Share

OLD FRIEND

“HOWAAAAAA!!” Teriakan kemenangan seorang pria yang diiringi dengan gemuruh orang-orang yang bertepuk tangan membuat mata Daniel seolah terhipnotis untuk terus memandang ke arah mereka.

“Siapa lagi yang mau menantangku?” Pria yang tadi berteriak kini sudah berdiri di atas meja sambil mengangkat gelas alkoholnya yang kosong.

Perlahan setiap pria yang tadi mengerumuninya mengalihkan pandangan mereka dan beringsut memundurkan tubuh mereka.

“Hei, kau! Kenapa kau terus menatapku?” Semua orang seketika menengok ke arah yang ditunjuk oleh pria di atas meja itu.

“Aku?” Daniel menunjuk dirinya.

“Cepat kemari!!” Seru pria itu lagi setengah berteriak.

Daniel yang kebingungan menengok-nengok kepada orang-orang di kiri dan kanannya.

“Abikan saja. Kita ke sini hanya untuk mengamati situasi. Jangan berbuat lebih dari pada itu.” Jenny menarik ujung lengan kemeja Daniel.

“Hei, bodoh! Jangan sampai aku menyeretmu! Cepat kemari!” Pria itu turun dari meja dan bersiap menjemput Daniel.

“Hei … sepertinya aku mengenal pria itu!” Bisik seorang wanita kepada teman di sebelahnya.

“Aku juga. Wajahnya tidak asing.” Sahut teman wanita itu balas berbisik.

“Tapi sudah lama kita tidak melihat dia. Apa benar pria itu orang yang sama?”

“Mampus saja dia kalau sampai kalah malam ini!”

Daniel masih berdiri terpaku, sedang ujung kemejanya terus dipegangi oleh Jenny. Kesal dengan situasi yang belum kembali memanas, seorang pria yang berdiri di belakang Daniel mendorong tubuh Daniel hingga tersungkur ke tengah lantai bar.

“Hooowaaaa!!!” Riuh sorak sorai dan tepuk tangan kembali memenuhi bar yang sempat sunyi sesaat.

Sebuah meja kayu didorong oleh seorang pria berbadan besar dan puluhan gelas alkohol dalam ukuran besar dengan cepat dijajarkan di atas meja. Riuh tepuk tangan semakin menggema tak kala dua orang pria itu telah berdiri berhadapan hanya terpisahkan oleh meja alkohol.

“Lima ribu yuan jika kau bisa menghabiskan 10 gelas alkohol lebih cepat dariku.” Ucap pria itu dengan mata merah.

Daniel dapat menebak dengan cepat kalau pria itu pastilah sangat jago minum. Sayangnya, pada pertempuran sebelumnya pria itu terlihat hampir menghabiskan separuh nyawanya. Berarti dia akan memiliki peluang menang besar jika berani mengambil tantangan tersebut.

“Setuju!” Daniel berkata dengan penuh percaya diri.

Melihat akan terjadi ketidakberesan, diam-diam Jenny mengambil ponselnya dan mengirimkan pesan singkat kepada Eden. Satu menit kemudian bar kembali ramai dengan sorak orang-orang yang memberikan semangat kepada dua orang pria yang tengah bertarung itu.

BRUK!

Seorang diantara dua orang pria itu ambruk dengan wajah menghantam lantai. Secepat kilat Jenny berlari melewati puluhan orang yang berkerumun. Wajah wanita itu seketika berubah pucat pasi. Daniel Yuwan masih berdiri tegak menenggak gelas alkohol terakhir di tangannya. Sementara pria yang tadi menantangnya itulah yang tersungkur tak berdaya di lantai.

“Hentikan!” Pekik Jenny menarik gelas di tangan Daniel.

“Aku hebat kan? Aku juara minum arak di kampung.” Daniel berbisik ke telinga Jenny.

Bau alkohol keluar dari hawa mulutnya Daniel, membuat Jenny menggernyitkan hidungnya.

“Rudy Ang! Sudah aku bilang ubah kebiasaan burukmu! Hah–kau tidak sadar betapa repotnya aku mengurusmu setiap kali kau mabuk.” Seorang wanita berkaki jenjang yang sempurna berjongkok lalu mengguncang tubuh pria bernama Rudy Ang yang masih terbaring dengan separuh kesadaran.

“Ahhh – Sayang! Aku seperti ini karena kau terlalu sibuk bekerja. Hiikk–kau juga sudah jarang memanjakanku lagi. Hiiikk!!” suara pria itu berubah manja serta cegukan disela-sela kalimatnya.

“Mau aku bantu membopong kekasihmu, nona?” kini Daniel sudah berdiri tepat di sebelah wanita itu.

“Aaah–aku sudah terbiasa, tapi kalau kau mau membantu–dengan senang hati.”

Daniel membungkukkan badannya, dengan maksud menarik tangan pria mabuk itu dan membantunya berdiri. Namun siapa sangka, tiba-tiba dirinya merasakan sebuah gejolak berputar yang aneh di perutnya. Gejolak itu semakin lama semakin bergulung tak tertahankan. Sedetik kemudian sebuah kejadian mengerikanpun terjadi.

“Owweeeekk!!” Daniel menumpahkan semua isi perutnya tepat ke atas tubuh Rudy.

“Aaaarrrggghhh!!” Rudy berteriak mengamuk saat merasakan cairan padat membanjiri tubuhnya.

Gerombolan orang-orang yang sedari tadi menonton seketika menangkap sinyal bahaya dan berlarian menyelamatkan diri mereka masing-masing.

“Kau pria berengsek! Kau tahu berapa harga selembar pakaianku ini–hah? Kau harus menggantinya dengan nyawamu!”

BAM!

Sebuah pukulan dari Rudy tidak dapat dihindari oleh Daniel yang masih terus memuntahkan isi perutnya. Kini tubuh Rudy sudah berada di atas tubuh Daniel, siap melayangkan sebuah tonjokan telak ke wajah lawannya itu.

“JANGAN!” Teriak Daniel menyilangkan kedua tangan di depan wajahnya.

Suasanapun kembali sunyi. Rudy menahan kepalan tangannya dengan wajah merah menahan mabuk dan amarah yang memuncak. Setelah merasa tidak ada pergerakan dari Rudy, Daniel perlahan menurunkan silangan tangannya.

Lalu seorang wanita dengan lantang mengenali wajah Daniel, “ternyata benar! Kau David Lim kan?” Ucap wanita itu seraya menunjuk ke arah Daniel.

“Da–David? Mana mungkin? Dia sudah lama menghilang.” Rudy menghalau tangan Daniel yang masih berusaha kembali melindungi wajahnya.

“Benar–dia David Lim. Pantas saja kau kalah. Dia kan raja minum terhebat.” Seru seorang pengunjung lain.

“Tuan David, maafkan kami. Kekacauan ini akan segera kami selesaikan.”

Mendengar nama David Lim, dua orang pelayan bar segera mendekat dan menarik Rudy yang masih bertengker di atas tubuh Daniel.

“Benarkah kau David Lim?” wanita yang diduga sebagai kekasih Rudy itu bertanya seraya mengamati wajah Daniel.

“Eehhh …” Daniel hendak mengiyakan pertanyaan wanita itu, namun tenggorokannya tercekat saat mata mereka bertemu.

Adegan saling menatap itu tidak berlangsung lama. Jenny sudah berjalan kembali mendekati Daniel dan menarik lengan pria itu dengan lebih kuat.

“Ayoo pulang!” ucap Jenny dengan nada marah.

Jenny menarik tubuh sempoyogan itu dengan susah payah, berjalan keluar dari bar dan mendatangi mobil yang dikendarai oleh Eden Liu.

“Eden … segera kau antarkan sahabatmu ke Broadway Apartement lantai 14. Ini kartu apartemennya. Jangan tinggalkan dia sendirian sampai besok pagi aku datang ke sana. Kau mengerti?!”

“Baik, nona Jenny.”

Sambil memasangkan sabuk pengaman ke tubuh sahabatnya, Eden meringis melihat wajah sahabatnya yang sudah tidak karuan dengan pakaian yang kotor penuh muntahan.

***

“Aku tadi melihatnya …” gumam Daniel saat kendaraan sudah melaju membelah jalan raya.

“Siapa?” tanya Eden, menengok sekilas kepada Daniel.

“Serena Yao …” desis Daniel.

“Serena Yao?” Eden kembali menengok pada Daniel, memastikan bahwa sahabat sedari kecilnya itu tidak sedang mengigau.

“Iya. Aku tadi melihatnya di bar. Dia sudah sangat berubah, sangat cantik.”

“Kau pasti salah, sob. Serena Yao tidak mungkin ada di Hong Kong. Bukankah dulu kau pernah bilang kalau dia bercita-cita menjadi seorang selebritis? Tapi rasanya aku tidak pernah melihat wajahnya di televisi.” Eden mengangkat bahunya.

“Tapi tadi aku benar-benar melihatnya.”

“Kau pasti mabuk, sob. Sudahlah … Paling juga besok kau sudah melupakannya.”

Mobil yang dikendarai Eden mulai memasuki sebuah pelataran kawasan apartemen mewah. Lampu warna-warni yang menyambut kedatangan mereka dilewatkan begitu saja oleh Daniel yang pikirannya masih terus melayang pada sosok wanita di bar.

“Hei! Kita sudah sampai. Ayo turun!” Eden mengguncang tubuh Daniel, “aaahh–dia tertidur. Terpaksa aku harus membopongnya sampai lantai 14.”

Eden pun membopong Daniel yang terus menggumamkan nama Serena Yao.

Comments (1)
goodnovel comment avatar
slamet sahid
... bab mabuk-mabukan????
VIEW ALL COMMENTS

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status