MasukWarsito memandang berkeliling beberapa saat. Ia lalu sedikit menundukkan kepalanya seolah sedang berbisik. “Bukan karena mereka nggak tau risikonya.” Rautnya menegang. “Justru karena ada orang yang tau risikonya, saya pikir keputusan itu dibuat dengan sengaja.”Nadine menatapnya. “Siapa yang minta?”Warsito kembali menegakkan tubuhnya. “Saya nggak mau menuduh Pak Salim kalau saya nggak bisa membuktikannya, Bu.” Ia menarik napas. “Tapi saya bisa mengatakan satu hal. Kalau … orang yang mengurus perubahan itu bukan pegawai biasa.”Pria itu kembali mengangguk. Wajahnya masih terlihat amat serius. “Dan permintaan itu datang dari pihak KSD Holding.”Nadine sedikit mencondongkan tubuh. “Tapi saya butuh nama, Pak.”Warsito diam.“Begini,” lanjut Nadine. “Kalau hal ini menjadi momok dan terus memenuhi pikiran Bapak sampai puluhan tahun, saya memang nggak janji bisa menebus rasa bersalah itu.”Ia menelan ludah. “Tapi ini hal penting.” Nadine menatap Warsito lebih dalam. “Ini soal keluarga sa
Pertanyaan itu membuat Nadine terdiam sesaat. Warsito masih memandangnya dari seberang meja. Pria itu tidak terlihat seperti seseorang yang datang untuk menjual informasi. Justru sebaliknya. Ada kehati-hatian dalam caranya duduk, dalam tatapannya yang sesekali bergerak ke sekitar kafe, bahkan dalam cara kedua tangannya saling bertaut di atas meja.Nadine menarik napas.“Maaf kalau hari ini saya banyak mengganggu Bapak.”Warsito tidak menyela.“Tapi soal peristiwa beberapa puluh tahun lalu, soal KSD Holding ini memang sudah lama sekali. Kejadiannya bahkan terjadi ketika saya masih di bangku sekolah.”Ia tersenyum tipis.“Jadi, saya memang sama sekali nggak pernah berpikir soal KSD Holding sampai beberapa waktu lalu.”Nadine berhenti sebentar.“Ada sesuatu yang membuat saya penasaran. Saya jadi mencari-cari siapa yang mungkin bisa menjelaskan kepada saya.”Tatapan Warsito tetap tertuju kepadanya.“Karena saya tahu orang tua saya tidak akan memberitahu yang sesungguhnya.”Nadine mengang
Nadine melewatkan waktu makan siang karena dua jam berikutnya ia habiskan untuk menelepon satu per satu nama yang diberikan sekretarisnya.Dua-tiga nama sudah terlalu tua dan tidak lagi mengingat detail kejadian di tahun dan bulan yang disebutkan Nadine. Sebagian lainnya terang-terangan menolak membicarakan masa lalu perusahaan. Sebagian ada yang dengan sungguh-sungguh mengatakan tidak paham kenapa Nadine bertanya soal bulan dan tahun yang ia sebutkan. Namun ada beberapa orang yang membuat Nadine merasa aneh. Ada yang nada suaranya berubah begitu tahu siapa yang menelepon. Jelas kalau mereka bersikap waspada.Seolah nama Salim Kusuma Wijaya dan keturunannya masih cukup kuat untuk membuat mereka memilih diam.Bahkan dari bekas pegawai yang dihubungi Nadine ada yang langsung mengakhiri pembicaraan.Sampai akhirnya satu panggilan tersambung."Bu Nadine?""Iya.""Anaknya Pak Salim?""Iya, Pak." Nadine langsung menegakkan punggungnya. Hanya tersisa dua nama, dan pria yang menjawab panggi
Malam itu juga.Nadine sama sekali tidak sanggup menunggu sampai pagi.Ia kembali menatap lembaran bertuliskan Recommendations for Further Investigation yang masih berada di atas meja. Setelah menghela napas panjang, ia meraih ponselnya dan menekan nomor Hendra Wijaya Kusuma. Pria tua yang sangat berpengalaman di bidang shipping dan merupakan kenalan lama keluarganya.Beberapa saat kemudian panggilan itu tersambung. Suara di seberang terdengar berat seakan sudah terbangun dari tidur. Padahal biasanya Nadine mengenal pria itu adalah sosok yang seringnya terjaga hingga dini hari.“Pak De udah tidur?”"Nadine?" Hendra berdeham pelan. "Ini udah tengah malam."Nadine melirik jam di layar ponselnya. "Biasanya Pak De belum tidur jam segini."Terdengar Hendra terdiam beberapa saat lalu berdeham pelan. "Ada apa nanya KSD Holding tiba-tiba?”Nadine mengernyit. "Pak De sakit?""Nggak apa-apa.”"Ratri mana?” tanya Nadine lagi. Ia tak peduli perubahan nada suara di seberang telepon."Udah tidur. I
Nadine tersenyum pahit. "Selama ini aku kira laki-laki seperti itu memang nggak ada di dalam diri Satria."Kalimat itu menggantung cukup lama.Caroline diam beberapa saat. Lalu, "Nad … aku boleh jujur?""Boleh.""Mungkin ... bukan karena kamu kurang. Mungkin memang kalian berdua nggak pernah saling menemukan versi terbaik masing-masing."Nadine tidak menjawab. Jarinya mengetuk pelan bibir gelas.Caroline kembali bersuara. "Lalu Nayla?"Nadine menghela napas. "Masih sama aku.""Dia sering ke rumah papanya?""Sering.""Hm …." Caroline terdengar ragu sebelum akhirnya bertanya, "Nadine ... kamu nggak takut Nayla nanti lebih nyaman di sana?"Pertanyaan itu membuat jari Nadine berhenti bergerak. Tatapannya perlahan mengeras. "Dia anakku.""Aku tau,” sahut Caroline enteng. "Nayla akan tetap pulang ke rumah ini."Caroline menangkap nada tegas yang mulai muncul. Ia segera mengalihkan pembicaraan. "Ya udah. Yang penting Nayla bahagia.""Iya."Mereka mengobrol sebentar mengenai hal lain sebelum
Satria tidak langsung menjawab.Telapak tangannya masih mengusap pelan punggung Sheza. Gerakannya tetap tenang, tetapi pikirannya kembali pada percakapannya dengan Nayla di tepi kolam beberapa jam lalu.Sheza mengangkat wajah.Tatapannya meneliti suaminya beberapa saat. "Itu ... soal mamanya Nayla, ya?"Satria tersenyum tipis. "Kok kepikiran ke sana?""Karena Mas jadi diam." Ia mengusap pelan dada Satria dengan ujung jarinya. "Kalau soal kantor, biasanya Mas langsung cerita. Kalau soal Dio, Mas juga cerita."Satria menghela napas pelan."Kamu jangan kebanyakan mikir.""Itu berarti iya."Satria tertawa kecil, meski terdengar hambar. "Kamu ini."Sheza kembali memandang wajah suaminya."Mbak Nadine ... udah tahu aku hamil lagi?"Hening beberapa detik. "Udah."Sheza menelan ludah. "...Komentarnya apa?"Satria menatap langit-langit kamar. "Cuma komentar biasa.""Mas.""Hm?""Mas bohong."Satria menoleh."Kamu kelihatan lagi nyari jawaban yang paling aman." Sheza tersenyum kecil. "Aku udah







