Beranda / Rumah Tangga / KAMAR KEDUA / Bab 204. Malam Penebusan

Share

Bab 204. Malam Penebusan

Penulis: juskelapa
last update Tanggal publikasi: 2026-05-14 00:06:22

(Playing track : Spin in the Dark (extended version) - Bela Vibe)

Sesaat sebelumnya suara dua motor masih meraung liar di jalan raya pelabuhan.

Brraaaammm!

Satria sudah dua kali berhasil memotong kendaraan besar untuk mempersulit si kidal. Tapi pria itu masih terus menempelinya.

Masih sejajar. Masih mencoba menjatuhkannya.

Brak!

Sekali lagi stang motor si kidal menghantam sisi kanan motor Satria.

Motor besar itu berguncang keras. Nyaris menghantam kendaraan di sisi kirinya.

Namun Satria tetap
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci
Komen (69)
goodnovel comment avatar
Ummi Wahyu
sepertinya baby nya juga udah nggak sabar pengen ketemu mama papa nya
goodnovel comment avatar
Reni
Sangking asyiknya yg baca sampe lupa komen, Terimakasih kak Anda, bab nya memuaskan bgt, banyak eiiyy..
goodnovel comment avatar
Yani Suryani
eksekutor udah selesai, apa yg diperbuat sama prabu sudah terbalaskan, tinggal pak Hendra kena gak ini soalnya barang bukti hangus
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • KAMAR KEDUA   Bab 280. Menunggu Pengakuan

    Belasan jam kemudian, pesawat yang membawa Ratri dan Raka akhirnya mendarat di Bandara Internasional Soekarno-Hatta.Perjalanan panjang dari Swiss itu nyaris tak diisi percakapan.Raka lebih banyak tertidur sementara Ratri memandangi langit di balik jendela pesawat tanpa benar-benar melihat apa pun.Pikirannya masih tertinggal di sebuah pemakaman di Jenewa.Di sebuah batu nisan yang bertuliskan nama pria yang selama ini ia kira telah meninggalkan mereka.__________Mobil memasuki halaman rumah tepat menjelang sore.Belum sempat sopir mematikan mesin, pintu utama telah terbuka. Hendra Kusuma Wijaya berdiri di ambang pintu. Wajahnya tampak lega."Raka!"Bocah itu langsung berlari kecil menghampiri kakeknya."Opa!”Hendra memeluk cucunya erat, lalu mengusap puncak kepalanya beberapa kali."Kangen, ya?" Raka melompat ke pelukan kakeknya saat pria itu berjongkok."Iya.""Kata Mama liburannya nggak bisa lama.”Hendra tersenyum tipis. "Nanti bisa liburan lebih lama lagi dengan Opa.”“Iya! Ak

  • KAMAR KEDUA   Bab 279. Menunggu Ditemukan

    Tangisan Ratri tidak bisa berlangsung lama. Cepat atau lambat, Raka pasti akan bertanya.Dan kantor polisi bukanlah tempat yang tepat untuk menjelaskan kepada bocah delapan tahun itu bahwa ayah yang selama ini mereka kira hidup damai sambil melupakan mereka ternyata telah meninggal bertahun-tahun lalu.Dengan mata yang masih sembap, Ratri mengusap sisa air matanya.Seorang opsir polisi menghampirinya sambil membawa secarik kertas kecil."Kami menemukan lokasi pemakamannya," ucap opsir polisi itu dengan bahasa aslinya.Ratri menerima kertas itu dengan tangan yang masih gemetar.Di sana tertulis sebuah alamat.Cimetière de Saint-GeorgesChemin François-Dussaud 121205 GenevaDi bawahnya terdapat nomor petak dan nomor makam yang ditulis tangan.Ratri menatap kertas itu lama.Hari itu … Raka tidak jadi ke museum. Hanya sebuah pemakaman yang menunggunya.___________Mobil yang ditumpangi Ratri berhenti perlahan di depan sebuah kompleks pemakaman.Mesinnya masih menyala.Namun sang sopir ti

  • KAMAR KEDUA   Bab 278. Akhirnya Kumenemukanmu

    “May I have your name?” tanya petugas itu. “Ratriana,” sahutnya singkat."His name?" tanya petugas itu. Ratri menelan ludah. "Calvin Tjandra."Petugas kepolisian itu segera mengetikkan nama tersebut ke dalam sistem.Beberapa detik berlalu belum ada hasil. Dahinya berkerut tipis. Ia menggeleng. "Any other name?"Ratri terdiam. Polisi itu menanyakan apakah Calvin memiliki nama lain. Ingatannya melayang pada kartu nama yang didapatnya di ruang kerja Calvin dan masih tersimpan di dalam tasnya. Calvin Andersen.Jadi ... Calvin memang mengganti namanya?Perlahan ia kembali menatap petugas itu. "He may have changed his name ... Calvin Andersen."Jemari petugas itu kembali menari di atas papan ketik.Kali ini … ekspresinya berubah. Ia berhenti mengetik. Tatapannya terpaku pada layar komputer beberapa saat lebih lama.Raut wajahnya yang semula datar berubah serius. Perlahan ia mengangkat pandangan. "Please ... give me a moment."Petugas itu berdiri, meminta izin, lalu berjalan menuju ruang

  • KAMAR KEDUA   Bab 277. Kamu Semakin Dekat

    Raka mengangguk patuh sambil memeluk buku gambarnya. Ratri menggandeng putranya memasuki kantor tersebut."Kamu duduk di sini dulu, ya," pintanya lembut seraya menuntun Raka ke sebuah sofa empuk di ruang tunggu.Raka mengangguk tanpa protes. Ia duduk rapi sambil memeluk buku gambarnya di pangkuan. Kedua kakinya yang belum menyentuh lantai terayun pelan, sementara matanya menjelajahi setiap sudut ruangan dengan rasa ingin tahu khas anak-anak.Ruangan itu terang dan tenang. Beberapa pelanggan tampak sedang berbicara dengan petugas di balik meja layanan.Setelah menunggu beberapa menit, tibalah gilirannya."Good afternoon. May I help you?" sapa seorang perempuan berambut pirang dengan senyum profesional.Ratri mengangguk pelan. "Excuse me ... I'd like to ask something." Ia mengeluarkan struk yang sedari tadi disimpannya dengan hati-hati. "Is this receipt from your company?"Ia mengatupkan bibir. Menunggu kepastian apakah tanda terima rental mobil berasal dari perusahaan itu. Perempuan i

  • KAMAR KEDUA   Bab 276. Arah yang Semakin Jelas

    "Tanggal kita jadian?” Suara itu pecah bersama sebutir air mata yang jatuh ke punggung tangannya. "Kamu masih ingat ….”Cepat-cepat ia mengusap matanya. Tersadar kalau waktunya tak banyak di tempat itu. Ia tidak bisa larut dalam kenangan. Folder-folder di desktop segera dibukanya. Namun dahinya langsung berkerut."Dokumen lama?"Semua berkas berhenti sekitar tiga tahun lalu. Tak ada satu pun file yang lebih baru.“Aneh.”Dengan gerakan yang mulai terburu-buru, ia masuk ke akun driver-nya sendiri.Satu per satu folder di laptop Calvin disalin ke akun miliknya. Baru setelah proses penyalinan berjalan, ia membuka aplikasi email. Kotak masuknya tampak biasa.Tagihan kartu kredit.Laporan rekening.Buletin.Notifikasi langganan aplikasi.Tidak ada yang mencurigakan. "Hampir semuanya normal...." Ia hendak menutup aplikasi itu. Namun pandangannya berhenti pada satu folder.Draft.Ratri mengekliknya.Ada delapan email yang tak pernah dikirim.Email pertama membuat napasnya tertahan.Pengirim:

  • KAMAR KEDUA   Bab 275. Jejak yang Tertinggal

    Suara yang baru didengar Ratri, membuat darah wanita itu seperti berhenti mengalir.Baru saja ia mendengar ada suara langkah kaki. Pelan dan samar berasal dari arah ruang televisi. Setidaknya begitulah yang didengarnya.Jantungnya berdegup semakin keras. "Mas ...?" panggilnya lirih.Tak ada jawaban."Mas Calvin?"Sunyi.Dengan napas yang mulai memburu, Ratri memberanikan diri melangkah keluar dari ruang kerja. Setiap langkah terasa begitu berat, sementara matanya menyapu setiap sudut apartemen kecil itu.Lalu … saat keberaniannya semakin menipis dan ia hendak berbalik meninggalkan apartemen itu, seekor kucing putih melompat turun dari atas sofa.Kucing itu mengeong pelan.Ratri refleks menepuk dadanya sendiri. "Astaga ...." Tanpa sadar ia bersandar ke dinding sejenak. Ia mengembuskan napas panjang, lalu tersenyum kecil di tengah rasa lega yang perlahan datang."Jadi kamu yang bikin aku kaget,” kata Ratri.Kucing itu berjalan santai mendekatinya, sama sekali tak terlihat takut pada ora

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status