telpon Reno secara sepihak. "Saya... Istri Mas Devan? Bukannya tawaran Mas untuk Asisten Pribadi...?"Jam 6 sore, lobby Adhitama Tower. Mama Adhitama turun dari Alphard hitam dengan koper Louis Vuitton besar. Usia 55 tahun, kebaya biru navy, aura seperti ratu pulang dari Singapura. Di belakangnya Reno dan Kiya sudah menunggu. "Ma! Akhirnya Mama pulang!" Reno langsung peluk Mama. Mama menepuk punggung Reno, tapi matanya mencari ke atas. "Mana perempuan itu? Mana Aluna yang kata kamu sudah tidur satu ranjang sama Devan?" Kiya menyahut, "Tante, Kak Aluna di atas Tan. Tadi saya lihat dia masuk ke kamar utama Mas Devan." Mama masuk lift private menuju penthouse. Reno dan Kiya saling tatap, senyum kemenangan. Di penthouse lantai 45, Aluna panik setengah mati. Dia berdiri di depan cermin kamar utama dengan dress cream yang Devan belikan. Devan memakai kaos polo putih dan chino. "Mas, kalau Mama tanya kita tidur gimana, jawab apa?" Aluna berbisik gugup. "Jawab apa adanya. Kita tidur seranjang. Tapi pakai guling tembok Berlin. Jangan sebut gulingnya," Devan berbisik balik sambil mera
Ruangan CEO lantai 32 masih dingin. Aluna duduk di sofa, matanya kosong menatap meja marmer hitam tempat Reno dipecat kemarin. Devan berdiri di dekat jendela. Punggungnya tegak. Sejak telepon dari Mama semalam, dia belum banyak bicara. Pintu diketuk. Pak Jono masuk. "Pak, Reno ada di bawah. Mau ketemu. Bawa Kiya." Devan mengernyit. "Suruh naik." Lima menit kemudian pintu terbuka. Reno masuk dengan kemeja kusut, wajah tidak tidur semalaman. Di belakangnya Kiya menunduk, hanya pakai kaos dan jeans, wajah pucat tanpa makeup. "Mas Devan," kata Reno pelan. Devan tidak menjawab, hanya menatap adiknya. Aluna ikut berdiri dengan jarak jauh dari Reno. "Mas, aku mau bicara berdua. Tanpa dia," Reno menunjuk Aluna. "Dia asisten saya. Dia tetap di sini," jawab Devan dingin. Reno menarik napas panjang. "Mas, aku tahu aku salah. Soal 2 Miliar itu aku hilaf. Kiya terus minta ini itu. Aku kepepet." Kiya menunduk semakin dalam. "Tapi Mas, pikirkan Kiya. Dia calon adik ipar Mas juga. Kalau aku tu
Aluna menatap foto USG di ponselnya. Foto itu buram. Ada tulisan "8 weeks" dan nama "Kiya A." di pojok. Devan yang melihat wajah Aluna berubah, langsung mengambil ponsel itu."Apa ini?""Dari Kiya. Katanya hamil." Devan melihat foto itu hanya 2 detik, lalu mengernyit."Palsu." Aluna mendongak."Palsu?""Lihat font nya. Comic Sans. Tidak ada rumah sakit yang pakai font Comic Sans untuk USG. Logonya juga blur. Kiya pikir saya bodoh?" Tapi Aluna masih diam. Ada sesak di dadanya."Mas... kalau beneran hamil gimana?" Devan menatap Aluna. Tatapannya melunak."Reno itu manajer yang saya pecat hari ini. Kartu kreditnya saya blokir hari ini. Apartemen untuk Kiya, saya tarik hari ini. Kalau Kiya hamil beneran, Reno bisa kasih makan apa?" Aluna terdiam.Devan menekan interkom. "Pak Jono, cek dokter yang tanda tangan di foto USG itu. Namanya Dr. Rina. Cek di IDI. Saya tunggu 10 menit."Sepuluh menit kemudian, Pak Jono kembali. "Pak Devan, tidak ada dokter bernama Dr. Rina SpOG di IDI Jakarta. Yan
Jam 9 pagi, Adhitama Tower lantai 32. Ruang rapat direksi. Ruangan paling dingin di seluruh gedung. AC nya selalu 16 derajat, meja dari marmer hitam. Hari ini, Reno duduk di salah satu kursi itu. Bukan sebagai orang penting. Tapi sebagai tersangka. Di depan Reno, ada tiga orang. Devan di tengah, wajah datar tanpa emosi. Pak Jono di kanan, dengan tumpukan file setebal kamus. Dan Aluna di kiri. Aluna memakai blazer hitam. Hari ini, dia tidak berdiri di belakang Devan sebagai asisten. Hari ini, dia duduk sejajar dengan Devan. Sebagai pelapor. Reno melihat Aluna, lalu tertawa kecil. "Wah, jadi ini ya rapat keluarga yang Mas bilang penting? Panggil adik sendiri ke ruang direksi, bawa istri saya juga? Mau kasih saya promosi jadi direktur?" Tidak ada yang tertawa. Devan mendorong satu map coklat ke arah Reno. Map itu meluncur di atas meja marmer. "Buka." Reno membuka map itu dengan santai. Tapi begitu melihat isinya, tangannya berhenti. Di dalamnya, ada 15 bukti transfer atas nama Kiya A


















Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.