Masuk"Kau bisa memeriksanya sendiri. Atau kau bisa bertarung di sini dan mati untuk pangeran yang sudah kalah." Dongfang Shuo mengangkat tangannya. "Pilihanmu."Komandan Zhao menatap Lu Xiao, lalu Dongfang Shuo, lalu pasukannya sendiri. Dia menurunkan pedangnya. "Tarik pasukan. Kita kembali ke kapal."Tentara kerajaan mundur. Tidak lama kemudian, tiga kapal itu sudah menghilang di cakrawala.Lu Xiao jatuh ke pasir. Mu Qingning berlari ke arahnya, memeluknya erat. "Kau bodoh. Kau benar-benar bodoh.""Aku tahu." Lu Xiao tersenyum lemah. "Kau sudah bilang itu."Dongfang Shuo turun dari kapalnya. Dia berjalan ke arah mereka, diikuti para prajuritnya. Wajahnya tidak berubah—dingin, keras, seperti batu. Tapi ada sesuatu di matanya yang tidak pernah Lu Xiao lihat sebelumnya."Kau masih hidup," kata Dongfang Shuo."Kau datang.""Aku datang." Dongfang Shuo berhenti di depan Lu Xiao. "Bukan untukmu. Untuk dia." Dia menatap Mu
Kapal perang itu datang saat fajar.Bukan satu. Tiga. Layar hitam dengan lambang kerajaan—naga emas di atas latar merah. Mereka berlayar dalam formasi segitiga, seperti anak panah yang mengarah ke desa.Lu Xiao sudah berdiri di tepi pantai sebelum matahari terbit. Dia sudah menduga ini akan terjadi. Kapal-kapal itu terlalu teratur untuk sekadar patroli. Mereka datang untuk mencari. Dan mereka akan menemukan."Berapa banyak?" tanya Mu Qingning, berdiri di sampingnya dengan pedang pendek di pinggang—hadiah dari nelayan tua yang ternyata mantan prajurit."Tiga kapal. Masing-masing mungkin membawa seratus tentara.""Tiga ratus orang." Mu Qingning menelan ludah. "Kita bertiga.""Kita punya desa." Lu Xiao menoleh ke belakang. Penduduk desa sudah mulai berkumpul, dipimpin oleh nelayan tua itu. Mereka membawa tombak, parang, dan jaring ikan. Bukan senjata yang layak, tapi senjata."Kau bilang kau tidak ingin membawa masalah," ka
Desa itu tidak punya nama di peta.Hanya seratus rumah nelayan yang berjejer di tepi pantai berbatu, dikelilingi hutan bakau dan perbukitan kapur. Penduduknya hidup dari menangkap ikan dan mengumpulkan kerang. Tidak ada jalan besar. Tidak ada pos penjagaan. Tidak ada yang peduli pada urusan kerajaan.Kapal Burung Laut membuang sauh di dermaga kayu yang sudah lapuk. Kaptennya—pria kurus bernama Zhou—menurunkan tiga penumpang dan satu peti kecil berisi perbekalan."Di sini kalian aman," katanya. "Setidaknya sampai berita tentang kalian sampai ke telinga yang salah. Kalau itu terjadi, jangan tunggu aku. Lari ke hutan. Ada gua di balik air terjun di utara desa. Penduduk setempat menyebutnya Gua Kabut. Kalian bisa bertahan di sana selama sebulan.""Kau tidak kembali?" tanya Mu Qingning."Aku punya tugas lain." Zhou melirik Lu Xiao. "Tuan Dongfang bilang kau akan mengerti."Lu Xiao mengangguk. "Terima kasih.""Jangan berterima
Nangong Xinming tidak bodoh.Dia melihat tiga puluh prajurit Dongfang Shuo, melihat para pengawalnya yang tiba-tiba terlihat seperti anak-anak yang memegang pedang kayu. Dia melihat Lu Xiao yang masih berdiri—meski dengan susah payah—dan Mu Qingning yang masih terikat di kursi. Lalu dia tersenyum."Baiklah," katanya. "Aku menyerah.""Cerdas." Dongfang Shuo melangkah ke tengah aula. "Sekarang, lepaskan putriku.""Dia bukan putrimu.""Secara hukum, dia cucuku. Dan kau menculiknya. Itu sudah cukup untuk membuatku membunuhmu di tempat." Dongfang Shuo berhenti. "Kau beruntung aku sedang bermurah hati."Nangong Xinming memberi isyarat. Salah satu pengawalnya memotong ikatan Mu Qingning dan mencabut sumpalnya. Wanita itu langsung berlari ke arah Lu Xiao, memeluknya erat. Lu Xiao, yang sudah hampir kehabisan tenaga, hampir terjatuh. Tapi dia menahan diri. Untuk Mu Qingning."Kau bodoh," bisik Mu Qingning. "Kau benar-benar bodoh.
"Ah, Lu Xiao." Nangong Xinming meletakkan cangkirnya. "Aku sudah menunggumu. Kau lebih cepat dari yang aku duga.""Lepaskan dia." Lu Xiao berdiri di ambang pintu, tangan di gagang pedang. "Atau aku akan membuatmu menyesal.""Menyesal?" Nangong Xinming tertawa. "Kau baru saja membunuh adikku. Kau pikir aku takut pada ancamanmu?""Kau seharusnya takut.""Aku tidak takut." Nangong Xinming bangkit. Dia melangkah ke arah Lu Xiao dengan santai, seperti sedang berjalan di taman. "Justru sebaliknya. Aku ingin berterima kasih."Lu Xiao mengerutkan dahi. "Berterima kasih?""Tentu saja." Nangong Xinming tersenyum lebar. "Kau baru saja menghilangkan penghalang terbesar dalam hidupku. Selama ini, Nangong Xinyu adalah putra mahkota. Selama ini, dia yang akan menjadi kaisar. Dan aku? Aku hanya pangeran pertama yang tidak dianggap. Tapi sekarang..." Dia mengangkat tangannya, seperti sedang memuji matahari. "Sekarang takhta itu kosong. Dan aku—pu
Tubuh Nangong Xinyu masih hangat ketika pengawal istana menerobos masuk.Mereka berhenti di ambang pintu. Tiga puluh orang, senjata terhunus, mata membelalak menatap darah yang menyebar di lantai marmer putih. Darah itu mengalir pelan, seperti sungai kecil yang mencari jalan ke selokan.Lu Xiao berdiri di tengah kekacauan itu, pedang kaisar masih di tangan. Bilahnya berkilau, bersih, tidak setitik pun darah menempel. Seolah pedang itu menolak kotor."Jangan bergerak!" teriak komandan pengawal. Suaranya pecah, nyaris histeris. "Kau... kau baru saja membunuh putra mahkota!""Benar." Lu Xiao menurunkan pedang. "Dan aku tidak menyesal.""Kau gila!" Komandan itu melangkah maju, tapi langkahnya goyah. "Kau tahu apa yang akan terjadi? Seluruh kerajaan akan mengejarmu! Kau akan mati dengan cara yang paling kejam!""Kematianku bukan urusanmu." Lu Xiao menatapnya datar. "Pergi. Atau kau jadi yang berikutnya."Komandan itu menelan ludah. Dia melirik mayat Nangong Xinyu, lalu kembali ke Lu Xiao.
"Aku...Lu Xiao. Lu Fusheng ayah angkatku." Begitu dia berkata, ruangan yang tadinya ramai mendadak hening mencekam. Semua orang terdiam, seperti ada tangan tak kasat mata yang menekan paksa suara-suara mereka. Bahkan debu yang jatuh pun seakan terdengar. Lu Fusheng adalah legenda hidup di Shuju
Di aula jamuan Hotel Lanhai suasana bergemuruh; lampu kristal memantulkan kilau, gelas-gelas berdenting, dan percakapan berputar seperti arus yang tak pernah tenang. Begitu Lu Xiao melangkah melewati ambang pintu, wajahnya yang tegas dan proporsional segera menyita perhatian—seolah ada magnet halu
“Lu Xiao, berani-beraninya kau kembali ke sini?”Di gerbang Bandara Shujun, Lu Chaner berdiri tegak sambil menatap tajam pria yang dulu pernah dimanjakan sepenuh hati oleh seluruh keluarga Lu. Ada sorot rumit yang mendalam di matanya; sebuah kekecewaan yang besar dan amarah yang membara, tanpa se
Di saat suasana masih tegang, pria berjas yang tadi masuk bersama Lu Chaner berbicara, "Lu Xiao, apa kamu masih ingat aku? Aku Zhang Liang. Dulu kamu pernah pukul aku berkali-kali waktu kecil." Dia tersenyum lebar. Lu Chaner mengerutkan kening."Coba tebak? Sekarang aku pacarnya Chaner. Mulai sek







