LOGINLiana terpaksa menikah kontrak dengan Arsen demi menyelamatkan nyawa neneknya, tanpa tahu bahwa keputusan itu akan membawanya ke dalam keluarga yang penuh tekanan dan penghinaan. Di tengah pernikahan dingin dan statusnya yang diremehkan, Liana perlahan bangkit dan membuktikan dirinya bukan wanita lemah seperti yang mereka kira. Saat kontrak berakhir, Liana harus memilih—pergi dengan harga dirinya, atau bertahan pada hubungan yang kini tak lagi sekadar kesepakatan.
View More"Kalau kamu lompat sekarang, nenekmu tetap tidak akan selamat.”
Suara itu muncul di tengah hujan. Liana membeku. Kakinya sudah berada di ujung jembatan, tubuhnya condong ke depan, tapi kalimat itu seperti menariknya kembali ke dunia nyata. Perlahan, dia menoleh. Seorang pria berdiri beberapa langkah di belakangnya. Jas hitamnya basah terkena hujan, tapi sikapnya tetap tenang, seolah situasi ini bukan hal yang mengejutkan baginya. Liana mengernyit. “Apa maksudmu…?” Pria itu melangkah mendekat, tapi tetap menjaga jarak. “Biaya operasi nenekmu seratus ribu dolar. Kamu sudah mencoba pinjam ke keluarga, ke bank, bahkan menjual barang yang kamu punya.” Napas Liana langsung terhenti. “Dari mana kamu tahu itu?” Tatapan pria itu datar. “Itu tidak penting.” Hujan semakin deras. Jantung Liana berdegup kencang. Untuk pertama kalinya sejak tadi, rasa takutnya bukan lagi pada sungai di bawah… tapi pada pria di depannya. “Siapa kamu," “Arsen.” Jawabannya singkat. Liana menggenggam tangannya erat. “Kalau kamu cuma mau mempermainkan aku, lebih baik pergi.” “Aku tidak punya waktu untuk itu.” Nada suaranya tenang, tapi tajam. Tidak ada keraguan di sana. Liana tertawa kecil, pahit. “Semua orang juga bilang begitu… sebelum akhirnya pergi.” Arsen menatapnya sebentar. “Aku bukan ‘semua orang’.” Kalimat itu sederhana, tapi entah kenapa membuat Liana terdiam. Arsen kemudian berkata, “Aku bisa membayar semua biaya operasi nenekmu. Sekarang juga.” Kata-kata itu menghantam lebih keras dari hujan. Liana menatapnya, tidak percaya. “Kenapa… kamu mau melakukan itu?” Dia menatap Arsen lebih dalam, seolah mencoba mencari celah kebohongan. “Orang sepertimu… tidak mungkin menolong tanpa alasan,” lanjutnya pelan. “Benar,” jawab Arsen singkat. Hening. “Jadi bilang saja langsung,” kata Liana, sedikit menantang. “Apa yang kamu mau?” Arsen tidak langsung menjawab. Ia seperti menilai sesuatu, lalu akhirnya berkata pelan, “Karena aku butuh seseorang untuk menikah denganku.” Dunia terasa hening. Liana bahkan tidak yakin dia mendengar dengan benar. “Apa…?” “Menikah denganku,” ulang Arsen, tetap tenang. “Sebagai imbalannya, aku akan menyelamatkan nenekmu.” Liana menatapnya lama. Merasa tidak masuk akal seorang pria yang tidak dikenal tiba-tiba ingin menolong dengan bayaran menikah dengannya. “Ini tidak masuk akal,” gumamnya pelan. “Tidak,” jawab Arsen. “Ini transaksi. Di dunia ini tidak ada yang gratis.” Kalimat itu sederhana, tapi menusuk. Liana menunduk. Pikirannya kacau. Beberapa menit yang lalu, ia siap mengakhiri hidupnya. Sekarang… seseorang menawarkan jalan keluar. Dengan harga yang tidak kalah besar. “Kenapa aku?” tanyanya lirih. Arsen menatapnya tanpa ragu. “Kamu tidak punya siapa-siapa. Tidak punya pilihan. Dan…” dia berhenti sejenak, lalu melanjutkan, “…kamu cukup berani untuk berdiri di sini.” Liana tertawa pelan, tapi terdengar lelah. “Berani?” dia menggeleng. “Aku di sini bukan karena berani… tapi karena sudah tidak punya pilihan.” “Justru itu,” jawab Arsen. Hujan terus jatuh tanpa henti. Liana mengepalkan tangannya. Dadanya terasa sesak. Ini gila. Menikah dengan orang asing. Tapi… neneknya. “…Kalau aku menolak?” suaranya pelan. Arsen tidak mengalihkan pandangannya. “Besok, kamu akan tetap berdiri di rumah sakit… tapi tanpa uang.” Setelah mendengar itu, Liana menutup matanya sejenak. Mungkin ini satu-satunya jalan. Saat ia membuka mata kembali, tatapannya sudah berubah. “…Baik,” katanya pelan. Arsen tidak terkejut. Seolah sudah tahu jawabannya. “Bagus.” dia mengeluarkan ponselnya, menekan sesuatu, lalu memasukkannya kembali ke saku. “Beberapa menit lagi, rumah sakit akan menghubungimu.” Liana menatapnya. Jantungnya berdegup tidak teratur. “Apa yang kamu lakukan?” Arsen melangkah mendekat, berhenti tepat di depannya. “Memastikan kamu tidak bisa mundur.” Hujan masih turun.Setelah selesai makan, Liana membereskan sisa-sisa di meja. Piring kotor ia susun rapi, lalu satu per satu dibawanya ke dapur. Suara air mengalir pelan mengisi ruangan, Beberapa menit kemudian, semuanya sudah kembali bersih seperti semula. Liana menyeka tangannya dengan handuk kecil, lalu tanpa sadar melirik ke arah ruang kerja. Arsen sudah duduk di sana, menatap layar laptopnya dengan fokus, seolah dunia di sekitarnya tidak ada. Liana terdiam sejenak. Tidak ada yang ingin ia katakan… Tanpa suara, dia mengambil tasnya, menyampirkannya ke bahu, lalu berjalan keluar rumah. Dari dalam, Arsen sempat mengangkat pandangannya. Ia melihat punggung Liana yang menjauh, alisnya sedikit berkerut. Namun hanya sebentar. dia kembali menunduk, menutup file di laptopnya, lalu bersiap berangkat ke kantor. Di halaman rumah, Liana berhenti di samping sepeda listriknya, ia menekan tombol. “Duh… ini kok nggak mau nyala, ya…” gumamnya, keningnya mengernyit. Dia mencoba lagi. Sekali. Dua kali. Te
Keesokan harinya, Liana bangun jam enam pagi seperti biasa.Dulu, dia harus menyiapkan sarapan untuk nenek. Tapi semenjak nenek sakit, dia sudah jarang masak.Saat bangun dari tempat tidur, Liana memandangi kamar yang masih terasa asing di matanya.Dia mengernyit bingung.Beberapa detik kemudian, ingatannya kembali.“…Aku hampir lupa kalau aku sudah menikah.”Liana menghela napas pelan, lalu bangun dari tempat tidur.Perutnya terasa lapar. Ia segera mandi dan berganti pakaian.Setelah itu, dia keluar dari kamar dan melihat ke sekeliling.Rumah masih sepi.Matanya sempat berhenti pada pintu kamar Arsen.“Sepertinya dia belum bangun…” gumamnya pelan.“Aku harus menyiapkan makanan.”Liana turun ke lantai bawah.Namun saat sampai di dapur, dia kembali terdiam.“…Lagi-lagi lupa.”Tidak ada alat masak. Tidak ada bahan makanan.Akhirnya, dia memutuskan keluar untuk membeli makanan di restoran cepat saji di depan kompleks.Beberapa waktu kemudian, Liana kembali dengan beberapa kantong makanan
Setelah selesai makan, Liana mengeluarkan piyama dari koper. Dia kemudian mandi dengan air panas, mencoba menghilangkan lelah yang menumpuk sejak pagi. Beberapa menit kemudian, dia menjatuhkan diri ke tempat tidur… dan tertidur lelap tanpa sempat berpikir apa pun lagi. Di sisi lain, setelah selesai bertemu klien, Arsen berjalan keluar dari gedung kantor. Dia melihat para pengawalnya sudah menunggu. “Aku lupa memberi tahu kalian,” ucapnya sambil merapikan jasnya. “Mulai sekarang aku akan pulang sendiri. Kalian bisa antar-jemput yang lain saja.” Salah satu pengawal tampak ragu. “Tapi, Den—” Arsen langsung menatapnya dingin. “Ikuti saja perintahku.” “…Baik, Den.” Mereka langsung menunduk. Tidak ada yang berani membantah lagi. Kantor sudah sangat sepi saat Arsen menuju parkiran. Dia berjalan ke arah mobil mewah yang biasa ia gunakan untuk bepergian sendiri—mobil yang sengaja ia simpan di kantor. Saat mesin mobil menyala, ia sempat terdiam sejenak. “Aku hampir lupa…” gumamnya p
Telepon berbunyi. Arsen yang sedang sangat sibuk sebenarnya tidak ingin mengangkatnya. Namun, setelah melihat siapa yang menelepon, ia terpaksa menerima panggilan itu. “Halo, Nek. Kenapa menelepon aku? Aku lagi sibuk banget. Nanti saja, kalau nggak ada hal penting.” Suara di seberang terdengar jelas, membuat Arsen sedikit menghela napas. “Mama kamu datang ke rumah. Dia mengadu tentang kamu yang menikah tanpa kabar… dan menikah dengan orang asing.” Arsen menutup matanya sejenak. “Aku sudah bilang, aku tidak suka dijodohkan. Apalagi sama Vanesa itu.” Nada suaranya terdengar dingin, tapi tegas. “Hm… ya sudah. Itu juga salah mama kamu sendiri,” balas suara neneknya. “Tapi nenek mau lihat cucu menantu nenek.” Arsen terdiam beberapa detik. “Nanti saja. Aku lagi banyak kerjaan.” “Jangan lama-lama. Nenek nggak sabar,” jawab neneknya dengan nada ringan. “Iya.” Telepon pun ditutup. Arsen mengusap pelipisnya pelan. “…Mulai ribet,” gumamnya. DIa menyandarkan tubuh di kursinya, me












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.