JARUM PERAK DEWA MEDIS: Kebangkitan Lin Xuan!
Ditinggalkan dan dipermalukan di depan semua orang, Lin Xuan kehilangan segalanya... cinta, harga diri, bahkan harapan. Tunangannya membatalkan pertunangan hanya karena uang, keluarganya hancur, dan ibunya nyaris meregang nyawa.
Tapi di saat terendah itu, sebuah batu kuno membuka rahasia pengobatan leluhur yang tersembunyi ribuan tahun!
Kini, Lin Xuan bangkit sebagai tabib agung yang menguasai hidup dan mati hanya dengan ujung jarum perak. Para penyiksa masa lalunya berlutut memohon pertolongan, mantan tunangannya menyesal dan merengek ingin kembali, sementara musuh-musuh kuat mulai mengintainya dari bayang-bayang.
Lin Xuan bukan lagi pemuda miskin yang bisa diinjak seenaknya. Dia tak hanya menyembuhkan tubuh, dia juga sedang membangun kerajaan tak tergoyahkan miliknya sendiri!
Balas dendam manis, wajah ditampar berulang, dan kebangkitan legendaris menanti. Ikuti perjalanan Lin Xuan yang penuh aksi, drama, dan kepuasan tanpa batas!
Read
Chapter: Bab 190.Lin Xuan sampai di toko buku ketika langit sudah berwarna jingga gelap. Lampu-lampu di Alun-Alun Ping'an mulai menyala satu per satu, menciptakan bayangan panjang yang bergerak-gerak di trotoar basah karena hujan gerimis sore tadi.Ding Yajun berdiri di depan pintu toko. Tangannya memegang payung yang tidak dibuka, rambutnya sedikit basah di bagian pucuk. Matanya langsung menangkap sosok Lin Xuan yang berjalan dari arah timur, dan sebelum sadar, kakinya sudah bergerak menyambut.“Kamu basah,” kata Lin Xuan begitu mereka bertemu.“Kamu janji akan kembali,” jawab Ding Yajun. Suaranya datar, tapi tangannya gemetar saat meraih lengan Lin Xuan.“Aku kembali.”Ding Yajun tidak menjawab. Dia hanya memegang erat lengan itu, merasakan kehangatan yang perlahan kembali merambat dari tubuh Lin Xuan. Mereka berdiri di tengah plaza beberapa saat, sampai Ding Yajun akhirnya menghela napas panjang.“Ayo masuk,” katanya. “Nanti sakit.”D
Last Updated: 2026-03-30
Chapter: Bab 189.Pertarungan dengan He Yanfeng meninggalkan bekas yang tidak langsung terlihat. Bukan di tubuh Lin Xuan, tapi di sekitar toko buku. Sejak hari itu, beberapa toko di kawasan Alun-Alun Ping'an mulai memperlakukan Lin Xuan dengan cara yang berbeda. Ada yang tiba-tiba menjadi lebih ramah, ada yang justru menjaga jarak, takut terlibat dalam masalah yang lebih besar.Xu Kun datang setiap hari, membawa informasi dari berbagai sumber. Dia sudah membangun jaringan kecil di antara anak-anak muda yang pernah bergaul dengannya, dan sekarang jaringan itu berguna untuk memantau pergerakan Perguruan Haotian.“Bang Lin, He Pengfei sudah kembali ke Haiyang,” lapor Xu Kun sore itu, duduk di kursi depan meja dengan segelas es teh di tangan. “Katanya dia langsung mengumpulkan murid-murid seniornya. He Yanfeng dan He Lei juga ikut. Pertemuan tertutup, gue nggak bisa dapat informasi detail.”Lin Xuan sedang menyusun beberapa buku baru yang datang pagi tadi. Tangannya tidak berhe
Last Updated: 2026-03-28
Chapter: Bab 188.Keesokan paginya, suasana di sekitar Alun-Alun Ping'an terasa berbeda sejak matahari belum sepenuhnya terbit. Biasanya, kawasan ini mulai ramai sekitar pukul sembilan, ketika para pedagang kaki lima membuka gerobak dan toko-toko perlahan menaikkan tirai besi. Tapi pagi itu, sejak pukul setengah delapan, beberapa pria berbadan besar sudah terlihat berkumpul di area parkir sebelah timur. Mereka tidak berbicara keras, tidak merokok sembarangan, hanya berdiri berkelompok dengan tatapan yang sesekali diarahkan ke satu titik: toko buku Lin Xuan.Xu Kun tiba lebih awal. Dia memarkir mobilnya agak jauh, lalu berjalan kaki mendekati toko buku sambil menyusuri trotoar. Matanya mengamati setiap sudut. Anak buahnya yang tiga orang sudah berjaga sejak satu jam lalu, menyamar di antara pedagang dan pengunjung pagi.“Bang,” satu anak buahnya berbisik saat Xu Kun lewat. “Mereka mulai datang sejak jam tujuh. Sekarang udah sekitar empat puluh orang. Tapi katanya masih banyak yang be
Last Updated: 2026-03-27
Chapter: Chapter 187.Malam itu, setelah mengantar Ding Yajun pulang, Lin Xuan tidak langsung kembali ke toko buku. Dia memarkir mobil di pinggir jalan dekat Alun-Alun Ping'an, membuka ponsel, dan membaca ulang pesan dari Xu Kun.“Bang Lin, ada kabar dari Haotian. He Yanfeng cari-cari orang tanya alamat toko lo. Hati-hati.”Dia membalas pesan itu. “Dari mana sumbernya?”Beberapa menit kemudian, ponselnya berdering. Xu Kun menelepon langsung.“Bang Lin, ada anak buah gue yang dengar dari temannya yang les di Haotian. He Yanfeng udah kumpulin anak buah. Katanya mau datang besok atau lusa. Mereka nggak terima adiknya dihajar.”“He Lei yang mulai,” kata Lin Xuan datar.“Gue tahu, Bang. Tapi buat mereka, siapa yang mulai nggak penting. Yang penting keluarga Haotian dipermalukan di depan umum. Apalagi He Yanfeng itu tipe orang yang nggak bisa lihat adiknya babak belur. Dulu gue pernah dengar, ada orang yang cuma dorong He Lei pas lagi rame, besoknya langsung dihadang sama He Yanfeng dan anak buahnya. Tulang rusu
Last Updated: 2026-03-27
Chapter: Bab 186.Manajer toko itu berdiri di samping meja kasir, jemarinya masih sibuk menghitung ulang total belanjaan. Tiga ratus dua puluh ribu. Angka yang tidak kecil untuk toko pakaian sekelas ini, tapi bukan yang terbesar yang pernah mereka tangani. Namun yang membuat manajer itu agak gugup adalah cara pembeli ini membelanjakan uangnya. Tanpa tawar, tanpa banyak bicara, tanpa ekspresi bangga atau pamer. Hanya perintah singkat, lalu kartu diserahkan.“Pak, semua sudah kami bungkus. Delapan item sesuai daftar,” kata manajer itu sambil membungkuk hormat. Dua pramuniaga di belakangnya membawa beberapa kantong belanjaan dengan rapi.Lin Xuan mengangguk. “Antarkan ke mobil.”“Baik, Pak.”Xiao Lu masih berdiri di tempat yang sama sejak tadi. Mulutnya terbuka sedikit, matanya tidak berkedip. Dia melihat manajer itu berjalan melewatinya dengan tangan penuh kantong belanjaan, dan untuk pertama kalinya dalam beberapa menit terakhir, dia sadar bahwa dia tidak bisa lagi menganggap remeh pemuda di depannya.S
Last Updated: 2026-03-25
Chapter: Ba 185.Ding Yajun sedang berbelanja di Alun-Alun Ping'an. Lin Xuan baru saja menutup telepon dan langsung mengemudi ke sana. Alun-Alun Ping'an adalah kompleks komersial raksasa yang terbagi menjadi beberapa area, seperti area kuliner, area pakaian, dan area kebutuhan hidup. Ding Yajun sedang berbelanja di area pakaian saat Lin Xuan tiba, dan dia menyambutnya di pintu masuk."Lin Xuan..." Ding Yajun mengaitkan lengannya dengan Lin Xuan."Ada apa?" Lin Xuan agak terkejut melihat dia datang mendekat dan langsung bergandengan seperti ini. Meskipun hubungan mereka sudah diakui di depan umum, perasaan mereka tetap harus dikembangkan perlahan."Tidak ada, kan kamu pacarku?" Ding Yajun tersipu dan menunduk."Itu hanya omongan kita ke Wei Ming," jawab Lin Xuan. Sebelumnya, Ding Yajun memang pernah mengakui Lin Xuan sebagai pacarnya di rumah sakit, tapi itu hanya siasat sementara agar Wei Ming percaya."Itu tidak hanya untuk Wei Ming," kata Ding Yajun, masih menunduk. Dia juga sebenarnya ingin memberi
Last Updated: 2026-03-24
Chapter: Bab 380Di vila Lu Xiao di kawasan Villa Danau.Di luar jendela, salju turun dengan lebat.Pemanas di dalam vila menyala, dan sama sekali tidak terasa dingin.Lu Chan'er memeluk Huo Ping'an di dalam pelukannya, menatap ke luar jendela memandang salju lebat yang mengguyur.Setelah memandang sejenak, si gadis kecil berkata dengan nada mengiba."Bibi Chan'er, kapan ya Paman balik...""Terus Kak Mu juga sudah pergi. Ping'an jadi bosan sekali..."Lu Chan'er mengusap-usap kepala kecil Huo Ping'an dan menghiburnya."Ping'an kecil, Lu Xiao-mu itu paling cepat balik empat atau lima hari lagi... Kalau soal Kak Mu-mu itu, eh tunggu dulu—memangnya kamu manggil dia apa?"Gadis berusia tujuh tahun itu menjelaskan dengan serius."Pertama-tama Paman minta Ping'an manggil dia Tante, tapi Kak Mu nggak mau. Katanya nggak mau dipanggil tua... Dia juga bilang kalau Ping'an manggil dia Tante, nanti Ping'an dipukul."Lu
Last Updated: 2026-08-29
Chapter: Bab 379Sebenarnya, Lu Xiao tidak terlalu peduli dengan kemungkinan bahwa Guizang yang disebutkan Yang Kai itu mungkin adalah ayah kandungnya.Benar atau tidak, itu sama sekali tidak penting.Karena mereka sudah meninggalkannya dan tidak ada lagi hubungan di antara mereka—mengapa harus saling berdamai?Yang ia rindukan hanyalah—Tingkat kultivasi Guizang yang mengejutkan itu.Kemunculan pertamanya ketika ia mengalahkan Lin Shanyue—Orang Suci Pedang yang menduduki peringkat pertama dalam Daftar Dewa di satu era.Dewa Pedang, Lin Canghai, begitu takut hingga menaruh hormat padanya selama hampir satu abad penuh.Kemunculan keduanya ketika ia mengalahkan Raja Iblis Yuan—yang tingkat kultivasinya setara dengan Lin Canghai—dan hampir saja menghancurkan Sekte Iblis yang sudah bersaing dengan aliran ortodoks selama ribuan tahun.Kemunculan ketiganya ketika pedangnya memecah gelombang setinggi ribuan meter, mengguncang bumi, dan menghancurkan kota.Lu Xiao merasa seperti sedang mendengarkan sebuah cer
Last Updated: 2026-08-29
Chapter: Bab 378"Guru Sejati Yang, tadi Anda menyebutkan Jalan Agung Abadi. Hukum Tao seperti apa itu?"Lu Xiao bertanya dengan dahi berkerut.Yang Kai tersenyum tipis dan berkata."Karena Pendekar Lu sudah mengkultivasinya sendiri—Jalan Abadi Tertinggi itu—mengapa masih repot-repot bertanya kepadaku?"Melihat Lu Xiao tetap mengerutkan dahinya, Yang Kai melanjutkan penjelasannya."Pada akhirnya—tidak peduli apakah itu kultivasi bela diri atau kultivasi Tao—sebenarnya keduanya akan bermuara ke tempat yang sama.""Seorang praktisi bela diri yang memasuki tataran ketujuh sudah mencapai batas fisik manusia. Seorang kultivator Tao yang memasuki tataran ketujuh sudah mencapai batas spiritual manusia. Apakah Pendekar Lu mengetahui tentang tataran kedelapan?"Lu Xiao mengangguk."Aku pernah mendengarnya. Kabarnya Tataran Kedelapan Alam Alamiah—yang legendaris disebut Alam Dewa Bumi—sekali mencapai tataran itu, seseorang bisa menjelajahi seluruh dunia dan menikmati seribu tahun kehidupan.""Juga, menurut buku
Last Updated: 2026-08-28
Chapter: Bab 377Pegunungan terbesar dan paling terkenal di wilayah Gao Li disebut Gunung Jin Gang.Pegunungan itu membentang lebih dari seribu kilometer dan melintasi seluruh semenanjung Korea.Sekte yang mengajarkan aliran Dewa Putih di Gao Li berlokasi jauh di kaki Gunung Jin Gang.Tempat itu terisolir dari dunia luar—sering tersembunyi di balik kabut pagi di depan gunung, penuh dengan energi spiritual. Ini adalah tempat yang paling cocok untuk kultivasi di Gao Li.Sekte Dewa Putih sudah berada di sini selama lebih dari seribu tahun.Di tengah perjalanan itu, dinasti di Kekaisaran Li sudah berganti beberapa kali—namun Sekte Dewa Putih tetap berdiri di sana.Kini, sekte itu bahkan menjadi sandaran seluruh negeri dan jutaan penganut di bawah naungan Gao Li.Puncak pegunungan Jin Gang adalah tempat berkumpulnya Sekte Dewa Putih.Di puncak gunung itu, istana-istana berbagai ukuran tersebar berserakan. Semuanya antik dan megah.Di antara semuanya, istana di tengah adalah yang paling agung.Di dalam aula
Last Updated: 2026-08-28
Chapter: Bab 376"Bahkan Guru Sejati Yang dari Sekte Lishan pun bukan tandingan Panglima Muda. Siapa di pihak Gao Li yang bisa menandingi Panglima Muda?"Qiu Ling merendahkan suaranya dan berkata."Ya—tapi secara ketat, sesuatu itu bukan manusia!""Bukan manusia?"Ekspresi Sima Ru berubah sedikit.Qiu Ling melirik ke kiri dan ke kanan, lalu melanjutkan."Tuan, apakah Anda mengetahui Sekte Dewa Putih di Kekaisaran Li?"Sima Ru mengangguk."Aku tahu tentang ini. Sekte Dewa Putih adalah sekte nasional dengan sejarah ribuan tahun yang panjang. Sekte Dewa Putih menyembah Dewa Putih. Sejauh yang kuketahui, Dewa Putih itu sungguh-sungguh ada. Dan selama seribu tahun terakhir, ia berada dalam kondisi aneh—setengah mati setengah hidup. Itulah kepercayaan yang dianut oleh rakyat Li yang cantik-cantik itu!""Menurut informasi yang dikirimkan kembali oleh duta besar kita, kepercayaan rakyat cantik kepada Dewa Putih bahkan lebih tin
Last Updated: 2026-08-27
Chapter: Bab 375Dua hari berlalu dengan tenang.Di Pegunungan Langit, salju turun seperti bulu angsa yang beterbangan.Segala sesuatu di dunia ini tampak sunyi dan sepi.Namun di balik ketenangan itu, banyak arus bawah yang mendidih tanpa suara......"Tangkap, tangkap semua yang bermarga Sima!""Aku tidak peduli apakah ini klan tujuh ratus tahun atau delapan ratus tahun... Yang aku tahu adalah bajingan-bajingan itu ingin membunuh menantu tuanku!""Aku ingin melihat seberapa banyak kepala yang dimiliki keluarga Sima—cukup atau tidak untuk kupotong semuanya!"Di gerbang vila keluarga Sima—Luo He, Tuan Gerbang Batu dari Shadow Guards, berdiri dikelilingi ratusan Shadow Guards yang memancarkan aura pembunuhan yang luar biasa.Ia memandang pemuda tampan itu sebagai idola seumur hidupnya.Kini Panglima Muda hampir saja dibunuh oleh Sima Ru—bagaimana mungkin ia tidak murka?Tindakannya dipenuhi amarah yang meluap, dan tentu saja gerakannya pun cukup berisik.Para pejabat setempat yang menjaga Gerbang Batu
Last Updated: 2026-08-27
Omega Kesayangan Tuan Alpha
Dijual oleh ayahnya sendiri demi melunasi utang, Freya, seorang Omega tanpa serigala yang diakui, terpaksa menjadi barang tawar-menawar bagi Raja Logan, Alpha penguasa Northridge yang dikenal kejam dan haus darah.
Di bawah kekuasaan sang Raja, Freya bukan dibawa untuk diselamatkan, melainkan untuk dijadikan pembiak—wadah hidup bagi garis keturunan yang terkutuk. Lemah, terasing, dan tanpa hak atas tubuhnya sendiri, Freya dihadapkan pada pilihan kejam: tunduk sebagai properti sang Alpha, atau menggali kekuatan serigala yang tersembunyi jauh di dalam dirinya.
Akankah Freya hancur sebagai budak tak bernilai, atau justru berubah menjadi satu-satunya kelemahan Raja Logan yang tak pernah terkalahkan?
Read
Chapter: BAB 97 (BAB AKHIR)Fajar belum pecah saat rombongan pengantar Jake, Daniel, dan Nicole tiba di perbatasan Northridge. Kabut tebal menyelimuti pepohonan, membuat batas antara dunia manusia dan dunia serigala terasa seperti mimpi yang samar.Jake berjalan paling depan, tangannya masih sedikit gemetar meski belenggu telah dilepaskan. Nicole berjalan di sampingnya, menopang Daniel yang semakin lemah. Wajah Daniel pucat seperti kertas, napasnya pendek-pendek, tapi matanya masih terbuka. Masih sadar."Kita hampir sampai," bisik Nicole, suaranya penuh harap.Tapi di tengah jalan setapak yang sempit, bayangan hitam melesat dari balik pepohonan.Jane.Dia berdiri di hadapan mereka, gaun merah marunnya berkibar tertiup angin dini hari. Rambutnya yang hitam panjang tergerai, wajahnya dingin seperti patung marmer."Jane?" Nicole mundur selangkah, melindungi Daniel di belakangnya. "Apa yang kau lakukan di sini?"Jane tersenyum. Senyum yang tidak pernah sampai ke matanya. "Mengantarkan kalian pergi, tentu saja. Tapi
Last Updated: 2026-03-29
Chapter: BAB 96.Ruangan itu terasa semakin sempit setelah Freya mengucapkan kata-katanya. "Aku akan melakukannya." Kalimat pendek yang menggantung di udara seperti belati yang siap jatuh kapan saja.Penatua Agung mengangguk pelan, matanya yang tua namun tajam mengamati Freya dengan saksama. "Keputusan yang bijaksana, gadis. Kau menyelamatkan nyawa mereka dengan ucapannya sendiri."Namun di dalam sel, suara Jake terdengar. Pelan, patah, tapi penuh dengan tekad yang mengerikan."Aku tidak akan membiarkan ini terjadi, Freya."Semua mata tertuju padanya. Jake berdiri dengan tangan masih terborgol, tubuhnya gemetar karena dingin dan kelelahan, tapi matanya menyala dengan api yang tidak pernah Freya lihat sebelumnya."Aku akan merebutmu kembali," lanjutnya, suaranya mengeras. "Bahkan jika itu berarti aku harus menjadi monster juga."Logan menggeram pelan, langkahnya hendak maju, tapi Freya menahan tangannya. "Tunggu."Dia mendekati jeruji sel, menatap Jake dari balik besi dingin. Wajah pria itu—wajah yang
Last Updated: 2026-03-29
Chapter: BAB 95Suara langkah kaki menggema di lorong penjara bawah tanah, semakin keras, semakin dekat. Obor-obor di dinding berkedip-kedip seolah ikut merasakan ketegangan yang menyelimuti udara. Freya merasakan jantungnya berdebar begitu kencang hingga dia hampir bisa mendengar suaranya sendiri di telinga.Logan bergerak cepat. Dalam sekejap, dia sudah berdiri di depan Freya, tubuh besarnya melindunginya dari pintu masuk. Matanya menyipit, menatap ke arah kegelapan di ujung lorong."Mereka datang lebih cepat," gumamnya, suaranya rendah dan penuh kewaspadaan.Jane yang berdiri di samping menyilangkan tangannya dengan tenang, tapi matanya memancarkan kegelisahan yang tidak bisa dia sembunyikan sepenuhnya. "Aku sudah bilang, Logan. Dewan tidak akan menunggu. Mereka haus akan jawaban."Freya menoleh ke arah sel. Daniel masih duduk lemas di sudut, matanya setengah terpejam. Wajahnya pucat, dan Freya bisa melihat dadanya naik turun dengan susah payah. Nicole duduk di sampingnya, tangannya menggenggam ta
Last Updated: 2026-03-29
Chapter: BAB 94.Pintu besi itu terbuka dengan suara berat yang menggelegar di lorong sempit penjara bawah tanah. Udara dingin dan lembap langsung menyambut mereka, bau tanah basah dan logam berkarat menyengat hidung Freya. Obor-obor yang tergantung di dinding menyala redup, menerangi sel-sel batu yang gelap dan suram.Namun Freya tidak sempat memperhatikan semua itu.Matanya langsung tertumbuk pada sosok yang berdiri di luar sel Daniel dan Nicole. Bukan seorang penjaga. Bukan anggota dewan.Jake.Pacarnya. Manusia yang seharusnya masih berada di dunia manusia, jauh dari kekacauan Northridge.Darah Freya membeku. Kakinya terasa seperti terpaku di lantai batu yang dingin. Untuk sesaat, dunia di sekelilingnya berhenti berputar. Yang dia dengar hanyalah debaran jantungnya sendiri yang berdetak terlalu cepat, terlalu keras, seperti akan meledak kapan saja.Jake berdiri di sana dengan tangan terborgol di belakang punggungnya. Wajahnya pucat, bibirnya kering dan pecah-pecah, tapi matanya—matanya yang cokela
Last Updated: 2026-03-29
Chapter: BAB 93Bayangan di ujung koridor itu bergerak perlahan mendekat, langkah kakinya berirama tenang di atas lantai batu yang dingin. Lampu obor yang berkedip-kedip menerangi sosok tinggi berambut hitam panjang yang tergerai indah di bahunya. Gaun merah marun yang dikenakannya berkibar lembut tertiup angin malam yang menyusup dari celah-celah dinding.Jane.Freya merasakan genggaman Logan di tangannya mengeras. Bukan karena takut, tapi karena ketegangan yang tiba-tiba menyergap. Alpha itu berhenti melangkah, tubuhnya menegak sempurna, dan untuk sesaat, Freya bisa merasakan gelombang ketidaknyamanan yang terpancar dari pria di sampingnya."Jane," sapa Logan dingin. "Apa yang kau lakukan di sini pada jam begini?"Jane tersenyum. Senyum yang indah, sempurna, namun dingin seperti bulan purnama di tengah musim salju. Matanya yang hitam pekat beralih dari Logan ke Freya, lalu ke tangan mereka yang saling menggenggam. Tidak ada kejutan di wajahnya, seolah dia sudah menduga pemandangan ini sejak lama."
Last Updated: 2026-03-29
Chapter: BAB 92Pintu kamar Logan terbuka di hadapan Freya dengan suara berat yang bergema pelan di keheningan malam. Dia berdiri di ambang pintu, tubuhnya gemetar namun matanya bulat, penuh tekad yang lahir dari keputusasaan. Di dalam ruangan, Logan baru saja melepas jaketnya, kemejanya setengah terbuka memperlihatkan dadanya yang bidang. Dia menoleh saat pintu terbuka, alisnya naik sedikit saat melihat siapa yang datang."Freya?" Suaranya setengah bertanya, setengah waspada. "Kau seharusnya beristirahat."Freya melangkah masuk tanpa menunggu izin. Pintu tertutup di belakangnya dengan bunyi klik yang terasa terlalu keras di telinganya. Dia berdiri di tengah ruangan, kedua tangannya mengepal di sisi tubuh, berusaha menghentikan getaran yang tak kunjung reda."Aku tidak butuh istirahat," katanya. Suaranya tipis namun terdengar jelas di antara mereka berdua. "Aku butuh kau mendengarku."Logan menatapnya lama. Wajahnya yang biasanya keras dan angkuh itu sekarang terlihat lelah. Lingkaran hitam di bawah
Last Updated: 2026-03-29
Chapter: Bab 27.Pagi harinya, Bhumi sudah bangun sebelum matahari terbit. Ia tidak bisa tidur nyenyak setelah menerima kartu nama ancaman dari Handoko. Namun pria itu memutuskan untuk tidak mundur. Justru ini saatnya menekan balik.“Janu, bangun! Kita kirim paket!” teriak Bhumi sambil merapikan kemeja.Janu yang masih mengantuk berguling di kasur. “Paket apa lagi, Bum? Jangan bilang kita mau jadi kurir.”“Kurir ancaman.”Janu langsung duduk. “Apa?!”Tanpa banyak bicara, Bhumi memasukkan USB berisi rekaman dan surat ke dalam amplop coklat. Ia juga menyertakan foto-foto pertemuan Handoko dengan Widodo sebagai pelengkap. Semua ia kemas rapi, lalu memanggil kurir langganan kontrakan.“Kirim ke alamat ini. Kantor Handoko Group di pusat kota. Nyatakan untuk Pak Handoko pribadi,” pesan Bhumi pada kurir.Kurir itu mengangguk, lalu pergi dengan motor roda tiga.Janu berdiri di samping Bhumi, matanya masih sayu. “Lo yakin ini bukan bunuh
Last Updated: 2026-05-04
Chapter: Bab 26.Dua hari setelah pertemuannya dengan Sasha, Bhumi duduk di sebuah kafe sederhana dekat pasar antik. Di hadapannya, seorang pria paruh baya berkacamata tebal sedang menyantap nasi goreng dengan lahap. Pria itu bernama Bambang, mantan jurnalis yang kini beralih profesi menjadi detektif swasta. Indra yang merekomendasikannya.“Jadi, Anda mau saya memotret pertemuan Widodo dan Handoko?” tanya Bambang di sela suapan.“Iya, Pak. Saya punya info mereka akan bertemu besok malam di sebuah restoran daerah kemang,” jawab Bhumi sambil menyodorkan amplop coklat berisi uang muka. “Ini tiga puluh juta untuk biaya operasional. Nambah lagi lima puluh kalau fotonya jelas.”Bambang mengernyit, mengamati amplop itu dengan jari-jarinya yang gemuk. “Wah, besar juga. Tapi memotret dua orang itu risikonya tinggi, Mas. Mereka punya banyak pengawal.”“Saya tidak minta foto selfie dengan mereka. Cukup dari kejauhan, asalkan wajah mereka terlihat jelas.”“Hmm…
Last Updated: 2026-05-04
Chapter: Bab 25.Malam itu, Bar Lestiani terasa berbeda. Lampu neon merah muda yang biasanya berkedip riang kini redup, seolah ikut merasakan kegalauan pemiliknya. Hanya beberapa pelanggan yang duduk di sudut-sudut, berbincang dengan suara pelan. Musik akustik dari panggung kecil terdengar sayup, seperti lagu sedih yang tak berkesudahan.Bhumi masuk bersama Janu. Begitu melewati pintu, matanya langsung mencari Sasha. Wanita itu berdiri di balik meja bar, rambutnya diikat longgar, wajahnya pucat tanpa riasan. Ada lingkaran hitam di bawah matanya—tanda semalaman tidak tidur.“Sasha,” sapa Bhumi sambil duduk di kursi depan bar.“Kau datang,” sahut Sasha pelan. Suaranya serak, seperti habis menangis atau tidak minum cukup air. “Aku sudah tunggu sejak sore.”Janu ikut duduk di samping Bhumi, matanya berkeliling waspada. “Aman? Nggak ada preman Handoko di sini?”“Tidak. Aku tutup bar lebih awal. Hanya beberapa pelanggan tetap yang masih bertahan.” Sasha mengelu
Last Updated: 2026-05-04
Chapter: Bab 24.Mobil putih Selina melaju kencang meninggalkan pasar antik. Bhumi duduk di kursi penumpang, masih terkejut dengan penyelamatan mendadak itu. Janu di kursi belakang masih gemetar, memegangi dasi yang nyaris copot.“Selina, kau datang tepat waktu,” ucap Bhumi sambil menghela napas lega.“Aku lihat mobil kakek di depan toko Indra. Aku tahu ada yang tidak beres,” jawab Selina dengan mata tetap fokus ke jalan. Wajahnya tegang, bibirnya sedikit mengerucut. “Kakek sudah keterlaluan. Dia tidak punya hak mengintimidasi temanku.”“Dia cuma mau ‘mengundang’ku, katanya.”Selina mendengus kecil. “Undangan paksa, maksudnya. Aku tahu cara kakek. Kalau kau ikut mereka, kau akan dibawa ke restoran mewah lalu diberi ‘pilihan’ yang sebenarnya bukan pilihan.”Bhumi tersenyum masam. “Kau kenal betul kakekmu.”“Karena aku sudah melihatnya melakukan hal yang sama pada banyak orang.” Selina menepuk setir dengan jemari lentiknya. “Tapi kali ini berbeda. Aku tidak akan diam.”Mobil berbelok ke arah kontrakan B
Last Updated: 2026-05-04
Chapter: Bab 23.Pasar antik di pagi hari selalu punya ritme tersendiri. Pedagang yang menggelar lapak sejak subuh, pembeli yang datang dengan mata jelalatan mencari harta terpendam, dan aroma khas campuran debu kayu tua, dupa, serta sedikit anyir dari sungai kecil di belakang area. Bhumi menyukai suasana ini. Baginya, pasar antik adalah ladang emas yang hanya bisa dilihat oleh mereka yang punya mata tajam. Dan Bhumi punya lebih dari sekadar mata tajam. Ia punya Mata Rubah. Hari ini ia datang bersama Janu, yang masih setengah mengantuk sambil menggenggam segelas kopi hangat dari pedagang kaki lima. Wajah Janu tampak pucat, mungkin karena semalaman tidak bisa tidur setelah pertemuan dengan Handoko. “Bhumi, kamu yakin kita aman di sini?” bisik Janu, matanya waspada ke kiri dan kanan. “Tenang saja. Handoko tidak akan berani berbuat onar di pasar umum. Terlalu banyak saksi,” jawab Bhumi santai, meskipun hatinya juga berdebar.
Last Updated: 2026-05-02
Chapter: Bab 22.Bhumi berhasil kabur dari bar malam itu—tidak mudah. Citra, Selina, dan Dahayu nyaris bergadang sampai pagi hanya untuk menginterogasinya soal Sasha. Untunglah Janu jadi kambing hitam, mengaku bahwa dia yang ngajak Bhumi ke bar untuk minum. “Janu, kau memang sahabat sejati,” ucap Bhumi keesokan paginya sambil menepuk pundak Janu. “Iya, tapi sekarang aku jadi musuh tiga wanita cantik sekaligus. Hidupku taruhannya, Bum!” “Sudahlah, nanti aku traktir makan.” “Banyak?” “Seadanya.” Janu cemberut, tapi ikut juga saat Bhumi mengajaknya ke pasar antik. Masih pagi, matahari baru naik setinggi tombak. Udara masih segar, dan para pedagang mulai membuka lapak. “Kita ke sini lagi?” tanya Janu sambil menguap. “Barang antik terus? Kenapa nggak cari yang lain? Properti, saham, atau jualan cilok?” “Cilok untungnya kecil. Sini, ikut aku.” Mata rubah Bhumi sudah aktif
Last Updated: 2026-05-01