LOGIN"Akan ku hancurkan hidup kalian!" Kukira perselingkuhan itu luka terdalam, sampai aku mengetahui rahasia yang disembunyikan suami dan sahabatku selama 3 tahun
View More“Sayang, tolong ganti popok anak kita!” teriak Silvia dari dapur.
Suara tangisan bayi yang nyaring memenuhi rumah mewah itu. Tangisan yang seharusnya menjadi panggilan bagi seorang ayah untuk bergerak, tetapi beberapa menit berlalu tanpa ada respons. Silvia yang sedang mengaduk sayur di atas kompor menoleh ke arah kamar kecil tempat putrinya terbaring. Hatinya mulai gelisah. “Hans! Tolong ganti popok Dinda dulu!” teriaknya sekali lagi. “Ya, bentar!” sahut Hans dari ruang tamu. Namun tangisan Dinda justru semakin keras. Silvia menggigit bibir bawahnya. Tangan yang masih memegang sendok kayu mulai bergetar karena kesal. Ia mematikan api kompor lalu berjalan cepat menuju ruang tamu. Langkahnya terhenti. Dadanya seketika terasa sesak. Di depan matanya, Hans sedang duduk sangat dekat dengan seorang wanita muda bernama Anggi. Keduanya tertawa riang seolah dunia hanya milik mereka berdua. Yang membuat hati Silvia semakin remuk adalah ketika melihat Hans menggigit separuh cokelat yang dipegang Anggi, lalu Anggi melanjutkan menggigit sisa cokelat yang sama sambil tertawa malu-malu. Seakan mereka pasangan yang sedang dimabuk asmara. Brak! Sendok kayu di tangan Silvia terjatuh dengan keras ke lantai. Suasana ruang tamu mendadak sunyi. Hans menoleh. Anggi juga menoleh. Dua teman Hans, Eko dan Dirga, yang sedari tadi ikut mengobrol juga menoleh ke arah Silvia. Wajah Silvia memerah menahan amarah. Sementara dari kamar, suara tangisan Dinda masih terdengar memecah suasana. “Sil ..." Hans berdiri. Namun Silvia hanya menatapnya dengan mata berkaca-kaca dan dada bergemuruh menahan kesal. “Anakmu menangis dari tadi," ucapnya dengan wajah muak. Hans menghela napas panjang. “Ya ampun, Silvia. Cuma ganti popok doang sampai marah-marah begitu?” Kalimat itu menusuk lebih dalam daripada pisau. Silvia terdiam. “Di sini ada teman-temanku,” lanjut Hans dengan nada tidak suka. “Jangan bikin malu aku kenapa sih." Malu? Silvia hampir tertawa mendengar kata itu. Bukankah yang mempermalukan rumah tangga mereka adalah Hans sendiri? Tetapi ia tidak menjawab. Ia memilih berbalik menuju kamar. Tangannya yang gemetar mulai membuka popok Dinda yang sudah penuh. Bayi kecil itu masih menangis sesenggukan. “Maafkan Mama, Nak," bisiknya lirih. Air matanya jatuh tepat di pipi mungil putrinya. “Maaf Mama terlambat.” Dinda seolah memahami kesedihan ibunya. Tangisnya perlahan mereda ketika Silvia membersihkan tubuh mungilnya dengan penuh kasih sayang. Namun ketenangan itu tidak berlangsung lama. Anggi tiba-tiba muncul di depan pintu kamar. Wanita itu menutup hidungnya. “Ih, bau banget sih.” Nada suaranya terdengar seperti ejekan. “Pantas aja aku nggak mau punya anak cepat-cepat.” sambungnya dengan tawa sinis. Silvia yang sejak tadi berusaha menahan diri akhirnya kehilangan kesabaran. Dia berdiri perlahan menatap Anggi lurus ke mata. “Bau ya?” Anggi tersenyum meremehkan. “Jelas lah.” Tanpa peringatan. Plak! Popok bekas yang baru saja dilepas Silvia melayang tepat ke arah Anggi. “AAAAAH!” Jeritan Anggi menggema. Popok itu mengenai lengan dan sebagian bajunya. “Silvia!” teriak Anggi marah. “Katanya bau!” bentak Silvia. “Sekarang rasakan sendiri!” Anggi langsung menangis kesal. “Kamu gila ya?!” “Dan kamu tidak tahu diri!” potong Silvia dengan tatapan tajam, seolah dia ingin sekali mencabik-cabik wajah wanita dihadapannya itu. Hans yang mendengar keributan segera masuk ke kamar. “Ada apa ini?” Anggi menunjuk Silvia dengan wajah merah padam menahan kesal. “Lihat tuh istrimu! Dia lempar popok kotor ke aku!” rengeknya, lalu dia berjalan ke ruang tamu. Hans langsung menatap Silvia tajam.“Kamu keterlaluan! Apa kamu sudah tidak waras, hah!" maki Hans dengan marah. Silvia tersenyum pahit. “Keterlaluan?” lalu dia terkekeh, " Iya, kamu benar. Aku tidak waras semenjak menikah denganmu!" “Gila! Minta maaf sekarang juga!” Silvia menggeleng pelan. “Tidak.” “Silvia!" “Aku bilang tidak.” Hans mengepalkan tangan. “Jangan bikin masalah di depan tamuku!” Kalimat itu kembali membuat hati Silvia retak. Tamu dia bilang. Selalu tamunya. Selalu orang lain. Tidak pernah istrinya. Tidak pernah anaknya. Silvia tertawa kecil. Tawa yang terdengar lebih menyakitkan daripada tangisan. “Aku bikin masalah, ya?” “Memangnya kamu pikir bukan?” Air mata akhirnya jatuh tanpa bisa ditahan lagi. “Dari tadi anakmu menangis karena popoknya penuh! Hans, aku minta tolong baik-baik padamu, tapi kamu malah asyik bermesraan dengan dia!" maki Silvia sambil menunjuk ke arah Anggi yang saat ini sedang menatapnya juga penuh marah. “Aku kan sudah bilang bentar!” “Tapi yang aku lihat malah kamu asyik tertawa dengan wanita lain!” Hans mendengus. “Ya ampun, Silvia. Kamu cemburuan banget.” Kalimat itu membuat Silvia menatapnya tidak percaya. “Cemburuan?” “Anggi cuma teman SMP-ku.” “Teman?” ulang Silvia. “Iya.” “Teman.” Silvia mengangguk pelan. Lalu menatap cokelat yang masih berada di meja. “Kalau cuma teman, kenapa makan satu cokelat berdua? Apa kamu sadar kalau bibir kalian tadi hampir beradu? Hahaha ... Lucu sekali.” Ruangan mendadak sunyi. Hans terdiam. Anggi salah tingkah, namun sejurus kemudian dia tersenyum penuh kemenangan. Namun Eko segera menyela. “Silvia, kamu terlalu sensitif.” Dirga ikut mengangguk. “Benar. Hans sama Anggi memang dekat dari dulu, kau juga tau itu." “Jangan lebay lah.” timpal Anggi dengan nada mengejek bahwa dia pemenangnya. Kata-kata itu membuat Silvia memandang mereka satu per satu kemudian ia tersenyum. Senyum sinis yang penuh luka. “Lebay?" Tidak ada yang menjawab. “Mana ada teman yang jaraknya sedekat itu?” Tatapannya berpindah ke Hans, lalu ke Anggi. Tatapan tajam menusuk. "Mana ada teman yang saling menggigit cokelat yang sama?Hanya orang bodoh yang percaya itu biasa.” Wajah Anggi langsung berubah. “Eh, jangan sembarangan ngomong! Kami memang sudah biasa begitu." Sudah biasa dia bilang. Silvia tertawa renyah. Mungkin memang pertemanan Hans dan juga Anggi seperti itu, atau bahkan mungkin mereka sudah terbiasa berciuman, atau lebih dari itu. “Kalau tidak suka mendengarnya, jangan lakukan hal yang memalukan. Kau itu wanita singel, dan dia sudah beristri. Dimana harga dirimu, hah!" bentak Silvia. Hans mulai kehilangan kesabaran. “Sudah cukup, Silvia!” “Belum!” Suara Silvia menggema keras. Untuk pertama kalinya selama pernikahan mereka, ia tidak ingin diam. Tidak ingin mengalah. Tidak ingin menelan luka sendirian. “Aku capek, Hans!” Matanya memerah. “Aku capek selalu dianggap berlebihan! Aku capek selalu disuruh mengerti! Aku capek melihat suamiku lebih peduli pada wanita lain dibanding anaknya sendiri!” Hans membeku. Sementara Eko dan Dirga mulai saling pandang. Mereka tidak menyangka kemarahan Silvia selama ini ternyata sedalam itu. Silvia mengusap air matanya kasar. Lalu mengangkat tangan menunjuk pintu rumah. “Keluar!” Semua orang terdiam. “Silvia jangan keterla--” Hans mencoba bicara. “Keluar!" Teriak Silvia dengan marah. Suara itu lebih keras dari sebelumnya. “Anggi, keluar dari rumahku!" Wanita itu langsung berdiri. “Kamu ngusir aku?” “Iya.” Silvia menatap Eko dan Dirga. “Kalian juga keluar!" “Tapi—” “Keluar!” Dada Silvia naik turun menahan emosi. “Aku tidak mau melihat satu pun dari kalian di rumah ini sekarang!” Ruangan kembali sunyi. Tangisan Dinda terdengar lirih dari dalam gendongan ibunya. Seolah ikut merasakan luka yang sedang dipikul sang ibu. Silvia memeluk putrinya erat. Sangat erat karena saat itu ia sadar satu hal. Kadang, orang yang paling menyakiti hati seorang wanita bukanlah musuhnya. Melainkan orang yang dulu berjanji akan melindunginya. Dan yang paling menyakitkan bukan ketika suami tertawa bersama wanita lain. Melainkan ketika suami itu memilih membela wanita lain di depan istrinya yang sedang menangis. "Sudah cukup aku diam," lirih Silvia dengan tangisnya. "Aku harus ambil keputusan." BERSAMBUNG....Silvia menggeleng sambil tertawa. “Padahal yang bekerja keras bukan cuma aku.” "Tapi orang yang paling berjasa tetap kamu.” kelakar Leon. Setelah makanan tersaji, suasana berubah jauh lebih santai. Mereka mulai mengenang masa-masa sekolah dahulu. “Ingat waktu kamu pernah dihukum berdiri di depan kelas?” Silvia langsung tertawa. “Jangan diingat-ingat.” “Padahal waktu itu kamu yang paling rajin.” “Aku dihukum gara-gara membela teman.” Leon tertawa lepas. “Dan guru malah mengira kamu yang membuat keributan.” Silvia ikut tertawa hingga matanya sedikit menyipit. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, tawanya terdengar begitu lepas. Tanpa ia sadari, sejak tadi Leon tidak benar-benar fokus pada makanan. Tatapan pria itu justru terus tertuju kepada Silvia. Tatapan yang begitu dalam penuh kekaguman, Penuh rasa syukur dan menyimpan perasaan yang selama bertahun-tahun ia pendam sendirian. Namun Silvia sama sekali tidak menyadarinya. Ia masih sibuk menceritakan berbagai kenangan m
“Lepaskan!” Suara Silvia terdengar dingin disertai nada tegas. Tubuhnya refleks menegang ketika dua telapak tangan tiba-tiba menutup kedua matanya dari arah belakang. Berkas-berkas kerja sama yang baru saja ia rapikan hampir terjatuh karena rasa terkejut yang begitu mendadak. Ruangan yang sebelumnya dipenuhi kesibukan kini mulai lengang. Para tamu telah pulang, para staf sedang membereskan perlengkapan acara, sementara Silvia masih bertahan menyelesaikan pekerjaannya. Karena itu, sentuhan tiba-tiba itu membuat jantungnya berdetak jauh lebih cepat. Terdengar suara tawa kecil yang begitu akrab. “Hei, galak sekali. Baru juga bercanda.” Orang itu terkekeh pelan sebelum akhirnya melepaskan kedua tangannya dari wajah Silvia. Silvia segera membalikkan tubuhnya dengan wajah waspada. Namun sesaat kemudian ia mengembuskan napas panjang sambil memegang dadanya yang masih berdebar. “Ternyata kamu, Leon.” Ada nada lega yang begitu jelas dalam ucapannya. Dia pikir itu Hans, atau komplotann
"Aku---" Belum sempat Anggi menjawab, Mama Novi malah tertawa kecil.Plak.Ia memukul pelan lengan putra sulungnya. "Dasar anak ini. Kamu lupa? Itu Anggi, teman kecil Hans. Dulu kamu juga sering bermain bersama dia. Bahkan kamu yang paling sering melindunginya kalau ada anak-anak nakal mengganggu."Sony memejamkan mata beberapa detik.Ia mencoba mengingat wajah masa kecil yang mulai samar dalam ingatannya.Perlahan bibirnya membentuk senyum kecil. "Oh... Jadi kamu Anggi."Wanita itu tersenyum manis.Sony mengangguk pelan. "Sekarang kamu jauh lebih cantik. Pantas saja hampir tidak mengenalimu."Pujian itu terdengar tulus. Tanpa ada maksud lain. Namun senyum Anggi justru berubah menjadi sedikit berbeda.Ada sesuatu yang sulit dijelaskan. Seolah ada maksud tersembunyi di balik lengkungan bibirnya."Aduh, Kak Sony terlalu berlebihan." Anggi terkekeh kecil. "Tapi memang sih, sejak dulu banyak pria yang tergila-gila sama aku. Jadi wajar saja kalau Kak Sony juga ikut terpikat."Ruangan mend
Pintu rumah keluarga Wijaya terbuka perlahan.Suara langkah kaki yang tenang namun tegas menggema memenuhi ruang tamu yang sejak tadi dipenuhi ketegangan.Sosok pria bertubuh tinggi dengan jas hitam sederhana memasuki ruangan itu. Wajahnya tampan dengan garis rahang tegas, sorot matanya dingin namun tajam seolah mampu menembus kebohongan siapa pun yang berdiri di hadapannya.Aura yang dipancarkannya membuat seluruh isi ruangan mendadak membeku.Bahkan Hans yang sejak tadi tampak percaya diri mendadak berdiri dari duduknya.Pria itu menghentikan langkahnya tepat di tengah ruang tamu. Tatapannya berkeliling, mengamati satu per satu wajah yang berada di sana.Lalu dengan suara berat yang berwibawa, ia bertanya, "Siap yang ingin menghancurkan keluarga Wijaya?"Kalimat itu meluncur datar. Namun justru karena diucapkan dengan begitu tenang, setiap orang yang mendengarnya merasakan tekanan luar biasa.Hans menelan ludah. "K-Kak Sony ... kapan pulang?" tanyanya dengan mata membulat penuh kete












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviewsMore